Ice Girl

Ice Girl
part 22



Ice Girls


~Happy Reading๐Ÿ’ž~


"Jadi pacar gua."


"Apa?!" kaget Siska.


Siska menatap wajah Mika tak percaya. Sesaat kemudian dia memalingkan wajahnya merasa geli.


Mika yang melihat hal itu. Entah kenapa merasa jengkel. Sebenarnya apa yang sedang ada dipikiran gadis aneh ini sekarang?! Pikir Mika.


"Gua tau kalau pesona gua ini kelewatan," ucap Siska tiba-tiba. Membuat Mika mengerutkan dahinya bingung.


"Tapi Mik, lo bukan tipe gua. Entah sejak kapan, lo jadi suka sama gua. Tapi gua tau kok, itu salah gua karena kelewat mempesona," lanjut Siska dengan pedenya.


Bulu kuduk Mika merinding mendengarnya. Ia menatap Siska dengan tatapan jijik.


"Siapa yang suka sama elo?" tanya Mika dengan wajah geli.


"Lah? Kan elo yang nembak gua tadi! Lo lupa?!"


"Kapan? Perasaan gua gak ada nembak elo deh! Gua masik waras kali!" balas Mika sewot.


"Terus yang tadi bilang 'jadi pacar gua' itu siapa?! Setan?!" kata Siska emosi.


"Pfftthahah ... kocak banget! Lo salah paham woi! Gua gak nembak elo wkwk." Mika tertawa lepas tak tahan mendengar perkataan Siska.


Siska menatap nyalang Mika yang sedang tertawa. Ingin sekali rasanya menampar wajah menyebalkan itu.


"Aduh ... perut gua sakit, hahaha. Maksud gua bukan jadi pacar beneran." Ia menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya karena tertawa.


"Terus, apa dong?!" tanya Siska dengan raut wajah jutek.


"Pacar boonganlah! Yakali beneran," jawab Mika tak tertarik.


"Ha? Buat apa lo butuh pacar boongan?"


"I--itu karna ... gua ...." Raut wajah Mika tampak berubah jadi sedih.


"Karna?" tanya Siska penasaran.


Mika menghembuskan napas pasrah. Sebelum akhirnya menceritakan semuanya pada Siska.


"Bokap nyokap gua, mereka mau jodohin gua!" kesal Mika.


"Ha? Dijodohin? Kasiannya," kata Siska prihatin mendengar penjelasan Mika.


"Yakan, padahal ini bukan jaman Siti Nurbaya! Ortu gua emang tega!"


"Iya, orang tua lo tega banget." Mika mengangguk setuju dengan perkataan Siska.


"Kasian cewek yang mau dijodohin sama lo. Nasibnya sial banget," lanjut Siska dengan wajah sedih.


Mika yang mendengar itu langsung saja melototkan matanya kesal. Dia pikir Siska akan memihak padanya. Eh, taunya gadis itu malah bersimpati dengan gadis yang akan dijodohkan dengan Mika. Siska benar-benar menyebalkan!


"Kampret!" umpat Mika.


"Hahaha ... gak usah ngegas kali. Gua cuma becanda."


"Becanda lo kelewatan."


"Ya, maaf."


"Gak gua maafin!"


"Terserah sih, gua juga gak peduli."


"Heh."


"Tapi kenapa?"


"Apanya?"


"Kenapa harus gua yang jadi pacar boongan lo?!"


"Karna gak ada yang cocok."


"Berarti gua cocok?"


"Iya lo co---" Mika tersadar.


"Eh, maksud gua bukan cocok! Tapi gua gak suka cewek lembek."


"Berarti lo suka sama cewek kaya gua?" goda Siska tertawa lepas.


"Jangan Mimpi! Gua gak akan pernah suka sama cewek kaya elo, selama gua waras!" tegas Mika.


"Yaelah santai! Tapi gua bingung. Apa hubungannya pacar boongan sama perjodohan?" tanya Siska dengan dahi yang mengerut.


Lagi-lagi Mika menghela nafas panjang. Bersiap untuk menceritakan kelanjutan dari masalahnya.


"Terus?" tanya Siska tampak tertarik dengan obrolan pria itu.


"Ortu gua nyuruh buat kenelin pacar gue ke Mereka malam ini. Katanya mereka gak percaya kalau gua punya pacar."


"Kenapa gak percaya?"


"I--itu karena ...." Mika membuang muka malu dengan apa yang akan ia katakan. "Mereka takut kalau gua gak normal," cicitnya dengan suara pelan.


Mendengar kalimat terakhir itu dapat membuat perut Siska terasa digelitik.


"Pfftthaahahah ... entah kenapa gua jadi ngerasa kalau lo benaran gak normal," ucap Siska blak-blakan.


"Heh! Jangan sembarangan kalau ngomong! Gua normal tau!!" kesalnya.


"Iya, iya! Serah lo dah wkwkw."


"Jadi gimana? Lo mau kan? Jadi pacar boongan gua. Secara, lo juga kan butuh foto ini." Mika menunjukkan Foto yang ia maksud. Membuat Siska menatapnya sinis. Mika benar-benar licik! Pikir Siska.


"Iya, gua mau. Tapi kirim dulu fotonya! Gua gak mau kalau jadi pelayan si Es batu selama tiga minggu." Siska bergidik ngeri saat membayangkan masa dimana dia akan jadi pelayan gadis itu.


"Oke! Gua kirim. Pulang sekolah nanti, lo harus bareng gua! Kita ke salon."


"Hah? Ngapaiin?"


"Ya, ngapaiin lagi bego! Ngerubah penampilan lo lah! Biar agak mirip cewek!" kata Mika sewot.


"Cowok bangsat!!!"


****


Bel masuk sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu. Keadaan di kelas Xi ipa 1 masi tetap riuh. Karena sedari tadi tidak ada guru yang masuk satupun ke kelas mereka. Sepertinya ini jam kosong.


Adel menenggelamkan wajahnya pada kedua tangan yang ia lipat di atas meja. Telinganya ia sumpal menggunakan hendset. Lebih baik mendengarkan musik daripada keriuhan. Karena Adel hanya suka ketenangan.


Set, set, set


Dengan wajah kesal. Adel menoleh dan menatap Siska yang baru saja menarik-narik kabel handsetnya itu.


"Apa?!" ketus Adel yang dibalas cengiran oleh Siska.


"Jangan ngegas dong, Es batu."


"Adel!"


"Lo lebih cocok dipanggil Es batu hahah!" kekehnya.


"Gak jelas," ucap Adel hendak tidur kembali. Namun dengan cepat Siska menghentikannya.


"Ada sesuatu yang mau gua tunjukin ke lo," kata Siska sembari mengambil ponsel dari dalam sakunya.


"Gak tertarik," jawab Adel dingin.


"Jangan gitu. Coba liat ini." Ia menunjukkan sebuah foto.


Mata Adel terbelalak melihat foto yang ditunjukkan Siska. Kenapa bisa ada dirinya di sana? Yang lebih parahnya, kenapa dia mencium Daffa?! Akh ... memalukan! Dari mana si cewek jadi-jadian ini menemukan foto itu?!


"Editan! Itu pasti cuma editan!" sergah Adel dengan wajah yang memerah.


'Eh? Wajahnya merah! Gua pikir si Es batu gak punya ekspresi lain selain datar,' batin Siska tak percaya.


Ya, wajar saja Adel tak ingat. Waktu itu dia dalam keadaan mabuk dan tanpa sadar mencium Daffa. Hal itu sempat diabadikan oleh Mika dengan memfotonya. Wah ... Siska tidak menyangka kalau foto ini akan sangat berguna untuknya.


"Ini gak editan, tau! Kalau gak percaya lo boleh tanya sama Fani."


"A--apa yang lo mau?!" tanya Adel langsung tau maksud Siska.


"Gua suka bicara sama lo! Gampang ngertinya wkwkw." Siska terkekeh melihat reaksi Adel.


"Gua mau, lo batalin hukuman gua. Gua gak mau jadi pelayan lo lagi! Dari tadi lo nyuruh-nyuruh gua mulu! Capek tau!" jelas Siska mengingat Adel yang terus memerintahnya beberapa menit yang lalu.


"Gak mau."


"Apa?! Lo gak takut?!"


"Gak."


"Gua bakal sebarin gosip nih, kalau lo pacaran sama si Da--"


"Sama siapa?" potong Daffa yang tiba-tiba datang.


"Daffa?!" kaget keduanya.


TBC ....


Partnya kurang panjang, apa kepanjangan? Wkwk.๐Ÿคง๐Ÿ˜‚


Komen!๐Ÿ™‚


#Next?