L&M

L&M
BAB 31 : Tahu semuanya



Aku melepaskan pelan-pelan tangan bunda, "Ini biar jadi urusan Tiara dan Leon saja, Tiara harus yakinkan Leon untuk tetap hidup. Tiara, pergi dulu!" Aku langsung meninggalkan percakapan itu dan secepatnya masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu di luar sejak tadi.


Mereka terus memanggilku, tetapi aku berusaha tak mendengarkan. Aku menyuruh pak sopir untuk tetap meneruskan perjalanan dan menghiraukan orang yang terus memanggilku, selagi ku juga sedang berusaha menghubungi Rangga untuk bertanya tentang keadaan Leon pagi ini. Tetapi tidak diangkat olehnya, aku tak menyerah karena hal ini menyangkut kesehatan Leon sekarang. "Cepat angkat Rangga, mengapa kamu tak juga mengangkat telponku? Apa yang terjadi?"Tanyaku sambil terus mencoba menghubunginya. Suara dering ponselku karena ada pesan masuk pun terdengar, aku langsung mengecek kolom pesan, dan yang kulihat ternyata Rangga yang mengirim pesan padaku.


Rangga : maaf, Ti. Aku tak bisa menjawab telponmu, ada masalah di sini.


Aku : Memangnya ada masalah apa, Rangga? Apa terjadi sesuatu pada Leon? Atau


padamu?


Rangga : Aku tak bisa menjelaskannya secara rinci, tetapi yang jelas Leon sedang tak baik-baik


saja sekarang.


Aku : Benarkah? Aku sedang menuju ke rumah sakit, aku akan segera ke sana. Terus


awasi Leon, ya Rangga!


Rangga : Iya, Ti. Kamu juga hati-hati, aku tunggu kamu.


Mendengar kabar ini, aku langsung menyuruh pak sopir untuk secepatnya melaju ke rumah sakit. Aku merasa kalau keadaan di sana tak sedang baik-baik saja, pasti ada suatu masalah yang disebabkan oleh Leon ataupun Rangga. Pesan Rangga tadi semakin meyakinkanku kalau pasti Leon sedang berusaha membuat dirinya tak berguna di depan siapapun yang dia temui sekarang ini. Bahkan, bisa jadi kalau dia juga tak akan mau bertemu lagi denganku.


Setelah sampai di rumah sakit, aku langsung bergegas masuk dan segera berlari ke ruang di mana Leon dan Rangga di rawat. Hatiku penuh perasaan bersalah, perasaan di mana aku ternyata tak pernah dipercayai oleh orang yang kutulis namanya di dalam hatiku ini. Leon, kuharap kamu tidak akan berusaha membuatku berpikiran sama seperti semua orang! Kuharap kamu tak akan membiarkan aku berpikir kalau kamu akan pergi meninggalkanku selama-lamanya!


Kisah cinta kita bukanlah seperti kisah cinta Rhama dan Shinta, ataupun kisah cinta Romeo dan Juliet. Tetapi kisah cinta kita, adalah kisah yang kita jalani berdua sesuai takdir yang telah di tuliskan oleh sang pencipta untuk melukiskannya dalam kehidupan ini.


Aku percaya padamu, kalau kamu pasti bisa melewati rasa sakit ini lebih dari siapapun itu. Aku adalah Mutiara yang selalu bersinar di dalam hatimu, begitu juga denganmu Leon. Kamu adalah Makhluk sempurna yang selalu akan mengisi setiap hariku dengan caramu sendiri, untuk membuatku bahagia setiap kali bersamamu. Dan sekarang adalah waktuku untuk menunjukkan diriku adalah Mutiara yang bersinar bahkan disaat kamu merasa terpuruk sekali pun, aku akan membuktikan aku bukanlah mutiara biasa.


Akhirnya aku sampai di depan pintu ruang rawat Leon, aku masih memegangi gagang pintu dengan perasaan ragu. tetapi aku tetap harus bisa menunjukkan kalau aku kuat, supaya Leon juga tak menyerah begitu saja dengan penyakitnya. Aku memutar gagang pintu, dan membukanya. Saat aku masuk, ternyata ada kak Daffa yang sedang mengawasi Leon, sedangkan Rangga bolak-balik ke toilet untuk membuang kapas dan tissue yang digunakan untuk menghentikan pendarahan Leon(mimisan).


"Ah, Tiara!"Sapa Rangga yang terus berulang kali kembali ke toilet.


Leon yang sedang berdiri tegak sambil mencoba menghentikan mimisan itu dengan kapas di hidungnya, tak juga bisa duduk dengan tenang, karena darah itu tak kunjung berhenti. Karena aku khawatir, aku langsung mendatangi Leon dan bertanya padanya. "Leon, apa akan baik-baik saja sekarang ini?"Tanyaku dengan wajah khawatir.


Leon menatapku sejenak, dengan wajah pucat. "Menurutmu?"


"Leon, aku serius. Kamu menganggap ini perkara mudah? Aku sungguh khawatir denganmu, tetapi mengapa kamu tak mengerti itu?"Ucapku pelan.


"Aku mengerti itu, makanya aku berusaha menyembunyikan hal ini padamu. tetapi pada akhirnya semua akan terungkap juga, dan kamu mengetahuinya sekarang."Jawabnya.


Aku mengalihkan pandanganku darinya karena aku tak bisa menahan tangisku pada saat melihat wajahnya itu. Rangga yang sejak tadi bolak-balik ke toilet pun akhirnya menghentikan kegiatannya itu, sambil memperhatikan wajahku yang tampak sedih. Begitu juga dengan kak Daffa, dia hanya bisa diam memperhatikan perdebatanku dan juga Leon sejak tadi. Aku tak tahu lagi harus mengatakan apa padanya, dia saja tak cukup percaya padaku, bagaimana aku bisa menenangkan hati ini?


Leon mengembalikan posisi wajahku padanya, dia menatapku dengan raut wajah dinginnya itu. "Aku tak mau semua ini terjadi, kamu tahu kalau aku membenci melihat tangismu, kan? Melihat kamu kecewa, melihatmu tak bisa tersenyum, itu membuatku lebih tersiksa daripada saat aku mengetahui keadaanku yang sebenarnya ini."Jelasnya mencoba meyakinkanku kalau dia memang melakukan ini semua untuk membuatku tak mengkhawatirkannya.


Air mataku jatuh begitu saja di wajahku lagi. Sambil mengangguk aku harus berusaha mengerti tentangnya, aku harus bisa lebih kuat daripada Leon, aku harus buktikan kalau aku juga bisa menjadi sosok yang kuat untuk membuatnya kembali padaku. "Ya, aku tahu maksudmu seperti itu. tetapi berarti sama saja kamu tak percaya padaku Leon, sudah aku bilang, aku akan menerima apapun keadaanmu yang sebenarnya!kamu tak perlu menyembunyikan ini sendiri, kamu tak perlu menghadapinya sendirian!"


Karena perdebatanku dan Leon ini sebenarnya adalah privasi, kak Daffa dan Rangga yang merasa hanya menjadi pengganggu di antara kami pun memilih untuk segera keluar dan meninggalkan kami hanya berdua saja untuk menyelesaikan masalah ini.


"Emm, Tiara, Leon. Aku dan kak Daffa akan keluar saja, ya?! Soalnya tiba-tiba kepalaku kembali sakit nih, aku harus diperiksa di ruanganmu kak Daffa!"Sindir Rangga pada kak Daffa untuk segera keluar dari ruangan ini.


Kak Daffa pun menatapku dan Leon dengan wajah pura-pura mengerti, "Ah, iya. Aku lupa, tadi kamu bilang begitu? Baiklah, kalian selesaikan berdua saja. Aku kembali ke ruanganku dulu, ayo!"


Mereka berdua pun pergi meninggalkanku dan Leon dengan sikap yang sangat mencurigakan, tetapi aku tak terlalu memikirkan sikap aneh mereka itu. Karena yang terpenting sekarang adalah aku harus bisa mengembalikan Leon yang aku kenal itu untuk kembali padaku lagi. Setelah mereka pergi, aku sedikit menghela napas lega dan mulai membicarakan ini dengan sangat serius dengan Leon.


tetapi tiba-tiba pada saat aku baru saja ingin kembali berbicara, Leon tampak tak kuat untuk tetap berdiri saat berbicara denganku. Jangankan untuk berdiri, kulihat wajahnya pucat dan nada suaranya agak tak sekuat biasanya. Aku diamkan dia sebentar, karena aku tak ingin membuatnya tambah sakit lagi. Lalu dia menatapku dan menarik tanganku untuk duduk disampingnya, aku tak mengatakan apapun, aku hanya terus menatap wajahnya dan kuperhatikan dengan baik.


Dia tersenyum kecil, "mengapa kamu terus menatapku seperti itu, Ti?"Tanya Leon. "Aku tahu, kamu terus menatapku serius, karena mungkin ada saatnya kamu tak bisa melihatku lagi."Lanjutnya.


Bahkan disaat masa sulitnya pun dia masih bisa tersenyum padaku?


Makhluk apa sebenarnya dia ini? Sungguh, hatinya sangat kokoh sehingga benturan apapun tak bisa membuatnya tumbang begitu saja.


Tidak seperti hatiku yang langsung hancur menjadi debu saat memikirkannya yang sedang tersiksa sendirian ini.


"mengapa kamu tersenyum, bahkan saat ini juga?"Aku balik bertanya padanya dengan perasaan hatiku yang sangat gelisah sekarang ini.


dia membelai rambutku lembut, "Gak tahu, mungkin inilah waktu-waktu terakhirku bisa tersenyum padamu. Melihat wajah orang yang spesial dalam hatiku selama ini, untuk mengisi hari-harimu dengan tersenyum."Jawabnya dengan sangat santai. Bahkan dia tak menyadari kalau kata-katanya itu sangat membuat hatiku berteriak sangat kencang, ingin mengatakan kalau semua itu tak akan terjadi kalau kamu tak putus asa seperti ini.


Aku mencoba meyakinnya untuk tetap percaya kalau dia bisa menghadapi ini, "Apa yang kamu ucapkan itu sudah kuanggap omong kosong. Aku tak mau mendengarnya lagi, aku tak akan mendengarkannya!"Ucapku tetap pada pendirianku untuk membuatnya tetap kuat menghadapi rintangan sulit ini.


"Tak, ada yang selamat dari kanker lanjut. Bahkan tak terkecuali aku, Ti. Awalnya aku kira hidupku akan lama, aku berpikir aku bisa terus bersamamu. tetapi ternyata itu semua tidak akan terwujud, carilah masa depanmu sendiri mulai sekarang! Aku akan melihatmu dari jauh, saat aku bisa melihat itu."


Betapa tercabik-cabiknya perasaanku ini saat kalimat-kalimat itu keluar dari mulutnya itu, aku sungguh tak menyangka kalau rasa putus asa Leon sudah melewati batas yang bahkan kurasa tak bisa menjangkaunya lagi. Aku menatapnya penuh rasa kecewa, gelisah, khawatir, semua bercampur menjadi satu di dalam hatiku kecilku ini. Ya, Tuhan. Bagaimana lagi caranya aku untuk membuatnya percaya akan kehidupan ini tetap akan ada untuknya? Apakah aku yang harus menggantikan tempatnya, agar dia tak merasakan sakit ini sendirian?


 Leon menghapus air mata yang ada di wajahku, lalu memelukku erat. Aku pun memeluknya dengan penuh perasaan yang tak mau melepaskannya, aku tak mau melakukan itu. Perasaan sakit ini tak bisa kutahan lagi, tangisku pecah di telinganya. Aku tak mau berhenti memeluknya dan juga tak mau menghentikan tangis ini dengannya! Aku akan terus begini padanya.


Pada saat Leon ingin melepaskan pelukan ini, aku tetap menahan tubuhnya. Aku tak ingin dia ke mana-mana, aku tak ingin dia benar-benar akan pergi. "Aku memang tak bisa memaksa seseorang untuk tinggal, tetapi khusus untukmu,.... Aku minta jangan pergi, STAY HERE!"Ucapku dengan nada pelan.


"Ti, walau aku meninggalkanmu, dunia ini tidak akan berhenti berputar, kan? Lalu apa yang kamu takuti?"Tanya Leon.


Aku pun melepas pelukanku dan menatapnya serius, "Ya, memang dunia ini tak akan berhenti berputar walau kamu meninggalkanku. tetapi apakah nanti, pada saat kamu pergi semua perjalanan hidupku di dunia ini akan berjalan dengan lancar?"Jawabku. "Apakah aku bisa terus menahan semua kenangan tentang dirimu dalam ingatan ini?"


Dia untuk sekali lagi berusaha meyakinkanku kalau aku bisa hidup dengan baik tanpa dirinya sekalipun. "Dengar kan ucapanku ini, Tiara!.....Kamu adalah alasanku hidup. Kalau kamu sakit, aku jauh akan merasakan sakit itu darimu. tetapi alasan untuk menjagamu itu sudah akan selesai sekarang, dan aku akan segera kembali."


"Bagiku tugas itu belum selesai, Leon. Aku belum bahagia, aku belum menemukan orang yang tepat untuk hidupku."


"Siapa bilang kamu tak memiliki orang itu, padahal dia sudah ada di setiap waktu. Bahkan saat kamu belum bertemu denganku."


"Rangga?"Tanyaku kebingungan.


"Siapa lagi kalau bukan dia? Aku? sudah kubilang, aku tak bisa barzanj akan terus bersamamu, bahkan aku sudah mengatakan itu jauh sebelum kamu tahu tentang semua ini. Aku tak ingin kamu hanya menghabiskan waktu untuk mengingat orang yang akan pergi dari kehidupanmu selamanya! Lebih baik lagi, jika kamu memang tak pernah mengenalku, Tiara. Kalau perlu, kamu tak perlu ingat tentang hari di taman waktu itu, dan aku tak perlu menyusulmu ke Batam hanya untuk melihat wajahmu lagi setelah bertahun-tahun." Jelasnya pelan sambil menggenggam kedua tanganku di atas pangkuannya.


Aku tak tahu lagi harus menghadapinya dengan kata-kata apalagi, yang jelas sekarang aku sudah kehabisan kalimat untuk membuatnya tetap hidup bersamaku. Lalu dia berdiri dan mengambil ponselnya yang diletakkan di atas meja, entah apa yang akan dilakukannya aku sudah tak mengerti lagi dengan jalan pikirnya sekarang ini. Dia sungguh tak bisa menunjukkan sikap yang biasanya dia lakukan untuk menyemangatiku, dia sekarang sangat berubah, aku tak melihat sifatnya yang penuh percaya diri itu lagi sekarang.


Dia menatapku sambil tersenyum, "Apa kamu mau berjalan-jalan?"Tanya Leon dengan sangat santai, seakan dia tak memikirkan keadaannya sekarang yang masih harus di awasi oleh dokter.


"Leon?!"


"Ti, waktuku singkat, aku tak tahu esok aku masih bisa membuka mataku untukmu atau tidak. Aku harus memanfaatkan waktu ini, kan?"


Aku menggelengkan kepalaku karena tak setuju dengan semua pemikiran pendeknya sekarang ini, "Tidak! Aku akan tetap berusaha supaya kamu bisa kembali menjadi dirimu yang selalu membuatku tersenyum, yang selalu membuatku merasa kesal karena sikap cuekmu, yang selalu membuatku salah tingkah dengan kelakuanmu itu!"Jawabku panjang lebar sambil menegaskan kembali padanya kalau aku tak akan menyerah untuk membuatnya kembali sembuh dan kembali padaku dengan dirinya yang kukenal.


Dia mengangguk, "Baiklah, biar waktu yang menjawabnya. Aku hanya perlu menghitung kapan setiap kali aku bernapas di depanmu, kapan aku terakhir kali duduk denganmu, berbicara denganmu, dan juga bertengkar denganmu, semua itu akan ku catat dalam kepalaku ini!"


Aku tak ingin terus berdebat dengan dirinya di sini, jadi ku setuju untuk berjalan-jalan dengannya menikmati hari ini dan sejenak melupakan semua masalah. Aku pun menghapus air mataku dan merapikan semua penampilanku, "Baiklah, aku tunggu di luar! Sebaiknya kamu cepat berkemas, aku tak suka menunggu."Ucapku pelan sambil mencoba menunjukkan diriku yang biasanya lagi.


Kulihat dia hanya tersenyum karena sikapku, ku menunggunya di kursi tunggu yang ada di sana. Selagi menunggunya, aku mengingat kembali beberapa momen saat aku bersama dengannya, berjalan-jalan menikmati indahnya kota Batam yang kecil ini dengan penuh kebahagian karena kehadirannya di hidupku ini.


Di tengah lamunanku sambil melihat kembali semua foto kami di dalam album ponselku, tiba-tiba Rangga membuatku kaget karena dia langsung menegurku dengan nada suara yang keras. "Mutiara!"Teriaknya keras, membuat jantungku hampir saja tak pada tempatnya.


Rangga langsung duduk di kursi yang ada di sampingku tanpa bertanya apa perasaan saat ini karena melihatnya, "Gimana, Ti? Apa Leon masih bersikap sekarat?"Tanya Rangga dengan ucapan yang enteng seperti tak merasa hal ini serius.


"Cih, itu belum waktunya saja. Bentar lagi juga pasti dia akan benar-benar terbaring lemah, tidak bisa berbicara, tidak bisa bergerak, dan hanya bisa mendengar orang di sekitarnya berbicara padanya."


"mengapa kamu berbiacara seakan kepergian Leon akan membuat hidup ini ringan? Apa kamu sungguh tak peduli dengannya? Padahal dia sudah membantumu untuk kembali hidup, tetapi mengapa kamu tak membantunya?!"Tanyaku dengan wajah kesal sambil berdiri dari kursi tempatku duduk tadi.


Beberapa orang memperhatikan kami karena ucapanku yang mungkin agak kencang terdengar oleh mereka, Rangga kembali menyuruhku untuk duduk dan tetap tenang. "Kalau kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan tadi, sebaiknya kamu percaya pada Leon ataupun kak Daffa aja! mereka yang jauh lebih tahu, dan akan mengatakan hal yang sama sepertiku."Ucapnya sambil berbisik padaku.


"Seharusnya kamu berpihak padaku supaya aku bisa membuat Leon tak putus asa, tetapi kamu malah...."Aku tak bisa melanjutkan kalimatku karena ucapan Rangga tadi.


Tak lama Leon datang dan langsung menggenggam tanganku dengan erat. Aku yang terkejut karena tadinya fokus dengan pembicaraanku dengan Rangga pun, tak bisa berkata-kata saat dia sekarang ada di sampingku. Aku memperhatikan penampilannya yang tak asing di ingatanku, aku seperti pernah melihatnya memakai pakaian yang sama, tetapi sudah lama tak kulihat lagi.


"mengapa, Ti? Kamu lupa dengan waktu kita jalan-jalan tiga tahun yang lalu?"Tanya Leon sambil tersenyum kecil.


Dia berusaha mengingatkanku kembali akan sesuatu, dan ternyata itu tentang kenangan yang sudah tiga tahun yang lalu. Pada saat bersamanya melihat kampus, makan siang di kafe yang biasanya menjadi tempat nongkrongku, dan juga hari ulang tahun bunda pada saat itu. Bagaimana aku bisa melupakan hari paling bahagia itu? Aku tak pernah janjian dengannya untuk memakai warna baju yang sama, tetapi entah mengapa kami memang memakai warna yang sama. Bagaimana aku bisa melupakan, di mana kamu pertama kali memberitahuku tentang fisik lemahmu itu? Ya, aku ingat semuanya sekarang.


Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak kok, tentu saja aku ingat dengan hari itu. Aku tak melupakannya begitu saja, karena betapa berharganya ingatan itu untukku."Jawabku dengan nada pelan sambil menatapnya penuh harapan.


"Baiklah, kalau kamu ingat semua itu."


Rangga memperhatikan genggaman tangan kami yang erat itu, tetapi kali ini taka da kulihat amarah dalam hatinya, dia terlihat baik-baik saja. "Kalian mau kembali berjalan-jalan? Kalau begitu selamat bersenang-senang!"Ucapnya dengan wajah gembira. "Oh, iya. Untukmu Leon, pertimbangkanlah untuk kesembuhanmu itu, kamu harus tetap menjaga Tiara!"Lanjutnya berusaha menyemangati Leon tentang penyakitnya itu.


Leon hanya menatapnya dingin, sepertinya dia tak menanggapi apa yang dikatakan oleh sahabatku itu padanya. tetapi tampak jelas kalau dari genggaman tangannya ini, kalau dia sebenarnya juga merasakan keraguan dan ketakutan itu, bukan aku saja. Walau aku tak tahu ketakutan apa yang dia pikirkan itu, tetapi yang jelas sudah kuduga kalau dia sedang menahan perasaan yang hancur itu dalam-dalam di hatinya.


"Aku kembali ke dalam dulu, Tiara dan Leon! Sampai jumpa nanti."Sapa Rangga sambil berjalan mundur dan melambai padaku dengan wajah menyebalkannya itu.


Setelah Rangga masuk, barulah kami melangkah keluar dari rumah sakit. Sambil berjalan aku masih saja memperhatikan wajah pucatnya itu, tetapi dia menghiraukan tatapanku itu padanya, dia tetap melangkah dengan sikap dingin. Lalu kami berhenti berjalan, dia menatapku serius, aku baru ingat kalau kami akan menggunakan taksi.


Aku mengambil ponselku di dalam tas, "Oh, iya. Aku lupa, kita tidak memakai mobilmu, kita akan pakai taksi saja. Aku tak mau nanti kamu tiba-tiba drop dan aku tak bisa mengendarai mobil, jadi lebih baik tidak usah memakai mobil pribadimu!"Jelasku sambil memberi pesan pada pak sopir untuk segera tiba di tempat kami berdiri sekarang.


Beberapa menit kemudian taksi yang kami tunggu sudah datang, tanpa menunggu lama kami pun langsung masuk ke dalam dan memikirkan ke mana kami akan bepergian sekarang ini. Aku tak memikirkan apalagi bertanya pada Leon ke mana sebenarnya kami akan pergi, tetapi mungkin dia sudah lebih dulu memberitahu pak sopir untuk menuju ke suatu tempat yang akan kami kunjungi kali ini.


Aku terus memperhatikan gerak-geriknya yang aneh, dia seperti risih dengan semua keheningan yang ada di sekitarnya sekarang. Dan benar saja dia tiba-tiba mengarahkan AC yang ada di atas kepalanya itu untuk mengarah hanya padanya saja, tentu saja aku juga merasa heran, padahal aku saja sudah merasa kedingingan karena itu, tetapi dengannya tidak. tetapi selama aku mengenalnya, dia memang selalu merasa semua tempat panas dan gerah, bahkan suhu pada saat di rumahnya pun sudah dipenuhi AC tetapi dia masih saja berkeringat.


"Ada apa denganmu? Apa masih panas di dalam sini?"Tanyaku sambil menatapnya kebingungan.


"Tentu saja bagiku begitu. Bukankah Daffa sudah mengatakannya padamu?"


"Mengatakan apa?"


"Inilah salah satu gejala sakitku, Tiara."Jelasnya singkat dengan santai.


Apakah ternyata begitu? Jadi itu adalah tanda utama yang sering aku lihat dari Leon, tetapi aku tak mengetahuinya, padahal aku sudah mengenalnya sejak lama. Semalam aku juga langsung membuang hasil tes itu di tempat sampah, setelah membaca kalau Leon memang sakit sekarang ini. Bodohnya aku lagi-lagi tak membaca semuanya supaya jelas, aku sangat ceroboh sekali?!


"Melamun lagi, Ti?"Tegur Leon dengan nada pelan sambil menatapku datar.


Aku tersadar dari lamunanku, "Iya, ada apa?"Tanyaku kebingungan, aku mengira kalau terjadi sesuatu padanya sehingga membuatku kaget seperti ini. dia menggelengkan kepalanya pelan lalu memperhatikan keadaan jalan sekitar dengan saksama, sedangkan aku tetap menatap wajahnya itu dengan perasaan yang penuh rasa gelisah dan juga kecewa yang masih terkubur dalam hatiku.


"Kita ke mana?"Tanyaku.


"Emm, ke mana ya? Aku akan membawamu ke tempat yang belum pernah kita kunjungi di sini. Aku baru pertama kali ke sana kemarin, tetapi aku sudah menghafal jalan yang akan menuju ke sana."Jawabnya panjang lebar sambil tersenyum kecil.


Aku pun hanya bisa percaya padanya sekarang, aku tak bisa lagi terus memaksanya untuk tetap bersamaku setiap waktunya, karena waktu yang akan menjawab semuanya nanti. Jujur saat ini aku sedang merasakan kegelisahan yang sangat tak bisa kusembunyikan lagi dari semua orang, kalau aku sebenarnya sangat tak bisa membiarkan Leon menjalani semua ini sendirian. Jikalau kalian menjadi aku, apa yang akan kalian lakukan sekarang? Apakah kalian akan melakukan hal yang aku lakukan, atau melakukan hal yang lain? Kegelisahan ini membuat tenagaku terkuras habis, aku tak bisa berkata apapun untuk membuatnya yakin kalau dia bisa sembuh dari penyakitnya.


Apakah aku adalah seorang wanita yang pantas berada di sampingnya sekarang?


Apakah aku akan gagal menghadapi semua perasaan yang terbalik dengan hatiku ini?


Apakah aku dan Leon tak bisa melewati ini semua, tidak ada yang tahu tentang ini?


Karena lamunan panjangku tentang masalah ini, aku sampai tak merasa kalau ternyata kami sudah sampai di tempat tujuan yang Leon sudah sepakati tadi. Dia pun menegurku untuk segera keluar dari dalam taksi dan segera berjalan bersamanya untuk menjelajahi tempat itu.


"Ti, ayo!" dia menggapai tanganku dengan erat sambil tersenyum senang.


Aku pun keluar dan memperhatikan semua yang ada di depan mataku. "Kita ada di mana sekarang, Leon?"Tanyaku sambil melirik ke semua arah yang tak aku kenali, semuanya terasa asing bagi mata dan juga indra lainnya dalam diriku.


Yang kulihat, sepertinya aku pernah ke daerah ini, tetapi setelah kulihat apa yang di depan mataku sekarang sungguh membuatku bingung. Karena tak mau berlama-lama membuatku kebingungan, Leon pun langsung menarik tanganku untuk segera melangkah bersamanya memasuki tempat dengan tangga seperti batu itu. Aku rasa jumlah anak tangga ini banyak, aku tak bisa menghitungnya dengan pasti, tetapi jelas kalau ini akan sangat melelahkan sekali nantinya, dan apa yang akan terjadi selanjutnya?


Ku tatap wajahnya yang sepertinya tak keberatan dengan semua anak tangga yang panjang ini, dia tampak baik-baik saja sekarang. tetapi siapa yang menyangka jika nanti, ada waktunya dia akan merasakan kelelahan itu, kondisinya belum stabil sekarang. "Wah, tempat ini bagus juga. tetapi mengapa sudah di awali dengan tangga ini?"Tanyaku dengan wajah kesal, karena lelah baru beberapa langkah menuju ke tempat sebenarnya itu.


Leon berusaha menahan tawanya karena melihatku yang gampang kelelahan padahal baru beberapa anak tangga yang aku langkahi, "Kamu yang bilang kalau aku akan kalah denganmu, tetapi mengapa malah kamu yang lelah duluan?"Jawabnya.


Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak, tunggu sebentar saja dulu! Aku ingin melihat-lihat pemandangan sekitar sini."Ucapku berusaha menunjukkan kalau aku tak selemah yang dia pikirkan itu. Ku sejak tadi hanya fokus melangkah untuk melewati semua anak tangga ini tanpa ku sadari kalau sebenarnya, pemandangan di tempat ini begitu menakjubkan untuk dipandang dengan kedua mata ini.


Karena melihatku sedikit lelah karena menaiki banyak anak tangga ini, dia membungkukkan badannya padaku. "Apa yang kamu lakukan?"Tanyaku kebingungan.


Aku tak mengerti apa yang dia maksud, tetapi dia tetap membungkukkan badannya di depanku. "Ayo, kamu lelah, kan? Aku akan menggendongmu hingga sampai di atas, setelah itu aku akan menurunimu!"Jawabnya dengan penuh percaya diri.


Apa dia baru saja mengatakan kalau dia baik-baik saja? Apa yang ada dipikirannya sekarang ini, adalah hal yang menjengkelkan. Dia masih mengira kalau fisiknya bisa mencapai atas sana, apalagi dengan menggendongku di tubuhnya itu? Huuuh, aku tak yakin dengan ide ini. Aku yakin ini adalah ide terburuk yang akan kamu alami Leon!


Aku menyindirnya, "Kamu serius? Apa kamu tak akan menyesalinya?"Tanyaku.


Dia mengangguk sambil melirik ke arahku, "Ya, aku tak akan menyesalinya. Lagipula kapan lagi aku bisa melakukannya, apakah yakin bisa lagi esok hari?"Jawabnya kembali bertanya padaku.


Lagi-lagi dia mencoba mengatakan hal yang membuatnya putus asa, aku tak bisa terus menghindari semua perkataannya itu terus, kan? Apa yang harus aku lakukan untuk menanggapi ucapannya itu? Aku sudah tak bisa berpikir ke sana sekarang. Dia masih saja menunggu menaiki punggungnya itu, tetapi aku masih diam saja sambil menatap tubuhnya itu. Aku seperti tak tega saja jika harus membuatnya kelelahan nanti, aku tidak tahu seberapa berat badanku ini, aku juga tidak tahu seberapa panjang tangga ini.


"Ti, kamu melamun lagi? Sudah ku katakan padamu, kalau aku tak akan membuatmu khawatir sekarang!"Ucapnya berusaha meyakinkanku kalau dia akan baik-baik saja bahkan sampai di tempat tujuan yang sebenarnya setelah melewati tangga-tangga ini.


Karena aku tak mau membuatnya kecewa, aku pun dengan terpaksa harus menaiki tubuhnya itu dengan hati yang bimbang. Walau dia sudah meyakinkanku, tetapi tetap saja aku masih merasakan kegelisahan ini di hatiku. Ku tak mau menjawab apa yang dia katakan tadi, aku menyandarkan daguku di bahu kanannya dan memperhatikan jalan itu dengan wajah datar. "Apa kamu yakin bisa sampai di atas sambil menggendongku?"Tanyaku tak yakin.


Dia melangkahi setiap anak tangga itu seolah dia tak akan tumbang, malah langkahnya semakin cepat dan juga meyakinkan untuk sampai di atas sana secepatnya. Dia tersenyum kecil, "Kalau kamu bertanya seperti itu, tentu sebenarnya aku tadi ragu, karena kukira tubuhmu berat, ternyata tidak. Masih sama seperti pada malam itu, aku menggendongmu sampai di rumah."Jawabnya dengan nada pelan seraya memperhatikan setiap langkahnya agar tak terjatuh.


Aku menatapnya serius, "Kamu yakin?"


"Ya, aku mengira kamu benar, bahwa aku tak akan bisa berjalan ataupun melewati setiap langkahku lagi. tetapi karena aku harus yakin kalau aku bisa, jadi aku lakukan saja, dan akhirnya aku bisa."


"Lalu mengapa kamu tak menunjukkan sikap ini sama seperti saat kamu menghadapi sakit yang ada ditubuhmu?"Aku mulai bertanya kembali ke arah di mana dia seharusnya yakin akan kesembuhannya itu.


Lalu Leon berhenti berjalan, ku tak melihat jelas wajahnya karena aku hanya bisa melihat wajahnya dari samping saja. tetapi ku yakin jelas sekali kalau saat ini dia merasa kembali tak berdaya, kalau aku bertanya soal itu padanya. Dia tak menjawab pertanyaanku, lalu melanjutkan langkahnya. Karena ternyata kami sudah sampai di tempat yang ingin dia tunjukkan padaku tadi.


"Nah, kita sudah sampai."Ucapnya sambil tersenyum dan memperhatikan sekelilingnya.


Aku memintanya untuk menuruniku, "Turunkan aku, katamu tadi...."


"Oh, iya. Aku lupa."dia menurunkanku dari punggungnya dengan perlahan.


Aku baru sadar kalau tempat ini tak pernah aku kunjungi selama 15 tahun aku dilahirkan di sini, sungguh sangat mengagumkan sekali pemandangan yang ada di tempat tersembunyi ini. Kalau kalian ke sini, kalian bisa menikmati keindahan Batam dari sisi yang berbeda, terutama dari ketinggian. Kalian bakalan melihat banyak pepohonan di sekeliling, yang menghadirkan atmosfer sejuk bagi pengunjung yang datang ke sana.


BERSAMBUNG .....