
Setelah selesai mandi, aku langsung bergegas menyiapkan sarapan untuk aku makan. Di dapur aku memanggang roti di mesin pemangganggnya dan juga membuat susu untukku minum.
Aku menunggu sambil bersenandung, "Hmmmm .... Nanana .... Nanana ..."
Klik akhirnya rotinya pun sudah matang. Aku langsung mengangkatnya dan meletakkan roti itu di atas piring seraya membawanya ke atas meja makan.
"Asyiikk, udah jadi." Ucapku. "Bismillahirrohmanirrohim!" Aku membaca doa sebelum makan *bagi yang beragama islam.
Setelah berdoa, aku pun langsung menyantap sarapanku itu. Tadinya, perutku terasa kosong sekali karena mungkin aku kelelahan, dari pagi langsung berkemas barang padahal belum makan apapun.
Triiingg! Triiing! Ponselku berdering, aku meletakkan ponsel di atas laci kamar, jadi aku pergi untuk mengambilnya.
Ternyata yang menghubungiku adalah Kia, dia pasti khawatir padaku sekarang, karena aku tidak bilang apapun pada saat pergi semalam. Aku pun mengangkat telpon dari Kia, "Hallo, Kia."
"Ah, Tiara. Lo ke mana aja sih? Tiba-tiba pergi gitu aja, lo gak tahu kami khawatir?" Tanya Kia dengan nada khawatir.
"Ah, iya. Gue tahu kalau kalian bakal khawatir, karna gue pergi gitu aja. Tapi, gue baik-baik aja."
"Sekarang lo ada di mana? Oh, iya. Lo kan gak ada kelas hari ini, cuman gue sama Leodi deh."
"Gue di rumah kok dari semalam, gak ke mana-mana."
"Oh, gitu. Bagus deh, Ti. Tapi lain kali jangan langsung pergi gitu aja ya, bikin khawatir aja!"
Aku mengangguk, "Iya, Ki. Gue gak akan kayak gitu lagi kok."
"Eh, yaudah deh. Ini dosen udah mau masuk, entar kita sambung lagi ya, bye Tiara!"
"Iya, bye juga, Kia." Kia langsung menutup telpon setelah aku menjawab.
Aku meletakkan ponselku di atas meja makan, lalu duduk kembali untuk lanjut memakan sarapanku.
Karena aku sendirian di rumah ini, jadi aku bisa melakukan apa yang aku inginkan. Seperti kata Leon, aku boleh menggunakan sepuasnya rumah ini, asalkan aku bisa menjaga semuanya tetap pada tempatnya.
Setelah selesai makan, aku ke dapur lagi untuk mengambil beberapa camilan yang ada di dalam kulkas. "Aku nonton tv aja deh, dari pada keluar rumah. Hari juga panas banget lagi." Ucapku sambil berjalan menuju ke ruang keluarga untuk menonton tv.
Duduk di sofa panjang, aku menghidupkan tv dan menonton acara yang aku sukai, nonton drama korea emang yang nomor satu. Tentu saja aku gak boleh ketinggalan menonton acara favoritku itu.
Sambil memakan camilan, kadang aku bisa tertawa, merasa sedih, dan juga kadang terbawa amarah saat menonton acara itu. Sejenak aku jadi melupakan hal lain yang ada di hadapanku, aku harus menjalani hari-hari yang berat tanpa Leon mulai sekarang.
"Hahaha .... Kenapa sih oppa Lee Min Ho bisa malu-malu gitu? Lucu bangett!" Ujarku sambil fokus menonton tv.
Saat aku tengah asyik menonton acara favorit di tv, aku tidak mendengar hal lain karena terlalu fokus. Ponselku berdering beberapa kali, tetapi aku tidak mendengarnya, aku juga tidak tahu siapa yang menelponku itu karena tidak ada daftar namanya.
Aku baring menyamping menghadap tv, "Ah, nonton apa lagi ya? Horor? Jangan deh, aku kan lagi sendirian." Aku memencet remot tv untuk mencari siaran yang lain.
Karena ingat hal itu, aku jadi tidak mood lagi untuk menonton tv. Aku pun berjalan ke dapur, tetapi aku melihat layar ponselku menyala, jadi aku melihat ke ponselku. "Ah, siapa yang menelpon sejak tadi? Sudah 15 panggilan tak terjawab, aku sama sekali tidak dengar." Karena aku tidak tahu siapa yang menelpon, aku biarkan saja lalu lanjut berjalan ke dapur.
Aku tidak terlalu memperhatikan nomor yang tidak dikenali itu, soalnya mencurigakan juga. Nomornya tidak berawal +62, berarti bukan kode negara Indonesia kan? Jadi untuk apa aku menjawab, paling orang salah sambung, mengganggu saja.
Saat aku mencuci piring, aku termenung dan memikirkan tentang Leon. Bagaimana keadaannya di sana, bagaimana ia makan, minum, dan juga bagaimana suasana di sana, aku ingin tahu semuanya. Tapi, itu mustahil, bahkan aku tidak bisa melihat wajahnya untuk saat ini.
Aku menguap, "Hwuahhh, ngantuk. Udah jam berapa ini?" Aku melihat jam dinding, sekarang sudah jam 10 pagi.
"Ah, sudah mau siang juga nih. Tidur aja deh, gak ada hal lain juga yang mau aku kerjakan." Aku berjalan menuju ke ruang keluarga. Langsung berbaring di sofa panjang, seraya mematikan kembali tv menggunakan remotnya yang ada di atas meja.
Aku menghitung jam, "Kalau sekarang jam 10 pagi, berarti di Singapura sekarang jam 11, iya kan, Leon?" Tanyaku sambil membayangkan wajah Leon. Lagi-lagi mengantuk, aku langsung memejamkan mata dan tertidur di sofa itu.
Saat aku tertidur, tentu saja aku tidak akan pernah tahu apa yang terjadi. Aku hanya ingin saat aku tertidur, bisa bertemu dengan Leon lagi dan memiliki masa depan yang kami berdua inginkan di dunia ini. Tapi, aku tahu .... Semua mimpi hanyalah mimpi, tidak akan pernah menjadi suatu kenyataan dalam hidupku. Walau begitu, aku tetap akan berharap hal yang baik selalu mengikutiku dan juga Leon.
Mutiara ..... Ti, aku di sini!
Aku mendengar suara Leon, tidak salah lagi, itu suara Leon.
Ti, kamu jangan memikirkanku terus menerus begitu! Aku baik-baik saja.
"Leon? Kamu di mana, kemari lah!" Aku memperhatikan sekitarku. Semuanya sunyi, hanya ada cahaya putih yang mengelilingiku.
Kamu tidak bisa melihatku? Aku selalu ada di dalam hatimu, Ti. Aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu.
Aku sangat menyayangimu, tapi mungkin ..... Cuman sampai di sini aja, kita tidak bisa berjalan bersama lagi.
Aku bingung dengan apa yang ia katakan, terlebih lagi aku tidak tahu di mana Leon, aku hanya mendengar suaranya bergema di telingaku.
"Leon? Apa yang kamu maksud? Aku gak ngerti."
Nanti, ada saatnya kamu akan mengerti ucapanku. Sekarang, jalanilah kehidupanmu seperti sebelum aku ada di hari-harimu, Ti.
Aku akan pergi jauh, jadi kamu tidak akan bisa melihatku lagi. Tapi ... Aku bisa melihatmu.
Tiba-tiba napasku sesak, aku tidak bisa mengolah apa yang diucapkan Leon padaku. Aku sungguh tak mengerti, "Apa yang kamu katakan? Kamu akan pergi ke mana? Jangan pergi, Leon!" Teriakku.
"Jangan pergi! Jangan pergi, Leon! Jangan tinggalkan aku sendirian! Aku gak mau. Jangan pergi!" Aku langsung terbangun dari tidurku. Keringat membasahi tubuhku, air mataku juga mengalir di wajahku.
Aku bermimpi kan? Aku benar-benar bermimpi! Ya, itu tadi tidak nyata. Aku baru saja bermimpi.
Aku berkali-kali meyakinkan diriku sendiri untuk tidak percaya pada mimpi itu, tetapi hatiku tiba-tiba saja ingin mempercayai hal itu. Aku berusaha menahan, tapi tidak bisa.
BERSAMBUNG .....