
Pas jam menunjukkan pukul 7:30 pagi, bel pun berbunyi sangat keras.
Kriiinggg! Kriiing! Kriiiing! perhatian!perhatian! bel tanda masuk telah berbunyi, kepada seluruh siswa dipersilahkan untuk memasuki ruang kelas masing-masing!
Untungnya, aku sudah berada di dalam sekolah. Pak Tano, adalah satpam yang menjaga gerbang, dia akan menutup gerbang jika bel sudah berbunyi. Bahkan, tak peduli apakah itu adalah majelis guru yang terlambat, atau pun muridnya, semua harus menunggu diluar sampai guru piket datang mencatat kehadiran.
Aku berjalan mundur sambil melirik ke arah luar gerbang, sudah tak kulihat lagi kak Leon, eh maksudnya Leon masih berada di sana. Suara motor sport nya itu pun sudah tak terdengar lagi di telingaku, sudah terasa sepi kembali. Aku pun memutuskan untuk segera masuk ke dalam kelas sebelum guru pelajaran pertama kami masuk nantinya. Saat aku baru akan masuk, Rangga berpapasan denganku. Seperti biasa, dia pasti akan menyapa pagiku dengan senyum aneh yang ada di wajahnya itu.
"Pagi, Tiara!" Sapanya lembut.
Aku membalas senyumannya, "Iya, pagi juga, Rangga!"
"Tampaknya pagi ini kamu tidak lagi murung, Tiara? Apa yang membuatmu senang?"
Aku berjalan menuju ke tempat dudukku, Rangga mengikutiku dari belakang sambil bertanya hal yang membuatku senang. "Ada, dia adalah teman lamaku. Aku akhirnya bertemu lagi dengannya, setelah 12 tahun." Jawabku.
Dia menatap wajahku dengan senyuman yang sangat tulus, "Oh, ya?Baguslah, aku juga jadi ikut senang untukmu."
Tiba-tiba suara beberapa orang laki-laki berlari masuk sambil berteriak, "Woi ... Woi! Itu ibu Salsa, bentar lagi masuk! Duduk semuanya!" Teriak mereka dengan lantang, akhirnya semua pun duduk dengan tenang sampai Ibu Salsa, guru olahraga kami masuk kedalam kelas.
Rangga menoleh ke luar kelas, lalu dia melihatku lagi, "Tiara, aku duduk dulu ya! Kita ngobrol lagi nanti pas istirahat." Katanya.
Aku pun mengangguk, "Iya, Rangga."
Ternyata benar saja, beberapa saat kemudian, Bu Salsa memang memasuki kelas kami untuk mengajarkan pelajaran olahraga. Dia masuk sambil membawa sebuah bola basket yang dia rangkul di tangan kirinya.
"Selamat pagi semuanya!" Sapanya dengan wajah senang.
"Pagi, bu!" Jawab kami serentak.
"Oke, kalian udah tahu kan kalau kita akan main di lapangan? Siapa yang tidak memakai baju olahraga, akan ibu hukum! Ada tidak??"
Kami melihat ke masing-masing teman sebangku. "Tidak ada, Bu."
"Tidak ada? Oke, baguslah! berarti kita bisa main 6 tim. tetapi, kita bukan main basket ataupun olahraga lainnya!"
"Jadi, kita main apa, bu?" Tanya salah satu murid laki-laki yang duduk di dua barisan belakangku.
Bu Salsa tersenyum, "Begini, sebenarnya hari ini akan free bagi kelas kalian! Karena, kelas ini yang akan membantu untuk menanam bibit pohon untuk sekolah kita." Jelasnya.
Beberapa dari kami semua tampak mulai kecewa dan timbul rasa malas dalam diri mereka saat mendengar apa yang dikatakan oleh guru olahraga kami itu. Seakan memang tak mau mengerjakan apa yang akan dilakukan nanti, apalagi anak laki-laki yang duduk di bagian paling belakang, mereka tampak cengengesan saja saat diberi perintah itu. tetapi, bagiku tidak masalah. Kan nanti juga akan membuat sekolah jadi lebih adem dan indah kalau ada pepohonan yang ditanam rapi.
"Oke, Buk!"
"Sintia, Ramda, Vanessa, Laila, Randy, Kalian kelompok satu. Yura, Bagus, Putri, Dimas, Nifa, Kalian kelompok dua. Novi, Rangga, Panji, Tiara dan Yuni! Kalian kelompok tiga ...." Dan seterusnya sampai kelompok 6.
Selagi Bu Salsa masih membagikan kelompok, Aku melirik ke arah teman tim ku. Novi dan Rangga satu tim denganku, tetapi bagaimana caranya aku bekerjasama dengan Novi, kalau dia saja masih tampak kesal padaku. Ah, apa yang harus kamu lakukan Tiara? Otakku buntu nih.
Rangga melambai padaku, dia memberi isyarat kalau dia senang satu tim denganku. Aku pun mengangguk mengerti sambil tersenyum kecil padanya.
Haah, apa yang harus aku lakukan nih? Aku tidak semangat lagi, serasa hilang semua pelangi yang tadinya ada di dalam hatiku.
"Sudah selesai! sekarang kalian kumpul di lapangan, ibu akan ke kantor sebentar. Di lapangan sudah ada peralatan menanam nya, kalian tinggal ambil! tunggu ibu sebentar." Jelas Bu Salsa sambil menunjuk ke luar kelas tepatnya di lapangan.
"Kami mengerti, Bu!"
Bu Salsa pergi meninggalkan kelas kami, semua pun langsung bergegas keluar kelas untuk mengambil peralatannya. Suasananya juga kembali berisik, aku sudah tidak menyukai hal ini, tetapi kalau sunyi sekali pun aku juga tidak suka. Aku belum beranjak dari kursiku, aku merasa berat untuk keluar dari kelas. Aku hanya menatap tanpa kedipan suasana luar yang sudah ramai oleh siswa dari kelasku.
Mereka tampak bersemangat dan segera mengambil alat masing-masing, sedangkan aku sama sekali tak berniat untuk melakukannya. Semangatku jadi ciut entah mengapa, apa karena aku satu kelompok dengan Novi? Tidak mungkin, aku dan Novi sudah sering bertengkar karena hal sepele seperti ini, tetapi dia tak pernah marah padaku. Mungkin dia kesal sekali, kata-kataku mungkin memang tidak sopan, seharusnya ada yang memukul mulutku kalau memang aku berkata kasar pada sahabatku itu.
Di tengah lamunanku itu, ada seseorang yang lagi-lagi membangunkan lamunan aneh ku itu dengan senyumannya. Kalian pasti sudah bisa menebak siapa sosok ini kan? Ya, siapa lagi kalau bukan Rangga! Dia berdiri di depan meja tempatku duduk, aku pun terkejut dan langsung berdiri dengan wajah gugup.
"Lah, Rangga!!"
Dia mengerutkan kedua alisnya, "Memangnya mengapa, Tiara?Apa ada yang aneh padaku, sampai kamu jadi kaget?" Tanya Rangga dengan wajah bingung.
Aku menggaruk kepalaku, "Yaaa, gak ada yang aneh sih."
"Terus, mengapa kamu terkejut seperti baru melihat setan saja?"
"Ah, nggak kok! Rangga, jangan marah ya! aku cuman melamun aja tadi, aku memikirkan sesuatu yang tak penting makanya aku kaget." Jawabku cengengesan.
Entah mengapa tingkah laku ku berubah jika sudah berada dekat dengan Rangga, sosok yang mungkin akan aku sebut sebagai ..... Berry Smile! Karena aku suka buah blueberry dan senyuman manisnya yang aneh itu, jadi aku satukan jadi satu makna, yaitu Rangga.
Dia menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah laku diriku yang tidak pernah dewasa, "Yaudah, aku tidak akan bertanya lagi! lagipula, itu kebiasaan burukmu 'melamun' hal yang gak jelas pula lagi." Ucapnya mengerti sifatku.
Aku tersenyum malu, karena tidak biasanya ada teman laki-laki yang sedekat ini denganku kecuali Rangga. Dia yang bisa membuatku menjadi sedikit tenang, jika Novi sahabatku sendiri tidak bisa menemani hari-hariku di Sekolah. Kata yang bagus untuk menggambarkan Rangga adalah Bagai seorang penasehat kata yang akan berbicara sambil menunjukkan senyum manis yang terukir di bibirnya itu. Bagiku sungguh tak ada yang bisa mengalahkan senyuman dari Rangga, bahkan sang makhluk sempurna mu yang baru saja datang tidak bisa mengalahkan gelar senyumnya di mataku.
BERSAMBUNG .....