
Tinggalkan jejak dan jangan jadi pembaca gelap!👀😾
Ice Girls
~Happy Reading💞~
Fani berjalan dengan wajah lesu memasuki rumah. Belum sampai ke kamar, ia sudah disuguhi pemandangan menjengkelkan dari Ayah dan Ibu tirinya.
Hendri dan Tiara terlihat sangat mesra menontong Televisi. Tiara berbaring, menjadikan paha Hendri sebagai bantal.
Fani memalingkan wajah jengah dan kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti.
Gadis itu berjalan menaiki tangga menuju ke kamar. Ia rebahkan tubuh pada kasur empuk lantas menatap langit-langit dengan hampa.
"Ah, aku merindukannya."
Dengan cepat Fani berdiri, membuka baju seragamnya dan pergi ke kamar mandi. Selasai mandi, gadis itu berhias seadanya.
Celana panjang berwarna hitam dengan baju putih lengan pendek membalut tubuh langsing Fani dengan Indah. Ia gunakan topi hitam dan masker menutupi wajah, lantas berjalan turun ke bawah.
"Kau mau kemana?" tanya Hendri begitu Fani berdiri di depannya.
"Aku sudah melakukan tugasku, jadi ayah juga harus menepati janji."
"Ho, begitukah? Jadi, kau ingin meminta izin untuk bertemu ibu mu?"
Fani mengangguk, kemudian menadahkan tangannya seperti meminta sesuatu.
Hendri yang paham, langsung saja merogoh sakunya. Memberikan kartu berwarna hitam pada Fani.
"Kembalikan padaku setelah selesai, ingat! Waktumu hanya satu jam, tidak lebih dari itu!"
"Aku mengerti. Kalau begitu, aku pamit pergi," kata Fani berjalan cepat memasuki mobil. Ia tancap gas perlahan meninggalkan perkarangan rumah.
*****
"Menyingkir dari hadapanku," ujar Fani dingin menatap dua orang penjaga di depannya sengit.
"Hei, Dik! Sedang apa kau ditempat seperti ini? Pulanglah ke rumahmu."
Fani mendengus, ia buka maskernya memperlihatkan wajah dengan jelas. Sontak kedua pengawal itu kaget dan kemudian membungkuk memberi hormat.
"Maaf, kami tidak mengenali anda Nona."
"Sungguh! Maafkan kesalahan kami."
"Sudahlah, menyingkir sekarang!"
Keduanya menurut, lalu membuka jalan membiarkan Fani masuk ke dalam gedung itu.
Fani berjalan dengan santai. Langkahnya berhenti tepat pada sebuah pintu. Sebelum masuk, gadis itu menarik nafas dalam-dalam.
Ia keluarkan kartu hitam yang diberikan Hendri tadi. Lantas membuka pintu menggunakan kartu itu.
"Ibu ...," panggil Fani lirih.
Wanita yang berpenampilan kacau itu menoleh ke arahnya. Wajahnya tampak syok, ia menjerit ketakutan melihat kedatangan Fani.
"Pergi! Pergi dari sini! Jangan pukul aku."
Fani menutup pintu lantas berjalan masuk. Air matanya menetes melihat keadaan wanita itu.
Fani POV
Penampilan ibu sangat kacau dan berantakan. Tubuhnya sangat kurus, rambut acak-acakan dengan mata yang terus saja memancarkan aura ketakutan.
Padahal dulu Ibuku ini sangat cantik, Ayah benar-benar tega! Dia selingkuh dibelakang ibu dan meninggalkan kami begitu saja. Karena terpukul, Ibu selalu saja berteriak-teriak tidak jelas. Aku takut, aku kasian pada ibu yang terlihat banyak pikiran kala itu.
Dengan tak berperasaanya Ayah pulang setelah sekian lama dengan membawa kabar yang begitu mengejutkan. Dia menikah dengan wanita muda yang bahkan hampir seumuran denganku! Tentu saja ibu menangis dan menggila. Pada akhirnya, ibu jadi seperti ini.
Ayah mengurung dan menyiksa ibu di sebuah gedung tua yang hanya aku dan ayah saja yang tahu tempatnya. Ibu jadi setres dan trauma dengan kejadian yang dialaminya.
Ibu membrontak, menendangku dengan kuat. Tak apa Bu, lakukan sepuasmu, jika kau mau, aku juga akan memberikan nyawa bila perlu. Akan kulakukan semua yang ku bisa untukmu.
"Menjauh, jangan pukul aku!"
"Fani gak akan mukul ibu. Tenanglah Bu, apa Ibu sudah makan? Fani bawa kue loh."
"Tidak mau! Menjauh, jangan sakiti aku. Pergi."
Ibu menangis terisak, menjambak rambutnya dengan kuat. Dia juga menendang makanan yang kubawa hingga hancur.
"Ibu ... Fani mohon, jangan begini. Fani gak akan nyakiti Ibu. Fani sayang sama Ibu."
Air mataku tak henti mengalir dengan derasnya. Dadaku terasa amat sakit melihat penderitaan ibu. Dia pasti sudah sangat ketakutan di sini.
"Sebentar lagi Ibu bakal bebas. Fani janji Bu! Fani juga bakal bawa Ibu berobat."
"Ibu tunggu saja, sebentar lagi tugas Fani bakal selesai kok. Karena itu, Ibu harus tetap sehat, ya?"
Kulihat Ibu mulai tenang mendengar kata-kataku. Meski ia tetap menjaga jarak tapi, ini lebih baik.
"Bu, apa Ibu tau? Fani jadi jahat, Fani ini munafik! Ayah nyuruh Fani buat dekat dengan seorang gadis."
"Ayah ngancem Fani, katanya kalau Fani gak nurut. Ayah bakal bunuh I–ibu. Fani takut Bu ... Fani gak mau Ibu kenapa-napa."
"....."
"Ibu tau? Adel, gadis yang Fani dekatin atas perintah ayah. Dia anak yang baik, dia selalu nolongin Fani, padahal Fani cuma Manfaatin Adel doang."
Aku tersenyum miris, wajah Adel langsung saja terbesit di kepalaku. Rasanya aku benar-benar ingin gila!
"Awalnya Fani cuma pura-pura, tapi lama-lama hati Fani terasa sakit. Fani ngerasa bersalah sama Adel. Tapi ... Fani gak boleh mundur, Bu. Karena kalau Fani mundur, Ibu bisa dalam bahaya."
"...."
"Fani tau ini salah, tapi Ayah janji sama Fani. Katanya kalau Fani berhasil nyelesain tugas Fani, Ayah bakal bebasin Ibu."
Aku menarik nafas yang terasa berat. Mata ini menatap kosong ke depan. Napasku tak beraturan. Kuhapus air mata dengan kasar.
"Karena itu, meski harus menghancurkan hidup seseorang. Kalau itu demi Ibu, Fani bakal lakuin!"
Aku tersenyum miris. Maaf Del, mungkin lo bakal benci sama gue seumur hidup. Bukan cuma lo, mungkin Siska, Mika, Daffa dan Raihan juga bakal benci dan kecewa sama gue.
Gue siap nanggung resiko itu. Jika kalian ada di posisi yang sama dengan gue, pasti kalian juga melakukan hal yang sama 'kan Del? Maaf ... nyawa Ibu gue lebih penting.
"Ja–jangan."
Aku menoleh, ibu baru saja bicara. Apa dia tak takut lagi padaku?
"Jangan lakukan itu, kasian temanmu."
Nyutt!
Kukira ibu hanya diam saja, ternyata dia juga menyimak ucapan ku, ya. Aku tersenyum hangat lalu memeluk Ibu dengan tulus.
"Gak apa Bu, jangan dipikirkan," kataku mengelus pundak Ibu.
Ku ambil kue cadangan yang sengaja ku bawa dua untuk jaga-jaga, lalu menyodorkannya pada Ibu dan berkata.
"Ibu makan, ya? Fani suapin."
Dia mengangguk lemah. Untunglah, Ibu terlihat lebih tenang sekarang.
"Iya."
TBC ....
Tolonglah, kalau komen jangan cuma 'Next' atau 'Next kak' 😢 cape ngetiknya tau. Komen bawel kek:') biar lebih semangat buat Next! Dah, itu aja see you next part!
#Next?