Ice Girl

Ice Girl
part 27



Ice Girls


~Happy Readingđź’ž~


Daffa berjalan mengitari koridor sekolah. Ia berbelok hendak menaiki tangga menuju ke kelas sebelas. Baru saja ia menaiki lima anak tangga. Daffa sudah melihat Adel yang turun ke bawah.


Adel menatap Daffa datar seperti biasanya. Kemudian gadis itu berjalan turun ke arah Daffa. Refleks Daffa kembali menuruni tangga dan melarikan diri.


Entah kenapa, akhir-akhir ini saat melihat Adel. Jantung Daffa jadi berdetak kencang. Ia sangat gugup. Daffa belum sanggup berbicara dengan gadis itu. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menghindari Adel akhir-akhir ini.


Adel menatap Daffa tak suka. Kenapa pria itu terus melarikan diri darinya? Dia bukan hantu! Kali ini Adel tak akan mau mengalah. Ia dengan cepat menuruni tangga dan berlari mengejar Daffa.


"Tunggu!" teriaknya yang tidak digubris oleh Daffa.


Daffa terus berlari dengan kencangnya. Ia tak menyangka kalau Adel akan mengejarnya seperti ini. Daffa berbelok saat melihat toilet. Dia akan masuk ke dalam toilet saja. Dengan begitu, Adel akan berhenti mengejarnya 'kan? Gadis itu pasti akan segera pergi.


Adel menghentikan larinya saat melihat Daffa yang memasuki toilet. Ia tak mungkin masuk ke toilet pria. Adel menghela nafas, lelah dengan kelakuan Daffa.


***


Sudah lima belas menit berlalu. Daffa masi berada di dalam toilet. Setelah merasa keadaannya sudah aman. Daffa memutuskan untuk keluar. Dengan hati-hati ia membuka pintu sembari mengintip. Tidak ada, sepertinya Adel benar-benar sudah pergi.


Dengan senyuman lega, akhirnya Daffa membuka pintu toilet dengan lebar dan keluar dari sana.


"Selamat," gumam Daffa mengelus dadanya lega.


"Kenapa kabur?"


Deg!


Suara itu membuat Daffa terperanjat kaget. Ia menolehkan kepala perlahan.


"Adel?!" kaget nya saat mendapati Adel di sana. Dia pikir gadis itu sudah pergi.


Daffa membuang wajahnya berniat untuk melarikan diri lagi. Namun sebelum semua itu terjadi. Dengan sigap Adel meletakkan kedua tangannya tepat pada tembok di samping Daffa. Sehingga dapat memblokir jalan pria itu.


Daffa menoleh menatap Adel gugup.


"Kenapa?! Kenapa lo menghindar dari gua?!" Adel berjinjit dan berteriak tepat di depan wajah Daffa. Wajahnya memerah menahan amarah.


Daffa menelan salivanya susah payah. Kemudian menoleh ke samping menghindari wajah Adel yang terlalu dekat dengannya.


'Agresip sekali,' batin Daffa melihat kedua tangan Adel yang menghalangi jalannya.


"A–anu Del ... tangan lo bisa dilepas dulu gak? Entar ada yang liat dan mikir macem-macem tentang kita," kata Daffa masi dengan membuang wajahnya ke samping. "Gua juga sedikit gak nyaman," lanjutnya lagi.


"Gak."


Daffa menoleh menatap Adel. Ia menelan saliva gusar saat mendapati Adel yang masi berjinjit dengan wajah yang sangat dekat dengan Daffa.


'Terlalu dekat,' batin Daffa.


Adel yang sadar dengan situasi itu dengan cepat menetralkan kakinya. Membuat wajahnya otomatis turun ke bawah. Daffa menunduk menatap Adel dalam diam.


"Ka–kalau gua lepas, entar lo kabur lagi," lanjut Adel sedikit gugup.


"Gua gak bakal kabur."


"Gak percaya."


"Gua janji."


"...."


"Lepas, ya?"


Adel membuang wajahnya ke samping lalu dengan berat hati melepas kedua tangannya pada tembok. Daffa tersenyum lega saat Adel mengikuti permintaannya.


"Ayo!" ajak Daffa sembari menggenggam tangan Adel pergi dari sana.


"Kemana?"


"Kemana aja, yang penting jangan di sini. Lo mau dikatain yang engak-enggak? Karena nunggu di depan pintu toilet cowok. Itu tuh, kaya lagi ngintip, tau?!"


"Gak tertarik," balas Adel dingin. Memangnya siapa yang tertarik mengintip laki-laki? Adel sama sekali tak berpikiran kesana. Dia hanya menunggu Daffa yang kabur.


"Hahaha ... iya, gua tau kok. Tapi gua gak nyangka lo bakal nunggu sampai gua keluar dari toilet," kekeh Daffa. "Malah nunggunya di depan pintu lagi," lanjutnya masi dengan tertawa geli.


"Gua gak mau lo kabur, lagi."


"Karna itu lo nunggu gua di depan pintu?"


"Hm."


"Pftt. Hahah!"


Adel mendongak menatap pria di depannya dengan wajah datar. Tangan Daffa masi mengenggam erat tangan Adel. Mereka berjalan di koridor sekolah dengan tenang nya. Tak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitar.


"Maaf," ucap Adel tiba-tiba yang dapat membuat langkah Daffa terhenti.


"Untuk apa?" tanyanya bingung.


"Karna gua gak sengaja nyium lo," jelas Adel dengan dinginnya. "Karna itu 'kan? Lo ngehindar dari gua," lanjutnya lagi masi dengan nada dingin.


Padahal dulu, gadis di depannya ini benar-benar mengabaikan Daffa dan sangat membencinya. Adel sudah sangat berubah. Apa mungkin ada peluang bagi Daffa? Ah ... entahlah! Daffa tak ingin memikirkan itu sekarang.


"Gua sih gak masalah dengan itu," jawab Daffa. "Malah gua seneng ciuman pertama gua sama lo. Yah, sekalipun itu gak sengaja sih," lanjutnya lagi dengan bergumam.


"Apa?!" tanya Adel sedikit tak mendengar gumaman Daffa karna suasana yang cukup berisik di koridor saat itu.


"Ah! Emm ... bu–bukan apa-apa," kilah Daffa.


"Hm."


"Intinya, gua gak bakal ngehindar lagi dari lo."


"Sungguh?"


"Iya, gua janji!"


Adel menatap Daffa antusias. Entah kenapa dia sangat senang mendengar jawaban itu.


"Terima kasih," ucapnya sembari tersenyum hangat untuk pertama kalinya.


Deg!


Daffa terpaku memperhatikan senyuman Adel. Sangat cantik! Senyuman langka itu, tak Daffa sangka ia akan melihat Adel tersenyum sekarang.


"Ehem." dehem Daffa memalingkan wajahnya. "Lo cantik kalau lagi senyum," pujinya dengan wajah yang sedikit memerah.


"Oh."


"Masa lo cuman—"


"Hay, Guys?!"


Kedua orang itu dengan kompak berbalik dan menatap orang yang tengah memanggil mereka barusan.


Di sana tampak Siska yang tengah berlari ke arah mereka. Tak hanya Siska. Fani, Raihan, Mika, Haikal dan juga Shinta berjalan ke arah keduanya.


"Kalian ngapaiin? Kok bisa bareng? Mau ke mana?" tanya Daffa bingung.


"Ada berita penting!" kata Raihan dengan antusias.


"Apaan?"


"Katanya, sekolah kita bakal ngadaiin acara kemah di hutan," sahut Mika menerangkan.


"Hutan?!" Adel yang tadinya diam kini ikut bersuara. Wajahnya seketika jadi pucat.


"Iya, hutan. Lo kenapa?" tanya Mika.


"Muka lo pucat! Es batu, lo sakit?!" heboh Siska.


"Lo gak papa, Del? Kenapa wajah lo tiba-tiba jadi pucat gini?"


"Adel sakit? Mau gua temani ke Uks?" Fani juga khawatir dengan Adel.


Semuanya menatap Adel khawatir.


"Kapan?"


"Apanya?" kini Raihan yang bertanya. Tak mengerti dengan maksud Adel. Gadis itu selalu saja bicara setengah-setengah.


"Kemahnya!" sahut Daffa menjawab pertanyaan Raihan. "Itu aja gak ngerti," lanjutnya lagi. Rupanya Daffa sudah sangat mengerti dengan kata-kata Adel.


"Oh, kata Riski besok. Riski bilang semua kelas sebelas harus ikut tanpa terkecuali. Makanya kita buru-buru nyariin kalian berdua mau ngasi kabar ini. Soalnya lo bedua gak keliatan dari tadi. Eh, taunya malah asik pacaran," jelas Raihan sembari mengomel.


"Riski?"


"Iya, dia kan ketua osis. Jadi yang rencanaiin sekaligus ngumumin ini ya anggota osis kaya Riski."


Adel tertegun mendengar penjelasan Raihan. Wajahnya benar-benar tampak pucat. Sesaat kemudian ia bertanya kembali pada Raihan dengan wajah panik.


"Di mana?"


"Maksud lo?" semuanya kompak bertanya kecuali Daffa. Pria itu tampak mengerti maksud Adel.


"Dia nanya, Riski di mana?" terang Daffa yang dapat membuat semuanya mengangguk paham.


"Kalau itu gua gak tau," jawab Raihan. "Lo ada liat gak, Mik?" lanjut Raihan bertanya pada Mika.


"Hmmm .... kalau gua gak salah, tadi gua sempet liat Riski di Perpus," kata Mika memberi jawaban setelah berpikir.


"Tapi gua heran." Daffa merasa heran dengan perilaku Adel. "Kenapa lo nyari si Ris—"


Ucapannya terhenti kala melihat Adel yang sudah berlari pergi dari sana. Gadis itu tampak lari tergesa-gesa dengan wajah panik dan pucat.


"Adel lo mau kemana?!" teriak Daffa yang tak dihiraukan oleh Adel. Ia tetap berlari dengan cepat nya. Tujuannya hanya satu! Sekarang ia harus ke Perpustakaan sekarang. Adel harus menemui Riski segera!!


TBC ....


#Next?