L&M

L&M
BAB 49 : Runding



Beberapa menit kemudian, datang seorang dosen pembimbing kami yang berdiri di aula.


"Selamat pagi, semuanya!"


"Pagi, pak." Jawab kami semua serentak.


"Bapak di sini, akan menjelaskan lebih jelas tentang informasi yang ada di mading pagi ini. Jadi, dengarkan baik-baik, karna bapak hanya mengulangnya sekali."


Semuanya pun bergegas mendiamkan suasana, supaya bisa mendengarkan penjelasan dari pak dosen.


"Baiklah, bapak akan menjelaskannya. Seperti yang kalian sudah liat di mading, informasi itu benar adanya. Jadi, bapak berharap kalian semua bersedia untuk pergi ke Yogyakarta besok lusa demi penambahan pengetahuan kalian." Jelas pak dosen.


Ah, bikin ribet aja! Tiba-tiba pula lagi beritanya.


Gue belum bilang bokap-nyokap gue, gak ada uang deh.


Lo ikut? Gue sih tunggu yang lain.


Gue juga deh, males kalau misal rame yang gak ikut.


Aku memikirkan hal itu dengan sangat keras sekali, aku benar-benar tidak ingin pergi ke Yogya karena aku akan meninggalkan rumah Leon begitu saja, padahal aku baru saja pindah ke sana.


"Leon, bagaimana nih?" Tanyaku dalam hati dengan penuh kebingungan.


Kia menegurku, "Eh, Ti. Lo gimana, ikut gak?" Tanya Kia.


Aku menjawabnya ragu, "Ah, gue juga belum tahu nih. Posisi gue rumit banget kalau pergi sekarang." Jawabku.


"Iya, banyak yang kayaknya gak bisa pergi. Terlalu mendadak, seharusnya mereka kasih tahu minggu kemarin." Ujar Leodi.


Aku dan Kia mengangguk karena setuju dengan apa yang dikatakan oleh Leodi tentang hal ini.


"Untuk masalah tiket, kalian bisa menyerahkannya pada pihak kampus. Tidak perlu memikirkan hal itu, yang jelas sekarang .... Kalian akan di kasih surat untuk tandatangan kesepatakan ini." Ucap pak dosen.


Aku saling menatap pada Kia dan juga Leodi yang juga masih bingung dengan pilihan mereka. Karena aku sudah menyerah, aku pun mengatakan kalau aku akan ikut saja ke Yogyakarta.


"Ah, gue ikut aja deh. Daripada entar gabut juga di rumah." Ucapku pelan dengan perasaan yang masih terpaksa.


Kia mengangguk, "Iya, gue juga nih. Males di rumah, tapi juga males kalau pergi dari kampus gini. Yaudah deh, gue ikut."


Leodi juga memutuskan, "Gue ikut kalian berdua aja deh, abis mau gimana lagi. Gak mungkin gue sendiri gak pergi."


Kami bertiga sepakat untuk tetap ikut ke Yogyakarta, tapi tidak tahu dengan anak-anak yang lainnya, apakah mereka akan ikut atau tetap tinggal dan melanjutkan pelajaran mereka di kampus.


Aduh, jadi gimana lo?


Gue ikut aja deh, pusing nih kepala!


Iya, gue juga ikut aja, daripada gak ada skripsi.


Gue tetep gak ikut, lo aja deh.


Ah, gak seru! Masa cuma karna ke Yogya jadi gak mau ikut sih?


Woi, yang jelas lah!


"Saat ini, kalian harus memikirkan jawaban kalian masing-masing. Nanti di kantin kampus, kalian akan menemukan satu kotak berisi surat yang harus kalian tandatangani untuk mengikuti kegiatan di Yogya, setelah itu kalian masukkan ke kotak yang ada di depan kelas kalian." Pak dosen memberi arahan dengan sangat jelas.


"Paham semuanya?" Tanya pak dosen.


"Paham, pak." Jawab kami serentak.


"Baiklah, kalian boleh kembali. Terima kasih sudah mendengarkan, selamat pagi!" Pak dosen langsung meninggalkan aula setelah memberi kami informasi.


Aku, Kia, dan Leodi langsung bergegas ke kantin untuk mengambil surat itu. Walau sebenarnya aku malas, karena nanti pasti akan desak-desakan lagi, aku paling tidak suka keramaian seperti itu.


Leodi berhenti berjalan, ia mengamati kotak yang ada di dekat lobi kantin. "Ah, kalian di sini aja! Gue ambilin aja, daripada kena desak di sana." Ucapnya.


"Iya. " Jawabku dan Kia.


Aku memperhatikan Leodi yang berusaha menyingkir dari keramaian itu. Kalau aku, mungkin sudah tidak bisa bernapas dan terjatuh, tetapi ia kan tinggi dan juga laki-laki, mana mungkin ia selemah itu kan? Kalau diliat-liat, kadang aku merasa Leodi benar-benar mirip dengan Leon. Kenapa ya? Apa karena sikapnya yang sedikit cuek dengan sekitar? Atau karena ia selalu melindungi bagaimanapun caranya?


Kia menarikku untuk duduk, "Ayo, Ti. Kita duduk aja dulu di sini."


"Aku merasa kamu ada di sini, Leon. Aku merasakan kalau .... Kamu benar-benar selalu ada di dekatku." Batinku.


Tak lama kemudian, Leodi keluar dari kerumunan itu sambil memegang tiga lembar surat di tangannya. Ia langsung menghampiriku dan juga Kia yang tengah duduk.


"Nih, buat kalian berdua." Ucapnya singkat.


Ia memberikan surat itu padaku dan juga Kia, "Ah, Makasih Leodi!" Kia tiba-tiba bersikap lembut pada Leodi.


Aku tersenyum, "Terima kasih, Leodi. Jadi ngerepotin lo terus."


Leodi menggeleng, "Apaan sih, Ti? Gue kan cowok, seharusnya emang cowok yang ngambil di keramaian kayak gitu kali." Jawabnya santai.


Setelah mendapat surat itu, kami bertiga langsung membaca dan menandatangani surat itu. Segera bergegas ke kelas untuk memasukkannya surat yang tadi ke dalam kotak yang katanya ada di depan kelas kami.


Aku memasukkan suratnya lebih dulu, baru Kia dan juga Leodi. "Akhirnya udah masuk ke kotaknya, jadi kita tinggal ngambil tiket besok sama beres-beres barang." Ucap Kia.


Aku mengangguk, "Iya, Ki. Yah, walau mendadak dan gak rela sih sebenernya tinggalin rumah, tapi ... Mau gimana lagi?"


"Iya, gue juga jadi sibuk sendiri gini. Padahal bakal ada acara keluarga juga lagi." Ujar Leodi.


"Ishh, iya. Jadi pada sibuk semua karna pengumuman mendadak dari kampus." Tanggap Kia.


Aku melihat jam tanganku, sudah menunjukkan pukul 9 pagi. "Eh, Kia. Kita udah boleh balik apa belum nih?" Tanyaku.


Ia menggeleng, "Entah, gak tahu juga."


"Kayaknya udah boleh deh, soalnya di kelas udah sepi. Kan besok kita bakal ambil tiketnya." Jelas Leodi.


"Oh, iya juga. Emm, yaudah deh, aku balik duluan aja!" Ucapku pelan.


Kia menahan tanganku, "Yah, kok gitu sih? Kan baru jam berapa coba ni, lo udah mau balik aja. Emang ada apa sih di rumah lo?" Tanya Kia tampak kesal.


"Aku ...."


"Yang pasti di rumah ada kenangan yang sangat berharga, begitu kan?" Rangga langsung memotong pembicaraanku.


Ia tiba-tiba datang dan langsung menyela pembicaraan begitu. "Tidak juga kok. Namanya rumah, gue cuman mau tenangin diri aja." Jawabku.


"Ini lagi, Rangga lo kenapa tiba-tiba memotong pembicaraan orang? Gak sopan tahu!" Tegur Kia dengan wajah kesal.


Leodi mengangguk, "Iya, lo kenapa sih? Suka banget datang tiba-tiba, terus nyela orang ngomong."


Rangga tersenyum, "Ahaha, iya gue minta maaf! Udah kebiasaan sih dari dulu, Tiara suka kelamaan jawab kalau ditanyain orang."


Aku menatap Rangga dengan wajah bingung, padahal aku tidak pernah seperti apa yang ia katakan pada Kia dan Leodi. Aku akan seperti ini, jika aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa pada orang lain. Tapi, apa yang ia katakan tadi itu ....


"Yaudah, gue balik sekarang ya! Gue mau ngerjain sesuatu juga di rumah, masih berantakan banget." Aku langsung bergegas pergi meninggalkan Kia, Leodi, dan juga Rangga yang tengah berdebat.


Aku sudah lelah, jadi jangan membuatku semakin membenci dunia ini! Kadang aku memang akan merasa senang karena mereka, tapi di sisi lain mereka tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaanku saat ini, yang begitu rapuh dan sangat rentan hancur menjadi debu.


BERSAMBUNG .....