Ice Girl

Ice Girl
part 21



Ice Girls


~Happy Reading💞~


"Oh ... jadi ini, si cupu yang waktu itu?" tanya seseorang dari belakang Fani.


Deg!


Fani menoleh dengan wajah takut, ia benar-benar hapal suara ini. Suara ini adalah suara ....


"Dina?"


Yap! Suara itu adalah suara Dina! Gadis yang dulunya sering membully Fani saat dia masi berpenampilan cupu.


"Kenapa? Lo kaget liat gua, ha?" tanya Dina tersenyum remeh.


"Gua gak nyangka lo akan berubah sedrastis ini. Pasti karena cewek licik yang waktu itukan?" lanjut Dina lagi mengingat wajah Adel yang mengancamnya dengan video bully waktu itu.


"Namanya Adel! Dia bukan gadis licik. Lo yang lebih licik! Adel itu baik, gak kaya elo!" timpal Fani.


Kali ini Fani tak akan mengalah, Adel sudah sangat baik padanya. Ia tak akan membiarkan orang lain menjelek-jelekkan gadis itu.


"Ho? Lo udah berani rupanya." Dina berjalan mendekati Fani. Membuat gadis itu refleks berjalan mundur ke belakang.


Sebenarnya Fani masi takut. Tetapi sebisa mungkin ia tak menunjukkan rasa takutnya. Ia tak boleh lemah! Adel sudah sangat banyak membantunya. Karena itu, Fani tak akan mengecewakan Adel kali ini.


"Lo lupa? Lo lupa rasa tamparan dari gua?!" bentak Dina dengan wajah garang.


Fani menelan Saliva. Sepertinya ia masih takut dengan gadis di depannya ini.


"Baiklah, dengan senang hati. Gua bakal ingetin lagi rasanya!"


Tangan Dina terangkat hendak menampar Fani. Fani yang kaget dengan cepat memejamkan matanya takut.


Plak!


"Awsss ...."


Fani membuka matanya, jelas-jelas dia mendengar suara tamparan. Tapi kenapa pipinya tidak sakit? Apa yang ....


"Raihan?!" kaget Fani saat melihat Raihan yang tiba-tiba ada di sampingnya.


Raihan menyeka darah dari sudut bibirnya yang robek. Untung saja, ia datang tepat waktu. Jika tidak, tamparan itu akan mengenai Fani.


"Lo gapapa, Fan?" tanya Raihan khawatir.


Fani yang melihat itu memandang Raihan dengan raut wajah sedih. Padahal yang terluka pria itu, sempat-sempatnya ia menanyakan keadaan Fani.


"Maaf, karena gua ... lo jadi hiks, lo jadi terluka begini."


"Gakpapa." Raihan mengelus lembut rambut gadis itu. "Gua lebih sakit, kalau lo yang luka," lanjutnya lagi memberi senyuman manis.


"Huek ... mau muntah gua."


Mika yang melihat itu seketika bergidik jijik. Tak hanya Raihan, ternyata Mika juga ada di sana. Tadinya ia dan Raihan tengah jalan-jalan dan tak sengaja melihat Fani yang ingin ditampar oleh Dina.


"Apaan sih Mik?!" kesal Raihan.


"Sempat-sempatnya lo ngebucin." Mika menatap Raihan tak habis pikir.


"Liat noh, penjahatnya udah lari!" lanjut Mika sembari menunjuk Dina yang sudah melarikan diri.


Raihan dan Fani dengan kompak menoleh dan menatap Dina yang tengah kabur.


"Woi! Jangan lari lo!" teriak Raihan ingin mengejar Dina. Namun dengan cepat Fani mencegal tangannya lalu menggelengkan kepala.


"Gak usah dikejar. Biarin aja," kata Fani.


"Iya."


"Eh, Fan. Ngomong-ngomong lo ada liat si cewek aneh gak?" tanya Mika mengganti topik.


"Maksud lo Siska?"


"Ha iya, si Siska! Lo ada liat gak?"


"Oh, Siska lagi ke lab bareng ketua osis."


"Ha? Bareng Riski? Lah? Kok bisa?" tanya Mika bingung dengan yang dikatakan Fani. Pasalnya, Siska kan anak baru. Bagaimana bisa gadis itu kenal dengan Riski?


"Gua lebih penasaran, kenapa lo nanyain Siska?" Raihan yang tadinya hanya diam kini ikut bersuara.


"Gua ada urusan sama dia," jawab Mika.


"Urusan apa?" tanya Fani.


"Rahasia! Hehe," jawabnya sembari tertawa kecil.


"Hm ... a--anu Raihan, lo mau ikut gua gak?" Tiba-tiba Fani bertanya memecah keheningan yang ada.


"Kemana?"


"Uks."


Raihan diam-diam mengulum senyum, mengerti maksud dari Fani. Fani mau mengobati lukanya ternyata. Baiklah, rezeki mana boleh ditolak!


"Ayo!" jawab Raihan dengan antusianya.


***


"Ehem." Daffa berdehem kecil berniat untuk menarik perhatian Adel.


"Kita udah sampai loh ini. Tangan lo bisa dilepas gak?" tanya Daffa sembari melihat Adel dari kaca spionnya.


Gadis itu masi memejamkan matanya takut. Hal itu membuat Daffa tersenyum geli. Daffa tak menyangka Adel memiliki sisi seperti ini.


"Kalau lo mau tetap meluk, gua gak keberatan kok," goda Daffa terkekeh kecil.


Adel yang sadar dengan cepat membuka mata dan melepaskan pelukannya.


"Pulang sendiri," ucap Adel dingin seperti biasanya.


"Ha? Maksud lo?"


"Gua gak mau pulang bareng lo!" ketus Adel berlari meninggalkan Daffa di parkiran.


Daffa membelalakkan matanya kaget. Dengan cepat ia membuka helm dan turun dari motornya.


"Del, tungguin gua! Gua cuman bercanda doang!" teriak Daffa yang tak dihiraukan oleh Adel.


"Gua janji, gua gak bakal ngebut lagi. Karna itu, pulang bareng gua, ya?!" Daffa terus saja berteriak dan mengejar Adel tanpa lelah.


****


"Ada urusan apa lo sama gua?" Siska menatap sinis Mika yang tiba-tiba datang menggangu momennya bersama Riski. Menyebalkan sekali!


"Gua mau nawarin lo sesuatu," jawab Mika sembari merogoh kantong celananya.


"Apaan?!"


"Coba liat ini." Mika menunjukkan sebuah foto yang ada di ponselnya.


"Foto si Es batu yang lagi nyium si Daffa?" Siska menyerngit bingung setelah melihat foto itu. "Kenapa lo nunjukin ini ke gua?" tanyanya lagi.


"Ck." Mika berdecak kesal. "Lo lemot juga rupanya," cibir Mika.


"Apaan sih?! Kalau ngomong yang jelas dong!" teriak Siska ngegas.


Mika menutup kuping nya yang terasa panas. Teriakan Siska mampu membuat telinganya jadi sakit.


"Sans dong! Jangan ngegas. Gua cuma mau bilang. Elo taruhan dengan Adel kan?"


"Hm, iya terus? Apa hubungannya sama nih foto?!"


"Lo kan bisa ngancem Adel sama foto ini. Gua yakin, Adel bakal bebasin hukuman lo kalau lo nunjukin foto ini ke dia."


Siska tampak kaget. Kenapa hal itu tak terpikirkan olehnya? Ide Mika benar-benar cemerlang!


"Wah ... benar juga!" ucap Siska kagum. "Kalau gitu makasi deh, lo udah mau bantuiin gua." tangan Siska tergerak ingin mengambil ponsel Mika. Namun dengan cepat pria itu menjauhkannya.


"Eits, gak semudah itu, Maemunah!" kata Mika tersenyum geli.


"Apaan sih? Katanya mau bantuin gua!"


"Iya, tapi ada syaratnya."


"Sudah kuduga." Siska memutar bola matanya malas. Sebenarnya apa yang ia harapkan dari cowok menyebalkan ini?!


"Apa syaratnya?!" ketus Siska.


"Gampang." Mika tersenyum remeh sembari menyimpan ponselnya kembali.


"Iya, gampang apa? Apa syaratnya?!" tanya Siska tak sabaran. Ia benar-benar butuh foto itu. Siska tak mau kalau harus jadi pelayan Adel selama tiga minggu!


"Jadi pacar gua."


"Apa?!


#Next?


Komen!😶