
Aku tidak boleh menyia-nyiakan perjuangan Rangga yang membantuku sekarang, dan juga perjuangan Leon di Singapura untuk melawan penyakit yang menggrogoti tubuhnya itu. Aku harus lebih kuat seperti mereka semua, walau tahu sakit tetapi mereka tetap berjalan dan tabah menghadapi rintangan itu.
Aku menghapus air mataku. "Ti, lanjut makan lagi gih!" Usul Rangga seraya menyantap kembali makanannya itu.
"Iya, Rang." Jawabku singkat.
Sesampainya di rumahku .....
Hari sudah sore, Rangga mengantarku sampai ke depan rumah dengan hatiku yang sudah mulai tenang. Ia membuka kaca helmnya, "Ti, kalau ada apa-apa, telpon aku aja ya!" Perintahnya."
Aku mengangguk sambil tersenyum, "Iya, Rang. Aku tahu kamu pasti selalu jagain aku kok. Terima kasih juga untuk hari ini, kamu udah mau kasih tahu aku tentang Leon."
"Yoi, gak masalah. Apa yang enggak sih buat Mutiara? Apa aja aku kasih deh, aku kan Berrysmile- Nya Mutiara!" Ia menyindirku.
Aku tertawa, "Ah, Rangga! Udah, balik sana, sekali lagi makasih!" Aku melambaikan tanganku.
Ia pun segera mengendarai motornya perlahan-lahan meninggalkan halaman depan rumahku, "Hati-hati juga di jalan!" Teriakku. Ia hanya membunyikan suara klakson motornya dan langsung melaju.
Setelah motornya tidak terlihat lagi, aku pun segera naik ke atas dan masuk ke dalam rumah untuk segera beristirahat.
Setelah kejadian itu, aku benar-benar tidak bisa menghubungi Leon seperti apa yang dijelaskan oleh Rangga padaku. Aku bahkan tidak tahu hari ini ia masih membuka mata dan beraktivitas atau tidak di Singapura sana, aku benar-benar tidak tahu apapun tentangnya saat ini.
7 hari kemudian .....
Saat sedang di kampus, aku dan Kia berbincang tentang tugas kelompok yang kami sudah selesaikan minggu kemarin. Tak seperti biasanya, Leodi belum juga datang ke dalam kelas, entah kenapa aku seperti ingin melihatnya terus menerus padahal aku dan Leodi hanya sebatas teman. Ya kan?
"Ti, kamu dari tadi nyariin siapa? Leodi, ya?" Tanya Kia sambil merayuku.
Aku menggeleng, "Ehh, gak tuh. Aku cuman lagi nunggu jam masuk aja, tumben dosen juga lama masuknya." Jawabku menyangkal apa yang dikatakan Kia.
Ia menahan tawanya, "Hehe, iya deh." Kia menepuk bahuku, "Eh, btw .... Rangga itu siapa lo? Kok kayak deket banget gitu sih, pacar ya?" Kia penasaran.
Aku terdiam sejenak karena kaget dengan apa yang ditanyakan oleh Kia, "Ah, ngawur lo! Gue sama Rangga itu udah dari dulu sahabatan, dia juga udah gue anggap kayak saudara sendiri."
"Emm, gitu ya? Sayang banget, padahal pas gue liat di matanya Rangga cuman ada lo aja. Lo gak nyadar ya? Setiap dia natap lo, bicara sama lo, semuanya beda."
Aku menggeleng, "Yaa, mungkin karena gue sama dia emang udah kenal dekat."
"Ti, jadi .... Lo punya pacar apa gak sih sebenernya?" Kia semakin bertanya banyak tentang hal pribadiku.
Aku sedikit risih ditanyain begitu terus, tapi mau bagaimana lagi, dia adalah temanku di kampus. "Emm, gimana jelasinnya coba? Aku .... Udah punya pacar, Kia." Jelasku.
Dia terkejut sekaligus senang, "Wow, gila! Gue kira lo masih jomblo, hehe." Ia mengulurkan tanganku yang terdapat cincin itu. "Jadi, cincin ini pasti doi yang kasih kan?" Lanjutnya.
Aku mengangguk sambil tersenyum, "Hehe, iya. Makanya begitu berharganya cincin ini, aku tidak akan tahu bagaimana kalau hilang."
Aku jadi cerita banyak hal dengan Kia, karena ia emang anaknya suka bertanya langsung, jadi aku tidak bisa menyembunyikan apapun padanya. Karena penasaran, aku pun menceritakan semua kejadian yang sudah aku lewati dengan Leon selama ini, ia mendengarkan ceritaku dengan baik, dan ikut terhanyut di dalamnya.
Ceritaku begitu panjang, tapi ia masih bersedia mendengarkannya sampai akhir. Aku awalnya tidak mau dekat dengan Kia karena aku kira dia anaknya terlalu berisik dan juga suka membully orang lain, tapi ternyata aku salah besar. Aku menilai Kia hanya dari cover luarnya saja, tidak melihat isinya juga.
"Jadi gitu deh ceritanya." Ujarku pelan.
Kia tiba-tiba merasa sedih, "Ti, kasihan banget ya kalian. Terutama pacar lo itu si .... Leon, kan? Dia pinter tapi juga dapat penyakit yang susah disembuhin gitu."
Aku tersenyum kecil, "Ya, begitulah. Makanya selama ini aku selalu menjaga makanan yang aku makan, minuman yang aku minum, lingkungan yang aku tempati, semua hal sepele seperti itu. Aku merindukan sikapnya yang perhatiin hal sepele dari sekitarku." Jelasku panjang lebar.
Kia mengangguk pelan, "Ohh, iya sih. Namanya juga dokter, ya. Pasti dia gak bakal biarin orang yang ia sayangi sakit, tapi ia juga tidak memikirkan dirinya sendiri seperti apa."
"Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengannya di dunia ini, Ki. Jika ia tidak datang menghampiriku di taman waktu itu, apakah lo yakin kalau gue bisa ketemu sama dia?" Tanyaku terlarut dalam masa lalu.
"Ya, lo bener. Gue gak akan bisa hidup penuh warna sekarang, kalau bukan karna Leon."
Tanpa sadar kami sudah saling mengobrol sangat lama sekali, tetapi tidak juga Leodi dan dosen masuk ke dalam kelas kami.
"Ti, aneh. Kenapa ya dengan hari ini? Udah jam berapa nih, kok belum masuk juga dosen kita?" Tanya Kia sambil melihat jam tangannya.
Aku pun sibuk memperhatikan sekitar, tempat duduk semua sudah terisi kecuali tempat duduk di samping kananku yang masih kosong, di mana biasanya Leodi akan duduk di situ. "Iya, nih. Aku juga lagi nyariin Leodi, kenapa dia gak keliatan coba? Apa dia gak masuk?"
Tak lama kemudian, Leodi masuk ke dalam kelas dan langsung bergegas duduk di sampingku. "Pagi, Tiara! Kia, bawel!" Sapanya sambil tersenyum.
"Pagi juga, Leodi!" Jawabku dan Kia serentak.
"Hei, kemana aja lo? Kesiangan?" Tanya Kia tanpa ragu.
Leodi mengangguk, "Hehe, iya. Biasalah, namanya anak kampus, apalagi kalau nge kos, pasti pada rame." Jawabnya.
"Ohh, kirain lo gak masuk beneran loh." Ucapku.
"Kenapa emangnya? Gue kira udah masuk loh, sumpah!" Tanya Leodi.
Kia menatapku, "Dari tadi ada yang nyariin, tapi sayang udah punya pacar." Bisiknya ke Leodi. Aku yang duduk di tengah-tengah mereka, tentu saja bisa mendengar apa yang mereka bicarakan itu walau mereka berbisik sekalipun.
Leodi mengangguk, "Owhhh, gitu. Gpp sih, gue kan baik-baik aja. Tanpa gue pun hari ini, lo harus tetep senang, Ti. Kan ada Rangga juga tuh!" Jawabnya padaku.
"Aneh, cuy. Dosennya gak niat ngajar nih? Padahal udah siap-siap tampil presentase buat hari ini." Gumam Kia.
Aku menegurnya, "Eh, Ki. Gak boleh gitu, ah! Paling lagi ada urusan bentar, namanya dosen senior."
"Iya bener tuh apa yang dibilang Tiara." Leodi ikut-ikutan seraya mengeluarkan laptopnya dari dalam tas ranselnya itu.
*Pada jam istirahat pertama .....
Aku, Kia, dan juga Leodi pergi ke kantin kampus untuk makan siang sebelum kami pulang. Seperti biasanya, kantin akan tetap ramai oleh mahasiswa yang berganti waktu kuliah yang mereka ambil.
Kami bertiga duduk di kursi yang masih kosong, muat untuk empat orang karena kursinya memanjang. Aku dan Kia duduk bersama, sedangkan Leodi duduk sendirian di depan aku dan Kia tetapi masih satu meja ya guys.
"Eh, gila gak sih, masa kita beneran gak jadi tampil tadi? Gue gak habis pikir." Ucap Kia tampak kesal.
"Iya, sih. Tapi gue biasa aja tuh, gak ada emosi kayak lo." Tanggap Leodi yang terlihat santai.
"Ehh, lo sih iya biasa aja, tapi kalau cewek apalagi kalau lagi pms pasti lah emosian."
Ditengah perdebatan Leodi dan Kia, makanan yang kami pesan sudah diantar oleh pelayan kantin dan aku pun memberikan kepada mereka berdua.
"Udah, jangan berdebat cuman karna itu deh! Makan tuh, keburu dingin dan makin rame." Tegurku.
Kia menunjuk-nunjuk Leodi yang tampak biasa saja, "Ini nih, si curut kolam renang satu ini! Yang susah banget buat emosian. Selalu aja belaiin yang gak bener."
Aku menggeleng, "Eh, Kia. Gak boleh gitu dong, kenapa kalian jadi kayak anak kecil gini sih?"
Leodi meminum seteguk teh yang sudah ada di depannya, "Entah tuh si Kia. Padahal gue biasa aja, dia yang tiba-tiba emosi."
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan perdebatan yang tidak perlu mereka permasalahkan itu. Karena aku tidak mau menghabiskan energi hanya untuk menanggapi Kia yang emosi, aku langsung memakan makan siang yang sudah ada.
BERSAMBUNG .....