
Malam harinya, aku keluar dari rumah Leon lewat pintu belakang sambil mengendap-endap.
Aku memperhatikan sekitar, apakah ada yang melihatku atau tidak, kalau ada akan sangat berbahaya untukku. Semua pintu dan jendela rumah Leon sudah kukunci, jadi tidak ada yang terjadi saat aku pergi, semua akan tetap aman terkendali.
Aku pun bergegas pergi meninggalkan komplek dan segera pergi mencari taxi di jalan besar yang ada di luar komplek untuk mengantarku kembali pulang ke rumah.
Setelah lama berdiri di pinggir trotoar, akhirnya ada taxi yang berhenti dan aku langsung masuk ke taxi itu. "Emm, pak, bisa ke komplek Malaka kan?" Tanyaku pada sopirnya.
Ia mengangguk, "Iya, bisa. Mbak lagi gak buru-buru kan? Soalnya jalan macet banget nih." Jawabnya.
Aku menggeleng, "Ah, gak buru-buru kok, pak. Saya cuma mau pulang bentar aja abis itu balik lagi ke komplek ini." Jelasku singkat.
"Oh, mbak mau ke rumah orang tua ya?"
"Hehe, iya, pak. Saya mau pulang sebentar." Aku agak tidak paham apa yang ada di dalam pikiran sopir itu.
Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 20:18 WIB, sudah jam delapan lewat, aku harus cepat bergegas kembali pulang dan menjelaskannya pada ayah dan juga bunda tentang hal yang terjadi padaku.
Perjalanan menuju ke rumah, memakan waktu setengah jam lebih karena jalan macet sekali. Aku maklumi apalagi ini adalah jam di mana orang yang bekerja baru saja pulang dari kantornya.
Tak lama kemudian, aku sudah berada di depan rumahku, aku pun segera turun dari taxi. Aku mengetuk jendela setir taxi itu, lalu sopirnya pun membuka jendela mobilnya.
"Pak, bisa tolong tunggu sebentar? Saya mau ambil barang-barang di dalam, abis itu balik lagi ke komplek tadi." Tanyaku sambil berbisik.
"Oh, iya. Bisa, mbak. Saya akan tunggu di sini saja."
Aku pun segera bergegas naik dan mengetuk pintu rumahku. "Bun, ayah! Ada orang di rumah?" Tanyaku sambil mengetuk pintu rumah.
Pintu terbuka, ternyata bunda yang membukakan pintu untukku. "Tiara, kok kamu pulangnya larut banget? Abis dari mana aja? Bunda khawatir!" Ucap bunda terlihat gelisah.
Aku tersenyum kecil, "Maaf, bun. Tiara gak ke mana-mana kok. Abis pulang dari kampus, Tiara langsung istirahat di rumah Leon." Jawabku dengan wajah sejujur-jujurnya.
"Oh, gitu? Leon kasih kamu kunci pintu rumahnya ke kamu ya? Pantes mama Leon bilang kuncinya udah dititip, ternyata sama kamu."
"Hehe, iya bun. Tiara awalnya juga gak tahu kenapa Leon kasih kunci rumahnya ke Tiara, sekarang Tiara ngerti buat apa."
Bunda membelai rambutku, "Jadi, kamu kenapa balik? Udah makan belum?" Tanya bunda dengan penuh perhatian.
Aku mengangguk, "Tiara udah makan kok, bun. Tenang aja." Jawabku singkat. "Oh, iya. Bun, kalau Tiara mau tinggal di rumahnya Leon ..."
"Iya, gpp. Itu terserah kamu, bunda gak bisa melarang. Leon juga udah kasih kepercayaan untuk jaga rumahnya ke kamu, ya mau gimana lagi." Sambung bunda.
Aku dan bunda pun masuk ke dalam rumah untuk membereskan beberapa pakaian untuk aku pakai saat berada di rumahnya Leon. Bunda membantuku merapikan semuanya, jadi aku terasa sangat terbantu.
Setelah memasukkan semua barang ke dalam koper, aku pun segera pamit pada bunda. "Bun, Tiara pamit ya! Bunda jaga kesehatan selama Tiara gak di rumah ya? Tiara janji kalau libur pasti balik kok."
Bunda memelukku dengan penuh kehangatan, "Iya, sayang. Bunda pasti selalu sehat-sehat kok, kan bunda harus liat kamu senang terus."
Aku melepas pelukan bunda, "Kalau gitu, bun. Tiara pergi ya, pamit sama ayah juga!"
Bunda mengangguk, "Iya, nak. Hati-hati di jalan ya, kamu juga jaga diri baik-baik."
Aku turun dari tangga dan berjalan menuju ke luar rumah, "Iya, bun. Dadah!" Aku melambai ke bunda yang berdiri di depan pintu rumahku.
Sopir taxi itu memasukkan koperku ke dalam bagasi mobil, aku pun masuk ke dalam taxi karena hari sudah semakin larut, aku takut nanti ada yang mencurigai rumah Leon yang terlihat sepi.
*Sesampainya di depan rumah Leon, aku langsung menyuruh sopir taxi itu untuk menurunkan koperku dan segera pergi meninggalkan komplek, supaya tidak ada yang melihatku baru saja pergi dari rumah Leon.
Aku pun segera masuk ke dalam rumah dan mengunci rumah supaya aku bisa langsung beristirahat dan esok pagi bisa membereskan semua pakaian yang ada di dalam koper besarku itu.
"Ah, akhirnya kembali lagi ke rumah yang sepi ini. Leon, aku akan tinggal di sini sampai kamu kembali. Jadi bilang-bilang kalau kamu akan kembali, aku akan langsung bergegas kembali ke rumahku!" Aku berbicara sendiri sambil berjalan menuju ke dalam kamar Leon.
Aku membuka pintu kamar sambil mendorong masuk koperku itu, lalu menghidupkan lampu kamar. "Huhh, benar-benar sepi. Apa Leon benar-benar tenang jika sendirian kayak gini?" Tanyaku.
Tanpa berpikir panjang, aku meletakkan koperku di dekat lemari pakaian, membiarkan bajuku di dalam koper baru besok pagi aku akan memasukkannya ke dalam lemari pakaian, karena kulihat lemarinya juga sudah kosong tidak ada lagi baju-baju Leon di dalamnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 21:24 WIB, aku juga sudah mulai mengantuk dan lelah, aku bergegas mengganti pakaian dengan piyama dan langsung tidur tanpa memikirkan hal lain lagi.
*Keesokan paginya ......
Aku sudah bangun dari pagi-pagi sekali. Sekarang sudah jam 8 pagi, aku sudah sibuk membereskan pakaian dan memasukkannya ke dalam lemari pakaian yang ada di dalam kamar.
"Oke udah rapi semua, tinggal .... Oh, iya make up belum!" Aku menutup lemari dan mencari alat kosmetikku yang masih ada di dalam koper.
Karena aku sudah tahu kalau di rumah Leon tidak mungkin ada meja rias, ya kali kan Leon cowok. Makanya aku beli sendiri, baru saja diantar tadi pagi dan aku sendiri yang memindahkannya ke dalam kamar. Aku menyusun alat kosmetikku di atas meja rias itu dengan sangat rapi dan perlahan-lahan supaya tidak terjatuh ke bawah.
"Sudah beres, semuanya. Tinggal masak deh buat sarapan!" Ucapku. Aku baru ingat kalau hari ini aku tidak ada kelas di kampus, "Oh, iya. Hari ini gak ada kelas, biar aja deh di rumah aja. Nonton tv, apapun deh." Lanjutku dengan sangat santai.
Aku keluar dari kamar untuk mandi, badanku sudah terasa sangat lengket sekali karena keringat dari tadi pagi. Aku pun bergegas mandi supaya badanku kembali segar dan menjadi rapi.
BERSAMBUNG .....