
Ice Girls
#Part8
~ Happy Reading 💞 ~
"Daff ... sekarang udah boleh belom?" tanya Raihan tak sabar.
"Belom."
"Ah lama ... gua gak sabar nih. Gua samperin aja lah," ucap Raihan dan berjalan menghampiri meja Adel dan Fani. Daffa yang sadar langsung saja menyusul Raihan.
"Woy Han! Tungguin gua lah, gua juga mau ketemu Adel tau!" teriak Daffa dan pergi menyusul Raihan.
"Eh ... kok kita ditinggalin sih! Kita juga mau ikut dong," ucap Haykal dan menarik tangan Shinta untuk menyusul Raihan dan Daffa.
***
"Hay," sapa Raihan sembari melambaikan tangannya.
Adel dan Fani yang tadinya sibuk dengan ponsel mereka masing-masing dengan kompak mendongak dan menatap Raihan dengan kaget.
Adel cukup kaget dengan kedatangan Raihan, Daffa, Haykal dan juga Shinta. Tetapi dengan sebisa mungkin dia bersikap biasa saja.
Berbeda dengan Adel yang tampak tenang, Fani terlihat gugup, baru kali ini ada orang yang menyapanya dan mereka cukup banyak.
"Oh, h--hay juga," jawab Fani gugup, entahlah saat berhadapan dengan orang banyak seperti ini dapat membuat dirinya jadi semakin gugup.
Adel hanya diam. Dia tak membalas sapaan Raihan sama sekali, Adel kembali berkutat pada ponselnya. Entah apa yang dilakukan Adel dengan ponselnya, mungkin dia bermain game, ya mungkin saja.
"Kita boleh gabung gak?" tanya Raihan sembari tersenyum ramah pada Fani.
"Bo--"
"Gak!" potong Adel dingin.
Raihan dan yang lainnya menelan Saliva mereka susah payah. Berhadapan dengan Adel memanglah butuh hati yang kuat. Ya, alasannya supaya tidak sakit hati dengan apapun yang dikatakan oleh Adel.
"Ke--kenapa gak boleh? Pliss ... Adel jangan dingin dong. Kita kan cuma mau gabung doang, gak ada niatan yang lain kok. Iya gak Daff?" kata Raihan sembari menyenggol bahu Daffa.
"Eh? Iya! Kita gak punya maksud apa-apa. Kita cuma mau temanan kok," sambung Daffa.
Adel diam seolah tak mendengar apa-apa. Sedari tadi dia hanya asik dengan ponselnya saja.
"Yaelah ... gak usah gitu juga kali Del," ucap Shinta kesal.
"Tau tuh! Cuman mau gabung aja masa gak boleh sih," timpal Haykal.
"Iya Del, bolehin aja lah. Kasian mereka dari tadi berdiri loh, pasti capek." Fani yang tadinya diam kini bersuara.
"Nah ... betul tuh kata teman lo," sambung Raihan.
Adel yang tadinya berkutat pada ponselnya tanpa merespon apa pun. Kini melihat ke arah Fani yang juga menatapnya dengan senyuman.
"Boleh ya Del? Itung-itung nambah teman," ujar Fani memohon dan tak lupa dengan senyuman manisnya.
Senyuman itu, mata itu terlihat tulus sekali. Jika sudah begini, Adel bisa apa? Dia memang tak pernah menang jika berhadapan dengan Fani. Apa lagi saat melihat senyumannya yang begitu tulus. Adel mendenggus pasrah, mau tak mau dia harus mengijinkannya.
"Hm. Karna lo," jawap Adel dingin.
Fani tampak senang, dia langsung saja memeluk Adel dengan semangat. Sementara Adel, gadis itu hanya diam saat dipeluk oleh Fani.
"Jadi kita boleh gabung nih?" tanya Raihan dan Daffa kompak.
"Boleh kok, iya kan Del?"
"Hm."
Daffa dan Raihan bertos ria dan duduk di bangku yang berhadapan dengan Adel dan Fani. Begitu juga dengan Shinta dan Haykal, mereka duduk berhadapan.
"Kenalin gua Raihan Davika, panggil Raihan aja," ucap Raihan sembari mengulurkan tangannya pada Fani.
"Gua Fania Ratna Sari, kakak boleh panggil Fani," ucap Fani sopan.
"Hahaha ... dipanggil kakak, dong! Ngakak gua." Daffa terkekeh.
"Kok manggil kakak sih! Gua kan masih muda!"
"Eh ma--maaf kak eh maksud gua Raihan."
"Yaudah deh gak papa," ucap Raihan sembari tersenyum dan memperlihatkan lesung pipinya.
"I--iya,"
Adel hanya diam, dia sama sekali tak ikut dalam obrolan mereka.
"Btw, tadi lo bilang nama lo Fani? Bukannya lo gadis cupu yang ketemu sama Adel pas di sekolah ya?" tanya Daffa.
"I--iya gua gadis cupu itu," jawab Fani gugup.
"Wah ... lo berubah jadi cantik banget ya. Gak keliatan cupu lagi."
"Hm, berkat Adel," jawab Fani tersenyum, dia melirik Adel yang masih saja sibuk dengan ponsel.
"Wow ... Adel lo baik banget mau ngubah penampilan Fani," puji Daffa semangat. Daffa menatap Adel, tapi Adel tak meresponnya. Daffa bedecak kesal, kenapa Adel begitu dingin padanya?
"Sabar Daff." Raihan terkekeh, dia terus saja mengusap punggung Daffa.
"Iya, gua selalu sabar kok," jawab Daffa lesu.
"Dasar penguntit."
Mereka yang tadinya tertawa karena Daffa kini berhenti dan dengan kompak menatap Adel. Ya, yang bicara adalah Adel.
"Maksud lo a--apa?" tanya Daffa gugup.
"Lo ngikutin gua kan?"
Daffa menelan salivanya susah payah, bagaimana Adel bisa tau? Ah Daffa malu sekali.
"E--enggak kok, lo tau dari mana?"
"Bukannya udah jelas ya?" Adel balik bertanya.
"Jelas gimana sih Del? Gua gak ngerti." kini Fani yang bicara.
"Ya jelas lah, soalnya waktu gua ketemu lo kita cuman berdua doang," kata Adel.
"Terus?" Adel berdecak sebal, ternyata mereka belum paham juga.
"Gak ada siapa-siapa di tempat itu, tapi kenapa lo bisa tau? Berarti lo ngikutin gua kan?!" ucap Adel dan menatap Daffa penuh selidik.
"A--anu g--gua." Daffa tampak gelagapan.
"Bener Daff?" tanya Haykal.
"I--itu se--sebenarnya---"
"Pesanan datang," ucap seorang pelayan sembari memberikan pesanan Adel dan Fani. Daffa bersyukur sekali, untung saja pelayan itu datang. Jika tidak ... ah Daffa pasti malu karena ketauan mengikuti Adel.
Adel melirik Daffa sekilas, sesaat kemudian dia mulai memakan makanannya dengan hening, tak perduli orang di depannya yang masih asik mengobrol.
***
"Huaaa ... Adel gua takut," ucap Fani histeris.
"Diamlah!" jawab Adel dingin.
"....."
"Kalau tadi kita nerima tawarannya si Daffa, kan gak jadi gini! Malah Daffa baik lagi, dia mau nganterin kita pulang. Tapi malah lo tolak! Malah pakek acara bohong segala lagi! Kan emang bener kita gak bawa mobil! Huaa ... Adel lo kok diam aja sih?!" omel Fani.
"Lo tunggu di sini! Karna ini salah gua, gua yang bakal cari taksi ke depan," kata Adel dan pergi meninggalkan Fani.
"Huaaa ... Adel kok gua ditinggal sih?! Kan di sini serem." Fani duduk di kursi yang ada di pinggir jalan sembari menunggu Adel pulang.
***
"Fani gua udah da---" ucap Adel terpotong kala dia tak melihat Fani di tempat sebelumnya.
"Fani ... Fani lo dimana?!" Adel terus saja berteriak, dia mencari ke sana ke mari namun nihil, dia tak menemukan apa pun.
Adel duduk di kursi tempat dia dan Fani duduk tadi, dia melamun, air matanya menetes.
'Ini salahku! Mama benar aku emang pembawa sial! Jika saja aku gak ninggalin Fani, dia gak bakalan ilang. Gua memang pembawa sial!!!!' batin Adel.
Adel terus saja mengerutuki dirinya, dia merasa bersalah karena menolak tawaran Daffa yang ingin mengantarkan mereka pulang tadi dan rasa bersalah karena meninggalkan Fani sendirian.
"Maaf Fani, gua emang pembawa sial!!!" Adel menyeka air matanya yang hampir saja jatuh.
"A--Adel lo n-nangis?"
Adel menoleh dan menatap Fani datar, ternyata Fani baik-baik saja. Adel jadi malu sempat menangis, dia lemah sekali!!.
"Lo dari mana aja?!" bentak Adel.
"Tadi gua diganggu preman. Tapi, premannya udah kabur kok," ucapnya tersenyum.
"Kabur?" tanya Adel.
"Hahaha ... ya, mereka kabur karena dia," ucap Fani sembari menunjuk seorang gadis berambut pendek yang ada di sampingnya.
"Dia siapa?"
"Ouh, dia yang bantuin gua dari preman tadi. Dia jago banget loh Del," ucap Fani semangat.
"Dia nendang premannya sampek jatuh. Wihh ... keren lah pokoknya. Adel sih gak liat! Makanya jangan main tinggal aja," sambung Fani lagi. Gadis berambut pendek itu hanya tertawa saat di puji oleh Fani.
"Jangan dekat-dekat sama orang asing!"
"Enggak kok Del, dia orangnya baik. Namanya Siska, iya kan Siska," ucap Fani sembari menyenggol lengan Siska.
"Iya gua gak jahat kok, tenang aja," ucap Siska santai.
Adel menatap Siska penuh selidik. Siska yang ditatap oleh Adel spontan jadi gugup.
"Mana ada perempuan kayak dia!" ucap Adel dingin.
"Maksud lo apa?!" ketus Siska.
"Perempuan jadi-jadian!" sindir Adel.
"Ck, dasar es batu lo!" ketus Siska.
"Dari pada lo! Setengah perempuan, setengah laki-laki."
"Lo beruang kutub!"
"Lo--"
"Udah-udah kok jadi pada ribut sih?! Kan kita baru ketemu." ucap Fani menengahi.
"Teman lo tuh Fan! Dingin banget kaya es batu!" ucap Siska sembari menatap Adel sinis.
"Dia tuh! Dasar perempuan jadi-jadian!"
Ya, Siska memang tomboy, tapi seperti Adel dan Fani, Siska juga cantik hanya saja kelakuannya seperti laki-laki. Siska suka bertarung bahkan walau lawannya sekuat apa pun dia tak akan ciut.
"Padahal gua ada niatan biar kita jadi sahabat," ucap Fani menunduk.
"Ha?!" tanya Adel dan Siska kompak.
"Cyeee kompaan," ucap Fani terkekeh.
Adel dan Siska kompak buang muka, tak mau saling menatap. Fani berdecak sebal.
"Ck, pliss ... demi gua, kita temenan ya," ucap Fani memohon.
Adel menatap Fani, lagi-lagi dia tak bisa menolak kalau Fani yang mengatakannya.
"Ck, demi lo," ucap Adel kesal.
Fani beralih menatap Siska dengan wajah sok imut.
"Mau ya Siska?" Fani memohon tak lupa dengan wajah sok imutnya. Siska berdecak, entah kenapa saat bertemu dengan Fani dia merasa tidak canggung sama sekali dengan gadis itu.
"Ck, demi lo gua mau deh, kalau enggak ogah banget gua mau temanan sama gadis es batu!" ucap Siska sinis sembari melihat ke arah Adel.
Adel yang merasa tersindir langsung saja menatap Siska dengan nyalang.
"Gua juga ogah mau temanan sama gadis jadi-jadian!!!" ketus Adel.
"Dasar es batu!"
"Cewek jadi-jadian!!"
"Beruang kutub!!"
"Diam lo!"
"Gua gak mau!!!"
"Serah!!"
"Ih ... kok jadi ribut lagi sih?!" ucap Fani kesal.
"....."
"Jadi, sekarang kita temenan nih ya?" sambungnya lagi.
"....."
"Ih ... kalian dengar gua gak sih!!" ucap Fani kesal.
"Iya!!" ucap Adel dan Siska kompak.
"Nah gitu dong kompaan," ucap Fani terkekeh.
Adel dan Siska saling menatap sinis dan dengan kompak membuang muka kembali.
"Awas lo!!" ancam Siska.
"Lo yang awas!!" balas Adel.
"Hadeh ... mulai lagi." Fani memutar bola matanya malas.
TBC....
Krisannya?
#Next?