
Tringg .... Tringg .... Tringg
Suara alarm yang ada di ponselku membuatku harus bangun di pagi yang cerah ini. Mataku belum sepenuhnya terbuka, jiwaku juga masih melayang di atas, aku belum sepenuhnya sadar. Dengan begitu, aku melihat jam yang ada di layar ponselku yang sudah menunjukkan jam 8 pagi. Sontak aku langsung berdiri dengan mata yang sudah segar sambil mencoba membuka chat di WA, siapa tahu ada chat dari Leon.
My boyfriend♥️
Ti, aku tunggu di rumah ya. Kita berangkat jam 11 ke bandara, karna jam terbangnya di majukan.
07.15
Aku langsung terngangak karena Leon mengatakan kalau jam terbangnya di majukan dan ia sudah mengirimku pesan sejak pagi. "Astaga, Tiara! Kamu bodoh banget sih, cewek tapi bangunnya kesiangan mulu!" Gumamku sambil mengetuk keningku sendiri.
Anda
Iya, Leon. Aku bentar lagi ke sana, jangan kemana-mana ya! Tunggu aja di rumah, nonton tv, makan dulu, minum obat, lakukan hal apapun!
08.05
✔️
Setelah mengirim chat pada Leon, aku langsung bergegas mandi dan segera mengenakan pakaian yang sesimpel-simpelnya karena Leon sudah menunggu sejak tadi pagi. Aku mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna cokelat, yang dipadukan dengan baju kodok berwarna biru berbahan jeans. Serta tidak lupa pula tas sandang yang selalu kubawa kemana pun aku pergi untuk menyimpan barang-barangku saat bepergian keluar. Aku hampir lupa dengan tataan rambutku, karena rambutku pendek, jadi tidak bisa diikat semuanya. Aku mengikat bagian kanan dan kiri rambutku ke belakang, poni depan aku rapikan, dan bagian rambut lainnya aku biarkan terurai.
Aku berdiri di depan cermin, "Yeeahh, sudah siap!" Ucapku dengan hati senang.
Saat aku baru saja akan keluar kamar, aku tak sengaja menggantungkan sweater merah yang juga punya kenangan tersendiri bersama Leon. Aku tak berani mendekat, aku hanya diam sambil memperhatikan sweater itu dengan perasaan sedih, "Aih, kenapa sweater itu ada di luar sih? Nanti saja lah aku bereskan, aku sudah buru-buru sekali!" Aku langsung bergegas turun ke ruang tamu.
Bunda, ayah, dan juga Dhika sudah duduk di meja makan, mereka juga tampak sedang berbincang. Aku menyapa mereka sambil berlari, "Pagi ayah, bunda, Dhika! Tiara pergi dulu ya, udah telat."
"Loh, Ti. Gak sarapan dulu? Gimana tuh?" Tanya bunda.
Aku berhenti berlari saat sudah di depan pintu, "Gak bun, kalian aja! Bisa kok, Tiara makan sama Leon nanti," Teriakku lalu kembali berlari keluar dari gerbang rumahku.
Aku mencoba mencari Go car yang jaraknya dekat dengan lokasi rumahku supaya aku tak menunggu lama. Beberapa menit kemudian, aku sudah menemukan supir Go car yang dekat denganku. Tanpa ragu aku langsung menelefon supir tersebut, "Hallo, pak. Bisa secepatnya ke sini gak? Saya lagi buru-buru banget soalnya, gak apa-apa kan?"
"Iya, mbak. Saya akan segera ke sana, ini saya sudah di jalan, sekitar 3 menit lagi saya jemput mbak."
"Oke, makasih, pak. Saya tunggu di depan rumah!"
"Iya, mbak."
Aku langsung menutup telefon dan menunggu sebentar diluar. Sesekali aku mengecek foto-foto kami berdua yang ada di galeri ponselku, saking banyaknya kadang memori ponselku penuh. Kadang aku merasa harus menghapus sebagian yang tidak terlalu bagus, tetapi Leon bilang justru hal itu yang akan membuatku menjadi lebih senang dan tertawa saat melihatnya.
Tiga menit berlalu, sebuah mobil datang menghampiriku. Jendela sebelah kiri terbuka, "Mbak, Mutiara kan?" Tanya supir itu.
"Iya, mbak. Saya usahain cepat ya!"
Sesampainya di depan rumah Leon, aku langsung bergegas turun dari mobil. "Terima kasih ya, pak!" Ucapku dengan terburu-buru.
"Iya, mbak," Setelah itu mobilnya pergi meninggalkan halaman rumah Leon, barulah aku mendekat ke pintu rumah itu.
Akses diterima. Selamat datang, Mutiara!
Lagi-lagi namaku akan disebut oleh alat pendeteksi di pintu ini. Kalian pasti juga sudah pernah tahu kan, aku sudah memberitahu kalian di L&M 1. Tentu saja suasana diluar rumahnya tidak ada yang berubah, semuanya tampak sama.
Tak lama, Leon membukakan pintu. "Ti, ayo! Kamu pasti belum makan kan? Aku udah masak di dalam, abis tu baru kita pergi jalan-jalan," Ia langsung menyuruhku untuk makan padahal niatku kemari untuk pergi dengannya.
Terlihat di wajahnya sangat biasa saja, apa hanya aku yang akan merasa kesepian jika dia benar-benar pergi nanti. Aku tidak bisa membayangkan saat nanti aku mengantarkannya ke bandara, apa aku akan menangis, atau aku akan tetap ikhlas membiarkannya pergi.
Aku berusaha terlihat baik di depannya, "Iya, ayo! Aku sudah lapar nih." Aku langsung menariknya ke dalam rumah, kami pun segera duduk di ruang makan.
Mataku terbelak melihat makanan yang ada di atas meja, semuanya berbahan dasar sayur-sayuran.
"Kenapa, Ti? Kamu gak suka ya?" Tanya Leon dengan wajah penasaran.
Aku menggeleng. "Ah, tidak kok. Aku hanya belum pernah memakan makanan sebanyak ini Leon."
Leon tersenyum. Ia menggeser beberapa piring makanan padaku, "Nih, kamu harus cobain! Ada La ji zi, ayam pedas kering. Sanbeiji, ayam juga tapi pokoknya beda, aku juga tambahin sedikit sayuran. Kwetiau, hampir mirip kayak bakmi, tapi beda."
Aku sampai bingung mau memakan yang mana dulu, Leon memang pintar memasak, tetapi ia juga tidak pernah mau memakan sesuatu kalau tidak ada sayuran.
"Iya, aku coba makan yang ini dulu ya," Aku menyantap makanan yang katanya mirip dengan bakmi itu.
"Bagaimana?"
Leon penasaran.
"Emm, enak kok. Kamu kan emang pinter masak, Leon." Ucapku sambil tersenyum.
Leon pun tampak senang, "Yasudah, kamu makan aja dulu. Aku mau ganti baju bentar, kalau ada apa-apa panggil aja ya!" Ia langsung berjalan menuju ke kamarnya.
**BERSAMBUNG .....
Hallo, semuanya >< aku Sisin, author dari L&M. Senang bisa menyapa kalian semua, jangan lupa like, komen, dan juga kasih rating yang bagus ya buat Leon dan Mutiara, supaya aku bisa melanjutkan kisah mereka sampai akhir.
Sekarang tanggal 14 februari kan? hehe, aku ingat kalau sekarang adalah hari spesial banget buat kalian yang sedang berpacaran atau sudah menikah mungkin? karena hari ini adalah VALENTINE DAYS, hari yang penuh dengan kasih sayang. Selamat untuk kalian semua yang merayakannya ya, aku sebagai author L&M mengucapkan terima kasih sudah mensuport ceritaku**.