
Assalamu'alaikum..๐๐ masik ingat gak sama cb gaje ini? :") akhir-akhir ini gak bisa up karna sibuk :') tapi, udah lumayan Renggang waktunya. Sekarang bisa up lagi kayak biasa, semoga masih ada yang mau baca ya :")
Ice Girls
~Happy Reading๐~
Mata Adel membola dan ...
"Hoek ... Hoek." Adel mengeluarkan semua isi perutnya. Rasa apa ini? rasanya benar-benar aneh! pahit, asin, manis, pedas semua bercampur. Adel sempat berpikir, apa masakan Siska sama persis seperti masakan Gaint di kartun Doraemon? kalau iya, rasanya benar-benar bikin perut mual.
"Lo mau bunuh gua?!" Adel melirik Siska dengan sinis.
"Lah? maksud lo, mau bunuh karena masakan gua terlalu enak?" ucap Siska antusias.
"Ck." Adel berdecak sebal. "Uhuk ... uhuk." Adel batuk, dia terus saja memegangi tenggorokannya.
'Uh ... kerongkongan gua kayak kebakar, perut gua mual, kepala gua pusing,' batin Adel.
"Es batu? lo gapapa kan?" bisa-bisanya gadis itu bertanya begitu, jelas-jelas Adel tengah kesakitan sekarang! masi saja ditanya begitu! uh, menyebalkan!!
"Air, gu--gua butuh ... uhuk ... uhuk." Adel memegangi tenggorokannya yang terasa aneh, tangannya terus saja bergerak ke sana ke mari guna mencari air yang bisa diminum.
"Lo ngomong apa sih?! gak jelas tau!!" ucap Siska nyolot, pasalnya dia tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Adel.
Uh ... bisa-bisanya Adel lengah dan memakan masakan Siska. Karena keasikan membaca, dia jadi tak sadar jika Siska menyuapinya dengan makanan monster itu!! dan bodohnya lagi, Adel memakannya?! uh ... benar-benar menyebalkan!! Adel menyesal, dia menyesal telah memakannya!! sungguh! dia benar-benar menyesal.
"Ukh ... sakit." Adel terus saja memegangi tenggorokannya. Tanpa sengaja, tangan yang satunya berhasil menggapai sebuah botol yang berisi air. Tanpa pikir panjang, Adel meneguk air itu hingga tandas.
Siska menatap Adel tak santai.
"Es batu! i--itu bukan air biasa bego!" persetan, mau itu air teh, kopi, susu atau apapun itu, Adel tak peduli. Selama dia bisa menghilangkan rasa sakit di tenggorokannya, kenapa tidak?!.
"Ck." Siska berdecak sebal kala Adel tak menghiraukannya. "Itu bir! dasar es batu bego!!" ketus Siska.
Mata Adel membola saat mendengar perkataan Siska. Apa katanya tadi? BIR?! oh tidak, Adel tak pernah minum minuman haram itu sebelumnya. Lagi pula, siapa yang menaruh bir sembarangan?!
"Uh." Adel berdiri dari duduknya, kepalanya terasa amat sakit. Efek dari masakan Siska, ditambah lagi dia tak sengaja minum bir benar-benar membuat kepala Adel pusing.
"Es batu, lo mau kemana?"
"....."
Siska berdecak sebal, apa susahnya sih menjawab pertanyaannya?! jangankan dijawab, direspon saja tidak!
"Hey!! lo deng--"
Bruk.
Mata Siska membola saat melihat Adel yang jatuh pingsan, dengan cepat Siska menghampiri Adel dengan wajah panik.
"Es batu?! bangun!" Siska terus saja mengguncang h goncang tubuh Adel, berharap gadis itu akan sadarkan diri, namun nihil, Adel tak bangun sama sekali.
"L--lo gak ma--mati kan?" ucap Siska khawatir. Sebenarnya dia tak peduli sama sekali jika Adel mati, toh tak ada pengaruhnya bagi Siska. Hanya saja, jika Adel mati sekarang? Siska bisa ...
"Ah ... gak! gua gak mau masuk penjara!" Siska berteriak histeris, tangannya terus saja menggoncang tubuh Adel, berusaha membangunkan gadis itu. Namun tetap saja, tak ada kemajuan.
"Gi--gimana nih? uh ... es batu, jangan mati sekarang dong!" Siska menatap Adel khawatir.
"Matinya kapan-kapan aja, ditunda dulu gitu. Kalau lo mati sekarang, nanti gua dikira ngeracunin elo lagi! padahalkan gua gak masukin apa-apa tuh."
"....."
"Ck, jawab dong! capek gua ngomong, tapi lo gak jawab-jawab. Uh ... lo nyebelin banget sih!" Siska terus saja menggerutu tak jelas.
Dia menatap Adel lamat-lamat. Fyuh ... Siska lega sekali, ternyata Adel masi bernafas.
"Gua kira mati, ternyata cuma pingsan doang," Siska menatap Adel lega. "Sekarang gua harus ngapain ya?" Siska memutar bola matanya malas. "Masa iya, gua harus gendong si es batu?! ih ... ogah banget!" Siska bergidik ngeri saat membayangkannya. "Hm ... aha! gua tau, minta bantuan sama tiga juri kampret itu aja kali ya?" Siska berseru senang saat ide bagus terlintas di fikirannya.
"Kalau gitu." Siska menatap Adel dengan jengah. "Lo di sini dulu ya es batu! jangan pergi ke mana-mana! jangan mati dulu! gua mau nyari Fani sama tiga juri kampret tadi. Nanti gua balik lagi. Byee."
Siska berlari kecil meninggalkan ruang makan dan Adel yang tergeletak pingsan di lantai.
***
Drap ... drap ... drap.
Suara derap langkah seseorang menuju ruang tamu.
"Fani ... lo di mana?!" teriaknya yang menggema di ruang tamu itu.
"Hiii ..." Mika bergidik ngeri mendengar suara teriakan yang tak asing baginya. "Fan, lo dicariin tuh sama si cewek aneh," ucap Mika berbisik, pasalnya mereka berempat sedang bersembunyi di balik sofa sekarang.
"Gu--gua takut." Fani menelan salivanya susah payah. "Gua gak mau makan masakan monster nya," lanjutnya lagi. Gadis itu memeluk kedua kakinya yang iya tekuk dengan erat.
Raihan tersenyum melihat tingakah lucu Fani. Segitu takutnya gadis itu pada masakan Siska. Ya, kalau difikir-fikir lagi, wajar sih Fani takut, pasalnya masakan yang dimasak oleh Siska benar-benar bikin orang merinding.
"Gak usah takut, gua bakal lindungin elo," sahut Raihan dengan tersenyum tulus pada Fani.
Fani balas menatap Raihan dengan wajah yang memerah karena malu. Sesaat kemudian dia memalingkan wajahnya dan menenggelamkannya pada kedua lututnya yang ia tekuk.
Fani tak berani menatap wajah Raihan, apalagi saat lelaki itu tersenyum padanya. Ah! ini benar-benar memalukan! Fani rasa, sekarang wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Wkwk beneran Han?" goda Mika dengan tertawa kecil.
"Lo? mau ngelindungin Fani?" sahut Daffa terkekeh. "Termasuk ngelindungi dari makanan monster Siska gak?" lanjutnya lagi dengan terkekeh.
"Wkwk bener banget tuh kata Daffa, termasuk gak?" Mika menatap Mika dengan wajah geli.
"Kalau termasuk kan, kita berdua juga bisa selamat. Dengan lo yang mau berkorban demi Fani, lo harus makan masakan si cewek aneh. Nah, kalau lo udah makan, Fani kan jadi selamat termasuk kita berdua juga aman." Mika tersenyum senang, dia menatap Daffa dan kemudian menyenggol bahu lelaki itu pelan. "Iya gak Daff?" lanjutnya lagi dengan terkekeh.
Daffa menatap Mika dengan wajah geli. "Bener banget." jawabnya dengan terkekeh.
"Wkwkw." Mika dan Daffa bertos ria dan dengan kompaknya menertawakan Raihan dengan semangat.
Raihan menatap dua makhluk di depannya dengan wajah datar. Kedua temannya ini, benar-benar menjengkelkan!.
"Lah? muka lo kenapa Han? udah kayak kerasukan arwah Adel aja," ucap Mika dengan terkekeh geli.
"Tak." Mika meringgis saat Daffa menjitak kepalanya dengan tiba-tiba.
"Apaan sih Daff?"
"Adel masih idup bego! kok lo kataiin arwah sih?!" jawab Daffa dengan wajah kesal.
Mika terkekeh saat mendengar perkataan Daffa. "Ck, doi nya dibelaiin guys," ucapnya terkekeh.
"Ngomong-ngomong soal Adel, dia di mana?" sahut Raihan menengahi.
"Eh? Iya ya, Adel di mana?" tanya Daffa dengan dahi mengerut.
"Lah, bukannya tadi bareng Fani ya?" mereka bertiga kompak menatap Fani dengan wajah yang meminta penjelasan.
"Eh? Adel?" tanya Fani dengan dahi yang mengerut, dia tampak berfikir sejenak. Sesaat kemudiaan.
"Kyaa ..." Raihan dengan cepat menutup mulut Fani saat gadis itu berteriak. Apa Fani lupa? mereka sedang sembunyi sekarang! kalau ketahuan kan bisa bahaya.
"Hmph ... hpmh."
Mika melirik Fani yang sulit bernafas karena Raihan. "Ck." dia mendenggus. "Han! lepesin kali tangan lo, kasiaan tuh bocah gak bisa nafas."
"Eh?" Raihan dengan cepat melepas tangannya yang menutupi mulut Fani.
"Hosh ... hosh ... hosh." nafas Fani memburu, dia menghirup oksigen dengan serakah.
"Emm ... a--anu ma--maaf." ucap Raihan gugup.
"Adel! dia gua tinggal sama Siska tadi!" ucap Fani panik.
"Apa?!"
"Duh ... gimana kalau dia dipaksa makan masakannya Siska?"
"Hmm ... palingan juga pingsan." sahut Siska dengan tersenyum.
Mereka berempat dengan kompak menoleh ke belakang dan menatap Siska tak percaya.
"Kyaaaa ..." teriak Fani.
"Monsternya," ucap Raihan dengan wajah gugup.
"Datang," sambung Daffa, dia menelan salivanya susah payah.
"Kaburrr ..." teriak Mika sebelum Siska menarik bajunya dengan kuat.
"Eh? mau ke mana?" tanya Siska dengan dahi yang mengerut.
"Kabur lah bodoh! lepesin baju gua! nanti sobek, ini baju mahal tau!!"
"Ck, jangan kabur dulu! gua butuh bantuan kalian tau!!"
"Gak! kita gak mau bantu makan masakan elo! euh ... ogah banget gua. Hoek."
"Lo emang nyebelin ya jadi cowok! gua bukan minta tolong itu tau!!"
"Terus? lo mau minta tolong apa?" sahut Daffa.
"A--anu i--itu si Es batu ...," ucap Siska gugup.
"Maksud lo Adel? dia kenapa?!"
"Emm ... a--anu di--dia pingsan. Iya, si es batu pingsan! makanya kalian harus nolongin gua."
"Kok bisa?"
"Dia makan masakan gua, makanya jadi kayak begitu," jawab Siska jujur.
"Gawat! cepatan panggil ambulans, bisa mati si Adel gegara makan sampah yang beracun." Mika berteriak histeris.
"Dia cuman pingsan dodong." Raihan menonyor kepala Mika kesal.
"Pingsan?" Daffa menatap Siska tak habis fikir.
Siska hanya mengangguk menjawab pertanyaan Daffa.
Daffa berlari menuju ruang makan dan meninggalkan semuanya tanpa berkata sepatah kata pun.
"Eh? Woy Daff! tungguin kita!!" Mika berlari menyusul Daffa yang diikuti oleh mereka semua.
***
Daffa mengedarkan pandangannya ke segala arah guna mencari Adel. Ketemu! Daffa menemukannya, gadis itu tergeletak tak berdaya di lantai. Dengan cepat Daffa menghampiri Adel.
"Adel? hey ... ayo bangun! lo ngapain tiduran di lantai?" Daffa menepuk pipi Adel pelan, berusaha membangunkan gadis itu.
"Gimana Daff?" Daffa menoleh dan menatap Mika yang baru saja sampai.
"Belum sadar," jawabnya.
Mika mengangguk paham, dia berjalan menghampiri Daffa yang diikuti oleh Raihan, Fani dan Siska yang baru saja sampai.
Daffa kembali mengalihkan pandangannya pada Adel dan berusaha membangunkan gadis itu lagi.
"Hey ... Del, lo gapapa? bangun dong! gua malas gendong lo tau!" Daffa terus saja menepuk pipi Adel dengan pelan.
"Uhh ..." Adel bangun dan langsung saja beringsut duduk. Daffa tersenyum kala melihat Adel sudah sadar.
"Lo gapapa?" tanya Daffa dengan wajah yang tak henti-hentinya mengeluarkan senyuman.
Adel menatap Daffa dengan dahi yang mengerut, dia terus saja mengusap-usap matanya dan kemudian menatap Daffa lagi dengan wajah yang tak percaya.
"Lo kenapa? kok ngeliatin gua sampek segitunya." Daffa balas menatap Adel dengan bingung.
"Hiks ... hiks ... hiks."
"Heh? Adel nangis?!" semuanya kompak menatap Adel tak percaya, terlebih Daffa!.
"Hiks ... Reka ... hiks." Adel menangis senggugukan, matanya tak henti-henti menatap wajah Daffa dengan raut wajah sedih.
"Reka?" beo mereka semua, lagi-lagi mereka dibuat kaget oleh Adel. Apa maksudnya Reka? siapa Reka? apa REKA itu sebuah nama? itu lah yang berada di fikiran mereka masing-masing.
Tbc ...
Semoga masih ada yang mau baca :")
#krisan?
#Next?