L&M

L&M
BAB 18 : Kembali seperti semula



Setelah kembali dari rumah Leon, aku langsung bergegas masuk kedalam kamarku. Tak seperti biasanya, ternyata rumah sepi, tidak ada mobil ayah dan bunda di luar tadi, yang artinya mereka belum pulang dari kantor. Sedangkan Dhika, adik bawel itu aku tidak tahu dia ke mana sekarang, lagipula tidak penting.


Aku langsung mengunci semua pintu dan jendela, memastikan kalau semua akan tetap baik-baik saja saat aku tidur nanti. Aku sudah merasa lelah, tetapi memikirkan keadaan Leon sekarang membuatku tidak bisa tidur begitu saja. Aku sungguh khawatir dengan keadaannya, tetapi ini sudah malam dan dia sudah bersama mamanya, semua pasti akan baik-baik saja kan?


Kumatikan semua lampu yang masih menyala di ruang tamu dan dapur, lalu aku segera masuk kedalam kamar dan langsung merebahkan badanku di atas tempat tidur. "Hadehhh, Hari ini melelahkan sekali." Keluhku.


Sejenak aku membuka ponselku dan mencoba melihat whatsapp dari Leon, ternyata itu terakhir tadi sore, itu pun hanya untuk mengetes chat saja. Berkali-kali kulihat foto profil WA nya, dia memakai foto yang bersama mamanya, wajahnya terlihat tampan kalau dia tersenyum di bawah sinar matahari seperti itu.


Huuuhhh, sungguh hampa. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku tak sanggup untuk melakukan apapun, tubuhku, pikiranku, semuanya sudah sangat lelah.


Aku meletakkan kembali ponselku begitu saja di tempat tidur, lama-lama mataku mulai terpejam, dan akhirnya aku tertidur karena lelahnya perasaanku.


Sedangkan Leon, pada malam itu juga, dia belum tidur. dia masih duduk bersandar di tempat tidurnya, sambil memangku sebuah laptop di kedua pahanya. Tangannya sangat sibuk mengetik di laptop itu, dia juga memakai kacamatanya, tampaknya dia sangat serius sekali.


Mama masuk kedalam kamarnya sambil membawakan secangkir teh hangat supaya dia bisa tetap hangat, lalu mama duduk di samping tempat tidurnya sambil memerhatikan putra kesayangannya itu. "Ini tehnya, mama letakin di meja ini ya." Ucapnya pelan.


"Iya, ma. Terima kasih." Leon tetap fokus pada layar laptopnya.


"Leon, sudahlah istirahat dulu. Besok kan masih bisa dikerjakan, mama gak mau kamu tambah sakit, entah papa juga khawatir sama kamu." Usul mama dengan wajah khawatir.


Leon menatap sejenak mamanya itu dengan tatapan dingin dan wajahnya terlihat masih pucat, "Ma, Wǒ zhīdào nín dānxīn wǒ, dàn nín yě zhīdào wǒ bùnéng líkāi zhè fèn gōngzuò. Kalau bisa, Leon sudah daritadi tidur." Jelasnya panjang lebar.


"Leon, Wǒ zhǐshì dānxīn, wǒ ài nǐ. Nǐ shì wǒ wéiyī de fùmǔ, nǐ shì wǒmen wéiyī de fùmǔ. Kami ingin kamu bisa bahagia, menikmati waktumu dengan sangat ceria, dan tidak memikirkan apapun yang membuatmu ketakutan." Mama berusaha membuat Leon mengerti dengan kasih sayangnya.


Karena tak mau membuat mamanya sedih dan khawatir padanya, Leon pun berhenti mengerjakan pekerjaannya itu, dia menyimpan laptopnya di laci dan meminum secangkir teh yang sudah di buat oleh mamanya tadi.


"Ma, mama dan papa tidak usah khawatir. Leon sudah dewasa, Leon bisa menentukan arah Leon sendiri, mama dan papa hanya mengawasi saja." Ucap Leon pelan.


Mama pun langsung memeluk putranya itu sambil membelai rambut Leon dengan penuh kasih sayang, "Terima kasih, karena kamu sudah hadir untuk papa dan mama. Kamu satu-satunya harapan kami, kami sangat ingin kamu bahagia Leon."


Leon membalas pelukan mamanya dengan erat, dia mengerti perasaan mamanya sangat dalam padanya. dia tak mau mengecewakan kedua orang tuanya yang sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Walau dia tahu apa yang dilakukannya sekarang tak akan pernah sebanding dengan perjuangan dan kasih sayang yang diberikan untuk membahagiakannya.


Keesokan harinya ....


Aku baru saja habis mandi, karena hari ini masih libur, jadi aku masih bisa bersantai di rumah. Leon juga begitu, dia baru akan masuk kuliah besok, sama sepertiku. Aku penasaran bagaimana teman kampusnya akan menganggap dia? Pasti dia langsung jadi pusat perhatian, apalagi dikalangan anak perempuan jurusannya. Aku mulai kembali mengerti sikapnya, sepertinya aku dulu memang tidak mengenalnya lebih jauh karena kami masih dua anak kecil yang hanya ingin bermain dan bermain. tetapi sekarang, aku sudah 16 tahun, aku harus bisa berzikap dewasa seperti yang dilakukan oleh Leon di depan semua orang.


Sehabis mandi aku membereskan semua barang-barang yang berantakan di kamarku, aku juga mengganti alas kasur tidurku karena sudah kotor, lalu aku turun ke bawah untuk menyapa orang tuaku. "Bunda, ayah, Dhika?" Panggilku sambil berjalan perlahan turun dari tangga.


Aku merasa heran, semuanya tetap sunyi, apa mereka belum pulang sejak tadi malam? Berarti semalaman aku benar-benar sendirian. ke mana mereka? Gak biasanya ayah dan bunda gak ngabarin ke aku, Dhika juga entah ke mana. Wah, benar-benar, mereka semua meninggalkanku sendirian. Bagaimana ini? Aku benar-benar tidak mendapatkan kabar apapun, apa aku harus menelpon bunda? Ah, coba telpon saja lah.


Aku mencoba menelpon bunda, aku duduk di meja makan sambil memperhatikan sekitar yang benar-benar sepi. Beberapa menit aku tunggu, akhirnya bunda menjawab telpon dariku, aku pun langsung bertanya padanya. "Bun, bunda di mana sekarang?" Tanyaku kebingungan.


"Iya, sayang. maaf, ya. Bunda gak ingat kasih tahu kamu kalau nenek sakit, bunda, ayah, Dhika lagi di rumah sakit sekarang." Jawab bunda dengan nada panik.


Hah, yaampun. Aku benar-benar gak menyangka kalau nenek akan jatuh sakit. "Bun, jadi gimana sekarang? Nenek udah baik-baik aja kan?"


"Belum, Ti. tetapi gak usah nyusul ke sini ya, karena udah rame juga sama paman-bibimu, kamu di rumah saja ya!"


"Iya, bun. Kalau ada apa-apa kasih tahu Tiara dong bun, biar Tiara gak khawatir."


"Iya, sayang. Oh, iya kamu masak sendiri ya atau beli aja di luar, makan di luar aja! Biar kamu gak repot, besok kan kamu juga udah masuk sekolah lagi, kayaknya bunda baru balik sampai nenek kamu benar-benar siuman."


"Iya, bun. Gak apa-apa, kok. Tiara ngerti, bunda gak usah khawatir, Tiara bisa jaga diri."


"Yaudah, bunda tutup ya telponnya, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam, bun."


Bunda langsung mematikan telponnya, aku pun meletakkan ponselku di atas meja sambil menatap serius pada sekitarku yang tak ada kehidupan ini. "Libur gini enak kalau ngumpul bareng teman." Seketika aku langsung ingat dengan Rangga yang sempat mengajakku untuk pergi berjalan-jalan dengan teman-teman yang lain. "Astaga, aku baru ingat sekarang. Rangga kan kemaren mengajakku pergi bersama teman-teman, mengapa aku baru ingat sekarang?! Ah, dasar Mutiara Nabila tukang lupa." Aku langsung membuka kembali ponselku dan mencari chat WA Rangga, aku sungguh benar-benar melupakan teman-temanku karena Leon.


Aku chatting dengan Rangga :


Anda


Rangga, kamu dan teman-teman


Akan berkumpul gak hari ini?



35


✔️



Rangga


Sorry, Ti. Lama balesnya, aku


Lagi di jalan tadi😅



48



Iya, Ti. Sekarang lagi mau ngumpul lagi di cafe, kamu mau ikutan?☺🙂



48



Anda


Emm, iya Rang. Aku pengen ikutan nongkrong, lagian gak ada


Kerjaan juga di rumah jadi bosan.



48


✔️



Rangga


Oh, gtu? Yaudah, aku jemput.


Aku lagi di halte depan komplekmu, Ti.


08.49


Anda


Aku ada di dekat sini ya,


Kalau gitu aku mau beres-beres


Dulu, Rang😆😄



50


✔️



Rangga


Oke, aku otw 5 menit lagi.


Siap-siap aja, Ti😉



51



Anda


Sip, kalau udah nyampe


Lngsung telpon aku aja.



51


✔️



Rangga


Oke, sampai nanti🤗



52



Chatku berakhir dengan Rangga, aku pun bergegas mengganti pakaianku, mengambil helm yang diberikan oleh Leon untukku, dan juga memastikan semua pintu dan jendela sudah terkunci dengan benar. Aku keluar dari dalam rumah, menunggu Rangga menjemputku di depan pagar sambil memperhatikan helm imut yang akan aku gunakan itu.


Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 09. 00 WIB. Tak lama kemudian, Rangga akhirnya sampai untuk menjemputku, ternyata dia mengendarai sepeda motor sport yang tampak unik, berbeda dengan punya Leon. Aku tidak pernah melihatnya membawa motor dengan model itu, dengan body yang besar tentu saja pasti itu sangat berat sekali saat di kendarai.


Tin ... Tin ... Tin


Aku terkejut dengan suara klakson motornya itu, "Aih, Rangga. Iya, aku melamun." Jawabku kesal. "Btw, kamu baru beli motor ya?"


Rangga membelai bagian depan motornya itu, "Oh, motor ini? Udah lama kok, Ti. Kamu aja yang belum pernah liat aku bawa, ya kan?"


"Emm, iya sih. Aku belum pernah liat kamu pake motor gede kayak gini, lagipula kalau dibawa ke sekolah sayang banget, entar lecet."


Rangga menahan tawanya, "Ti, kamu benar. tetapi itu bukan alasannya mengapa aku gak bawa motor ini ke kampus."


Aku mengerutkan kedua alisku, "Jadi, alasannya apa?" Tanyaku sangat penasaran.


"Emm, ada dehh. Eh, entar kita telat, udah ditungguin anak-anak tu di cafe.  Malah asik ngobrol jadi lupa." Tegur Rangga sambil memutar arah motornya.


"Eh, iya. Yaudah, ayo berangkat!" Ucapku sambil mengenakan helmku, lalu naik ke kursi belakang motor Rangga.


Rangga menyeimbangi motornya dengan baik supaya kami tidak terjatuh, "Awas, hati-hati naiknya!"


"Udah, ayo!"


Rangga mengangguk, lalu segera menaikkan kecepatan motornya dan mengatur koplingnya supaya tetap stabil.


Beberapa menit setelah aku pergi bersama Rangga, Leon datang ke rumahku. Dia tidak turun dari motornya, tetapi terus menatap ke arah pintu rumahku. Aku tidak tahu apa alasannya datang ke rumah, padahal dia masih sakit.


Leon membuka kaca helmnya seraya mematikan mesin motornya, "Tiara tidak di rumah?" Tanya Leon dengan tatapan mata datarnya," Bunda bilang, Tiara tidak ada keluar rumah hari ini. Apa dia tidak bilang ke bunda kalau dia bakal keluar?" Lanjutnya semakin bingung, tetapi tetap bersikap tenang.


"Apa aku coba telpon Tiara saja?" Dia langsung mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya dan mencoba menelponku.


Saat itu aku sedang tidak fokus, aku juga tidak mendengar ponselku ternyata berdering terus-menerus dari penelpon yang sama. Sepanjang perjalanan, aku dan Rangga tak bisa lepas dari canda dan tawa yang kami buat untuk menghibur perjalanan. Sampai aku lupa, bahwa kemaren Rangga sempat marah denganku karena aku selalu melamun, padahal sudah ditegur berkali-kali olehnya.


Seketika suasana hening, hanya terdengar suara motor Rangga dan suara kendaraan lainnya, "Emm, Tiara. maaf, karena aku udah bentak-bentak kamu kemaren. Aku tidak tahu mengapa aku bisa kayak gitu," Ucapnya dengan penuh penyesalan.


Aku tersenyum kecil, "Iya, gak apa-apa kok. Aku tahu, bukan kamu aja yang jengkel, tetapi teman-teman yang lain juga pada jengkel kok sama aku." Balasku.


"Ya, sekali lagi aku minta maaf. Gak seharusnya aku kayak gitu, lain kali aku gak akan marah-marah lagi."


"Oke, aku ingat kata-katamu itu ya. Jangan lupa loh, aku sudah mengingatnya." Sindirku sambil tersenyum.


Rangga mengangguk, "Iya, Ti." kami pun lanjutkan perjalanan menuju cafe yang biasanya tempat kami nongkrong, lebih tepatnya adalah di mana tempat aku mengajak Leon kemaren, ya cafe itu. tetapi untuk saat ini aku tidak ingin memikirkan tentang Leon dulu, mungkin aku hanya ingin dia benar-benar istirahat dan aku tak mau mengganggunya, jadi aku tak akan bertanya-tanya padanya.


Sudah puluhan kali Leon mencoba menghubungiku, tetapi aku tak kunjung menjawab telpon darinya. Itu membuatnya khawatir, dia tak tahu harus mencariku ke mana karena dia juga belum hafal jalan yang ada di Batam. Dia hanya hafal jalan ke rumahku, jalan ke sekolahku, jalan ke kampusnya, jalan ke bandara dan juga mungkin jalan menuju ke cafe tempatku nongkrong.


"Tiara, ke mana sih? Aku belum tahu jalannya, harus nyari dia di mana?" Leon kebingungan sambil memperhatikan sekeliling komplek yang tampak sepi.


Akhirnya dia memutuskan untuk mencariku ke cafe di mana tempat yang baru saja dia kunjungi kemaren bersamaku. Dia sangat yakin kalau aku benar-benar berada di cafe itu, karena aku juga sudah bilang padanya kalau aku sudah benar-benar hafal dengan cafe itu. dia bergegas menutup kembali kaca helmnya, lalu menghidupkan mesin motornya itu. dia melaju dengan tujuan untuk menemukanku di cafe itu.


Sementara itu, aku dan teman-teman yang lainnya sudah sibuk berbincang sambil menyantap makanan yang ada di depan mata kami. Aku tak berpikir kalau Leon akan datang, karena aku sendirian di rumah dan tak tahu akan melakukan apa selain berkumpul dengan teman sebayaku.


Yuni yang duduk di sampingku tampak menikmati suasana hari ini, "Ahahaha, liat tidak waktu itu mukanya si bego ini kayak orang gila banget?!" Ejeknya sambil tertawa terbahak-bahak.


Rangga dan Dimas juga ikut tertawa sambil melirik Panji yang terheran-heran dengan tingkah mereka berdua. "Hei, mengapa dengan kalian berdua? mengapa menatapku begitu." Tanya Panji kesal.


"Hahaha, Panji. Kamu masih gak ngerti? Dari tadi tuh, yang kami ceritaiin itu ya lo tahu!" Jawab Dimas sambil menahan tawanya.


"Ishh, kalian benar-benar!"


Rangga menepuk pelan bahu Panji, "Sabar, Pan. Gak boleh marah gitu dong, kan temen."


Panji tampak kesal, "Teman apa yang jelekin orang lain?!"


Di tengah keusilan mereka, Yuni melihatku hanya termenung memperhatikan mereka, dia pun langsung menegurku. "Oi, Tiara. mengapa lagi kamu? Melamun. Jangan dong, kita kan pengen cerita bareng, masa kamu melamun terus?" Tanya Yuni sambil mengunyah makanannya.


Aku pun tersenyum, "Gak kok, aku gak melamun."


"Jadi, apaan? Kamu diam aja, padahal lucu banget tahu."


"Ya, gak tahu. Abis kalian jahil banget sama Panji, dia sampe kesel gitu." Aku menahan tawa.


"Oh, iya. Besok kita udah masuk sekolah lagi, jadi harus jalan-jalan nih!" Usul Rangga.


"Nah, iya. Rangga tahu aja, namanya anak motor, ya kan?!" Sindir Dimas sambil merangkul bahunya.


"Iya, iya. Mumpung aku belum touring, jadi bisa jalan sama kalian." Balas Rangga.


Aku memikirkan saat nanti kami harus jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, ditambah lagi sekarang kan sudah SMA, jadi benar-benar akan sibuk dengan jurusan yang kami ambil. tetapi, saat ini adalah pilihan tepat untuk berjalan-jalan, karena besok sudah masuk kembali ke sekolah, takutnya kami tidak bisa lagi berkumpul seperti ini.


Seperti inilah suasananya saat aku bersama dengan mereka semua. Aku merasakan dunia yang sangat menyenangkan, sejenak aku melupakan kesedihanku, sejenak hilang beban yang ada. tetapi, aku baru ingat kalau ada yang kurang di antara kami semua, yaitu Novi. Ya, kali ini Novi tidak ada. Sahabatku itu, sepertinya benar-benar tidak ingin bertemu denganku lagi. Biasanya dia yang akan banyak bicara karena sifat ceplas-ceplosnya dan kebawelannya itu, tetapi sekarang semua itu hanya angin lalu saja.


Saat aku dan teman-teman tengah mengobrol di cafe, Leon sudah sampai di parkiran cafe yang ada di bawah. dia memarkir motornya di samping motor Rangga yang sudah lebih dulu berada di sana.


Leon memperhatikan motor yang ada di sampingnya itu, ada sebuah helm yang membuatnya berpikir itu adalah milikku. "Sudah pasti Tiara ada di dalam." Ucapnya sangat yakin.


Ping! Ping! Ping!


Suara pesan masuk dari ponselnya, dia pun segera melihat pesan tersebut. Ternyata bunda yang mengirimnya pesan lewat WA.


Bunda


Leon, ajak Tiara ke rumah sakit juga ya! Kondisi neneknya memburuk, tolong ya!"



45



Anda


Iya, bun. Leon udah sama Tiara, bentar lagi nyusul ke sana.



46


✔️



Karena pesan yang dikirim bunda, dia pun berjalan masuk menuju ke dalam cafe untuk mencariku. Aku bisa merasakan kehadiran Leon, tetapi aku tak mengatakan apapun pada teman-temanku tentang hal itu.


Aku mulai tak tenang, sesekali aku melirik ke arah tangga untuk melihat apa benar Leon akan datang. Rangga menegurku karena dia bingung, mengapa aku seperti mencari sesuatu.


"Hei, Tiara. Kamu cari apa?" Tanya Rangga.


Aku gugup, "Emm, tidak ada kok. Aku gak lagi nyari apa-apa, aku cuman liat sekitar aja." Jawabku.


Tak lama kemudian, Leon datang menghampiri kami. "Tiara!" Tegurnya sambil berdiri di antara aku dan Yuni.


Aku langsung melirik ke belakangku, ternyata benar itu adalah Leon. Teman-temanku juga terlihat kaget karena melihat Leon yang tahu kami berkumpul di cafe itu. Rangga juga lagsung berdiri dari kursinya, tatapan matanya terlihat sangat serius pada Leon.


"Leon, kamu ngapain di sini?" Tanyaku membuka topik pembicaraan.


Leon menatapku dengan wajah dinginnya, lalu menarikku berdiri. "Aku mau nyari kamu, Ti. Udah berapa kali aku telfonin kamu gak ada ngangkat satu pun." Jawabnya tetap dingin padaku.


Aku melihat ponselku, ternyata benar, dia sudah lebih 15 kali menelfonku tetapi aku tak menjawab satupun panggilan itu. Aku tidak tahu harus menjawab apa padanya, aku takut Leon akan marah.


Rangga memperhatikan Leon yang menggenggam tanganku, terlihat di wajahnya sangat jengkel. "Ti, kamu mau ke mana sama dia? Bukannya kita mau jalan-jalan lagi?"


"Ah, iya. tetapi .... "


"Dia akan ke rumah sakit." Sambung Leon dengan cepat.


Aku merasa bingung, mengapa aku harus ke rumah sakit dengannya. Apa yang terjadi? Apa dia memang benar sakit, makanya dia mengajakku ke rumah sakit. "Emangnya mengapa? Kamu sakit, Leon?" Tanyaku penasaran.


Dia menatapku serius, "Bukan aku, tetapi nenekmu. Bunda menyuruhmu ke rumah sakit, karena nenekmu keadaannya memburuk." Jelasnya.


Aku terkejut mendengar penjelasan Leon, sungguh .... Aku sangat tidak tahu kalau keadaan nenek memburuk, bunda juga gak kasih tahu kalau nenek sakitnya parah. Aku tidak tahu harus berbicara apa, bibirku membeku seketika. Aku menatap Leon sangat dalam, aku ingin dia mengetahui perasaanku sekarang.


Leon, nenek akan baik-baik aja kan? Nenek tetep bisa buka mata kan? Nenek akan sama-sama kami lagi kan?


Tak kusangka air mata jatuh ke wajahku, dia pun langsung memelukku dengan penuh kehangatan. "Aku gak mau nenek pergi." Ucapku sambil menangis di pelukannya.


"Suttts, jangan bilang gitu. Ayo, kita ke rumah sakit, bunda udah nunggu!" Balasnya sambil menghapus air mataku.


Aku pun melepas pelukanku pada Leon, "Yuni, Rangga, Panji, Dimas, aku pamit dulu ya! Mau ke rumah sakit liat nenek, gak apa-apa kan?"


Mereka menggelengkan kepala sambil menatapku dengan sedih, "Iya, Ti. Kamu ke rs aja, gak apa-apa kok!" Balas Yuni lembut.


"Yah, padahal pengen jalan-jalan. Gak apa-apa deh, aku doain semoga nenek kamu cepet sembuh." Ucap Dimas sambil tersenyum.


Aku melihat Rangga yang hanya diam saja sejak tadi, "Rangga? Kamu gak apa-apa kan, aku .... "


dia langsung tersenyum kecil, "Iya, gak apa-apa kok, Ti. Lain kali masih banyak waktu kok, kita bisa jalan-jalan kapan aja kamu mau."


Perasaanku pun langsung merasa sedikit lega karena teman-temanku mau mendengarkan situasiku, "Terima kasih, semuanya! Aku pamit dulu ya." Aku berjalan mundur sambil melambai ke mereka.


Mereka pun membalas dengan melambai juga, "Dadah, Tiara! Hati-hati di jalan, semoga sampai di tujuan!" Teriak Panji.


Aku dan Leon pergi meninggalkan cafe dan langsung bergegas menuju ke rs secepatnya. Setelah aku meninggalkan teman-temanku di cafe itu, tampaknya Rangga merasa kesal.


Yuni menyuruhnya duduk, "Hei, Rangga! mengapa dari tadi aku perhatikan wajahmu kesel gitu, mengapa?" Tanya Yuni.


Rangga menahan amarahnya, "Tidak ada. Bukan urusanmu juga!" Jawabnya sambil meminum seteguk minuman.


Rangga kesal karena aku di bawa pergi bersama Leon, dia memang benar-benar tidak menyukai Leon. Bagaimana pun aku sudah menjelaskan kepada mereka tentang Leon, tetap saja mereka tidak akan percaya padaku. Setelah aku pergi, mereka mulai membuka pembicaraan yang berhubungan dengan aku dan juga Leon, entah mengapa pembahasan itu semakin membuat Rangga kesal.


"Rangga, kamu benar-benar cemburu Tiara bersama dengan pria itu?" Tanya Panji dengan wajah serius.


Rangga menatapnya sejenak lalu kembali meminum secangkir kecil minuman. "Rangga, sudahlah! mengapa kamu kesal pada mereka? Aku malah senang Tiara jarang melamun sekarang karena kak Leon." Ucap Yuni.


"mengapa kalian berisik kali?! Terserah padaku, mengapa kalian mengurusi perasaan orang lain!!" Bentak Rangga sambil menuangi minuman itu pada gelasnya.


Kalian tahu apa yang di minum oleh Rangga? Tentu saja minuman yang akan membuat kalian mabuk, dia meminumnya di depan teman-teman sekolahnya untuk pertama kalinya. Rangga tak pernah mabuk seperti itu selain saat betkumpul dengan teman klab motornya.


BERSAMBUNG .....