L&M

L&M
BAB 20 : Aku mencintaimu



Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya kak Daffa keluar dengan sebuah catatan di tangannya. Catatan itu tampaknya berisi pemeriksaan nenek tadi. Kami yang menunggu di luar sudah sangat penasaran dengan hasil kondisi nenek, akankah membaik atau semakin memburuk. Tapi di antara kami semua, yang paling terlihat khawatir itu adalah bunda, karena nenek adalah ibu dari bunda, ikatan mereka tampak sangat kuat walau sudah dimakan usia.


"Bagaimana keadaan, nenek?" Tanya bunda.


Kak Daffa tersenyum kecil, "Keadaannya sudah semakin membaik. Detak jantungnya sudah normal, aliran darahnya juga hampir normal."


"Artinya, nenek akan segera siuman kan, dok?"


Kak Daffa mengangguk, "Iya, bu. Nenek akan segera siuman, karena obat tidur yang tadi siang saya berikan sudah tercerna, nenek sudah kembali tidur seperti biasa." Lanjutnya.


Aku mengela napas lega, Leon tersenyum senang karena kami semua mendapat berita baik tentang keadaan nenek yang semakin membaik dan akan segera siuman.


"Syukurlah, semua akan kembali membaik." Ucapnya.


****


Keesokan harinya ....


Ini adalah hari pertama Leon masuk ke kampus, setelah selesai kuliah di Jakarta dengan S1, ia melanjutkan gelarnya itu ke kampus yang ada di Batam. Pagi-pagi sekali, Leon sudah tampak sibuk mempersiapkan segala hal untuk kuliahnya hari ini. Ia sangat cekatan, tidak seperti diriku yang sangat lambat dalam situasi yang mendesak.


Aku sudah berada di rumah Leon sejak jam 6 pagi, sedangkan sekarang sudah jam setengah 7, dan Leon masih sibuk dengan segala hal.


Hahh, Leon! Ternyata kamu bisa bersikap gugup seperti itu ya, padahal wajahmu itu .... Tidak cocok sekali!


Aku duduk di ruang makan sambil melihatnya mondar-mandir kesana-kemari untuk mengambil semua keperluan untuk kuliahnya. Melihatnya begitu, aku ingin sekali membantu, tetapi aku tidak mengerti apapun, jadi aku duduk diam saja.


"Apa lagi coba yang belum disiapkan?" Leon mulai kebingungan, ia melihat ke dalam isi tas ranselnya yang ia letakkan di atas meja makan.


Aku menggeleng, "Leon, kamu bisa ceroboh begini ya ternyata?!" Sindirku sambil menatapnya kesal.


"Apa, Ti? Bukan begitu! Aku sudah menyiapkan semuanya, tiba-tiba saja dosennya bilang aku harus membawa dokumen lainnya." Jawabnya dengan nada cepat.


Aku pasrah melihatnya begitu, "Haihh, yasudahlah, lanjutkan pekerjaanmu!"


Ia lalu melanjutkan mencari dokumen yang dimaksud di dalam kamarnya, beberapa menit kemudian ia berhasil menemukannya dan langsung memasukkan ke dalam tas ranselnya. Aku pusing sendiri melihatnya tidak ada tujuan jelas begitu, jadi aku pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untukku dan Leon sebelum ia berangkat ke kampus.


Karena lelah, ia duduk di kursi sambil menyandarkan kepalanya. Aku meletakkan sepiring sandwich dan segelas susu di depannya, ia langsung terbangun. Aku duduk di sampingnya sambil menguyah sandwich yang belum tercerna di dalam mulutku.


Leon menatapku serius, aku segera menelan makananku dan bertanya padanya. "Hei, ada apa? Kenapa kamu menatapku dengan tatapan seperti itu, hah?" Tanyaku dengan wajah kesal.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menatapmu saja, emangnya tidak boleh?" Jawabnya berbalik bertanya.


"Kamu .... Hah, sudahlah. Makanlah sarapanmu dengan perlahan-lahan, lalu segera lah pergi ke kampus jika kamu tidak ingin terlambat di hari pertama."


Ia tersenyum, lalu menyantap makananya itu. Aku sedikit kesal, tapi melihat kerja kerasnya itu, membuatku tidak bisa marah beneran padanya. Leon pria yang mandiri, pintar, dan juga tidak suka merepotkan orang lain, dia sungguh kebanggaan semua gadis.


Oh, iya. Btw, soal gadis ... Apa Leon akan jatuh cinta dengan salah satu mahasiswi di kampusnya nanti?!!


Pikiranku seketika lari kemana-mana, karena memikirkan Leon. Aku baru menyadari kalau dia mudah menjadi pusat perhatian karena wajah tampannya itu, pasti dia langsung menjadi perbincangan di kalangan mahasiswi di kampusnya.


Aku menggelengkan kepala, "Tidak, tidak, tidak!!! Tidakk ...... !!!" Teriakku dengan sangat lantang.


Leon sampai tersedak saat minum karena aku langsung berteriak tanpa alasan yang jelas, "Ti, kamu kenapa sih? Kamu mikirin apa?" Tanya Leon dengan wajah penasaran.


Aku memegang kedua bahu Leon, ia langsung menatapku dengan wajah serius. "Leon. Kamu tidak boleh mendekati gadis-gadis di kampusmu, ya!!" Perintahku.


"Ti, emangnya kenapa? Kan mereka semua lebih tua dariku, aku yang paling muda di antara mereka semua, mana mungkin aku bisa ...."


Aku menutup mulut Leon dengan jari telunjuk kananku, "Sssttt! .... Aku tidak mau dengar omong kosongmu 'WAHAI LAKI-LAKI' jangan membodohiku, aku tidak akan bisa diperlakukan seperti itu. Kamu mengerti?!!" Teriakku dengan nada tinggi, sampai Leon menutup kedua telinganya.


Leon menarik pinggulku supaya kami duduk lebih dekat, lalu menyingkirkan jariku yang menutup mulutnya. Seketika aku sadar, kenapa aku melakukan hal itu padanya? Kenapa aku harus melarangnya mendekati wanita lain? Aku sendiri bingung dengan apa yang telah aku lakukan!!


Wajah tampannya terlihat lebih jelas, jarak wajah kami berdua hanya 10 cm, aku tidak bisa mengatakan apapun. Deg ... Deg ... Deg, jantungku berdetak keras, akankah Leon bisa mendengar detak jantungku itu? Apa yang harus aku lakukan?!


Leon semakin mendekatkan wajahnya padaku, aku tidak tahu harus melakukan apa! Oh, semesta tolong aku! Kedua telapak tanganku menahan bahunya supaya ia tidak semakin mendekat padaku.


Ada yang bisa menjelaskan situasi semacam apa ini? Soalnya aku belum pernah berpacaran atau jatuh cinta! Aku tidak pernah merasakan keduanya selama 15 tahun aku hidup.


Wajahnya semakin mendekat, bibirnya dan bibirku sudah hampir melekat antara satu sama lainnya. Aku menutup mataku karena aku tidak ingin melihat wajahnya yang sudah tampak jelas di depan mataku. Saat sesuatu semacam ini akan terjadi, Triing .... Triing .... Triing ponsel Leon berdering.


Ia langsung berdiri dan mengambil ponselnya, aku pun juga kembali duduk dan menganggap semua tidak pernah terjadi di antara kami. Ia mengangkat telepon dari seseorang, sepertinya sangat penting, percakapan mereka juga sangat serius, lebih mengarah ke pekerjaan.


Beberapa menit kemudian, Leon menutup telponnya, dan langsung bergegas menyandang tas ransel di pundaknya. "Ti, aku berangkat ke kampus sekarang ya? Soalnya udah ditungguin ternyata sama dosennya, dan lagi ... Ada seseorang yang ingin bertemu denganku." Ucapnya dengan wajah panik.


Aku mengangguk, "Ah, iya. Baiklah, kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut bawa motornya!" Perintahku sambil merapikan kerah jaketnya yang kurang rapi.


Leon tampak super panik sekarang, sifatnya yang orang lain lihat, dia adalah sosok misterius dan dingin. Tetapi saat bersamaku, dia tidak bersikap seperti itu.


Aku mengangguk mengerti, "Iya, Leon. Tenang aja, aku bisa ngurus diri sendiri kok. Udah sana berangkat ngampus, entar telat, udah ditungguin lagi!" Aku mendorongnya sampai ke depan pintu.


Leon membalikkan badannya dan langsung memelukku, aku terdiam sejenak. "Nanti kita lanjutkan lagi ya, gadis kecil! Malaikat penyembuhmu harus ke kampus dulu, dadah!" Ia membelai rambutku lalu melepas pelukannya.


Aku hanya bisa tersenyum sambil melambaikan tanganku padanya, "Kalau kesepian nonton tv aja, Ti. Aku pulangnya agak sore, aku berangkat!" Ucapnya sambil menghidupkan mesin motornya, dan ia pun segera berangkat.


Hufhh, tenangnya sekarang. Rasanya seperti baru saja mengantar suami berangkat kerja aja.


Aku masuk ke dalam rumah dan baru menyadari apa yang sudah aku pikirkan tadi, "Astagfirullah. Tiara, kamu mikir apaan sih?! Udah gila ya kamu!!" Aku memukul keningku berulang kali untuk membersihkan isi dalam kepalaku.


"Lulus sekolah aja belum, udah bilang suami-suami aja nih, Tiara! SEKOLAH DULU YANG BENER DONG!"


*Jangan lupa, kita juga beda kepercayaan guys.


Aku menatap semua ruangan yang ada di depanku terasa sangat sunyi, ya tentu saja karena yang tinggal di rumah ini hanya Leon saja. Sepertinya dia juga kadang akan merasa seperti ini kan? Kesepian, tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali kembali tidur untuk melupakan kesunyian rumah ini.


"Hahh, aku lelah. Padahal aku tidak melakukan hal yang berat, hanya meladeni Leon saja sudah seperti ini." Aku langsung berbaring di sofa panjang yang ada di ruang tamu.


Sambil melihat wallpaper ponselku yang terdapat foto Leon di dalamnya, aku tersenyum sendiri karena melihat wajah Leon yang ternyata lebih dekat dari aku memegang ponselku sendiri. Aku kembali meletakkan ponselku di atas meja dan membalikkan tubuhku ke arah belakang sofa supaya menutupi wajahku yang tampak memerah.


*****


Jam menunjukkan pukul 16:00 WIB, yang artinya sudah memasuki sore hari. Selama lebih 9 jam aku tertidur nyenyak, aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku. Kenapa sofa yang aku gunakan untuk tidur bisa seluas dan empuk seperti sebuah tempat tidur? Aku bisa membolak-balikkan tubuhku, bisa menjenjangkan kaki dan tanganku, ada bantal, dan juga guling di sekitarku. Sungguh aneh, kan? Apa aku memang sedang bermimpi, tapi kenapa terasa begitu nyata?


Aku mencoba meraba sekitarku untuk mencari ponselku yang aku letakkan di atas meja tadi, tetapi aku tidak menemukannya. Dengan sangat terpaksa, aku pun terbangun dari tidurku itu hanya karena kehilangan sebuah ponsel. "Huahhh, di mana ponselku ta ....." Aku terkejut dengan di mana aku tidur sekarang ini.


Hah, aku .... Kenapa bisa di dalam kamar? Bukankah tadi aku tidur di sofa? Di ruang tamu kan? Siapa yang ...


Kepalaku tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang. Aku langsung bergegas bangun dan keluar dari kamar untuk mencari orang yang berani memasuki rumah Leon. "Siapa yang mencuri di rumah ini? Ponselku juga pasti sudah diambil kan?! Di mana keparat itu?" Ucapku dengan wajah kesal sambil berjalan menuju ke lantai atas.


Setelah di atas, aku tidak melihat ada orang lain, lalu aku kembali turun ke bawah, dan melihat pintu taman terbuka, yang artinya ada seseorang di sana kan? Atau pencuri itu tadi lewat dari pintu itu! Untuk berjaga-jaga aku mengambil sebuah sapu, sambil berjalan perlahan menuju ke pintu taman.


"Awas saja, kalau memang benar ada pencuri dan dia masih ada di taman, aku akan langsung menghabisinya dengan sapu ini!" Aku sudah sangat panik dan juga ketakutan kalau memang benar baru saja ada pencurian yang terjadi di rumah Leon.


Uhuk .... Uhuk


Aku mendengar suara seseorang sedang batuk dari taman, sepertinya itu adalah pencurinya, berarti dia masih belum pergi. Aku berjalan perlahan sambil menghitung, "Satu ... Dua .... Tiga!" Aku mengarahkan sapu ke arah depan dan yang aku lihat sedang duduk di kursi taman adalah .... LEON. Ia tersedak minuman lagi, kali ini karena aku tidak sengaja mengiranya adalah seorang pencuri.


"Leon, kamu tidak bilang kalau kamu sudah pulang?!" Teriakku dengan wajah kesal.


Leon hanya duduk diam sambil tersenyum, sapu yang aku pegang itu ternyata tersangkut pada .... Pot bunga  berwarna-warna yang ternyata tersusun rapi di depanku. Aku terkejut karena bentuk dari susunan pot bunga itu adalah I♥️U, aku sungguh tidak bisa berkata-kata, mulutku seketika membeku dan hanya bisa mengira kalau ini memang mimpi.


Leon berjalan perlahan menuju ke arahku, aku menatapnya dengan ketidakpercayaan dengan semua yang ada di depan mataku sekarang ini. "Leon, ini semua cuman mimpi aja kan? Ini, aku sedang bermimpi kan?" Tanyaku dengan wajah kebingungan.


Leon tidak menjawabku, ia hanya terus berjalan sampai benar-benar berada di hadapanku. Tatapan matanya kembali serius, aku tidak bisa menghadapi dirinya yang bersikap seperti ini, rasanya tubuhku langsung membeku.


Ia berlutut padaku, lalu memegang tangan kananku sambil menunjukkan kotak kecil berisi kalung emas berinisial L&M, hiasan permata kecil di huruf M membuat kalung itu terlihat sangat cantik sekali. "Mutiara Nabila, maukah kamu .... Menjadi wanita yang akan mengetahui semua tentangku selamanya? Maukah kamu .... Menjadi satu-satunya wanita yang memiliki cinta tulusku?" Tanya Leon dengan wajah serius.


Aku masih tidak percaya dengan semua ini, aku menepuk kedua pipiku dan ternyata memang terasa sangat sakit, berarti .... Aku memang sedang tidak bermimpi sekarang. "Leon, kalau aku tidak sedang bermimpi ...."


"Ya, Tiara. Kamu tidak sedang bermimpi, ini yang sesungguhnya sedang terjadi." Sambungnya dengan nada datar.


Mengetahui kalau itu memang bukan mimpi, aku langsung merasa sangat bahagia. Hatiku berbunga-bunga, wajahku juga tidak bisa menyembunyikan kebahagian yang dirasakan oleh hatiku sekarang. "Leon .... Kamu benar ..."


Ia mengangguk, "Wǒ ài nǐ, Mutiara! Apa kamu mau menerima cinta tulusku?"


*Wǒ ài nǐ : Aku mencintaimu, Mutiara


Aku tersenyum sangat lebar sekali, aku tidak pernah merasa sebahagia ini, apalagi aku juga belum pernah merasakan jatuh cinta. Karena tidak bisa membiarkannya terus merayuku, aku mengangguk. "Shì de, wǒ jiēshòu nǐ de ài, Leon."


*Shì de, wǒ jiēshòu nǐ de ài : Iya, aku menerima cintamu, Leon


Tanpa berpikir panjang, Leon langsung memelukku dengan erat. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang berdetak kencang, mungkin karena ia masih merasa gugup saat menyatakan perasaannya padaku. Aku juga tidak bisa mengatakan apapun untuk mengucapkan terima kasih padanya, karena telah kembali hadir di kehidupanku setelah belasan tahun berpisah. Kini saat kami bertemu kembali, kami berdua sudah beranjak dewasa, dan akan menentukan jalan sendiri sekarang.


Leon melepas pelukannya, lalu ia memakaikan kalung itu ke leherku. "Terima kasih, Leon."


"Sekarang kamu sudah semakin cantik, jangan pernah lepaskan kalung itu ya! Apapun yang terjadi, tetap pakai." Perintahnya sambil tersenyum kecil.


Aku mengangguk mengerti. Semenjak hari itu aku dan Leon berubah status, dari teman kecil, menjadi sepasang kekasih yang sedang sama-sama mencari kebenaran dalam hati kami masing-masing. Saling mendukung dan juga memberi saran, suka maupun duka kami akan tetap bersama-sama, itulah janji yang kami buat untuk masa depan.


BERSAMBUNG .....