
Sampai di rumah Leon, aku langsung masuk ke dalam dan memberi syarat pada alat pendeteksi itu, "Eh, kalau ada orang yang memencet bel atau mengetuk pintu, bilang saja gak ada orang di rumah ya!" Perintahku sambil melihat alat yang terletak di gagang pintu itu.
Siap, Mutiara. Saya mendengarkan permintaanmu, tenang saja! Beristirahatlah di rumah dengan baik.
Aku pun segera membawa barang-barang itu ke dapur. Membuka kulkas dan meletakkan bahan-bahan di dalam sana, termasuk sayur-sayuran, buah-buahan, dan juga beberapa cemilan yang wajib ada di kulkas.
"Huuufhh, akhirnya bisa istirahat juga nih. Entar sekitar jam 5 sore deh aku baru masak untuk makan malam. Sekarang aku mau istirahat dulu deh di kamar." Ucapku sambil berjalan menuju ke kamar Leon yang juga sudah aku rapikan kembali.
Aku pun langsung merebahkan tubuhku di atas kasur sambil menatap ke atas. Aku memikirkan apa yang dikatakan oleh tetangga Leon yang tampaknya sudah membicarakanku dan mencaritahu tentangku sejak lama.
Aghhh, itu membuat pikiranku menjadi kembali kacau! Kenapa pikiran mereka seperti itu sih? Apa karena aku sering terlihat lama di rumah ini? Aku dan Leon kan tidak berbuat hal yang aneh-aneh!!
Aku menguap karena mengantuk, "huwahhh! Aku sudah ngantuk, lelah, aku ingin tidur saja." Ucapku pelan sambil meletakkan bantal di kepalaku dan juga guling untuk kupeluk.
AC di rumah ini sudah otomatis dihidupkan kembali saat aku menghidupkan aliran listriknya, jadi aku hanya tinggal tidur saja tidak perlu mengatur AC lagi. Aku pun tertidur dan tidak memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya selama aku tertidur.
Aku bermimpi hal yang aneh sekali, kenapa rumah ini terasa sangat ramai dengan suara anak kecil? Ada suara Leon juga.
"Ah, Argata! Jangan lari-larian gitu, entar jatuh, nak!" Tegur Leon.
Aku merasa kebingungan, kenapa di rumah ini ada seorang anak laki-laki, dan Leon menyebutnya 'Nak'? Siapa yang melahirkan anak itu? Siapa yang hidup bersama dengan Leon?
Anak kecil itu berlarian sambil memegangi pesawat kertas yang ia mainkan, "Wushhh, ayah, liat nih pesawat Gata udah terbang!" Ucapnya.
Ia terjatuh tepat di depanku, aku pun menatapnya dengan sangat serius. Leon yang tadinya duduk tenang di sofa, karena anak itu terjatuh di depanku, ia langsung berdiri.
"Tuh, kan. Apa ayah bilang, kamu jadi jatuh."
Anak itu memperhatikanku, "Ibu, ibu darimana saja? Kenapa ibu menatapku seperti itu?" Tanya anak itu padaku.
Aku terkejut, aku sungguh terkejut saat anak itu mengucapkan sebutan 'IBU' kepadaku. Aku benar-benar tidak bisa berpikir, jika ia benar adalah anakku dan juga Leon.
Leon menghapiriku dan langsung menggendong anak laki-laki itu, "Ti, kamu abis belanja kok lama banget? Kamu senang-senang ya?" Tanya Leon sambil tersenyum padaku.
"Iya, ibu jadi lupa sama Gata dan ayah yang nunggu di rumah."
"Kalian berdua menungguku?" Wajahku kebingungan.
Leon mengangguk tanpa ragu, "Iya, aku dan Gata udah dari tadi nungguin kamu. Untungnya aku hari ini tidak dinas, jadi bisa santai di rumah sambil jagain anak kita." Jawabnya.
"Benarkah? Aku merasa ini mustahil, kenapa ya?" Aku masih tidak percaya dengan apa yang ada di depan mataku, semuanya terasa nyata tetapi aku tahu ini adalah sebuah mimpi.
Anak itu tersenyum padaku, "Iya, bu. Argata udah nunggu ibu, lapar banget dari tadi. Ayah gak mau masak karna ibu belum pulang."
Aku menggenggam tangan anak itu, jantungku berdetak sangat kencang sekali. Aku menatap Leon dengan mata yang penuh cinta, ia hanya tersenyum sambil memperhatikan tanganku yang menggenggam anak itu.
"Ya, iya. Aku lupa kalau ada dua jagoan di rumah yang menungguku, aku sibuk di luar." Aku pun membelai rambut anak itu dengan sangat lembut penuh kasih sayang.
Setelah itu, aku pun ke dapur untuk memasakkan mereka berdua makan malam. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum itu, tetapi mimpi ini benar-benar membuatku tenang walaupun sejenak. Walau hanya sebuah mimpi, aku berharap hal ini benar-benar akan terjadi di masa depan nantinya, aku juga akan tetap mempercayai cintaku pada Leon.
Tringg!! Triiingg! Tringgg! Suara alarm dari ponselku membangunkan tidurku yang sudah sangat tenang itu. Aku pun kembali terbangun dan ingat apa yang harus aku lakukan setelah bangun dari tidurku tadi.
Aku berjalan menuju ke dapur sambil merapikan rambutku yang berantakan karena tidur tadi. Tetapi saat aku baru saja membuka kulkas, bel pintu berbunyi beberapa kali, aku merasa kalau akan ada orang yang datang. Aku mengintip dahulu dari jendela dan melihat 3 ibu-ibu berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah rantang yang berisi makanan.
Teng! Teng! Teng!
Mana nih orangnya? Apa lagi keluar ya?
Iya mungkin. Lagi ke rumah orang tuanya kali, buk.
Iya, kayaknya lagi sendirian kan? Dokter Leon kan di Singapura, kan.
"Iah, kenapa ibu-ibu yang tadi siang sih? Mereka mau ngapain lagi kemari?" Batinku yang sudah menolak mereka lebih dulu sebelum membuka pintu.
Karena aku tidak mau di cap yang buruk oleh tetangganya Leon, aku pun memberanikan diri untuk bertemu dengan mereka. Aku membuka pintu dan menyapa mereka, "Iya? Eh, ibu-ibu ada apa ya?" Tanyaku berusaha bersikap biasa saja.
"Ini, hehe. Kita cuma mau kasih makanan sedikit lah buat istrinya dokter ganteng, gpp kan?" Ucap salah satu ibu itu lalu memberikan serantang makanan yang ia bawa padaku.
Aku menerimanya seraya tersenyum malu, "Ah, iya. Saya paham, terima kasih, ya ibu-ibu jadi repot gini."
"Aih, gak usah bilang repot gitu, kami biasa aja kok. Ya, gak ibu-ibu?"
"Iya, gak ngerepotin kok."
Aku hanya bisa tersenyum sambil bergumam dalam hati, "Astaga, kenapa mereka bisa berbuat lebih jauh gini sih? Leon, tolong aku! Kenapa aku dihadapkan oleh tetanggamu yang aneh-aneh ini???!" Batinku mencoba menahan emosi.
"Ah, iya. Tadi saya mau nanya juga, soal dokter Leon, kapan beliau pulang?" Tanya salah satu ibu-ibu itu.
Aku pura-pura berpikir, "Emm, saya juga kurang tahu, bu. Dia belum bisa memastikan juga di sana, karna masih sibuk banget." Jawabku.
"Ah, begitu ya. Hehe, jadi kesepian deh ya mbak di rumah sendirian?" Sindir ibu itu sambil tersenyum.
"Hehe, i-iya sih bu, kadang-kadang masih suka kesepian."
Awas aja, nanti kalau aku sudah bisa menghubungimu, Leon! Aku akan langsung menginterogasimu tentang hal ini, aku tidak peduli lagi.
"Udah berapa lama sama dokter Leon? Kayaknya mbak masih muda, nikahnya pas baru pindah ke sini ya? Atau gimana?"
Mereka semakin banyak bertanya hal-hal yang tidak seharusnya mereka tanyakan padaku. Tapi mau bagaimana lagi, kalau aku bilang aku adalah pacarnya Leon, pasti pikiran mereka langsung lebih negatif dibanding sekarang.
"Ah, kami sudah menikah .... Beberapa bulan yang lalu, makanya saya baru kelihatan di sini. " Ucapku secara spontan.
"Oalah, gitu ya. Iya juga, dokter Leon kan udah tinggal di sini dari tiga tahun yang lalu, kalau gak salah."
Aku mengangguk, "Iya, seperti itu lah, bu."
Aku lupa mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah, bagaimana pun mereka kan juga adalah tamu. "Ah, saya lupa. Ibu-ibu mau masuk dulu ke dalam? Biar saya buatkan minum?" Ajakku dengan nada sopan.
Mereka menggeleng, "Ah, tidak perlu mbak. Kami kemari hanya mau kasih itu aja, sekalian kenalan juga."
"Iya, kita tetanggaan gak jauh-jauh kok. Kita tetangga depan-depanan, kok."
Aku mengangguk, "Oh, iya."
"Yaudah, kalau gitu kami pamit dulu ya!"
"Oh, iya. Nama mbak ... Siapa?" Tanya salah satu ibu-ibu itu.
"Nama saya Mutiara, buk. Biasanya sih dipanggil Tiara atau Ti, aja." Jawabku cepat.
"Oh, Tiara. Bagus namanya, sampai jumpa lagi mbak Tiara." Mereka pun meninggalkan rumah Leon kembali ke rumah masing-masing.
Aku menghela nafas, "Huuufhh, astaga menghadapi mereka seperti ditanyain sama polisi." Ucapku pelan.
Setelah mereka tak terlihat lagi, aku kembali masuk ke dalam rumah dan langsung mengunci pintu rumah. Aku sangat kesal, aku harus tetap bersandiwara sampai kapan, aku juga tidak akan tahu. Aku lelah, Leon! Jangan biarkan aku menghadapi ini semua sendirian, kamu kembalilah!!
BERSAMBUNG .....