L&M

L&M
BAB 33 : Debat



BATAM, 2019 ....


Aku, Leon, dan juga Rangga masih stay di rumah sakit sampai sekarang ini. Masih di posisi yang sama seperti saat aku dan Leon bertengkar, pada saat itu hati kami berdua sama-sama digoyangkan dan dibisikkan untuk mundur dan menyerah dengan perasaan yang ada di antara kami berdua.


Aku dan Rangga duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang rawat Leon, dengan tatapan mataku yang tampak khawatir. Aku membolak-balikkan cincin yang ada di jari manisku dan bergumam sendiri, tanpa mengajak bicara Rangga yang ada di sampingku.


Ploook!plook! Rangga menepuk tangan dua kali dengan keras.


"Ti, mengapa kamu melamun lagi sih? Masih mikirin soal Leon?" Tanya Rangga dengan wajah gelisah.


Aku langsung tersadar dari lamunannya, tetapi wajahku tetap tidak bisa senyum, "Ah, iya. Gak kok, aku cuman lagi pikirin hal lain aja," Balasku dengan lembut.


"Kamu gak usah bohong deh, Ti. Aku udah bisa lihat dari wajah kamu, kamu gak usah nyembunyiin apapun."


Aku berusaha tersenyum kecil untuk menyakinkan Rangga, "Rang, kamu gak usah khawatir gitu dong! Aku kan baik-baik aja, ini aku cuman lagi mikirin Leon aja kok."


"Seterah kamu deh, Ti."


"Rang ...."


Pembicaraanku dan Rangga terhenti karena Leon tiba-tiba duduk di samping kiriku sambil mengeluh, "Ti, aku gak bisa stay di Batam." Wajah Leon tetap pucat.


Aku langsung menggenggam erat tangannya, "Leon, iya aku tahu kok. Aku lagi mikirin itu tadi, tetapi Rangga kira aku mikir macam-macam."


Rangga langsung minder karena aku langsung mengatakan dengan jujur, "Ah, Ti. Kok kamu jadi bilang gitu sih? Kan aku cuman khawatir aja, kalau kamu banyak melamun."


Tiba-tiba suasana yang tadinya ribut berubah menjadi hening seketika, entah karena hal apa yang baru saja terjadi. Leon menyandarkan kepalanya di atas bahuku, aku pun menggenggam erat tangan dinginnya.


Sedangkan Rangga tetap duduk diam di samping kananku sambil menatap ke lampu yang ada di atasnya.


Leon kembali duduk seperti biasa, tatapan matanya sangat serius, "Ti, aku serius! Aku harus ninggalin Batam, aku harus ninggalin keluargaku, dan aku juga harus ninggalin kamu sendirian, " Ucap Leon dengan cepat.


Aku bingung apa yang harus di jawab kepada Leon supaya aku tidak terlihat seperti sedang berusaha menyimpan perasaan sakit di dalam hati, "Leon, aku udah tahu kamu pasti bakal pergi ninggalin aku untuk berobat ke negara lain. Aku juga tahu kok kita bakal gak saling bertemu dan susah buat kontakan, tetapi aku tetap yakin kalau kita pasti bisa melewati ini semua sampai kapanpun itu," Aku berusaha meyakinkan hati dan juga Leon supaya tak terlalu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi nanti.


"Bener sih apa yang kamu bilang, Ti. tetapi, waktu kalian pasti selalu berbenturan satu sama lain. Saat kamu sekolah, Leon pasti masih harus istirahat, begitu juga sebaliknya," Rangga menyela pembicaraanku dan juga Leon.


"Iya, tetapi ini demi kesembuhan Leon juga," Balasku dengan wajah serius pada Rangga.


Perdebatan pun di mulai lagi di antara kami bertiga, Leon mulai gelisah dengan dirinya yang harus meninggalkanku dengan waktu yang belum diketahui entah sampai kapan, dan juga Rangga yang tak setuju dengan pemikiranku yang menganggap semua ini dengan tenang-tenang saja.


"Aku ikhlas kok kamu ke sana, Leon. Karena di sana kamu kan harus berjuang melawan sakit kamu," Ucapku sambil tersenyum lebar.


Leon membalas senyumannya, "Iya, Ti. tetapi aku masih khawatir, kita mungkin sama sekali tak bisa berkomunikasi," Jawab Leon sambil membelai rambutku lembut.


"Aku percaya kok."


"Beneran? I love you the Tiara, but I can not get you dead, I just got up, dan I got up for your passion."


"Yeah, I know Leon. I also love you too, I'm really in doubt, but I have to stay in trust," Balasku sambil tersenyum kecil.


"Emang kapan kamu berangkat?" Tanya Rangga.


Leon menghitung tanggal dengan kelima jarinya, "Sekarang tanggal ....21, kan?" Leon langsung terdiam dengan raut wajah terkejut, dia seperti tak percaya akan sesuatu.


Aku menegurnya, "Leon, mengapa?"


Leon menundukkan kepalanya, "maaf, Ti. Aku lupa kasih tahu kamu, kalau aku akan pergi tanggal 22, dan itu adalah ...... besok."


Rangga tampak terkejut, sedangkan aku hanya diam sambil menatap serius pada sang kekasih yang sedang panik di depan sekarang ini. Entah apa yang ada dipikiranku saat ini, tetapi aku sama sekali tidak panik saat Leon baru menyadari kalau esok hari adalah hari di mana dia akan berangkat ke negeri seberang untuk menjalani pengobatan. Tidak ada yang bisa aku lakukan, semuanya sudah jelas, bahwa Leon memang harus menjalani pengobatan di Singapura. Walau aku menangis memintanya untuk tidak pergi, Leon pasti akan pergi, aku tidak bisa egois dengan kesehatan Leon.


Leon mengangguk tanpa ragu, "Ya, aku akan berangkat besok siang ke bandara, penerbangannya jam 2, " Jawabnya.


"Lalu bagaimana dengan Mutiara?"


Aku menatap Leon, dia juga melakukan hal yang sama, "Saat aku pergi, kau yang jaga dia! Aku sudah menyelamatkan nyawamu, setidaknya kau harus membantuku."


Rangga mengangguk pelan, "Ya, baiklah. Kau tidak menyuruhku pun aku sudah melakukannya."


Aku menunduk, "Leon, aku gak tahu hari-hariku tanpamu."


Leon menggenggam tanganku sambil menatapku dengan penuh ketulusan, "Ti, aku yakin kamu pasti bisa. Aku janji gak akan lama di sana, kamu hanya perlu fokus kuliah, itu udah buat aku tenang."


Rangga berdiri dari kursi sambil menghela nafasnya, "huuuh, sebaiknya aku segera beres-beres juga kan?"


Leon mengangguk, "Kau sudah bisa pulang nanti malam, jadi bereskan semuanya!" Jawabnya dengan wajah dingin.


Rangga pun segera masuk ke ruang inapnya dan bergegas membereskan semua barang-barang yang harus dibawanya kembali pulang ke rumah. Sementara itu, aku dan Leon masih duduk di kursi, tidak tahu membicarakan hal apa. Sesekali aku melirik wajahnya yang masih terlihat pucat dan lelah, tetapi aku tidak bisa mengatakan apapun padanya.


Leon, aku mohon jangan pergi! Aku ingin kamu selalu ada di dekat aku, aku ingin setiap hari bisa liat wajahmu. My amazing boyfriend, aku selalu ingin mengucapkan itu padamu, tetapi mulutku terlalu kaku.


Tidak berselang beberapa lama, kak Daffa datang menghampiri kami sambil membawa sebuah surah. dia memberinya pada Leon, "Nih, surat rujuk dari pak direktur. Dia sangat khawatir padamu, makanya saat kau di sana akan tetap terawasi," Jelasnya.


Leon membuka surat itu dan membaca isinya, ternyata direktur rs memberinya semua fasilitas saat dia di Singapura demi pengobatannya, "Hei, apa-apaan ini? mengapa direktur memberiku semua ini? Aku hanya meminta rujuk, bukan meminta fasilitas juga." Tanya Leon dengan wajah sinis.


Kak Daffa tersenyum kecil, "Aku juga gak tahu tuh. Pak direktur memintaku untuk memberi surat itu padamu, jadi aku tak tahu apa isi suratnya."


Leon terlihat sedikit kesal, "Astaga, kak Daffa!"


Aku dan kak Daffa tertawa terbahak-bahak karena reaksi Leon yang sangat tidak menyukai pemberian dari direktur rs untuk membantu biaya pengobatannya. "Aku bisa membayar sendiri dengan uangku, mengapa ..."


"Leon, sudah terima saja! Itu ucapan terima kasihnya karena kinerjamu bagus, kamu gak pernah cuti, dan kamu menjadi teman yang baik bagi pasien. Itu belum seberapa dengan apa yang kamu lakukan untuk rumah sakit ini, " Kak Daffa mencoba meyakinkan Leon supaya menerima pemberian dari direktur mereka.


"Ah, tidak tahu lah," Leon langsung masuk ke dalam ruang inapnya dengan wajah kesal.


Aku pun ikut berdiri dari kursi, "Kak Daffa, akan tetap di rs ini kan?" Tanyaku dengan wajah penasaran.


"Ya, tentu saja. Aku menandatangani kontrak dengan rs ini selama 5 tahun, sekarang baru berjalan 3 tahun," Jawabnya. "Waktu kita bertemu tiga tahun yang lalu, saat kamu masih SMA, nenek kamu saya yang tangani," Lanjutnya dengan mengingat kejadian di masa lalu itu.


Aku mengangguk, "Iya, kak. Berarti kakak kenal Leon sejak kapan jika kalian sudah saling mengenal waktu itu?"


Kak Daffa berpikir, "Emm, kapan ya? Aku lupa, Ti."


Aku sangat penasaran dengan kak Daffa yang sepertinya sudah mengenal Leon sejak lama. Tak lama kemudian dia menepuk tangannya, "Nah, ingat. Kira-kira 6 tahun yang lalu. Waktu saya masih di Jakarta, Leon waktu itu masih kuliah di sana," Jelasnya.


"Owhh, udah lama juga. Pantesan Leon menganggap kakak sebagai kakaknya sendiri, mungkin karena Leon juga tidak punya saudara lain."


dia mengangguk, "Ya, mungkin saja," Kak Daffa melihat jam tangannya, "Emm, Ti. Sepertinya saya harus pergi."


"Oh, jam cek pasien ya?" Tanyaku.


"Iya, kalau gitu .... Saya tinggal, sampai nanti." Kak Daffa berpamitan dengan sopan padaku.


Setelah kak Daffa pergi, aku masuk ke dalam ruang inap Leon untuk melihat apa yang sedang dia lakukan. Walau sesekali aku akan ingat dengan kenyataan bahwa Leon akan pergi sementara dari kehidupanku, aku berusaha melupakannya. Aku tak ingin tahu tentang sakitnya, tetapi aku harus tahu karena aku adalah kekasihnya.


Malaikat penyembuhku, aku sangat bersyukur karena kamu sudah hadir di hari-hariku lagi. Kamu yang membuatku kembali tersenyum, kamu yang mengajariku berbagai perasaan berwarna di hati yang kecil ini. Semoga kamu bisa mencapai impianmu, aku akan selalu memikirkan keadaanmu, Leon.


BERSAMBUNG .....