
"Tiara, bangun!hei, udah pagi. Kamu gak mau pergi Sekolah?udah telat entar lagi!Tiara, bangun dong!"
Nah, aneh. Malah kali ini suara bunda yang menyuruhku untuk bangun. Bukannya aku sedang menunggu Leon di RS kan?kalian juga tahu itu, kita menunggunya bersama-sama. Tidak mungkin bunda datang ke RS hanya untuk menjemputku kan?lalu bagaimana dengan Leon, katanya dia akan mengatakan sesuatu?
"Tiara!"Aku pun langsung terbangun saat mendengar suara lantang itu di telingaku.
Aku melihat sekarang aku sedang ada di dalam kamarku, apa yang sudah terjadi?apakah semua yang terjadi itu hanya mimpi? "Bun, mengapa Tiara bisa ada di...."
"Iya, Ti. Semalam Leon yang antar kamu pulang, kamu udah tidur jadi kamu tidak tahu apapun. Kamu tertidur di RS kata Leon semalam, kamu ini bagaimana sih?!"Sambung bunda dengan wajah kesal.
Aku tidak mengerti dengan semua ini, aku masih tak percaya kalau aku bisa tertidur dan Leon yang mengantarku pulang. tetapi bagaimana caranya membawaku saat tidur?apa dia menggendongku?
"Bun, apa Leon tak mengatakan sesuatu saat pergi?"Tanyaku
Saat aku bertanya, raut wajah bunda langsung sedih. Dan dia memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah padaku, sambil membelai kepalaku dengan lembut, lalu bunda pun keluar meninggalkan kamarku. "Bunda gak tahu dia ngasih apa untuk kamu, tetapi yang jelas mungkin dia.....Ah, buka sajalah sendiri!bunda mau masak di bawah."Ucap bunda tampak tak bisa menjelaskan untuk apa Leon memberikan kotak kecil ini padaku.
Aku memperhatikan kotak itu dengan penuh kebingungan, aku tidak tahu apa maksud Leon memberikannya padaku. Bunda saja tak bisa menjelaskannya, apalagi kalau aku membuka kotak ini ternyata.....akan membuat hatiku hancur, aku tidak akan tahu sebelum membukanya
Ya Tuhan. Hatiku sangat bingung sekarang, mengapa Leon memberikan teka-teki baru dalam dirinya, aku tak bisa menjangkaunya. Tidak, aku sudah sejauh ini berjalan dengannya, aku harus menerima apapun yang akan terjadi selanjutnya!Kamu tidak boleh ragu Tiara. Kalau kamu ragu, lalu bagaimana dengan Leon?di antara kita berdua harus ada salah satu yang benar-benar bisa mengatasi keraguan ini.
Aku masih terus menatapi kotak ini dengan kedua mata dan tanganku yang ragu ingin membukanya. Bagaimana air mataku tak jatuh jika sudah merasakan hal yang tidak baik-baik saja?aku merasa Leon sudah merencanakan untuk memberikan ini padaku, dan dia akan mengatakan sesuatu, apakah akan terungkap di dalam kotak kecil ini?
Karena aku penasaran dan tak ingin terus kebingungan, aku pun memberanikan hatiku untuk membuka kotak kecil itu. Kotak itu sudah kubuka, dan apa yang kulihat adalah....sebuah kalung dengan bertuliskan 'L&M'. tetapi belum berhenti di situ saja, masih ada satu benda lagi, yaitu cincin yang seharusnya Leon pakai sekarang ada di dalam kotak itu. Lengkap sudah kebingunganku, kegelisahanku, dan juga keraguanku ini. Aku mencoba menahan air mataku, aku belum tahu apa artinya semua ini dia berikan padaku, dan dia tidak memakai cincin itu. Masih ada satu lagi, sebuah kertas. Aku pun langsung membaca tulisan yang tertulis di dalam kertas itu.
To Mutiara Nabila
Tiara, maaf aku tak bisa terus bersamamu, aku takut waktuku tak cukup. Tak cukup untuk melihatmu untuk tersenyum setiap hari, karena waktuku singkat.
Aku tak bisa menjamin kalau hari esok aku masih bisa terus bersamamu dan berada di sampingmu.
Tiara, aku selalu menyimpan kemisterian di belakangmu. Aku tak ingin kamu tahu, kupikir kalau kamu tahu, kamu yang akan jauh tersakiti.
Aku juga tidak bisa menjamin kalau aku adalah laki-laki baik. Karena aku tak akan bisa menghentikan tangisanmu saat melihatku tidak baik-baik saja, Tiara.
Ku harap dengan semua ini kamu bisa mengerti apa yang aku inginkan untukmu, Ti. Aku yakin kamu pasti akan kebingungan, tetapi coba pahami sedikit lagi.
From Leon Argata Putra
Aku langsung menangis dengan deras saat selesai membaca surah itu. Aku terus menatapi semua benda itu di pangkuanku, aku menyesal telah membukanya dan membaca surah itu. Aku menyesal!mengapa kamu menjelaskan hal ini padaku Leon?Apa karena kamu tak ingin melihatku menangis?mengapa kamu menulis kata-kata yang aneh, seakan kamu akan pergi.
Pergi ke mana?
Kamu akan meninggalkanku sendirian?
Aku tak mau diam saja di sini, aku pun bergegas mandi dan akan meminta Leon menjelaskan semua ini padaku secara langsung. Setelah selesai membereskan semuanya, aku langsung turun ke bawah dan langkah awal adalah bertanya pada bunda tentang Leon semalam. "Bunda!bunda!"Panggilku sambil berlari menuruni anak tangga.
Bunda pun mendengar dan langsung menghampiriku, "Iya, Ti. Ada apa?"Tanya bunda dengan nada pelan.
Aku langsung menatap bunda dengan serius, "Bun, sebenarnya apa yang Leon katakan semalam?tidak mungkinkan dia tak mengatakan apapun dan langsung memberikan semua itu padaku?"
Bunda menatapku sedih, "Ti, bunda juga gak tahu apa yang ada di dalam kotak itu. Leon berpesan hanya kamulah yang bisa membukanya, bunda tak tahu apapun lagi. tetapi memang sebelum pergi dia mengatakan sesuatu pada bunda."Jawabnya ragu.
Aku memaksa bunda untuk mengatakan semuanya padaku, aku tak mau lagi semua kebingungan ini terus menetap di dalam kepalaku, dan akan terus berputar selamanya. "Apa bun?apa yang Leon katakan?"Tanyaku dengan hati yang penasaran.
Bunda menggenggam kedua tanganku, "Yang Leon katakan pada bunda semalam adalah 'Bun, bilang sama Tiara untuk tidak menyusul Leon ke Rumah ataupun ke RS.' mengapa? 'Karena Leon harus membuktikan sesuatu sendiri dulu, semua akan jelas, dan Tiara akan mengetahuinya nanti.' Tentang apa? 'Besok akan turun hujan deras bun, jangan biarkan Tiara menyusul Leon!' itulah yang dia katakan pada bunda, Ti."Jelas bunda panjang lebar padaku.
Aku tak tahan dengan semua yang terjadi ini, mengapa Leon tak bisa memberitahuku secara langsung?!
"Bunda harap kamu bisa menuruti apa yang dia katakan, Ti!karena jika bunda lihat dari caranya berbicara semalam, itu semua sangat serius."Ucap bunda.
Walau bunda mengatakan seperti itu aku tetap tak mau mendengarkannya. Aku tak bisa terus diam di Rumah dan menunggu hal yang tak pasti ini. Aku tetap akan keluar untuk menemuinya, aku harus mendengarkan penjelasannya secara langsung padaku, apa yang dia katakan ini semua itu tidak benar kan?Aku ingin membuktikan itu semua. Ku berlari keluar dari dalam Rumah, dan kudapati mobil taksi yang sudah menunggu di luar pagar. Ya, taksi yang sama pada tiga tahun lalu. Aku tak tahu apakah kejadiannya akan terulang kembali, karena tanggalnya juga sama terjadi tepat hari ini.
Bunda terus memanggilku, tetapi aku hiraukan dan tetap naik ke taksi untuk menyusul Leon agar dia menjelaskan semua ini. "Tiara!jangan pergi, nak!benar kata Leon, hujan deras akan turun, bunda baru lihat di kalender cuaca.Tiara, dengarkan bunda!"Teriak bunda dari tangga Rumahku.
Aku membuka jendela taksi itu dan menjawab, "Tidak, bun!Tiara harus tahu semua ini dengan jelas, Tiara harus tahu. Tiara gak mau terus menerima kebingungan ini, bunda harus mengerti itu!"Ucapku sambil menangis, aku kembali menutup jendela taksi dan menyuruh sopir itu untuk cepat menyetir ke Rumah Leon. "Pak, cepat ke Rumah Leon!saya harus menyelesaikan sesuatu dengannya."
"Iya, baik. Sepertinya selama saya mengenal kalian, saya tidak mengerti dengan apa yang sedang dihadapai Non, Tiara sekarang."Kata Pak sopir taksi itu denganku.
Bahkan Bapak ini pun tak mengerti apa yang akan terjadi pada kami selanjutnya. Kurasa dia sudah mengenal Leon lebih dulu, makanya malam itu dia memesankanku taksi ini, dia pasti sudah banyak bercerita dengan bapak ini tentangku, kan?
Tak mau hanya diam menunggu taksi ini sampai, aku berusaha untuk menghubungi Leon. Beberapa kali aku menelponnya, tak di angkat juga. Aku juga mencoba memberi pesan padanya, tetapi juga tak di jawab olehnya. "Leon, angkat telponnya!angkat, jangan buat aku khawatir padamu!"Ucapku berbicara sendiri sambil memperhatikan jalan di luar yang ternyata sudah hujan deras sekali, tetapi ku tak menyadarinya.
"Non, Tiara. Kita terjebak macet karena hujan deras, apa tidak masalah agak lama?"Tanya sopir taksi itu dengan nada gelisah.
Aku masih terus mencoba menghubunginya, tetapi tak juga diangkat. "Iya, pak. Tidak masalah, asal tak terjadi apa-apa, tak usah buru-buru sekali pak!"Jawabku panik.
"Nomor yang anda tuju tidak menjawab, cobalah beberapa saat lagi. The number you are to do not answer, try some more time."
"Angkat Leon!Leon, please. Lift his phone, I want to talk to you!"Sudah kucoba hampir sepuluh kali menelponnya tetapi tak juga diangkat olehnya.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silakan tinggalkan pesan setelah nada berikut. The number you are going to be inactive, please leave message after the following tone."
Aku menyerah, dia tak juga mengangkatnya. Aku rasanya ingin menghancurkan ponselku ini, karena tak ada gunanya sama sekali. tetapi kulihat sejenak wallpaper yang kugunakan untuk ponselku itu, adalah foto saat kami besama, aku tak tega menghancurkan semua yang tersimpan dalam ponselku ini. Lagi-lagi aku menangis tak karuan, aku tak tahu harus melakukan apa lagi untuk membuatnya mengangkat telponku.
Hanya ada satu harapan untukku, seseorang yang bisa membantuku sekarang adalah.....Rangga?!dia bisa membantuku, kan?tetapi kami sudah tidak lagi berteman, kan?lalu bagaimana aku bisa meminta bantuan dengannya?Tidak, Ti. Sekarang kamu gak boleh egois, kamu perlu bantuan Rangga! Aku pun memilih untuk mencoba menghubungi Rangga, kalau dia tak juga menjawab telponku, aku tak tahu lagi dengan siapa ku meminta bantuan.
Aku sudah menggigiti kuku jariku karena kebingungan, tak lama Rangga mengangkat telpon dariku. "Hallo, Ti!"
"Iya, Rangga. Rangga, kamu bisa membantuku?kamu di mana?"Tanyaku dengan nada cepat sambil memperhatikan keadaan di luar yang masih hujan deras.
"Ti, kamu perlu aku bantu kamu apa?aku di Rumah Sakit sekarang, kamu yang ada di mana?hujan deras, Ti. Jangan keluar dari Rumah!"
"Aku sudah tidak di Rumah, Rangga. Aku akan menemui Leon, kamu di RS mana?"
"Ti, hujan deras. Aku bersama Leon sekarang, kamu tenang dia baik-baik saja!kamu tidak mendengarkannya, kan?"
Aku terkejut mendengar apa yang dikatakan Rangga, kalau dia sekarang sedang bersama dengan Leon. Berarti....apa yang terjadi ini hanyalah kebetulan saja? "mengapa kamu bisa bersamanya?mengapa dia tidak menjawab telponku?mengapa?!"Tanyaku sangat kesal.
"Ti, bukannya dia tidak mau mengangkatnya, tetapi....nanti aku jelaskan semuanya. Sekarang aku lagi di toilet, aku sengaja berbohong padanya tadi. Aku ke sini hanya untuk menjawab telpon darimu, aku sangat khawatir."Jawabnya panjang lebar.
"Apa alasannya?"
"Ti, kamu di mana?aku jemput kamu, ya?"Tanya Rangga dengan nada pelan.
Aku bertanya di mana aku berada sekarang pada pak sopir, "Pak, sekarang kita sudah tiba di mana?"
"Oh, kita sudah tinggal satu lampu merah lagi ke RS Awal Bros. Sebentar lagi sampai, tetapi kita terjebak macet lagi di sini."Jawab pak sopir.
Aku kembali berbicara dengan Rangga, "Kamu dengarkan, aku di mana sekarang?"
"Ya, aku dengar. Aku akan ke sana, tunggu aku!"Rangga langsung menutup telponnya. Aku mendengar suara hentakan kaki, kurasa itu Rangga. Dia tengah berlari menuju keluar dari RS, untuk menjemputku di sini.
Sambil menunggu Rangga datang untuk menjemputku, aku terus menerus bertanya pada diriku sendiri tentang apa yang kuhadapi sekarang ini. Aku mengambil kotak kecil yang kusimpan dalam tasku tadi, ku buka kotak itu dan menatapi dua benda dari Leon itu dengan saksama. Aku tak tahu harus melakukan apa pada dua benda ini, apa kubuang saja?aku tak mau melihatnya lagi, aku tidak mau! Aku sudah muak dengan semua ini, aku akan hentikan saja semuanya!! Karena ku sudah tak tahan dengan perasaan tertekan ini, aku meletakkan tasku, dan keluar dari dalam taksi untuk membuang dua benda itu dari hidupku.
"Non, Tiara. Mau ke mana?jangan keluar, Non!hujan deras di luar."Tegur pak sopir, tetapi aku tak mendengarkannya dan tetap keluar dari dalam mobil.
Aku tak peduli suara gaduh karena petir ataupun hujan yang deras membasahi tubuhku, aku tak peduli lagi. "AKU BENCI SEMUANYA!!AKU BENCI.....!!!"Pada saat aku baru saja akan melempar kedua benda itu jauh-jauh, tiba-tiba ada yang langsung memelukku dari belakang.
"Ti, jangan dibuang!ini berharga buat kamu dan Leon, kan?"Tanya Rangga sambil memelukku.
Rangga membalikkan tubuhku, dan dia menatapku dengan serius. "Ti, dengarkan aku! I can not see you despair like this! You should be able to fight all your selfish feelings, Ti."Dia mengambil kalung dan cincin yang ada di tanganku, lalu memakaikan kalung itu padaku. Sedangkan cincin itu, "Tiara, kamu harus kembalikan cincin ini ke pemiliknya!oke, kamu harus bisa memberikannya kembali pada Leon."
Aku hanya diam dan memperhatikan kalung itu. Rangga baru sadar kalau hujan sudah membuat kami basah kuyuh, dia pun menyuruhku untuk masuk ke dalam mobil. "Tiara, kita masuk ke dalam mobil ya?mobilku ada di depan, jadi kita bisa agak cepat sampai dari pada nunggu lama di sini."Ajaknya dengan nada pelan.
"Baiklah, aku mengerti."Jawabku singkat. Aku mengambil kembali tas dan barang-barangku yang ada di dalam taksi, dan memberitahu pak supirnya kalau aku akan menaiki mobil yang di pakai oleh Rangga. "Pak, saya naik ke mobil Rangga saja!"
"Oh, iya. Non, hati-hati di jalan!semoga cepat selesai masalahnya dengan emas Leon."Ucap pak sopir sambil tersenyum kecil. Rangga ternyata membawa payung, dia merangkulku agar tidak terkena hujan lagi. Kami berjalan menuju ke mobil yang di pakai Rangga untuk menjemputku tadi.
Setelah masuk ke mobil, tanpa menunggu lama Rangga langsung menyetir mobilnya menuju kembali ke RS secepat mungkin. tetapi ada yang aneh dengan Rangga, dia memakai baju pasien RS, dan ada perban yang melingkari kepalanya. Aku baru sadar kalau dia seperti seorang pasien, pantas saja kalau dia bisa bersama dengan Leon, apakah Rangga.....?
Karena aku penasaran, langsung saja aku tanyakan padanya. Apa yang sudah terjadi padanya, sehingga dia memakai pakaian seperti seorang pasien. "Aku baru sadar kalau penampilanmu aneh, Rangga. Apa terjadi sesuatu?"Tanyaku sambil memperhatikan wajahnya dengan serius.
Rangga melirikku sebentar dan kembali fokus menyetir, "Iya, Ti. Aku tak sengaja di serang dari belakang saat aku pakai motor, padahal aku tak sedang mengebut, tetapi tiba-tiba saja ada mobil yang menabrakkan di bagian belakang motorku."
"Jadi?apa yang terjadi?"
dia tersenyum kecil, "Ya, inilah yang terjadi padaku dan mereka.....aku tak tahu lagi dengan mereka. Sudahlah, yang penting aku masih selamat!"
"Kapan kejadiannya?"Tanyaku penasaran. Aku berpikir kalau kejadian Rangga adalah kejadian yang baru saja terjadi semalam.
"Apa yang kamu pikirkan itu benar, Ti. Kejadiannya baru kemarin, Leon yang membantuku dan juga dia yang menjadi waliku saat aku belum juga sadar."Jelas Rangga dengan nada pelan. Aku sungguh terkejut mendengar penjelasan darinya, ternyata Leon sengaja menyembunyikan korban itu dariku karena ternyata dia adalah.....Rangga?!
Aku menundukkan kepalaku karena merasa bersalah pada Leon, aku sudah salah sangka padanya. Aku mengira dia menyembunyikan hal itu karena dia memiliki rahasia yang tak boleh aku ketahui, Aku sudah salah besar mengira dia seperti itu. Tiara, kamu selalu berpikiran yang tidak-tidak pada Leon. Padahal kamu sudah pernah janji akan selalu percaya padanya, tetapi kamu tetap saja curiga padanya.tetapi soal surah itu dan cincin yang dia kembalikan ini, apa artinya?apa dia sudah tidak ingin bersamaku lagi?
"Sabar, Ti!nanti Leon akan menjelaskan semuanya padamu, dia sudah mengatakan niatnya itu padaku. Kartuku ada padanya dan juga kartunya ada padaku, kami saling membuka kartu masing-masing tadi."Ucap Rangga sambil tersenyum. dia percaya kalau Leon akan menepati janjinya padaku, kalau Rangga percaya....maka aku juga harus percaya pada kekasihku itu.
Aku pun mengangguk sambil tersenyum, aku mulai percaya diri kembali karenanya. "Baiklah, aku akan percaya padanya! Terima kasih, Rangga. Aku juga sudah melakukan hal egois denganmu!"
"Iya, Ti. Aku tahu perasaanmu waktu itu sangat jengkel denganku, kan?Aku terima amarahmu itu sebagai nasihat seorang teman."Jawabnya dengan santai.
Rangga tak marah dan kecewa karena aku sudah mengatakan hal yang membuatnya sakit hati, malah dia merasa senang karena aku memarahinya sebagai seorang teman. Perjalanan menuju RS tidak begitu terhambat saat dengan Rangga, walau hujan tetapi tak menghalangi kami untuk secepatnya tiba di sana. Aku terus memperhatikan perban yang ada di kepalanya itu, Apakah itu tidak sakit Rangga?Aku ingin bertanya seperti itu, tetapi tadi dia sudah bilang tidak apa-apa dengan luka yang dia terima itu.
Tak lama ponsel Rangga berdering, dia langsung meletakkan ponselnya di telinga menggunakan tangan kirinya dan tetap fokus menyetir. "Iya, ada apa lagi?"Tanya Rangga dengan wajah kesal.
Aku bingung mengapa dia tampak kesal saat berbicara dengan orang yang menelponnya itu, "Apa?!serius?iya, aku segera ke sana. Sebentar lagi aku sampai, tadi aku keluar sebentar."Teriaknya dengan nada tinggi dengan wajah terkejut.
Bukan hanya dia saja, malah aku juga ikut terkejut di saat yang sama. Aku langsung memukul pelan bahunya, "Hei, kamu mengapa? Aku terkejut, kamu tahu tidak?!"Ucapku kesal.
Rangga panik sambil meletakkan ponselnya kembali, "maaf, Ti. Aku gak niat buat kamu kaget, tetapi ini penting. Tadi itu Leon, dia...."
"Ada apa dengannya?"Tanyaku dengan wajah serius pada Rangga.
Rangga mengelus dadanya karena terkejut, "Tenang, Ti! Aku juga belum tahu sih dia bakal nunjukin apa, tetapi yang jelas ini semua akan berakhir. Kartuku dan kartu Leon akan kamu ketahui semuanya, tanpa sisa!"Jawabnya berusaha meyakinkanku dengan wajah anehnya itu.
dia telah kembali, Rangga yang aku kenal dengan senyuman dan wajah anehnya itu padaku. "Ih, apanya yang kartu? bisakah kamu tak tersenyum terlalu lebar seperti itu, Rangga?"
"mengapa?kamu kangen, ya?sama senyum ini?"Tanya Rangga dengan wajah penuh percaya diri.
Rasanya aku mau menyingkirkan wajahnya itu dari hadapanku sekarang, tetapi aku jadi senang karena dia telah kembali menjadi Rangga yang dulu. Dirinya yang selalu aku harapkan karena senyuman anehnya itu, walau membuatku kesal, tetapi Rangga selalu berhasil membuatku terus berbicara sehingga aku tak melamun. tetapi untuk saat ini sebaiknya aku kembali fokus pada Leon saja.
Tak terasa kami pun sudah sampai di RS, tanpa berpikir panjang, kami pun langsung masuk ke dalam RS untuk mencari di mana keberadaan Leon sekarang. Dan tak disangka juga, hujan sudah berhenti saat ini juga, padahal aku dan Rangga sudah basah kuyuh dan seperti sebentar lagi aku akan terkena flu. tetapi karena ku tak peduli lagi dengan hal yang lain selain Leon, aku sampai lupa kalau semua bajuku basah karena tadi.
Rangga menarik tanganku supaya cepat melangkah, agar kami tak kehilangan Leon. tetapi aku tak bisa berlari lebih cepat lagi, karena napasku sudah sangat tak beraturan saat ini. Aku pun menyuruh Rangga untuk berhenti berlari dan menarik napas kembali, "Rangga, berhenti dulu! Aku sudah tak kuat berlari."Ucapku dengan napas terengah-engah.
dia berhenti berlari, "Ti, kalau kita tak cepat nanti Leon akan mengetahuinya sendirian. Entar kita gak tahu, dia akan sembunyikan sendiri lagi!"Jawabnya terus menarik tanganku untuk kembali berlari secepatnya.
Aku pun kembali berlari dan menuruti apa yang dikatakannya, "Oke, baiklah."
"Memang Leon ada di mana?"Tanyaku.
"Dia ada di laboratorium tadi, aku tak tahu apa yang sedang dia lakukan tetapi yang jelas sudah lama di sana. Makanya aku mencarinya, ternyata dia di sana."Jawab Rangga.
Saat aku dan Rangga tengah berlari menuju ke laboratorium RS, tiba-tiba Rangga menghentikan langkahku dan dia berdiri diam. Ternyata ada beberapa perawat yang sedang terburu-buru membawa seorang pasien menggunakan ranjang pasien, aku tak tahu akan di bawa ke mana, tetapi yang jelas mereka semua tampak panik. Kejadiannya juga begitu cepat, aku tak sempat melihat wajah pasien yang mereka tangani itu.
tetapi aneh, aku terus memperhatikan tangan pasien itu, seperti tak asing di mataku ini. Aku terdiam sambil mencoba mengenali orang itu, tetapi bagaimana mau mengenalnya kalau aku saja tak bisa melihat wajah pasien itu tadi. Tak lama kemudian kak Daffa berlari untuk menyusul pasien tadi, tetapi Rangga menghentikan langkahnya dan bertanya.
"Tunggu, kak mengapa?"Tanya Rangga dengan wajah bingung.
Kak Daffa menatapku dengan wajah panik, "Aku jelaskan nanti."Jawabnya singkat, lalu langsung pergi meninggalkan kami.
Aku semakin bingung, mengapa tiba-tiba kak Daffa melihatku dengan raut wajah seperti itu padaku. Dan dia tak menjawab Rangga dengan jawaban yang jelas, dia langsung pergi begitu saja. "Rangga, ada apa?"Tanyaku kebingungan.
dia terdiam sejenak lalu menarik kembali tanganku untuk menyusul kak Daffa tadi. "Ti, ikuti kak Daffa!itu Leon, Ti."Jawabnya panik.
Aku langsung terkejut, "Leon?tadi itu Leon?"dadaku langsung terasa sesak, ada apa dengannya?mengapa dia harus di bawa menggunakan tempat itu oleh mereka?
Karena orang yang kami cari sudah dari tadi berada di depan mata, aku dan Rangga langsung berlari menyusul kak Daffa yang membawa Leon kembali ke IGD untuk tindakan lanjut. Lagi-lagi aku tak akan bisa masuk ke dalam sana, begitu juga dengan Rangga, pada akhirnya kami akan tetap menunggu di luar dengan hati yang kacau. Sungguh, baru saja aku bernapas lega karena Rangga, tetapi sekarang aku kembali terjatuh ke lubang yang dalam karena Leon yang entah mengapa.
Aku tak bisa berbicara dan bernapas dengan baik sekarang ini, begitu juga Rangga. Dia juga terus mondar-mandir dengan wajah panik, "Rangga, apakah dia akan baik-baik saja?"Tanyaku dengan nada gugup karena ketakutan.
Rangga menatapku serius, "Tenang, Ti! Aku yakin Leon pasti baik-baik aja kok, dia mungkin hanya drop aja, kamu juga lebih tahu dia kan selama ini?"Jawabnya, lalu memelukku dengan erat. "Aku tahu kamu panik, kalau kamu panik maka aku juga begitu, Ti."Lanjutnya.
Aku berusaha tetap membuat hatiku tenang, ini juga berkat Rangga, kalau tidak ada dia aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku dan juga Leon. Ya, Tuhan. mengapa engkau tak habisnya memberikanku sebuah ujian?apa karena aku melakukan kesalahan yang tak akan pernah bisa dimaafkan? tetapi mengapa engkau menghukum Leon, bukannya aku?Aku terus menyalahkan diriku sendiri, mungkin memang benar kalau semua ini karena kesalahan yang aku lakukan.
Rangga melepas pelukannya itu lalu menatapku dengan wajah sangat serius, seperti ingin mengatakan sesuatu padaku. "Ti, aku ingin membuka satu kartu Leon. Tapia pa kamu akan siap menerima semua ini?"Tanya Rangga.
Aku mengangguk, "Ya, aku ingin mengetahuinya. Ada apa dengannya?beritahu aku Rangga!"Jawabku penasaran.
Rangga menggenggam tanganku erat sambil menatapku serius, "Ti, sebenarnya....yang tadi menelponku itu adalah Leon. Dia memberitahuku kalau dugaannya selama ini benar, Ti."
"Tentang apa?dia menduga apa, Rangga?"
"Dia sudah lama mengetahui kalau dia harus menerima kanker darah dalam tubuhnya itu. tetapi....dia baru berani memeriksa langsung ke lab dengan menggunakan darahnya itu tadi pagi, Ti. Dia sempat ragu karena, dia juga memiliki rasa takut yang sama dengan orang lain."Jelasnya dengan panjang lebar padaku.
Aku tak percaya dengan apa yang kudengar dari penjelasan Rangga, semua tubuhku lemas dan tak bisa melakukan apapun. Air mataku jatuh sangat deras mengalir di wajahku, Rangga berusaha menenangkanku tetapi aku tak bisa menghentikan perasaan hancur ini dari hatiku. Aku tak bisa!ternyata itu yang Leon sembunyikan selama ini dariku, dan dia baru saja akan mengatakannya tetapi dia tak bisa melakukan itu. Karena dia takut kalau aku akan tersakiti, karena dia juga takut menerima semua kenyataan ini?Oh, Semesta. mengapa kalian juga tak menggerakkan hatiku untuk Leon?Kalian tak memberitahuku tentang ini semua, mengapa tidak ada yang bisa memberitahuku?! Kedua kakiku tak kuat menopang tubuhku untuk terus berdiri, aku pun tersungkur di lantai dan menangis sangat deras di sana sambil terus memikirkan keadaan Leon saat ini.
Ternyata selama ini aku tak mengetahui semua tentang Leon, aku hanya mengetahui dirinya yang ada di depanku. Aku tak pernah tahu apa yang ada di dalam hatinya, apa yang sebenarnya ingin dia katakan sejak lama padaku. Dan pada akhirnya semua ini akan terjadi, kami akan menghadapi hari yang panjang, dengan orang-orang di antara ku dan Leon.
Sekarang aku sudah tahu Leon, lalu apa yang akan kamu lakukan?apakah setelah aku mengetahui hal ini, kamu akan pergi menjauh dariku?Ternyata orang yang selalu bisa membuatku tersenyum dan bahagia, dibalik itu semua....Leon yang paling rapuh dan tak berdaya dibandingkan aku. Aku mengira aku sudah cukup jauh mengenalmu selama 3 tahun ini, tetapi ternyata aku salah menduga hal ini.
Rangga juga tak bisa berkata apapun lagi untuk menjelaskan padaku, dia juga sedang kacau sekarang, apalagi keadaannya sekarang masih masa pemulihan karena kecelakaan kemarin. Ku perhatikan dirinya yang berjalan dengan penuh kebingungan sambil memegangi kepala bagian kirinya, sepertinya itu yang terasa sakit sekarang ini, tetapi ku diam saja dan tetap menangis memikirkan tentang Leon.
Leon, kutahu kalau aku hanyalah gadis aneh di matamu. Gadis yang sudah mengenalmu sejak 11 tahun yang lalu, yang selalu membuatmu dapat kesulitan.
Ku juga tahu, kalau aku gadis aneh yang hanya menyukai 'Ice Cream Vanilla' dan ingin terus memakannya bersamamu saja.
Kamu juga pasti berpikir kalau aku selalu bersikap seperti anak kecil bahkan hingga saat ini, Kan?Malaikat Penyembuhku?
Ku harap kamu tetap bisa menjadi orang yang bisa menjadikanku dan mengarahkanku pada kedewasaan Leon.
Aku ingin kamu baik-baik saja, buktikan padaku kamu bisa menghadapi semua ini.
Tak lama setelah kebingunganku dan Rangga, Kak Daffa datang menghampiriku dan Rangga dengan wajah gelisah. Sontak kami berdua pun langsung berdiri dan bersemangat ingin mendengar apa yang akan disampaikan olehnya tentang keadaan Leon. "Gimana kak, keadaan Leon?apa dia baik?"Tanya Rangga dengan nada panik.
"Kak?"Aku menahan air mataku yang akan jatuh ke wajahku untuk mendengarkan kak Daffa berbicara tentang Leon denganku dan Rangga.
BERSAMBUNG .....