Ice Girl

Ice Girl
part 17



Ice Girls


~Happy Reading💞~


Sedari tadi Daffa perhatikan, Adel hanya melamun. Gadis itu terus saja menatap kosong jalanan dari balik jendela mobil. Ya, sekarang mereka sedang berada di dalam mobil Daffa. Seperti kata Daffa tadi, dia akan mengantar Adel pulang.


Daffa melirik Adel sekilas, gadis itu masih setia menatap jalanan dengan tatapan kosong. Biar Daffa tebak, Adel pasti memikirkan perkataan Fani tadi pagi.


Adel POV.


Hening, itulah yang terjadi saat ini. Sekarang aku sedang berada di dalam mobil bersama Daffa. Cowok itu menawarkan diri untuk mengantarku pulang, biasanya aku selalu menolak tawarannya, tapi entah kenapa hari ini aku menerima tawaran itu. Aku juga bingung, tapi ya sudahlah, semua sudah terlanjur.


Hanya keheningan yang ada di antara kami.


Aku sempat heran dibuatnya karena setau ku dia adalah cowok yang suka mengoceh, tapi sekarang dia bersikap tenang?!


Ya, lagi pula apa yang kuharapkan? Aku lebih suka keheningan seperti ini. Baguslah jika dia tak banyak bicara hari ini, aku jadi bisa sedikit lebih tenang.


Tapi ketenangan itu tak berakhir lama, sebelum pada akhirnya aku menemukan jawaban dari sikap tenang Daffa.


Perkataan Fani masih terngiang di kepalaku. Fani sempat bilang kalau aku memanggil Daffa dengan panggilan 'Reka' kan? sekarang aku mengerti kenapa dia hanya diam dan tak banyak bicara sekarang. Pasti aku telah berbuat sesuatu yang aneh, atau mungkin di luar dugaan. Tapi apa pun itu, aku hanya berharap semoga yang ku lakukan bukanlah sesuatu hal yang fatal. Yah, semoga saja begitu.


Aku sadar, jika Daffa sedari tadi memerhatikanku yang asik melamun. Tapi, aku tak menghiraukannya seolah aku tak melihat dia memerhatikan ku.


Aku kembali melamun, kutatap jalanan dengan hampa. Apa yang dikatakan oleh Fani tadi pagi dapat membuat ku sangat gelisah. Bagaimana tidak?! aku pasti berbicara yang tidak-tidak di luar kesadaranku.


Aku khawatir jika mereka mengetahui masalalu ku, apa lagi mencari taunya! Aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk melupakan segalanya! tapi, nyatanya aku tak akan bisa melupakan kejadian di masalalu itu.


Pasti kemarin aku menangis, cih ... menyedihkan sekali! aku pasti terlihat lemah di mata mereka. Benar-benar menyebalkan!!


Semua itu terjadi akibat aku memakan masakan si cewek jadi-jadiaan! ya, walau tak dapat dipungkiri kalau itu juga termasuk dari efek alkohol yang tak sengaja ku minum!!.


Hahaha ... lucu sekali, aku sangat munafik ya?! padahal aku tau persis kalau yang menyebabkan aku pingsan bukanlah karena masakan si cewek jadi-jadian maupun alkohol. Tapi ... itu semua karena akhir-akhir ini, aku menolak untuk memakan obat dari dokter Sherin.


Tapi tetap saja aku kesal dengan si cewek jadi-jadian!! dia benar-benar menyebalkan!!.


"Lo masih mikirin kata Fani ya?"


Author POV.


Adel tersentak kaget saat Daffa tiba-tiba saja berbicara, dia menoleh menatap Daffa dengan wajah datar.


"Bukan urusan lo!" jawabnya dingin. Adel kembali menatap jalanan, entahlah Adel merasa kalau jalanan lebih enak ditatap


daripada wajah Daffa sekarang.


"Ck." Daffa berdecak sebal saat melihat reaksi Adel.


Adel benar-benar menyebalkan!! kemarin saja gadis itu bersikap manis padanya, bahkan dia memeluk dan mencium Daffa. Tapi lihatlah sekarang, sikap dingin yang menjengkelkan itu sudah kembali seperti semula, benar-benar menyebalkan!!. Rasanya Daffa ingin membuat Adel memakan masakan Siska sekali lagi, agar sikap gadis itu berubah lagi padanya. Ya, walaupun itu keterlaluan sih.


"Lo benar." Daffa tersenyum masam. "Itu bukan urusan gua," lanjutnya lagi, dia kembali fokus menyetir mobil.


"....."


'Gua bahkan gak direspon,' batin Daffa kesal.


Hening.


Daffa melirik Adel sekilas, gadis itu terlihat sangat jengkel, terlihat sekali dari reaksinya yang sedari tadi mengenggam tangannya dengan kuat. Tapi, Daffa tak tau apa yang menyebabkan Adel sangat kesal seperti itu.


"Hey Daffa," panggil Adel dengan nada dingin dan tanpa menoleh sedikit pun.


Daffa menelan salivanya susah dengan kasar. "Iya?" jawab Daffa.


"Nomernya."


"Nomer siapa Del?"


"Cewek jadi-jadiaan," jawab Adel tak tertarik.


"Maksud lo Siska?" tanya Daffa dengan dahi yang mengerut.


"Hm."


"Terus?" Adel berdecak sebal, ternyata Daffa masih belum paham maksudnya. "Makanya Del, kalau ngomong yang jelas!" sindir Daffa.


Adel menatap Daffa dengan nyalang. Daffa yang sadar akan hal itu, langsung saja menatap lurus ke depan, seolah tak melihat Adel yang menatapnya dengan tajam.


"Lo punya?!" tanya Adel dengan ketus.


"Gak usah ngegas juga kali Del."


"Serah gua."


"Ya, lo bener sih," jawab Daffa. "Tapi, lo tau gak? Kalau lo it--"


"Jangan banyak omong!" Adel menatap Daffa tak tertarik. "Lo punya gak?!" lanjutnya lagi.


"Buat ap--"


"Jawab!" potong Adel.


"Iya, iya gua jawab," jawab Daffa pasrah. "Gua sih gak punya nomernya, tapi gua tau gimana cara dapetin nomer Siska." lanjutnya lagi.


Adel menatap Daffa dengan wajah datar seperti biasanya.


"Gua ngerti maksud lo," jawab Adel tak tertarik.


"Masa?" goda Daffa.


"Hm."


"Kalau gitu apa dong?" tanya Daffa dengan tersenyum.


"Grup sekolah." jawab Adel tak tertarik.


"Udah gua duga, lo emang cerdas." ucap Daffa. "Tapi, kenapa lo masik nanya ke gu--"


"Gak masuk." potong Adel.


"Maksud lo, lo gak masuk grup sekolah?"


"Hm."


"Kenapa?"


"Males."


"Busett." Daffa menatap Adel tak habis fikir. Gadis ini benar-benar dingin, tapi sepertinya ada sesuatu di balik sikap dingin Adel, apapun itu, Daffa akan mencari taunya nanti.


"Hp lo." Adel mengulurkan tangannya pada Daffa.


"Untuk apa?" tanya Daffa dengan dahi yang mengerut.


"Kasi aja!"


Daffa menatap Adel penuh selidik. Kalau Adel tak mau memberitahunya, maka Daffa akan menjahili Adel sedikit, biar gadis itu tau rasa.


"Ambil aja sendiri!" jawab Daffa dengan tersenyum penuh arti.


"Mana?"


Daffa tersenyum. "Di saku gua." jawabnya santai.


Adel membelalakkan matanya tak santai mendengar ucapan Daffa. Yang benar saja! Daffa menyuruh Adel untuk mengambilnya sendiri?! apa Daffa sudah gila ya?! tak akan! Adel tak akan pernah melakukannya.


"Gak jadi!" jawab Adel dengan wajah kesal.


Daffa terkekeh kecil melihat reaksi Adel, benar-benar lucu. "Kenapa?" tanya Daffa dengan wajah geli.


"....."


'Yah ... dikacangin lagi deh' batin Daffa kesal.


"Gua cuma becanda kali Del."


"....."


"Ck." Daffa berdecak kesal melihat Adel yang tidak meresponnya sama sekali. "Nih hpnya." Daffa menyodorkan ponselnya pada Adel.


Adel menyerngit bingung, dia hanya menatap ponsel itu saja.


"Gak jadi nih?"


Adel mengambil alih ponsel yang diserahkan Daffa padanya.


"Buat apa sih Del?"


Adel menoleh menatap Daffa dengan datar. "Balas dendam," jawab Adel dengan menyeringai.


Daffa menelan salivanya dengan gusar.


"Seram amat muka lo."


***


Di rumah Fani.


"Sis? Siska bangun!!" Fani terus saja menggoncang-goncang tubuh Siska berusaha untuk membangunkan gadis itu. Namun, Tetap saja! Siska tak bisa dibagunkan.


Fani berdecak sebal melihat Siska yang masih saja tidur dengan lelapnya. "Gimana ya? cara buat Siska bagun," gumam Fani.


Fani tampak berpikir sejenak. "Ah ... gua tau!" Fani menatap Siska yang masih tidur dengan tersenyum penuh arti.


"Tunggu di sini ya Sis!" Fani pergi meninggalkan kamarnya dengan berlari kecil.


15 menit kemudian.


Fani datang dengan membawa sebuah toples berisi garam di tangannya. Dia berjalan mendekati Siska yang masih tidur dengan pulasnya.


"Ck." Fani berdecak sebal. "Ya ampun, Sis ... Sis! Udah jam setengah delapan lo masih belum bangun juga." Fani menatap Siska tak habis fikir.


"Coba kita lihat, apa lo masih bisa tidur setelah gua kasi ini?" Fani menyendok sedikit garam dan memasukkannya pada mulut Siska.


"Hoek ... hoek." Siska bangun, dan langsung saja membersihkan mulutnya yang terasa asin. "Hiii ... mimpi apa sih gua? sampek mulut gua kerasa asin beneran," gumam Siska bergidik ngeri.


"Itu bukan mimpi!" sahut Fani terkekeh geli.


Siska menoleh dan menatap Fani dengan tajam. "Oh elo yang ngelakuiin ini Fan?" tanya Siska jengkel.


"Hehe iya, lo sih! tidurnya kek kebo, jadinya gua kasi garem deh," jawab Fani cengengesan.


Siska menggaru tengkuknya yang tidak gatal, yang dikatakan Fani memang benar.


"Fan," panggil Siska.


"Hm?"


"Si es batu mana?"


"Oh, dia udah pulang dari tadi, dianterin sama Daffa."


"Serius?" tanya Siska dengan wajah yang berbinar.


"Iya."


"Yuhu ..." Siska meloncat kegirangan. "Gua bebas ... asikkk," lanjutnya lagi.


"Lo kenapa Sis?" tanya Fani bingung.


Siska berhenti meloncat, dia mentap Fani dengan tersenyum puas.


"Lo tau Fan?" Fani menggeleng tidak tau. "Si es batu lupa sama taruhannya. Taruhan yang kalau kalah jadi pelayan pribadi si pemenang. Gua kan kalah, tapi untung aja si es batu lupa hihi. Yuhu ..." Siska kembali meloncat kegirangan.


Fani terkekeh geli melihat tingkah lucu Siska.


"Siapa bilang kalau Adel lup--"


"Eh? tunggu dulu Fan, ada notifikasi dari WhatsApp," ucap Siska memotong ucapan Fani. Dia mengambil ponselnya dan langsung saja membuka aplikasi WhatsApp.


"Eh?" Siska menyerngitkan dahinya bingung.


"Kenapa Sis?"


"Ada pesan dari nomor baru."


"Baca aja dulu, mana tau penting," ucap Fani.


"Iya, ini juga mau gua baca," jawab Siska, dia langsung saja membuka dan mebaca pesan itu.


[ Ini gua! Jangan lupa! gua tambah dua minggu lagi. Lo tau alasannya. ]


Wajah Siska seketika menjadi murung setelah membaca isi pesannya.


"Huaaaa." Siska berteriak dramatis.


"Kenapa Sis?" tanya Fani bingung.


"Lo baca nih," ucapnya sembari menyerahkan ponsel itu Fani. Fani menerimanya dan membaca pesan itu, seperti yang dikatakan Siska.


"Ini pesan dari siapa Sis? kok isi pesannya gak jelas gini," ucap Fani.


"Gak jelas gimana?! udah jelas banget loh itu."


"Siapa yang ngirim pesannya?" tanya Fani bingung.


"Si es batu lah! siapa lagi, kalau bukan dia!!" kesal Siska.


"Terus, lo ngerti gak isi pesannya?" Fani lagi-lagi bertanya.


"Ck, ngerti lah. Emang lo gak ngerti?"


"Kagak," jawab Fani sembari menggeleng.


"Pantesan," gumam Siska.


"Ih ... Siska, kasi tau dong! gua penasaran tau!!"


Siska mengehembuskan nafas pasrah. "Iya, iya gua jelasin," jawabnya dengam nada kesal.


Fani tersenyum senang saat mendengar perkataan Siska.


"Jadi gini, isi pesannya kan 'ini gua! jangan lupa! gua tambah seminggu lagi. Lo tau alasannya.' gitu kan?" Fani mengangguk setuju.


Siska menarik nafasnya, bersedia untuk menjelaskan lagi pada Fani.


"Pesan yang pertama, dia bilang kalau 'ini gua!' siapa lagi yang ngomong ngegas gitu kalau bukan si es batu?!" Fani mengangguk paham.


"Kedua, dia bilang kalau 'jangan lupa!' itu artinya dia ngingetin gua tentang taruhannya karna dia yang menang. Ukh ngeselin banget tuh si es batu!!" ucap Siska kesal.


"Terus? kenapa ada kata 'gua tambah dua minggu lagi' emangnya apa yang ditambah?" Fani menyerngit bingung.


"Huaaaa ... " Siska merengek dramatis.


"Lo tau Fan?" Fani menggeleng tidak tahu. "Si es batu nambahin hukumannya dua minggu lagi, jadi tiga minggu deh. Huaaa ... gua gak mau jadi pelayan si es batu selama tiga minggu!" Siska berteriak dramatis.


"Loh kok ditambahin sih?"


"Lo baca aja pesan selannjutnya," jawab Siska.


"Iya, gua udah baca, tapi gua tetap gak ngerti. Isi pesannya kan 'lo tau alasannya!' padahal gua gak tau tuh!" ucap Fani dengan wajah kesal.


Siska menatap Fani dengan wajah datar, temannya ini benar-benar tidak peka!!.


"Dia nambahin hukumannya karna gegara gua dia jadi pingsan, gegara makan masakan gua! si es batu jadi kesal, makanya deh ditambahin. Dah lah, gua jadi malas." Siska berdiri dengan wajah kusut. "Gua mau pulang aja." dia melangkahkan kakinya dan keluar dari kamar Fani dengan murung.


"Loh?" Fani menatap Siska bingung.


***


Adel menatap datar ponsel yang ia pegang, dia baru saja mengirimkan pesan pada Siska. Setelah memastikan pesannya sudah dibaca, Adel mengembalikan ponsel yang ia pinjam pada Daffa.


"Nih," ucap Adel sembari memberikan ponsel itu pada Daffa. Daffa menerimanya dengan tersenyum ramah.


Adel kembali menatap jalanan. Perasaan Adel saja atau jalannya memang jauh? dari tadi mereka belum sampai-sampai dan jalan ini bukan jalan menuju rumahnya. Sebenarnya apa yang difikirkan oleh Daffa?.


Adel tersentak kaget saat Daffa menghentikan mobilnya di parkiran tepat di depan sebuah cafe.


"Ngapain?" tanya Adel dengan mata yang mengintimidasi.


Daffa tersenyum, dia turun dari mobilnya dan berjalan mengitari mobil itu, kemudian membukakan pintu untuk Adel.


"Ayo turun." Adel menyerngit bingung.


"Lo pasti laper kan? kita makan dulu setelah itu gua antar lo pulang," jawab Daffa seolah tau apa yang ada difikiran Adel.


"Gak lap--"


Kruk ... kruk.


Daffa tersenyum geli saat mendengar bunyi perut Adel yang keroncongan.


"Gak usah gengsi! udah, ayo ikut." Daffa menarik paksa tangan Adel hingga memasuki cafe.


"Kita duduk di sini aja," ucap Daffa. Adel menurut dan duduk di tempat yang dimaksud Daffa.


"Mbak, saya mau pesan." Daffa memanggil seorang pelayan, pelayan itu mengangguk dan menghampiri meja Daffa.


"Mau pesan apa mas?" tanya pelayan itu dengan tersenyum ramah pada Daffa.


Adel melirik pelayan itu sekilas. "Ck." Adel berdecak. "Dasar genit," sindirnya yang dapat didengar oleh pelayan itu.


"Emm ... anu, saya gak genit kok." pelayan itu menatap Adel dengan tersenyum kikuk. Sementara Adel hanya mentapnya dengan wajah datar. "Maaf mbak, saya gak godaiin pacar mbak kok, tenang aja," lanjutnya lagi.


Daffa membelalakkan matanya saat mendengar perkataan pelayan itu.


"Bukan!" bentak Adel.


"I--iya mbak, kita cuman temenan kok," timpal Daffa dengan tersenyum kikuk.


"Oh gitu ya? kalau gitu saya minta maaf." pelayan itu membukuk sopan.


"Iya mbak gapapa." Daffa balas tersenyum. "Mbak juga ngomong kayak gitu karna kita berdua keliatan co--"


"Nasi gorengnya satu!" potong Adel dengan cepat. "Gak pake lama!!" lanjutnya lagi.


"Oh ok, kalau masnya mau pesan apa?" tanya pelayan itu pada Daffa.


"Samain aja!" ketus Daffa kerena kesal pada Adel.


Pelayan itu mengangguk kemudian pergi meninggalkan meja Daffa dan Adel.


Hening.


Tak ada yang bicara, Adel yang fokus berkutat pada ponselnya sedangkan Daffa? lelaki itu tak henti-hentinya memerhatikan Adel dengan tersenyum.


"Mata Lo minta dicolok?!" tanya Adel dingin dengan mata yang masih fokus pada ponsel.


Daffa tersentak kaget. "Dih geer banget, gua gak ngeliatin elo tuh," ucap Daffa berlagak sombong.


"Gua gak bilang." Adel melirik Daffa sinis. "Kalau lo liatin gua!!" lanjutnya lagi dengan dingin.


Daffa mengagaru tengkuknya yang tidak gatal. Ah sial!! Daffa salah bicara.


"Yakan maksud gua--"


"Pesanan datang," potong seorang pelayan yang baru saja datang dan langsung menata makanan di meja Daffa dan Adel.


Adel meletakkan ponselnya lantas memakan makanannya dalam keaadaan hening. Daffa juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Adel.


Daffa melirik Adel sekilas, gadis itu masih memakan makanannya dengan hening.


"Adel," panggil Daffa.


"Hm," jawab Adel masih fokus makan.


"Gua mau nanya sesuatu sama lo." Daffa menelan salivanya susah payah, takut Adel akan marah.


"Apa?"


"Siapa Reka?"


Adel mendongak menatap Daffa dengan wajah datar.


"Bisa tidak?" Adel menatap Daffa dengan tajam. "Lo jangan bahas itu!" Adel menunduk kembali menatap makanannya dengan hampa.


Kenapa Daffa harus menanyakan tentang Reka?! Adel sudah tak mau mengingat kejadiaan itu! kejadiaan dimana dia benar-benar tak berdaya dan hanya Reka yang ... ah sial!! Adel hampir saja mengingatnya lagi!.


"Tapi Del, gu--"


Prang.


Adel melepaskan sendok yang ia pegang, sehingga menyebabkan suara saat sendok itu berdentingan dengan piring yang ia gunakan.


Adel menatap Daffa dengan tajam, kemudian dia berdiri dan melangkah pergi sebelum akhirnya Daffa menahan tangannya.


"Lo mau kemana?" Adel menoleh dan menatap Daffa sinis.


"Pulang!" jawabnya dingin.


"Tapi lo belum abisin makanannya," ucap Daffa.


"Gak nafsu!" Adel menghempaskan tangan Daffa kasar dan pergi keluar dari cafe.


Daffa dengan cepat berlari menyusul Adel, sebelum gadis itu pergi lebih jauh.


"Mbak, uangnya saya taruh di meja ya," teriak Daffa sebelum pergi.


***


"Del tunggu!" Daffa mencenggal tangan Adel dan menahan gadis itu.


Adel menoleh menatap Daffa dengan wajah datar.


"Lepasin," ucap Adel dingin.


"Gak! gua gak bakal lepasin," jawab Daffa santai. "Gua udah janji buat nganter lo pulang, jadi lo harus pulang sama gua, titik!!" Daffa menarik paksa Adel hingga memasuki mobilnya.


"Masuk!" titah Daffa menyuruh Adel untuk masuk ke dalam mobilnya.


Adel menatap Daffa tak senang. Berani-beraninya orang ini memerintah dirinya!!.


Adel menatap Daffa dengan wajah menantang.


"Gak!" jawab Adel sinis.


"Ck." Daffa berdecak kesal. "Lo ngode gua ya? biar gua gendong lo?!" Adel menggeleng dengan cepat. Apa-apaan?! Adel bahkan tak terpikir ke sana!!.


"Oke." Daffa tersenyum penuh arti. "Kalau itu yang lo mau ... gua akan--"


Bruk.


Adel mendorong Daffa dan dengan cepat masuk ke dalam mobil. Daffa benar-benar menyebalkan!! bagaimana bisa dia berfikir kalau Adel minta digendong?! yang benar saja!! Adel tak pernah berfikir seperti itu dan tak akan pernah!!.


Daffa tersenyum geli melihat reaksi Adel yang benar-benar lucu menurutnya, bahkan Adel sampai mendorongnya!.


Daffa berjalan mengitari mobilnya dan kemudian masuk ke dalam mobil. Dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal.


TBC ...


l


#Next?