Ice Girl

Ice Girl
part 48



Jangan jadi pembaca gelap!👀😾


Part panjang!!😆


Ice Girls


~Happy Reading💞~


"Aletta?"


Adel memandang Letta tak percaya. Bukankah gadis itu teman sebangku Mika? Sejauh yang Adel tahu selama ini, Letta bukanlah sosok gadis centil yang suka menye-menye.


Gadis itu tak terlalu mencolok di kelas karena sifat pendiam nya. Mungkin karena itu juga Mika betah duduk dengan Aletta. Tapi, siapa sangka? Ternyata stalker yang selama ini menteror Mika tak lain adalah Aletta sendiri.


"Lo? Bukannya lo yang duduk sama si Cojut? Wah ... gila lo ya! Gua kira pendiam, eh taunya makan dalam. Serem, ih!" cibir Siska bergidik ngeri.


"Lagian nih, ya. Masa lo suka sama si Cojut? Apa sih, yang lo liat dari dia? Secara kan dia orangnya jutek, baperan, kadang otaknya rada gak beres juga, wajahnya ... Em, lumayan sih. Tapi, gak usah mau deh. Cojut itu orangnya tegaan sama cewek. Gak perhatian lagi!!" lanjutnya tampak sangat semangat menjelek-jelekkan Mika.


Letta menatap garang Siska yang mengomel. Lantas menghentakkan kakinya kuat. Membuat Adel dan Siska terperanjat kaget karenanya.


"Jangan jelekin Mika seenaknya! Dasar cewek jal*ng!" bentak nya murka.


"Kau tau apa hah?! Mika itu baik, gak seperti yang kau katakan!" Aletta sungguh tidak terima dengan perkataan Siska. Emosinya jadi memuncah.


"Kalau bukan karena Mika, orang-orang bakal tetep memandang remeh aku. Mika itu sempurna! Gak kaya cowok brengs*k di luar sana. Karena Mika, aku jadi gak dibully anak-anak lagi. Karena Mika yang gak pernah banding bandingin orang. Dia bahkan milih duduk semeja denganku."


"...."


"Aku cinta Mika. Dia seperti pangeran di dunia dongeng. Mika juga pasti cinta denganku. Tapi, karena kalian ... dia jadi berubah!!"


'Astaga! Pangeran, katanya? Liat muka si Cojut aja gua enek. Hih, emang bener gila nih cewek!" batin Siska tak habis pikir dengan kelakuan Aletta.


"Jadi?" Adel menatap Aletta dingin.


"Sekarang lo mau apa?" lanjutnya masi dengan wajah datar.


Aletta tersenyum smirk. Tampak sangat menyeramkan. Kemudian gadis itu tertawa jahat dan berkata.


"Tentu saja menyingkirkan kalian!" jelasnya mengeluarkan sebuah pisau dari balik baju.


Siska menelan salivanya gusar. Kala Aletta berjalan mendekat ke tempat Adel. Ia todongkan pisau ke arah gadis itu.


"He–hei, lo ... ma–mau apa hah?" tanya Siska panik.


Padahal yang ditodong pisau bukan dirinya, melainkan Adel. Tapi, bisa-bisanya gadis itu masi tenang di situasi begini. Apa yang ada di pikiran Adel sebenarnya?!


"Wah, kau masi bisa tenang rupanya!" kata Aletta memperhatikan Adel yang hanya menatapnya dalam diam. Sama sekali tidak ada ekspresi takut pada wajah gadis itu.


Tangan Aletta terulur. Mengusap lembut pipi Adel. Membuat gadis itu menatapnya dengan tajam.


"Cantik sekali."


"...."


"Apa yang terjadi jika wajah cantikmu ini diberi goresan? Pasti menarik! Baiklah, ayo kita coba!"


"Woy! Jauhin pisaunya bod*h! Itu baha—"


Srett!


"Ukh ...!" Adel merintis merasakan perih pada pipinya yang disayat Aletta.


Tes!


Tes!


Tes!


Darah terus menetes keluar dari luka Adel. Membuat Siska memejamkan matanya tak tega. Aletta, gadis itu benar-benar gila!!


"Ah, gak seru!" ujar Aletta menghentikan aksinya. Matanya menatap Adel tak tertarik.


"Kau sama sekali gak bereaksi. Setidaknya, menjerit lah kesakitan!"


Brak!


Ia tendang kursi Adel dengan kesal. Hingga membuat gadis itu jatuh bersama kursi dengan tubuh yang masi terikat.


"Es batu!!" pekik Siska histeris. Ditatapnya Adel dengan tangan gemetar menahan marah. Bisa-bisanya gadis itu masi tak bereaksi. Setidaknya, katakanlah sesuatu agar hati Siska bisa tenang.


Adel seolah memendamnya sendirian. Siska tak suka! Itu pasti sakit. Tapi Adel, dia hanya diam. Seperti sudah biasa mengalami hal ini sebelumnya. Ah, ini membuat Siska jadi jengkel!


"Lo ...!" Siska melirik tajam Aletta. Emosinya tersulut naik. Sudah cukup ia menahan kesabaran.


Tas!


Tiba-tiba saja, tali ditangan Siska putus. Membuat Aletta terperanjat kaget. Ikatannya telah lepas dengan sempurna! Gadis itu bangun dari duduknya. Kemudian berjalan dengan wajah suram ke arah Aletta.


"Ja–jangan mendekat!" Ia menodongkan pisau pada Siska dengan tangan gemetar. Merasa gugup sekaligus syok.


Tap!


Dengan santai, Siska menggenggam ujung pisau. Tanpa peduli dengan darah yang sudah keluar dengan derasnya. Ia lempar pisau itu asal.


Kemudian mendongak. Menatap Aletta dengan dingin.


"Lo yang mulai duluan."


Siska tersenyum smirk. Ekspresi yang baru pertama kali diperlihatkan oleh gadis itu. Sungguh membuat Adel tak bisa berkata-kata. Ia tidak menyangka jika Siska yang selalu tersenyum menyebalkan bisa berubah semenyeramkan ini ketika marah.


"Karna lo udah nyentuh temen gua seenaknya," lanjut Siska mencengkram kuat leher Aletta. Hingga membuat gadis itu kesulitan bernafas.


Teman? Ah, kenapa dada Adel terasa sesak mendengarnya. Apa Siska benar-benar menganggapnya sebagai teman? Padahal mereka sering bertengkar.


Brak!


"Ukh ...," ringisnya kesakitan saat Siska menendang perutnya dengan kuat.


Tak cukup, sampai di situ. Siska berjalan menghampiri Aletta yang jatuh dengan wajah dingin. Kemudian berjongkok dan memukulnya secara membabi buta.


Bugh! Bugh! Bugh!


"Hentikan," pekik Adel yang mampu membuat Siska menghentikan aksinya sebentar.


Selang beberapa menit. Gadis itu menjawab perkataan Adel tanpa menoleh dengan dinginnya.


"Gak mau."


Siska kembali memukul Aletta dengan emosi. Dia kesal! Sangat kesal! Siska tak mau berhenti memukul wajah gadis busuk ini. Menyebalkan sekali!


"Berhenti."


"Gak."


"Berhenti."


"Gua gak mau!"


"Berhenti."


"Gak akan!!"


"Berhenti."


"...."


Siska akhirnya menghentikan aksinya. Bahunya tampak bergetar seperti menahan tangis. Ia menoleh memandang Adel yang masi dengan posisi terbaring bersama kursi di lantai.


"Eng–enggak mau ...! Hiks, kenapa nyuruh gua berhenti? Gu–gua kesal!" ucapnya menangis terisak.


"...."


"Padahal ... hiks, lo ter–luka. Padahal, lo trauma dengan hutan, tapi ... Hiks, lo rela pergi demi ki–kita."


Siska mengusap air matanya kasar. Gadis itu menunduk dengan isak tangis. Telapak tangannya, masi tak henti mengeluarkan darah.


"Gara-gara kita ... hiks. Gara-gara kita, lo jadi sering mimisan. Gara-gara keegoisan kita yang maksa lo buat ikut!"


'Itu karena penyakit gua. Bukan karena kalian," batin Adel tersenyum miris melihat tangisan konyol gadis itu.


"Gua ... gua gak tau, padahal lo sampai begitu demi kita. Tapi, cewek gila itu malah seenaknya lukaiin lo! Gua gak suka!! Gua kesal! Padahal lo gak salah. Makanya gua pengen mukul dia, tapi kenapa ...? Kenapa lo hentiin gua? Dasar Es batu bodoh!!"


"Bukan." Adel membuka suara.


"Kalau lebih dari itu dia bisa mati," jawab Adel melirik Aletta sekilas. Benar-benar kacau. Siska menghajarnya tanpa belas kasihan.


"Dasar bodoh, memangnya kenapa kalau dia mati?!"


"Penjara."


"Ugh ...."


Yang dikatakan Adel memang benar. Jika Aletta mati maka Siska bisa saja dipenjara. Dengan kasus pembunuhan.


Siska bangun. Berjalan mendekati Adel. Kemudian membuka ikatan gadis itu dan membantunya berdiri.


Brak!


Tiba-tiba saja pintu terbuka. Membuat Adel dan Siska sontak menoleh ke arah pintu. Tampak dua orang penjaga berbadan besar. Tengah menatap tajam kedunya.


"Sial!" umpat Adel sembari memegang lengannya yang terluka.


Siska tersenyum smirk.


"Tenang aja, biar gua yang—"


Bugh!


"Ukh ...."


"Ck, kalian pikir semudah itu?"


Dia berbalik. Menoleh dan menatap pelaku yang baru saja memukul Siska.


Aletta menampilkan seculas senyuman iblis. Gadis itu baru saja bangun. Ternyata ia tidak pingsan.


"Bos, kau tak apa?" tanya salah satu pria berbadan besar. Kala melihat tubuh Aletta yang penuh dengan memar.


"Cih, kenapa baru datang sekarang?!"


"Maaf bos, tadi kami—"


"Sudahlah! Cepat bawa gadis itu!" Aletta menunjuk Adel. Membuat Siska menggelengkan kepala kuat.


Ia berdiri sempoyongan. Hendak mencegah orang yang memegang Adel. Namun, sepertinya pukulan tadi cukup kuat. Siska kembali terjatuh. Punggungnya terasa nyeri.


"Tapi Bos, apa yang harus kita lakukan pada gadis ini?" tanyanya sudah mencegal tangan Adel. Gadis itu sama sekali tidak memberontak.


Adel merasa sia-sia saja melawan. Toh tenaganya tak akan sebanding.


Aletta melirik Siska sekilas. Lalu tersenyum licik dan berkata.


"Kurung dia di tempat yang gelap. Kudengar dia trauma dengan kegelapan. Bukankah itu akan seru?"


Siska melotot kaget.


"Lo ... apa yang—"


"Dan, kalian boleh melakukan apapun dengannya." Lagi dan lagi Aletta tersenyum miring.


"Kau mengerti maksudku kan? Apapun, termasuk dengan tubuhnya. Lakukan sepuasnya, aku sama sekali tak peduli, hahahah!!" lanjutnya tertawa jahat.


Adel yang mengerti maksudnya seketika melotot kaget. Lalu dengan kuat gadis itu berusaha memberontak.


"Lepasin gua!!"


Namun percuma, sudah Adel duga. Tenaganya tak akan cukup. Orang-orang itu tersenyum penuh nafsu. Dan menyeret Adel pergi dari sana.


Siska menggeleng kuat melihat kepergian Adel. Gadis itu berdiri sekuat tenaga dan mulai berlari mengejar Adel.


"Eitts ... lo gak boleh ikut." Aletta menghadang.


"Ayo kita bicara lebih dulu!" lanjutnya mengeluarkan sebuah pistol yang entah sejak kapan ada di sana.


Door ...!


****


"Lepasin, lepasin gua!" Adel terus saja memberontak tak suka.


Kedua pria berbadan tegap itu tersenyum menjijikkan. Salah satunya membelai wajah Adel dengan lembut. Membuat gadis itu merinding ketakutan.


"Ayolah sayang, kami gak akan menyakitimu. Tenang saja dan jangan berteriak."


"Iya, tenang saja. Om baik kok!"


Mereka tertawa kekeh merasa lucu dengan itu. Sedangkan Adel, gadis itu menatap tajam keduanya. Matanya menunjukkan sorot kebencian.


"Cuih!" Adel meludah tepat mengenai tangan yang membelai wajahnya tadi. Membuat sang empu marah dan langsung melepaskan Adel.


"Dasar gadis jal*ng!" umpatnya membersihkan ludah Adel yang terkena tangan.


Adel tersenyum smirk. Dan tanpa aba-aba gadis itu menendang bola kehidupan dari pria yang baru saja mengumpat. Membuat pria itu membungkuk kesakitan sembari memegangi miliknya yang berharga.


"Ukhh ... da–dasar bocah kurang ajar!" erangnya masi pada posisi yang sama.


Pria lainnya seketika merasa ngilu melihat sang teman. Ia seperti dapat merasakan hal yang sama pada area miliknya. Astaga itu pasti sakit! Pikirnya.


"Hoi, Om." panggil Adel pada pria yang hanya bengong itu.


Pria itu menoleh, menatap tajam Adel merasa was-was.


"Apa?!"


"Resleting lo kebuka."


Sontak ia menengok ke bawah dan ....


Bugh!


"Tapi bohong!"


Lagi dan lagi Adel menendang di area yang sama pada lelaki itu. Membuat ia juga meringis seperti temannya. Kedua orang itu saling membungkuk sembari memegangi miliknya masing-masing.


"Ck!" Adel berdecih lantas berlari meninggalkan keduanya. Tentu saja, kedua orang itu juga ikut mengejarnya.


****


"Ah, sial! Meleset," ucap Aletta melihat tembakannya yang mengenai tembok tepat di samping Siska.


Siska membeku di tempat. Ia menelan salivanya yang terasa berat. Ia yakin, Aletta sengaja melakukan itu. Dasar gadis sinting!!


"Lo ...!" marah Siska.


Aletta kembali menodongkan pistol nya.


"Kali ini gak bakal meleset loh," ucapnya hendak menekan pistol. Membuat Siska melotot kaget dan ....


Door!


"Hosh ... Hosh."


Siska membuka matanya. Tak terjadi apapun. Peluru itu mengenai langit-langit hingga bolong.


"Hampir aja!" ucap Mika menghela nafas lega.


"Cojut?"


Yap! Tepat pada saat Aletta ingin menembak. Mika dan Daffa datang. Mika yang kaget langsung saja berlari menerkam Aletta dan mengarahkan pistol gadis itu ke atas. Terlambat sedikit saja, ia tak tahu apa yang akan terjadi pada Siska.


Siska mendelik ke samping. Melihat Aletta yang jatuh pingsan di lantai. Mungkin kepala gadis itu terbentur.


"Apa yang terjadi di sini?" tanya Daffa melihat kekacauan yang ada.


"Di mana Adel?" lanjutnya celingak-celinguk mencari sosok gadis itu.


Siska tersadar kala mendengar nama Adel disebut.


"Es batu, dia dalam bahaya!!"


"Apa maksudnya?"


Daffa dan Mika tampak tak paham. Siska mulai panik. Seketika air matanya jatuh. Tak tahu harus mengatakan apa.


Mika berjalan ke arah gadis itu lantas mengusap air mata Siska lembut.


"Hei, jangan nangis. Katakan saja, apa yang terjadi pada Adel?"


"Es batu, dia ... hiks. Dibawa sama orang-orang mes*m. Aletta menyuruh mereka untuk menyekapnya di tempat gelap. Dan ... memberikan izin untuk menyentuh tubuhnya." bahu Siska bergetar menahan tangis.


Wajah Daffa dan Mika memerah menahan marah. Mendengar perkataan Siska dapat membuat mereka naik darah. Aletta, gadis itu benar-benar keterlaluan!!


Siska menangis senggugukan.


"Maaf, ini semua salah gua," lirihnya.


"Ini bukan salah lo," Daffa tampak tak tertarik dengan tangisan Siska. Dirinya benar-benar panik sekarang.


"Ayo kita cari Adel!" ajak Mika.


Keduanya mengngguk hendak pergi dari sana, namun ....


"Berhenti di sana!"


Aletta bangun. Dia benar-benar tangguh!


Siska berdecak kesal, tanpa sengaja manik matanya menatap alat komunikasi yang ada pada pinggang Mika. Dengan cepat, Siska mengambil alat itu. Membuat Mika sedikit kaget.


"Difa, tangkap!"


Daffa refleks menangkap alat yang dilempar oleh Siska. Dahi nya menyerngit sedikit bingung.


"Bawa itu dan cari Es batu. Di dalam sakunya ada alat komunikasi tadi. Gua yakin, dia bakal segera gunaiin benda itu. Itu bakal berguna buat lo! Cepat pergi, mereka belum terlalu jauh! Semoga lo berhasil. Gua, mohon ... tolong selamatin Es batu."


Daffa mengangguk paham. Lantas pergi dari sana tanpa berkata apapun lagi.


Aletta melototkan matanya kaget. Ia tak terima jika Adel diselamtkan. Gadis itu langsung saja berlari hendak mencegah Daffa.


"Eitss ... lo tetap disini." Mika tersenyum manis.


"Sepertinya ada banyak hal yang harus kita bicarakan. Bukan begitu ... Aletta?" lanjutnya mengubah mimik wajahnya jadi dingin.


TBC ....


Maaf sepertinya kurang bila harus satu part😂 kepanjangan awokawok. Jadi, satu part lagi, kayanya cerita di perkemahan akan benar-benar kelar😪 bukan end loh ya!😑


#Next?