
Ice Girls
~Happy Readingđź’ž~
"Ada angin apa sampai lo nyari gua segininya?" tanya Riski berfokus pada berkas-berkas di depannya.
Tadinya Riski sedang mengadakan rapat dengan anggota osis lainnya. Ia memilih untuk rapat di dalam Perpustakaan karena ruangan osis sedang dalam masa perbaikan.
Riski sangat kaget saat mengetahui bahwa Adel mencari dirinya. Gadis yang terkenal dingin satu sekolahan itu ingin bicara dengannya? Sungguh mengejutkan! Bahkan Adel rela menunggu sampai rapat Riski selesai. Sebenarnya hal penting apa yang ingin dibicarakan Adel dengannya?
"Jelaskan semuanya," kata Adel dengan dinginnya.
Riski menyerngit bingung dengan kata-kata Adel. Ternyata rumor tentang Adel yang bicara irit itu benar rupanya.
"Maksud lo? Jelesin apa? Kalau ngomong itu yang lengkap! Gua gak ngerti sama apa yang lo bilang."
"Kemah," jawab Adel singkat masi dengan ekspresi dinginnya.
Riski tampak mengangguk paham dengan maksud Adel. Rupanya gadis itu ingin menanyakan tentang acara kemah di hutan.
"Oh, lo mau minta penjelasan tentang acara kemah besok?"
"Hm."
"Baiklah, berhubung gua lagi baik. Gua bakal jelasin semuanya," kata Riski menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya menjelaskan pada Adel.
"Karena sebentar lagi ujian akhir semester, kami para osis memutuskan untuk membuat acara kemah. Hitung-hitung buat refreshing otak. Kita juga udah minta izin sama kepsek dan beliau ngizinin. Kata kepsek, ide kita bagus untuk melatih kemandirian siswa. Makanya dia ngizinin," ucap Riski menerangkan.
Adel diam, gadis itu sedari tadi hanya menyimak perkataan Riski.
"Acara kemahnya besok. Semua siswa wajib ikut. Kita bakal kemah di hutan selama tiga har—"
"Hutan?!" potong Adel dengan cepat saat mendengar kata itu. Wajahnya kembali pucat dengan keringat dingin di sekujur tubuh.
Bayangan-bayangan masa lalu mulai muncul lagi di pikirannya. Membuat wajah Adel semakin pucat saat mengingatnya. Tatapan matanya menatap sayu ke depan. Membayangkan kejadian mengerikan yang merenggut segala miliknya.
~Flashback on~
"Papa ... bangun, jangan tinggalin Adel. Adel mohon ...," lirih gadis kecil berumur enam tahun itu. Air matanya tak henti menetes dengan isak tangis yang begitu pilu.
Ia baru saja kehilangan ayahnya. Di tengah hutan malam yang dingin nan mencengkam. Adel terduduk lemas tak berdaya menatap kematian sang ayah.
Ia menjambak rambutnya frustasi. Menangis tanpa henti dengan pilunya. Dan terus menyalahkan dirinya atas kematian sang ayah.
"Se–semua salahku ...! Gara-gara a–aku, papa meninggal ... semuanya karna aku! Maaf ...," lirih Adel menangis histeris.
Krak, krak, krak.
Suara ranting yang diinjak dapat mengalihkan perhatian Adel. Spontan gadis itu menoleh menatap lamat-lamat ke arah semak-semak.
"Di sini kau rupanya, gadis kecil." Seorang pria berjubah hitam keluar dari balik semak. Satu sudut bibirnya terangkat menampilkan senyuman seperti iblis.
"Ja–jangan mendekat!"
Adel berdiri dengan kaki yang gemetar. Tangisan nya masi belum berhenti juga. Ia menatap takut orang di depannya.
"Apa ini? Ayahmu sudah mati, ya?" tanya pria itu saat mendapati Faisal yang sudah tidak bernyawa.
"Hah ... Faisal, Faisal! Andai saja kau menuruti kemauan kakakmu ini, semua ini tak akan menimpamu. Lihatlah, putri kesayanganmu tengah menangis ketakutan melihatku. Hahah ... ini menyenangkan sekali!" lanjutnya lagi tertawa bak iblis.
"Jahat!" teriak Adel dengan wajah yang dibanjiri air mata.
"Paman gak sejahat itu kok," kekehnya merasa lucu dengan tingkah gadis kecil di depannya.
Tak berapa lama kemudian, beberapa orang jahat lainnya juga datang. Membuat Adel semakin gemetar dan ketakutan.
"Maaf, kami terlambat tuan."
"Gak masalah."
Adel menatap orang-orang di depannya dengan tubuh yang gemetaran. Kakinya melangkah mundur ke belakang saat pria berjubah hitam berjalan mendekat ke arahnya.
"Tangkap dia!!" seru pria itu saat melihat Adel yang hendak melarikan diri.
Adel berlari dengan berat hati meninggalkan jasad sang ayah. Orang-orang itu tak henti mengejar dirinya secara membabi buta.
Di dalam kegelapan malam ia terus berlari memejamkan mata dengan isak tangis yang begitu sedih. Ia takut ... Adel takut kegelapan.
~Flashback off~
Sejak hari itu Adel jadi trauma dengan hutan. Setiap ada kegiatan di sekolah yang melibatkan hutan ia selalu tidak ikut serta. Ia membenci hutan! Adel tak suka gelap! Ia sangat-sangat membenci hutan. Karena di sanalah tempat awal ia kehilangan segalanya.
"Del! Lo sakit? Jawab gua!"
Adel tersentak kaget saat melihat Riski yang mengayunkan tangan di depan wajahnya. Ah, dia melamun rupanya.
"Sehat."
"Beneran? Tapi muka lo pucat banget. Mau gua antar ke uks?" tanya Riski menawarkan kebaikannya.
"Gak."
"Oh, terserah lo," kata Riski acuh. "Tapi, kenapa lo nemuin gua? Gak mungkin 'kan, lo cuma minta penjelasan tentang kemah doang. Pasti ada maksud lain," lanjutnya lagi.
"Gua gak ikut."
"Maksud lo, lo gak mau ikut kemah?"
"Hm."
"Kenapa?"
"Bukan urusan lo."
"Urusan gua, dong! Gua kan ketua osis. Dan lo tau? Semuanya wajib ikut tanpa terkecuali!" terang Riski dengan nada ketus. "Ya, kecuali lo mau bayar denda," lanjutnya lagi sedikit bergumam.
Riski menatap Adel tak percaya. Padahal ia hanya bercanda. Sebegitu tidak maunya Adel ikut kemah? Sampai-sampai gadis itu rela membayar denda darinya.
"Ba–baiklah! gua bakal bantuin supaya lo bisa izin gak ikut ke wali kelas lo," jawab Riski akhirnya pasrah dengan permintaan Adel.
"Makasi."
"Tapi, kenapa lo gak mau ikut? Apa ada masalah?"
"Itu privasi gua."
"Ck, iya deh! Terserah lo lah! Lama-lama gua bisa mati penasaran kalau ngomong sama lo lebih lama lagi."
***
Di sebuah kelas tepatnya di kelas Xi ipa 1, orang-orang sedang sibuk membahas tentang acara kemah yang akan dilaksanakan besok dengan riuhnya.
"Lo mau bawa apa aja, besok?"
"Besok pakai baju bebas, 'kan?
"Gua bakal beli baju baru buat kemah besok!"
"Hei, katanya kita bakal naik bus?"
"Wah! Pasti seru. Gua jadi gak sabar!"
Kata-kata itu tak henti-hentinya mereka ucapkan. Hingga dapat membuat telinga Daffa ingin pecah mendengarnya.
Daffa sangat bosan, karena guru lagi rapat. Jadi Haykal pergi menemui Shinta di kelas sebelah dan meninggalkan Daffa sendiri di kursi belakang.
Ia menatap ke depan mencari sosok Adel, ternyata gadis itu belum kembali juga dari tadi. Hanya ada sosok Siska dan Fani yang duduk di kursi Adel sekarang. Kedua gadis itu tengah asik mengobrol.
Manik mata Siska tak sengaja mendapati Daffa yang tengah memperhatikan mereka berdua. Ia kemudian menarik tangan Fani untuk berdiri dan pergi ke tempat Daffa.
"Woy! Cojut. Gua duduk di sebelah lo, ya?" tanya Siska pada Mika yang tengah asik bermain ponsel.
Meja Mika bersebelahan dengan meja Daffa di kursi belakang. Sedangkan Meja Raihan berada tepat di depan meja Daffa.
"Cojut?" Mika yang tadinya asik bermain ponsel kini menatap gadis di depannya tak suka.
"Iya, Cojut! Cowok jutek. Gimana? Bagus, 'kan? Gua jadi gak capek buat nyebut nama lo panjang-panjang!" jawab Siska tersenyum bangga dengan kepintarannya.
Mika menatap datar gadis di depannya. Apa apaan cewek aneh ini?! Cojut, cojut! Namanya Mika! Bukan Cojut. Kenapa Siska begitu menyebalkan?!
"Heh ...! Cean! Jangan ngubah nama orang seenak jidat lo!" ketus Mika kesal.
"Cean?" beo Siska.
"Iya, Cean! Cewek aneh!" balas Mika tak mau kalah.
Siska menatapnya kesal dan dengan kasarnya ia mendudukkan dirinya di kursi sebelah Mika.
"Siapa yang ngizinin lo duduk?!"
"Bodo."
Daffa, Raihan dan Fani seketika tertawa dengan kompaknya melihat kelakuan kedua orang itu.
"Anu ... Raihan, gua boleh duduk di samping lo gak?" tanya Fani dengan sopan sangat berbeda dengan kelakuan Siska.
"Oh? Tentu aja boleh! Mau duduk di hati gua juga boleh," jawab Raihan tak lupa dengan gombalannya.
"Huek ...!" ketiga orang yang mendengarnya seketika ingin muntah.
"Oh, iya! Adel di mana? Kok belum nongol-nongol juga dari tadi," kata Daffa mengalihkan pembicaraan.
"Kayanya Adel lagi ketemu bareng Riski," jawab Mika yang dapat membuat kaget Daffa dan Siska.
"Ngapaiin?!" kompak keduanya.
"Mana gua tau, coba aja chat. Kalau gua gak punya nomor Adel," ucap Mika menyarankan.
"Gua punya!"
Daffa dengan cepat merogoh ponsel dan membuka aplikasi WhatsAppnya.
Jarinya tampak mengetikkan sesuatu di sana.
[Lo di mana? Kita lagi di kelas, nungguin elo.]
Setelah memastikan pesannya sudah terkirim Daffa meletakkan kembali poselnya di atas meja.
"Gimana?" tanya Siska khawatir.
"Belum dibaca," jawab Daffa.
Mika menatap Siska penuh selidik. Siska yang sadar dengan cepat menyembur pria itu.
"Apa, lo? Liat-liat!!"
"Gak. Gua cuma heran aja, tumben lo khawatir sama Adel," terang Mika.
"Dih, siapa yang khawatir?! Gua cuma gak mau, kalau si Es batu rebut gebetan gua!"
"Gebetan? Riski kan udah punya pac—"
"Bodoh!" sahut seseorang dari depan sana.
"Adel?"
TBC ...
#Next?