
Beberapa menit menempuh perjalanan akhirnya sampai juga di Universitas Batam (UNIBA) yang akan menjadi kampus Leon nantinya. Tempat dia mempelajari lebih lanjut tentang dunia kedokteran yang akan dia ambil, beberapa jurusan yang ada di sana adalah Fakultas Kedokteran, Fakultas ekonomi, Fakultas hukum, fakultas teknik, program studi S2, Akuntansi, ilmu hukum, dan manajemen.
UNIBA sudah mempunyai gedung yang representatif delapan lantai dan memiliki laboratorium kedokteran/ kesehatan yang terlengkap di wilayah kopertis x (Sumbar, Riau, Jambi, dan Kepri). Jadi, ketika semua mahasiswa jurusan fakultas kedokteran akan melakukan praktik tidak perlu lagi mencari tempat untuk praktik yang lengkap karena di sana sudah disediakan laboratorium khusus terlengkap untuk fakultas kedokteran.
Tak mau berlama-lama melihat kampus itu, Leon pun menyarankan untuk membawanya ke tempat yang lebih bagus untuk dipandang.
"Emm, ada sih .... tetapi, mending ke kafe aja deh."
"Emang, kafe apa yang bagus untuk nyantai?" Tanya Leon.
"Ada kok, biasanya aku juga sama teman sering kesana. Aku tunjukin deh jalannya, entar kamu bisa tahu jalannya." Jawabku dengan penuh rasa percaya diri.
Leon percaya akan apa yang aku katakan, dia langsung menjalankan motornya sesuai dengan arah jalan yang aku arahkan padanya. Awalnya aku kira dia akan menolak, siapa tahu saja dia tidak menyukai tempat bernama 'kafe' karena sifatnya yang dingin dan cuek itu, ternyata tidak.
Tiara, seberuntung apa sih kamu sekarang bisa berdua dengan makhluk sempurna yang paling disukai dan dipuji semua teman perempuan di sekolahku? Apapun alasannya, mungkin Alam sedang berusaha membuatku terbang lalu jatuh lagi ke bumi.
Beberapa menit dari Uniba kami sampai di tujuan kedua, Socialite's crib cafe & bar yang terletak di Ruko Royal sincom blok C No. 18-19, Batam Centre, Batam. Beberapa langkah masuk ke dalam masih terasa kesan bahagia yang selalu aku tinggalkan di kafe itu, sekarang bukan lagi hanya teman-temanku yang akan berkumpul di sini. Tetapi, kali ini seseorang makhluk sempurna yang aku sebut malaikat penyembuh ini akan meninggalkan jejak sikap dinginnya di dalam tempat nongkrong ini.
Saat pertama masuk ke kafe, Leon terus memperhatikan sekelilingnya. Mungkin masih merasa asing dengan semua suasana di dalam kafe, makanya dia begitu. Aku pun memandangi wajahnya yang penuh misteri itu, "wajahnya benar-benar tak meninggalkan jejak perasaannya, Leon benar-benar yang paling berbeda di antara semua orang yang pernah aku temui." Batinku memujinya.
Dia menghentikan langkahnya, lalu menatapku dengan serius. "Tiara, aku tak tahu tempat ini. Karena kamu yang tahu mengapa tidak kamu saja yang menunjukkan tempat biasa kamu duduk?" Tanya Leon.
Aku pun tersadar, "Ah, iya. Aku lupa!emm, sebenarnya emang gitu. tetapi bukan di sini, ada di lantai atas, Ayo!" Jawabku sambil menggandeng tangannya menuju ke lantai dua kafe itu.
Aku membawanya berjalan bersamaku, terasa mimpi yang baru saja menghampiriku, tetapi ku tetap sadar kalau semua ini memang nyata dan sedang terjadi. Aku memberhentikan langkah di salah satu meja yang ada di sana, suasana di lantai atas ini pun tidak terlalu ramai karena memang tak sembarangan orang bisa duduk di kursi atas. Leon masih saja melihat ke segala arah seolah dia bingung tetapi tak terlihat di wajahnya, aku ingin menegur tetapi kubiarkan saja dia melihat semua yang ingin dia lihat di sini.
Jam sudah menunjukkan pukul duabelas siang, matahari sudah terasa di atas kepala, tetapi untungnya walau begitu didalam kafe ini tidak terasa panas dan gerah karena terdapat beberapa tanaman yang menggantung di atas atap transparan yang menutupi kafe supaya pengunjung tidak terkena hujan dan juga panas yang berlebih.
Aku menepuk bahu Leon pelan, "Leon? are you okay??"Tanyaku dengan wajah penasaran.
Dia menatapku dingin, "Yes, I'm okay. Tiara!" Jawabnya singkat.
"Ya, inilah tempat yang biasanya jadi tempat ngumpul kami. Gimana menurut kamu, apa suasananya tenang?" Tanyaku sambil duduk di kursi yang biasanya aku duduki saat berkumpul bersama teman-temanku. Letaknya berada di dekat pinggir jadi bisa sekaligus melihat pemandangan yang ada di sekitar luar kafe itu.
Leon menatapku dengan dingin lalu duduk di depanku, "Menurutku sih lumayan membuat tenang, karena mungkin di sini juga agak sepi, berbeda dengan keadaan lantai bawah."Jawabnya.
Aku tersenyum sejenak, "Iya, emang sering yang dikunjungi umum itu di bawah, kalau di sini sih lebih ke beberapa orang yang sudah pesan dari awal." Jelasku sambil mengetuk satu kali meja itu.
Entah apa yang ada dipikirannya sekarang, aku sungguh sangat ingin mengetahuinya. Leon terus memperhatikan keadaan sekelilingnya, seakan dia merasa dalam bahaya saja, padahal hanya ada beberapa orang saja di sekitar kami itupun tidak terlalu ramai dan berisik.
Aku juga tahu apa yang dia tidak suka sekarang, selera nya sama sepertiku, yang ingin duduk di kafe tetapi tetap membutuhkan ketenangan. Tidak ada keramaian yang terlalu menghancurkan suasana hati, itu yang aku dan Leon inginkan.
Saat aku beranjak, dia hanya memperhatikan langkahku, aku pun sesekali melirik ke arahnya. Dia masih saja melakukan hal yang sama, masih membutuhkan waktu untuk menganalisa semua yang ada di sekitarnya, sudah seperti detektif aja.
Sesekali juga aku tersenyum melihat wajahnya, entah mengapa bukan malah kesal karena sikapnya yang selalu dingin dan cuek, tetapi aku malah merasa jauh lebih tenang dan juga nyaman di dekatnya. Tidak seperti sikap dan sifat Rangga, yang humoris dan ramah, tetapi ternyata dia bisa menunjukkan dirinya kasar.
Berbeda dengan makhluk mu yang sempurna itu Tuhan. Engkau sungguh memberiku mimpi yang sangat indah, akan selalu aku ingat setiap detik aku bersamanya. Aku tak akan pergi dan melirik siapapun lagi, aku akan pertahankan, jika perlu aku ingin tahu isi hatinya. Ah, bicara apa kamu Tiara??? ngayal terlalu tinggi hanya akan membuatmu jatuh lebih dalam ke permukaan bumi, selalu ingat kata itu.
"Excuse me, Tiara? kamu baik?" Tanya pelayan yang memang sudah biasa aku kenal.
Aku melamun, pelayan itu yang membangunkan lamunanku. "Ah, astaga! iya, aku nggak apa-apa kok, kak. maaf, aku melamun!"Jawabku menyesal.
Pelayan ini namanya kak Linda, dia yang sering mendengarkanku bercerita dan juga sering menerima saat aku sedang melamun. Dia sudah cukup lama bekerja di sini, sekitar 1 tahun lebih. "Tidak apa, Tiara! santai saja, malah kakak yang khawatir sama kamu tadi. Kakak kira kamu sakit, makanya kakak takut." Jelasnya sambil tersenyum lembut.
Kak Linda meletakkan pesananku di atas meja sambil melirik ke arah Leon duduk, "ini pesanan kamu!mengapa malah kamu yang jemput makanannya kesini sih, kasihan tuh pacar kamu nungguin, dari tadi dia lihatin kamu terus loh!"
Aku terkejut kak Linda bilang begitu, aku langsung melirik ke belakang, "Pacar? itu bukan pacarku kak Lin, itu cuman ...."
"Ehem, cuman apaan hayooo ...."Rayu kak Naufal, salah satu pelayan lagi yang dekat denganku.
Aku bingung harus menjawab apa, bentar .... mengapa aku harus bingung?kan emang bener Leon bukan pacarku, mengapa aku kayak gak nerima gitu ya??? Oh, Alam!! ini sungguh bencana besar untukku, tolong bantu aku melepaskan pertanyaan ini!!! Tiara, sebodoh itukah kamu? pertanyaan gampang seperti itu saja kamu tidak bisa menjawabnya, malah gemetaran gak jelas gini.
"Tiara? "Kak Linda menepuk bahuku pelan.
Aku terkejut, "Iya, kak?"
"Kamu mengapa sih? bener kan kalau itu cowok kamu? ganteng loh, lumayan tuh! iya gak, Lin??" Kak Naufal lagi-lagi mencoba membuatku jengkel.
Aku tak bisa menahan perasaanku yang mau meledak, "Tidak, kak. Kalian berdua salah paham! me dan he are just friends. childhood friends, that's all!"
"friend? childhood friend? I see you guys like lovers here."Ucap Kak Naufal tak percaya dengan apa yang aku jelaskan padanya.
"Aihh, sudahlah! mengapa malah ngomongin tamu sih? Tiara, bawa pesananmu sana! dia udah nunggu dari tadi loh dan kamu Naufal! kerjain kek tugas yang lain, sana! "Ucap Kak Linda geram dengan pembicaraan ini.
Aku pun membawa pesananku tadi ke meja tempat aku duduk, suasana hatiku langsung berubah jadi 20 derajat setelah menatap wajah dingin Leon. Aku bukannya menawarkannya makan, tetapi malah saling tatap-tatapan mata seperti ini, tak ada yang kami bicarakan.
Dia tersenyum sejenak, "Tiara, kamu mendapat masalah apa di sana?" Tanya Leon.
Aku mencoba berbicara seolah tak terjadi apa-apa, "Tidak ada apapun, hanya berbincang sebentar saja, aku sudah kenal dengan pelayan di sini." Jawabku pelan sambil melirik ke arah meja pesanan.
BERSAMBUNG .....