
#Ice_Girls
#Part_23
~Happy Reading💞~
"Sama siapa?" potong Daffa yang tiba-tiba datang.
"Daffa?!" kaget keduanya.
"Kalian kenapa?"
Adel dan Siska menatap satu sama lain dalam diam. Sesaat kemudian, Siska tersenyum miring saat sebuah ide cemerlang terlintas di pikirannya.
Ia mengambil kembali ponsel yang tadinya sudah ia simpan.
Adel menatap Siska tajam sembari menggelengkan kepalanya kuat. Mengerti apa yang sedang dipikirkan cewek jadi-jadian itu sekarang.
"Coba liat ini," kata Siska sembari menunjukkan foto di ponselnya pada Daffa.
Wajah Daffa seketika jadi merah melihatnya. Tak hanya Daffa, Adel juga merasa sedikit malu. Gadis itu tengah membuang wajahnya ke samping. Berpura-pura seperti tak melihat apapun.
"Kalau Es batu gak mau cabut hukuman gua ...," ujar Siska menggantung ucapannya sejenak. "Gua bakal sebarin foto ini di grup sekolah!" lanjutnya lagi sembari menampilkan senyum menyebalkan.
Daffa melototkan matanya kaget mendengar ancaman Siska. Sementara Adel? Gadis itu juga sama! Dia tak henti-henti menatap tajam Siska yang tak dihiraukan oleh gadis itu.
"Kenapa diam aja?" tanya Siska terkekeh pada kedua orang di depannya.
"...."
"Ck." Ia berdecak sebal kala mereka tak merespon omongannya.
"Kalau gitu gua bakal sebarin sekarang juga."
"Jangan!" kompak keduanya.
Adel dan Daffa menatap satu sama lain. Tak menyangka kalau mereka akan kompak mengatakan itu. Sesaat kemudian mereka memalingkan wajah lagi dan berdehem kecil. Seolah tak terjadi hal apapun.
"Ehem." Adel berdehem dengan wajah datar seperti biasanya.
"Gua cabut!" jawabnya singkat dan padat. Siska yang mengerti dengan perkataan Adel langsung saja menampilkan senyum kemenangan.
Akhirnya, ia terbebas dari malapetaka yang menimpanya selama ini. Fyuhh
... Siska senang sekali! Ternyata perkataan Mika benar, Adel akan membebaskannya jika diancam dengan foto ini.
'Fotonya benar-benar ajaib,' batin Siska tertawa geli.
"Hahaha ... gitu dong! Dari tadi nurut, kek! Gua kan jadi gak perlu capek-capek ngancem lo!" cibir Siska yang membuat Adel semakin jengkel karenanya.
"Nih, fotonya. Lo hapus aja sendiri! Entar kalau gua yang hapus, lo malah gak percaya lagi," ketus Siska memberikan ponselnya pada Adel.
Tap!
Baru saja Adel ingin mengambil ponsel itu dari tangan Siska. Daffa sudah merebutnya lebih dulu.
"Apaansi lo, Difa?!" kesal Siska melihat Daffa yang tiba-tiba merebut ponsel itu dari tangannya. Untung saja tangannya tidak patah.
"Gua Daffa! Bukan Difa!!" protes Daffa tak suka dipanggil Difa. Dikira Daffa cewek kali ya?!
"Sini," sahut Adel dengan nada dinginnya.
"Biar gua aja yang hapus," kata Daffa.
Adel menggeleng tak mau Daffa melihat foto memalukan itu. Dia saja sudah sangat jijik melihatnya. Apalagi Daffa! Pikir Adel.
"Gak. Sini!" tegas Adel meminta ponsel itu kembali.
"Biar gua aja."
"Gua!" Adel berdiri dan kemudian keluar dari mejanya. Ia berjalan mendekati Daffa dan mulai merebut ponsel itu secara paksa.
Daffa tetap saja keras kepala. Ia mengangkat tinggi-tinggi ponsel yang ia pegang. Membuat Adel semakin berjinjit karena pendek.
"Sini!" Adel terus berusaha menggapai ponselnya. Tak peduli dengan pandangan orang-orang di kelas yang sudah perpusat pada mereka berdua.
"Gak! Biar gua aja," ulang Daffa masi bersikeras menjauhkan ponsel itu.
Adel menatapnya dingin. Kemudian ia meloncat agar bisa menggapai ponselnya.
Gedebuk!
Bukannya mendapatkan ponsel. Keduanya malah terjatuh dengan posisi yang cukup absurd.
Adel terjatuh tepat di atas tubuh Daffa. Bukan hanya itu, yang lebih parahnya lagi. Tanpa sengaja bibir mereka bersentuhan. Sungguh kebetulan yang memalukan! Sekaligus menyenangkan Wkwk🙏😹
Itulah suasana yang ada di kelas Xi ipa 1 sekarang. Semua tatapan di kelas tertuju kepada dua orang yang seperti sedang berciuman itu.
Mata keduanya saling menatap satu sama lain dalam diam.
Satu detik!
Dua detik!
Tiga detik!
Adel tersadar lalu mengedipkan matanya. Dengan cepat dia berdiri sembari memegang bibirnya yang terasa aneh. Adel melirik Siska sinis.
Siska masi menatap Adel setengah sadar. Ternyata gadis itu juga syok melihat pemandangan absurd di depannya.
"Bangsat!" umpat Adel dengan suara pelan.
Semua orang di kelas mendengar umpatan kecilnya karena suasana yang lagi hening.
Brak!
Adel membanting pintu kelas sebelum keluar dari sana. Membuat semua orang yang ada di dalam sadar dari lamunannya.
Kelas kembali riuh usai kepergian Adel. Semua orang membicarakan hal yang tidak-tidak tentang kejadian tadi.
"Apa Adel baik-baik aja?" tanya Fani panik melihat kepergian Adel.
"Daripada itu ...." Raihan berjalan ke arah Daffa yang sudah beringsut duduk.
"Lo gapapa Daff?" tanyanya khawatir kala melihat Daffa yang diam membeku.
"Gua ...." Daffa memegang bibirnya. Bayangan kejadian tadi masi terngiang di pikirannya.
"Muka lo merah! Lo sakit?!" heboh Siska saat melihat wajah Daffa yang memerah.
"Ck." Mika berdecak sebal melihat kelakuan Siska. "Gak peka lo!" katanya sembari memukul kepala Siska pelan.
"Jantung lo masi aman kan Daff?" tanya Haikal yang dapat mengundang gelak tawa satu kelas.
***
Kring ...! Kringggg ...! Kring.
Bel sekolah berbunyi begitu nyaring di telinga. Sorak sorai kebebasan siswa terdengar di setiap lorong sekolah.
Adel mengemasi buku-bukunya ke dalam tas. Tanpa sengaja matanya bertemu pandang dengan Daffa yang duduk di bangku belakang.
Daffa dengan cepat memutuskan kontak mata itu. Wajahnya seketika jadi panas. Jantungnya berdebar kencang. Bayangan kejadian tadi tiba-tiba muncul di pikirannya. Dengan cepat Daffa menggelengkan kepala. Tak ingin mengingat hal memalukan itu.
Adel menyerngit melihat kelakuan aneh Daffa. Ia menatap pria itu secara terang-terangan. Membuat Daffa merasa tak nyaman dan terus-terusan menghindari tatapan Adel.
"Daf---"
"Haikal, lo mau ke kantin kan? Gua ikut ya?!" tanpa sadar Daffa mengatakan hal itu saat melihat Adel yang hendak memanggilnya. Entah kenapa, Daffa jadi merasa gugup.
Haikal menatap Daffa penuh selidik. Tak biasanya pria itu mengajaknya lebih dulu. Dan kenapa pula wajah Daffa memerah? Apa yang sebenarnya ....
Manik mata Haikal tak sengaja melihat Adel yang menatap tajam ke arah mereka. Seketika Haikal menelan salivanya gusar.
'Serem banget anjir,' batinnya takut.
"I--iya, ayo ki--kita ke kantin!" ajak Haikal akhirnya mengerti dengan situasi Daffa.
Kedua pria itu berjalan keluar seperti robot, dengan banjir keringat. Entah kenapa otot gerak mereka tiba-tiba seperti tak berfungsi.
Dengan hati-hati Haykal menolehkan kepalanya ke samping.
"Euakk ...!" kagetnya saat mendapati Adel yang masi menatap mereka tajam sekaligus dingin. Wajah Adel benar-benar menyeramkan.
"Maaf, Daff! Gua kabur lebih dulu!" kata Haikal tak tahan lagi dan berlari dengan cepatnya.
"Woi, Haikal! Tungguin gua, kampret!!" teriak Daffa ikut menyusul Haikal yang berlari.
"A--aanu Del ... lo ma--mau ke kantin bareng?" tanya Fani gugup. Rupanya gadis itu sudah ada di sana sejak tadi dan menunggu Adel.
Adel menoleh dan menatap Fani dingin. Fani yang kaget menelan Salivanya susah payah. Baru kali ini Adel menatapnya sedingin itu.
"Gak."
"Oo---oke."
TBC ...
#Next?