Ice Girl

Ice Girl
part 24



#Ice_Girls


#Part_24


~Happy Readingđź’ž~


Kini Adel tengah berbaring santai di kasur empuknya. Ia menatap langit-langit kamar tanpa minat. Tiba-tiba saja ingatan tadi siang kembali terulang di pikirannya. Hal itu membuat raut wajah Adel tampak suram.


Hari ini, entah kenapa Daffa terus menghindar darinya. Saat belajar di kelas, lelaki itu terus saja menghindari tatapan Adel.


Saat Adel berjalan di koridor sekolah, tanpa sengaja ia melihat Daffa yang sedang menjatuhkan dompetnya tanpa ia sadari. Adel yang melihat itu langsung saja mengambil dompet Daffa, berniat mengembalikannya pada lelaki itu. Tetapi, saat Adel memanggilnya, Daffa malah melarikan diri dengan tidak jelasnya. Pada akhirnya, Adel menitipkan dompet itu pada Haikal.


Tak hanya itu, waktu pelajaran olahraga juga Daffa menghindar dari Adel. Waktu itu cuacanya cukup panas. Adel melihat Daffa yang tengah duduk di tepi lapangan dengan dibanjiri keringat. Sepertinya, lelaki itu habis bermain bola basket bersama teman-temannya. Kebetulan sekali, Adel habis dari kantin untuk membeli minuman.


Melihat Daffa yang tampak kelelahan, Adel berinisiatif untuk memberikan minumannya pada Daffa. Baru saja Adel berjalan beberapa langkah, Daffa sudah menyadari kehadirannya. Dengan cepat lelaki itu langsung kembali ke lapangan seperti tak melihat Adel barusan. Padahal Adel sangat yakin, tadi Daffa sempat menyadari kedatangannya.


Waktu pulang sekolah, Adel mendapatkan sebuah pesan dari aplikasi WhatsAppnya. Dengan cepat, ia membuka dan membaca pesan itu.


[Maad gua gal visa amtar lo plng. Gua ads utusan mnddk. Dati Daffa.]


Adel menyerngit membaca pesan itu. Ia memang bingung dari mana Daffa mendapatkan nomornya. Tapi yang membuat Adel lebih bingung lagi, kenapa pesannya begitu berantakan? Apa mata Daffa sudah rabun?


Dret ...


Adel kembali membuka ponselnya. Kemudian membaca pesan yang baru masuk.


[Sory, banyak typo. Tadi tangan gua keram:')]


"Pftt ... hahah! Aneh sekali." Tanpa Adel sadari ia tertawa membaca pesan Daffa. Membuat orang-orang yang ada di sekitarnya jadi heboh karena tawa langka itu.


Awalnya Adel memang mengira kalau Daffa menghindarinya karna sibuk atau semacamnya. Tetapi setelah ia pikir-pikir sepertinya bukan begitu.


Apa karena kejadian waktu itu? Seketika wajah Adel memanas saat bayangan kejadian memalukan itu muncul lagi di pikirannya.


~Flashback on~


Saat bibirnya tak sengaja bersentuhan dengan Daffa. Adel masi mematung karena kaget. Beberapa detik kemudian ia tersadar dan langsung saja berdiri.


Adel memegang bibirnya yang terasa aneh. Dia malu sekali, ia tak bermaksud sedikitpun untuk melakukan itu. Ini semua hanyalah kecelakaan semata.


Adel berharap tak ada yang melihat apa yang baru saja terjadi. Tetapi, saat melirik ke samping. Dia tak sengaja menatap Siska yang juga menatapnya syok.


"Bangsat!" umpatnya dengan suara kecil. Sungguh! Ini benar-benar memalukan. Semua orang melihatnya.


Adel tidak tahan lagi dengan situasi ini. Dia tidak suka jadi pusat perhatian. Akhirnya Adel memutuskan untuk meninggalkan kelas.


Brak!


Karena gugup sekaligus malu, ia membanting pintu kelas sebelum keluar.


Adel berlari ke luar kelas. Jantungnya berdegup kencang. Kakinya berhenti tepat di depan toilet. Adel masuk ke dalam toilet dan kemudian membasuh wajahnya yang terasa panas.


Ditatapnya wajah yang memerah di cermin. Adel memegang wajahnya, kemudian menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya.


Sebenarnya apa ini? Kenapa dadanya terasa sesak? Sepertinya besok, Adel harus memeriksakan jantungnya ke rumah sakit. Apakah jantungnya bermasalah? Detak jantung Adel benar-benar kencang sekali.


"Gila! Gua udah gila," gumam Adel dengan wajah yang memerah dan tangan yang memegang bibir.


~Flashback off~


Adel menghela napas panjang. Mungkin karena itulah Daffa menghindarinya. Apa Daffa membenci Adel karena tak sengaja mencium bibirnya? Padahal itu juga ciuman pertama Adel.


Memangnya Adel senang?! Tentu saja tidak! Tapi ... apa Adel membencinya?


Seketika Adel memegang bibirnya yang terasa aneh. Wajahnya memerah mengingat itu. Sesaat kemudian Adel memejamkan matanya erat sembari memeluk bantal guling dengan kuat.


Entahlah, mungkin dia tidak begitu membenci ciuman itu? Adel juga bingung! Pada akhirnya Adel memutuskan untuk tidur. Tak mau memikirkan hal-hal aneh yang bisa membuat jantungnya berdisko malam-malam. Kita lihat saja besok, apa Daffa memang menghindarinya?!


"Mbak, tolong rias dia biar jadi cewek," ucap Mika kepada pemilik salon di depannya.


Siska menatapnya kesal. Sungguh! Jika bukan karena dia butuh foto itu. Siska tak akan pernah mau menjadi pacar bohongan lelaki menyebalkan ini!


"Emangnya gua apa? Cowok gitu?!"


"Cewek sih, tapi ya gitu. Lo lebih mirip jadi cowok jamet ketimbang cewek normal. Hahaha."


"Breng—"


"Maaf menyela. Tapi kalau kalian berdua berantem terus, bisa-bisa prosesnya jadi lama," kata pemilik salon dengan sopan.


Mika tersenyum mendengarnya. Sedangkan Siska, gadis itu hanya bisa mengomel tak jelas.


"Denger tuh! Cepetan sana, gua tunggu di sini. Lagian ini udah jam setengah delapan, woy! Bokap nyokap gua udah pada nelpon dari tadi, nyuruh gua pulang."


"Ck. Iya! Jangan banyak bacot!!" ketus Siska dengan wajah kesal.


Ia akhirnya menurut dan pergi mengikuti pemilik salon itu untuk dimake over.


Mika tertawa kecil melihat wajah masam Siska. Sebegitu tak sukanya gadis itu pakai make up. Tapi akhirnya menurut juga karena sudah berjanji.


Sudah satu jam berlalu sejak kepergian Siska. Mika duduk di ruang tunggu sembari memainkan ponselnya. Ternyata memang benar jika perempuan berdandan sangat lama. Pikir Mika jengah.


Ia sangat bosan. Orang tuanya tak henti-henti meneleponnya sedari tadi.


Drrtttt ...! Drrrt ...! Drrrtt!


Nah kan, baru saja Mika bilang begitu. Lagi-lagi ponselnya berdering kala ayahnya menelpon lagi.


Mika mengangkat ponsel itu dengan wajah suram sekaligus kesal.


"Halo, Paa?"


"Ya, halo Mika."


"Ada apa, pa?"


"Ada apa, ada apa?! Kamu masi berani bertanya begitu sama Papa?! Ini udah jam setengah sembilan! Katanya kamu mau ngenalin pacar kamu? Mana buktinya? Kamu bohong ya, sama Papa dan Mama?!"


Mika menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Kemudian mengusap usap pelan telinga yang sakit mendengar teriakan dan omelan dari sang ayah.


"Sabar dong, Pa! Ini Mika lagi nungguin pacar Mika siap-siap."


"Awas aja, kalau kamu gak jadi ngenalin pacar kamu. Papa sama Mama bakal jodohin sekaligus buat kamu tunangan dengan anak temen papa!"


Mika melototkan matanya mendengar ancaman mengerikan itu. Apa-apaan itu? Memangnya ini jaman Siti Nurbaya? Main jodoh-jodohin seenaknya!


"Pa jangan git—"


Tut ...


Ayahnya menutup telepon secara sepihak. Membuat Mika berdecak kesal karenanya.


"Cowok jutek."


Mika menolehkan kepalanya saat mendengar Siska yang memanggilnya. Akhirnya selesai juga. Bagaimana penampilan gadis itu ....


"Siska?"


TBC ...


#Next?