Ice Girl

Ice Girl
part 13



Ice Girls


~Happy Reading💞~


"Oke, kalau gitu, gua dah tau apa permainan yang cocok," ucap Daffa tersenyum penuh arti.


"Apa?" tanya mereka kompak.


"Memasak," jawab Daffa semangat.


Semuanya kompak menatap Daffa dengan tatapan membunuh.


"Pletak." satu jitakan dari Adel mendarat mulus di kepala Daffa. Tak hanya Adel, Raihan, Siska Mika dan juga Fani ikut memukul Daffa, mereka kesal dengan Daffa karena bicara seenak jidatnya saja. Dikiraiin masak itu permainan kali ya?!.


"Aduh ... kok kalian pada mukul gua sih?! salah gua apa woy?!" ucap Daffa kesal dan dengan tangan yang tak henti-henti mengusapi kepalanya yang terasa sakit.


"Gua salah percaya sama lo, ternyata lo orangnya bego!" kesal Siska.


"Tau tuh! emang lo kira masak itu permainan hah?!" sambung Raihan.


"Bikin kesel gua lo Daf!" balas Mika.


"Iya, masa permainannya masak sih?! kan gak nyambung!" sahut Fani.


Adel? gadis itu hanya diam saja, tetapi tidak dapat dipungkiri dia sangat senang melihat Daffa sekarang.


'Hii ... hii ... hii rasain lo Daffa! gantiankan lo yang kalah suara, mompos! syukurin! sebenarnya gua tau maksud lo apa, tapi gak tau kenapa, gua seneng aja liat lo menderita hii ... hii ... hii,' batin Adel tertawa jahat.


"Kalian ini kebiasaan ya! dengerin dulu dong! gua belom selesai ngomong tau!!" kesal Daffa. Daffa tebak, pasti Adel tau maksud Daffa, tapi gadis itu ternyata menyebalkan juga, dia hanya diam saat Daffa dianiaya. Huh dasar gadis licik!.


"Yaudah selesain dong! ngomong kok separuh-separuh, kalau ngomong itu yang jelas!!" ketus Siska.


"Gak usah ngegas juga kale!" sahut Mika.


"Lah? lah? lah? yang diomongin siapa? yang nyahut siapa?!"


"Serah gua lah!!"


"Dasar cowok jutek lo!!"


"Lo tu yang--"


"Udah-udah kok jadi pada ribut sih?! dengerin tuh si Daffa mau ngomong apa," ucap Raihan menengahi.


"Udah? bisa diam gak? biar gua lanjut nih!" ucap Daffa.


"Lanjut," jawab mereka kompak terkecuali Adel, gadis itu sepertinya sudah tau, apa yang dimaksud Daffa.


"Oke. Gua milih memasak karna cewek kan pada umumnya harus mahir dalam memasak, nah lo dua kan cewek nih, jadi--"


"Gak, yang cewek cuman gua doang," potong Adel.


"Wah ... ngajakin brantem nih si es batu, lo kira gua apa hah? cowok gitu?!" kesal Siska.


"Hahaha ... bener banget Del, gua setuju sama lo," sahut Mika dengan terkekeh.


"Ini lagi, si cowok jutek, sama aja lo bedua!!" ucap Siska kesal. Bisa-bisanya mereka bilang, kalau dia bukan cewek! kalau bukan cewek apalagi? cowok gitu?! ck, mereka buta kali ya?!.


"Kalian ini suka banget ya motong orang bicara!!" ketus Daffa.


"Lanjut deh lanjut," balas Raihan.


"Hm. Jadi maksud gua, kalau lomba masak kan lebih adil, karena cewek itu harus mahir dalam memasak, kalian kan cewek, pasti bisa masak dong? kalau gak bisa ya, mana gua tau lah."


"Bisa," jawab Adel singkat dan padat.


"Bi--bisa kok, gu--gua kan cewek," jawab Siska gugup.


"Waduh, kok gua rada curiga ya? kayaknya ada yang bohong nih," sindir Mika.


"Maksud lo apa hah?! gua emang bisa masak kok," jawab Siska.


"Gua gak bilang elo kok ... tapi, lo nya aja tuh yang bilang kayak gitu, makin curiga gua."


"Cowok ini kok nyebelin ya? woy Daf Daf, boleh gua gebukin gak nih, teman lo?"


"Gebukin aja."


"Wah ... selain aneh, nih cewek bar-bar juga ya," ucap Mika terkekeh.


Siska menatap Mika dengan tajam, sedangkan yang ditatap tampak biasa saja.


"Sabar Sis ... sabar," ucap Fani sembari mengelus punggung Siska pelan.


"Udah?"


Semuanya menoleh pada Adel, ya Adel lah yang bicara, gadis itu ternyata muak juga melihat perkelahian antara Mika dan Siska.


"U--udah," jawab mereka kompak. Entah kenapa, saat Adel yang bicara rasanya seperti berbicara pada seseorang yang benar-benar harus dihormati.


"Tempatnya?" tanya Adel singkat dan padat.


"Bisa gak Del, kalau ngomong tuh dipanjangin dikit, gak usah terlalu irit lah ngomongnya. Gua sih ngerti maksud lo, tapi takutnya kecurut-kecurut ini yang gak ngerti," ucap Daffa dengan senyum paksa. Entahlah ternyata berbicara dengan Adel harus punya mental dan hati yang kuat.


"Apa maksud lo kecurut-kecurut?!" ketus Siska.


"Bukan apa-apa." jawabnya acuh, malas sekali jika harus berdebat dengan Siska.


"Jadi, yang dimaksud Adel tempat apa sih?!" Raihan yang tadinya diam kini bicara.


"Bodoh!" ucap Adel dingin.


Daffa menghela napas, susah sekali bicara dengan orang yang otaknya tidak sampai.


"Oh gitu toh, mana kita ngerti orang dia ngomongnya gak jelas sih!!"


"Kalian aja yang bodoh!" sahut Adel.


"Ck, serah lo deh."


"Jadi, kalian bingung masalah tempat ya?" tanya Fani.


'Dah tau, masi aja dianya' batin Adel.


"Iya Fan, lo tau tempat yang bagus?" tanya Daffa.


"Gimana kalau di rumah gua aja?"


"Orang tua lo gimana?"


"Tenang aja, mereka lagi kerja di luar negri,"


"Gapapa nih?"


"Gapapa kok," jawabnya dengan tersenyum ramah.


"Oke. Kalau gitu, tempatnya di rumah Fani ya."


"Sip," jawab mereka kompak terkecuali Adel.


"Eh tunggu dulu," ucap Adel.


"Kenapa Del?" tanya Daffa.


"Kalian kan cuma bantuin milih lombanya!"


"Trus?"


Adel menggema napas, berbicara dengan orang bodoh memang susah.


"Kenapa kalian juga ikut ke rumah Fani?!"


"Oh itu, biar kita jadi juri nya lah," jawab Daffa santai.


"Gua gak sudi!"


"Siapa yang minta pendapat lo?"


"Serah!"


"Oke, kalau semuanya udah setuju, gimana kalau lombanya malam minggu aja?" tanya Dafa semangat.


'Ck, siapa yang setuju?! lagian mau masak aja, kenapa harus malam minggu?!' batin Adel kesal.


"A--anu Daffa," ucap Fani gugup.


"Iya Fani? lo keberatan?"


"Ma--maksud gua, apa baik kalau malam? kan gak enak bawa anak cowok malam-malam ke rumah."


"Lo tinggal sendiri?"


"Enggak kok, gua tinggal sama pembantu, sama supir gua juga."


"Nah, terus supir lo itu, cowok apa cewek?"


"Cowok lah.


"Trus ngapain gak enak, lagian kita kan cuma sebentar doang, gak sampek nginep kok."


"Oh gitu ya?" tanya Fani polos.


"Ya ampun Fani, lo polos banget sih ... gua suka," ucap Raihan dan tanpa sadar tangannya kini mengusap kepala Fani dengan lembut.


Fani berkedip, wajahnya memerah menahan malu. Tanpa sadar, Fani menonjok wajah Raihan karna takut.


"Kyaaaa ... ja--jangan sentuh gua!" ucap Fani gugup.


"Pffff ... bwahahaha ...," tawa semuanya pecah terkecuali Adel saat melihat reaksi Fani.


"Syukurin!"


"Makanya Han, jangan main nyosor aja!"


"Tau tuh! emang enak kenak tonjok?!"


Raihan mengusap pipinya yang terasa panas, sungguh dia tak berniat melakukannya, tapi tangannya ini sungguh lucknat! main usap kepala orang seenaknya.


"Ma--maaf Fan, gu--gua gak sengaja," ucap Raihan gugup.


"Gak sengaja apanya? mana ada orang yang gak sengaja ngusap kepala orang lain," balas Siska terkekeh.


"Sampai ada kata suka lagi," sahut Mika terkekeh.


"Kasian, malah ditonjok tuh mukanya," balas Daffa.


Mereka bertiga dengan kompak menertawakan Raihan dengan semangat. Sungguh teman lucknat!!


TBC ...


Sekarang aku bakalan atur jadwal aku, biar bisa up setiap hari. Makasi bagi yang sudah mendukung author💞 love you deh pokonya😽


#Next?