
Jangan jadi pembaca gelap!đđž
Ice Girls
~Happy Readingđ~
Derap langkah kakinya terdengar cepat. Di kegelapan malam, Adel berlari sekuat tenaga. Menghindari dua orang pria berbadan tegap yang tengah mengejar dirinya dengan membabi buta.
Nafas gadis itu tampak tak beraturan. Ia lelah, kepalanya terasa sangat pusing. Kapan aksi kejar-kejaran ini akan berakhir?
"Menyebalkan."
Brak!
Adel tersandung yang berakhir jatuh. Ia mencoba untuk bangun. Namun, tetap saja tak bisa. Sudah Adel duga, tenaganya benar-benar sudah terkuras habis.
"Heh! Bukannya sudah kubilang? Jangan lari, jatuh kan jadinya."
"Aduh, Sayang! Sudahlah, gak usah kabur lagi. Ayo bermain bersama kami!"
Keduanya tertawa senang. Membantu Adel berdiri dan kemudian menyeret gadis itu secara paksa.
"Lepasin gua!!"
Adel sungguh tak punya tenaga untuk melawan. Dirinya terlalu lemah. Luka-luka ditubuhnya masi terasa sakit dan perih.
"Sudahlah cantik. Gak usah ngelawan. Ikut kita saja, ya?"
"Wajahnya benar-benar cantik dan mulus! Mimpi apa aku semalam?"
"Ugh ...!" Adel menggigit bibir bawahnya menahan marah. Kedua lelaki menjijikan ini terus mencegal kuat tangannya. Membuat Adel sulit untuk kabur lagi.
"Lepasin dia."
Suara lantang yang terdengar dingin itu dapat menarik perhatian semuanya.
"Kau siapa lagi?"
"Ck, jangan sok jadi pahlawan!"
Daffa memandang tajam keduanya dengan wajah suram. Ia baru saja sampai dan beruntung sekali bisa mendengar suara teriakan Adel dari kejauhan.
"Kalian tuli? Gua bilang lepasin!!" teriak Daffa penuh emosi.
Adel tertegun beberapa saat. Masi sedikit kaget dengan teriakan Daffa. Selang beberapa waktu, gadis itu tersadar.
"Hei, bocah! Jangan banyak omong deh. Sini lawanâ"
Bugh!
Belum sempat lelaki itu meneruskan ucapannya. Daffa sudah lebih dulu menendang wajahnya dan membuat pria itu terhuyung ke belakang.
"Br*ngs*k!!"
"Udah gua bilang, lepasin 'kan?" Daffa beralih melirik tajam satu pria lain yang masi setia memegang tangan Adel.
Bugh!
"Singkirkan tangan kotormu darinya. Dasar sial*n!!" umpatnya marah. Menendang tangan pria itu hingga terlepas dari Adel.
Daffa menarik Adel ke belakangnya. Kemudian mengambil ancang-ancang untuk menyerang kala kedua pria itu sudah bangun.
"Tetap di belakang gua!" ujar Daffa melirik Adel sekilas.
"Dasar bocah b*doh! Kemana pandanganmu saat sedang bertarung?!"
Bugh!
"Daffa!" kaget Adel menutup mulutnya syok.
Daffa berdiri. Menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Kemudian memandang pria di depannya dengan nyalang dan berkata.
"Baiklah, ayo mulai Om!" Daffa menantang. Mengayunkan jarinya seolah menyuruh maju.
Bugh! Bugh! Bugh!
Ketiganya terlibat perkelahian. Dua lawan satu memanglah tidak adil. Daffa, lelaki itu terlihat kewalahan melawan keduanya sekaligus.
Mereka sangat kompak dalam bekerja sama. Satu memblokir pergerakan Daffa dan satunya lagi memukul lelaki itu secara membabi buta. Itu benar-benar curang!
Adel memejamkan mata tak kuat melihat Daffa yang dikeroyok. Pemandangan ini terasa pamiliar baginya.
Seperti di masalalu, dengan posisi yang sama. Adel hanya bisa melihat Faisal yang dihajar habis-habisan tanpa bisa melakukan apapun.
Ia merasa seperti beban. Orang-orang di dekatnya selalu saja terluka hanya karena ingin melindunginya. Kenapa Adel begitu lemah?
Bugh!
Adel tersentak kaget. Matanya menatap ke depan dengan bengong. Situasinya berbalik. Daffa tak lagi dipukuli dan balik memukul.
Entah bagaimana lelaki itu melakukannya. Entahlah, Adel juga bingung.
"Ukh ... hentikan." Ia meringis kesakitan dengan tangan yang memegang perut. Mencoba untuk menahan serangan dari Daffa.
Bugh!
Tanpa peduli dengan kata-katanya. Daffa terus memukul tanpa henti. Ia sudah seperti orang kerasukan. Yang penuh dengan amarah.
"Hufff ...! Emm ...!"
Disaat Daffa sibuk menghajar temannya. Pria itu mencari kesempatan dan membungkam mulut Adel. Membawanya pergi dari sana secara diam-diam.
"Hemmff ...." Adel memberontak sekuat tenaga. Memanggil nama Daffa sebisanya. Sayangnya, suaranya tak bisa keluar.
"Akh!!"
Adel menggigit tangan pria itu. Lantas memanggil Daffa dengan cepat.
"Daffa!" teriaknya. Kemudian mulut Adel ditutup lagi dengan kasar. Membuat gadis itu memberontak.
Sontak Daffa menghentikan aksinya. Menoleh ke samping. Melihat Adel yang dibawa pergi secara paksa.
Ia berdiri hendak mengejar gadis itu namun ....
Bugh!
"Dasar! Jangan pergi seenaknya. Ayo lawan aku! Bocah si*lan!!"
"Br*ngs*k!"
Begitulah, lagi dan lagi Ia kehilangan jejak Adel. Daffa melirik orang itu dengan nyalang. Meladeninya dan menghajarnya bertubi-tubi. Penuh dengan amarah. Ia harus cepat menyelesaikan ini. Lalu menyusul Adel segera!
****
Adel meringis. Menahan rasa sakit pada luka-lukanya. Pria itu menyeretnya kasar. Membawa Adel ke dalam ruangan yang penuh kegelapan. Lantas mendorong tubuh gadis itu hingga jatuh.
"Tetaplah di sini! Aku akan kembali sebentar lagi. Dan bermain bersamamu," katanya menatap Adel penuh nafsu.
Brak!
Pria itu membanting pintu. Mengunci Adel di dalam sana. Membiarkan gadis itu terkurung dalam kegelapan yang menyeramkan.
"Ukh ...!" Adel meringkuk. Menekuk kedua lutut dan memeluknya. Menenggelamkan wajahnya di sana.
Ia tak suka kegelapan. Ini menyebalkan sekaligus menakutkan.
"Maaf."
Tiba-tiba saja kata itu keluar dari mulutnya. Tubuhnya gemetaran dan penuh dengan keringat dingin.
"Kau itu monster!"
"Parasit dalam keluarga!"
"Anak pembawa sial!"
"Dasar pembun*h!"
Adel menggeleng kuat kala ingatan masalalu itu terus muncul di kepala nya seperti kaset rusak.
"Hentikan ...! Tidak!! Bukan begitu. Berhenti!!"
Ia berteriak histeris sembari menutup kedua telinganya seperti kerasukan. Kata-kata yang menusuk itu terus terulang. Matanya ia pejam kuat-kuat. Gelap, sangat gelap! Adel membuka matanya juga hanya ada kegelapan.
"Hei, Putra. Kenapa kau terus melindunginya?"
"Ck! Biarkan saja anak itu."
"Benar! Jangan sok jadi pahlawan!"
"Diam kalian! Lina bukan anak yang seperti itu!"
Ingatan-ingatan masalalu terus bermunculan tanpa henti. Satu persatu, membuat Adel seperti ingin gila rasanya.
Adel menjerit dengan derai air mata. Mendobrak pintu gubuk dengan panik. Sesekali memandang sekeliling dengan takut.
"Menghilang dari kepalaku!"
Seperti sudah frustasi, ia duduk lemas di tepi gudang. Menutup telinga rapat-rapat. Menangis tanpa henti seperti orang gila.
Krett!
Pintu terbuka, membuat cahaya masuk dan mengenai wajah Adel. Sontak ia mendongak. Pria itu telah kembali. Menatap Adel dengan penuh nafsu.
Ia berjalan perlahan mendekat pada gadis itu. Adel berdiri dengan gemetar. Menoleh ke samping dan mengambil kayu yang ada di sana.
Adel menodongkan kayunya sedikit gemetar.
"Menjauh!!" teriak Adel mulai berjalan menghindar.
Pria itu tertawa jahat. Kemudian berlari dengan gesit dan mengambil alih kayu itu. Lalu membuangnya dengan asal.
"Ayolah, aku tak akan menyakitimu."
"Cuih! Menjijikkan."
Adel menendang perutnya. Membuat lelaki itu meringkuk kesakitan. Dengan cepat, Adel berlari menuju pintu. Tapi ia terjatuh dan menjatuhkan alat komunikasi di sana. Ah benar! Kenapa Adel bisa lupa? Jika ia membawanya!
[Del? Adel? Lo bisa denger suara gua?]
"Tolongin gua, gelap. Ukh ... gua mohon."
[Adel? Lo gapapa? Lo ada di mana sekarang? Gimana dengan orang yang tadi?]
"Gubuk tua. Daffa gua takut, pria menjijikan itu, dia mauâ"
"Kyaaa ...!"
Ucapan Adel terpotong. Pria itu membanting alat komunikasi nya. Mencengkram wajah Adel dengan kuat.
"Kau ini benar-benar gadis yang kurang ajar, ya?!"
.
.
.
Disisi lain pada waktu yang sama. Daffa berlari sembari menyalakan alat komunikasi.
"Del? Adel? Lo bisa dengar suara gua?"
Daffa tak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak. Siska bilang, di saku Adel ada alat komunikasi bukan?
[Tolongin gua, gelap. Ukh ... gua mohon.]
Diluar dugaan gadis itu menjawab. Syukurlah! Daffa sungguh senang. Ternyata Adel masi baik-baik saja. Tapi, suaranya terdengar bergetar seperti menahan tangis.
"Adel? Lo gapapa? Lo ada di mana sekarang? Gimana dengan orang yang tadi?"
[Gubuk tua. Daffa gua takut, pria menjijikan itu, dia mauâ Kyaaa ...!]
Deg!
Apa yang terjadi pada Adel? Kenapa ia berteriak? Daffa sungguh cemas. Setahu Daffa, Adel bukanlah orang yang penakut seperti Fani. Jika ia sampai berteriak begitu, pasti ada sesuatu yang benar-benar bahaya 'kam?
"Si*l! Alatnya pake rusak, lagi!!" kesal Daffa membuang benda itu asal.
"Gubuk tua? Di mana ada gubuk di hutan ini?!" Ia tampak frustasi.
"Acara kemah sial*n!! Menyebalkan sekaâ ah! Gubuk!!"
Tanpa sengaja manik matanya menatap sebuah gubuk yang tak jauh dari sana. Ternyata ada di dekat Daffa.
Tanpa pikir panjang lagi, Daffa berlari menuju gubuk itu.
"Adel, bertahanlah sebentar lagi."
***
"Lepasin!! Jangan sentuh!!"
Adel memberontak sekuat tenaga.
"Diam kau!!"
Pria itu melemparnya kasar. Membuat Adel meringis di lantai. Perlahan ia mendekat. Membuat Adel merangkak mundur dengan takut.
Tap!
Ia cegal tangan Adel dengan kuat. Memblokir pergerakannya. Membuat gadis itu berada di bawah.
"Hiks, jangan sentuh gua!"
Adel mulai menangis, kala tangan pria itu dengan lancang membuka kancing baju atasnya.
"Kak Indra." Ia memanggil nama Indra dengan tangisan.
"Wah, lehermu sangat cantik," katanya menyentuh leher Adel. Membuatnya merinding ketakutan.
Ia lanjut membuka kancing baju Adel. Untung saja, ia memakai baju double.
"Lepas!!" Adel terus menangis. Apa hidupnya akan berakhir di sini? Kenapa dunia begitu tak adil!!
"Siapapun, tolongâ"
"Adel!!!"
Daffa berlari masuk dengan nafas yang ngos-ngosan. Matanya membola seketika, melihat situasi yang ada.
"Brengs*k!!"
Dengan emosi, Daffa menendang ke samping orang yang hampir melecehkan Adel.
Bugh! Bugh! Bugh!
Ia menghajarnya habis-habisan. Seperti orang yang kerasukan. Penuhnya penuh dengan darah orang itu.
"B*jing*n!!"
Daffa tak henti mengumpat dan memukul. Membuat lawannya terpuruk tak bisa membalas serangan.
Wajahnya memerah penuh amarah. Tak ia sangka, terlambat sedikit saja, entah apa yang akan terjadi pada Adel.
Tap!
Seseorang memegang pundaknya. Kepalan tangan Daffa terhenti di udara. Ia menoleh menatap gadis yang menghentikannya.
Penampilan Adel tampak sangat kacau. Rambut gadis itu acak-acakan. Di pipinya ada goresan pisau, sudut bibirnya robek, matanya sembam dengan darah yang keluar dari kepala.
"Dia bisa mati," kata Adel melirik pria sudah tak berdaya itu. Wajahnya benar-benar kacau. Daffa menghajarnya dengan telak!
"Bisa-bisanya lo bilang begitu! Biar saja mati sekalian! Gua gak peduli, sekalipun gua harus masuk penjara, gua gak peduli!!"
"Dia mau nyentuh lo! Berani-beraninya! Bakal gua hajar! Gua hajar sampai sadar!!!"
Adel kembali menghentikan Daffa. Membuat lelaki itu akhirnya benar-benar berhenti. Daffa menoleh dan berbicara dengan suara pelan.
"Lo kenapa sih? Selalu aja pura-pura! Padahal lo terluka 'kan? Kenapa gak nangis aja. Lo selalu mendam semuanya sendirian."
Adel diam. Sesaat kemudian ia menjawab.
"Maaf, udah jadi beban."
"Beban? Beban apanya!! Lo itu memang ya ... Ah, udahlah! Ayo kita pergi, luka lo benar-benar harus diobati."
Adel mengangguk lemah. Kepalanya terasa sangat pusing. Dunia seakan berputar. Pandangannya mulai gelap.
Brak!
"Adel!!"
****
Rena menghela nafas jengah mengobrol dengan Ayu. Wanita itu benar-benar tak habis membicarakan tentang kehidupannya. Rena bosan, ia hanya ingin melihat keadaan Adel dan pulang.
"Ibu! Bu Ayu!"
Tiba-tiba saja seorang anak lelaki berlari dengan tergesa-gesa. Menghampiri Bu Ayu dan Rena.
"Ada apa Riski?"
"Itu bu, anu ... polisi datang! Katanya, Aletta melakukan pembunuhan berencana!!"
"Apa?!"
"Benar, Aletta ingin membunuh temannya sendiri. Ayo Ibu datang ke sana! Anak-anak udah pada terluka."
Bu Ayu mengangguk. Meminta izin pamit pada Rena dan mengikuti Riski. Rena tak menyangka akan ada kejadian seperti ini di perkemahan. Ia jadi sedikit cemas. Bagaimana dengan Adel? Apa putrinya itu baik-baik saja?
Karena penasaran, Rena memutuskan untuk ikut. Ia hanya akan mengecek keadaan gadis itu saja dan pulang.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di sana. Rena melihat foto di ponselnya sekilas. Itu adalah foto Adel yang ia dapat dari Indra. Dengan ini, maka ia akan mengenali wajah gadis itu. Adel sangat mirip dengannya sewaktu masi muda.
Kira-kira sedang apa anak itu sekarang ya? Rena tersenyum membayangkan wajah Adel yang ceria.
"Astaga! Itu mereka!!"
Teriakan dari para siswa dapat menarik perhatian Rena. Ia menoleh melihat arah pandangan semuanya. Di sana, tampak seorang anak lelaki yang tengah menggendong gadis pingsan dengan penuh luka.
Rena menyerngit. Ia kembali melihat ponselnya membandingkan foto itu dengan gadis yang pingsan.
Deg!
"Adel!" gumam Rena kaget. Lalu dengan panik ia mengejar Daffa dan melihat kembali wajah gadis itu.
Ternyata benar! Itu Adelâputrinya!!
Sontak Rena menggeleng kuat melihat luka-luka Adel. Ia menarik tangan Daffa dan berkata.
"Masukkan dia ke mobilku!! Cepat!!"
"Anda siapa?" Mika bertanya menggantikan Daffa.
"Ukh ...! Jangan banyak tanya! Cepat bawa Adel ke mobilku. Kondisinya benar-benar bahaya."
"Hei Tante! Jangan seenaknya! Anda siaâ"
"Aku ibunya!! Tolong biarkan aku membawa putriku ke rumah sakit!!"
Rena menangis histeris. Membelai wajah Adel dengan tangan gemetar.
"Adel punya penyakit."
Tiba-tiba saja, perkataan Indra terngiang di pikirannya. Membuat Rena kembali menangis terisak.
"Mobil tante ada di mana?" tanya Daffa tiba-tiba. Melihat Adel yang tak kunjung bangun, sepertinya ia benar-benar harus dibawa kerumah sakit.
Rena menatapnya antusias lantas berkata dengan lantang.
"Di sana!!"
TBC ....
Sory lama up! Sebagai gantinya part-nya udah panjang. And cerita di perkemahannya benar-benar udah berakhir!!đ¤
#Next?