Ice Girl

Ice Girl
part 37



Ice Girls


~Happy Reading~💞


"Terserah," jawab Adel pasrah.


"Nah, gitu dong! Nurut!" Mika mengelus lembut rambut gadis itu. Membuat Daffa lagi-lagi menatapnya dalam diam.


Mata Adel menatap datar Mika. Sekarang ia sangat kesal. Dengan kasar Adel menepis tangan Mika dari kepalanya. Lalu menatap sinis pria itu.


"Jangan seenaknya!" kata Adel menatapnya dingin.


Bukannya sakit hati, Mika malah terkekeh geli melihat ekspresi Adel. Ia lalu dengan tidak tahu malu menggenggam tangan gadis itu. Membuat Adel hanya bisa menghela nafas lelah.


"Ayo, ikut gua!" ajak Mika antusias sembari menggenggam tangan Adel dan membawanya pergi dari sana.


Ketiga gadis itu hanya bisa menurut. Mengikuti langkah kaki Mika dengan malas.


"Nih, gimana? Berhasil 'kan? Cih gitu aja gak bisa," ucap Mika saat berhadapan dengan Daffa dan Raihan yang kini tengah menatapnya.


Raihan terkekeh kecil lalu berkata dengan geli.


"Sombong banget. Padahal lo hampir ditolak! Hahaha. Kalau maksa sih, gua juga bisa!"


Berbeda dengan Raihan yang tampak seperti biasa. Daffa menatap Mika datar. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.


"Wah ... kelapanya banyak banget!" kagum Fani menatap buah kelapa itu tak percaya. Ia kemudian memandang ketiga pria di depannya secara bergantian.


"Kalian dapat dari mana?" lanjut Fani bertanya dengan wajah polosnya.


"Dari hutan," jawab Mika tak tertarik.


Tidak seperti Fani yang antusias. Siska dan Adel tampak biasa saja. Kedua gadis itu menatap buah-buah kelapa itu tanpa minat. Lalu dengan serempak mendudukkan diri di tanah. Tidak takut jika baju yang mereka kenakan akan kotor.


"Hebat! Siapa yang manjat?" tanya Fani lagi. Mendengar pertanyaan Fani membuat Raihan antusias.


"Raihan yang manjat," sahut Daffa membuat Raihan tersenyum bangga.


"Wah! Serius? Raihan bisa manjat pohon? Hebat!!"


Mendengar pujian yang dilontarkan Fani dapat membuat dirinya merasa seperti ingin terbang. Dipuji dengan orang yang kita sukai itu benar-benar menyenangkan!


"Iya, hebat. Kaya monyet!"


Perkataan Siska dapat mengundang gelak tawa semuanya kecuali Adel dan Raihan.


Raihan menatap Siska kesal. Wanita ini selalu saja membuatnya kesal. Benar-benar menyebalkan! Pikir Raihan melirik sinis Siska yang hanya cengengesan menyadari tatapan darinya.


Sedangkan Adel, gadis itu tengah membolak-balik buah kelapa yang ada di tangannya dengan bingung. Ia ingin meminumnya, tapi bagaimana? Adel butuh sedotan!


Daffa yang menyadari keadaan gadis itu dengan cepat mengambil sedotan miliknya. Dan kemudian memberikannya pada Adel.


"Nih!" kompak keduanya bersamaan.


Ternyata tak hanya Daffa, Mika juga tengah menyodorkan sedotan pada Adel sekarang. Rupanya pria itu juga menyadarinya.


Adel tersentak kaget. Ia kemudian mendongak menatap datar kedua pria di depannya. Kedua orang itu saling pandang sedikit canggung satu sama lain. Mika pikir Daffa tak akan memberikan sedotannya. Jadi ia berinisiatif memberikan miliknya pada Adel. Ternyata Mika salah besar.


Mata Adel menatap dua sedotan yang terulur di tangan kedua orang itu. Ia bingung harus mengambil yang mana. Ditatapnya Daffa yang kini juga tengah menatapnya. Tapi ekspresi pria itu tidak terlihat seperti biasanya. Membuat alis adel bertaut bingung karenanya.


"Lo kena—"


Perkataannya terpotong kala Daffa memasukan sedotan itu ke dalam mulutnya.


Daffa tersenyum, kemudian mengambil kembali sedotan yang ada di di mulut Adel. Ia menaruhnya ke dalam buah kelapa yang ada di dekat gadis itu. Dan dengan cekatan memberikan buah kelapa yang baru saja ia beri sedotan pada Adel.


Adel menatapnya bengong. Tak hanya Adel, Mika juga sama. Pria itu lalu menarik kembali tangannya lalu tersenyum kecil. Memperhatikan Daffa dan Adel dalam diam.


"Ayo, minum!" Daffa tersenyum menampilkan lesung pipi manis miliknya. Tangannya masi senantiasa memegang buah kelapa itu.


Adel tersentak. Mengambil alih buah kelapa itu dari tangan Daffa.


"Makasi."


"Sama-sama!" jawab Daffa terkekeh. Tangannya terulur mengusap lembut rambut gadis itu. Seperti sedang membersihkan kotoran yang menempel di sana. Padahal rambut Adel sangat bersih.


Mika yang peka seketika tersedak ludahnya sendiri. Ia membung wajah ke samping. Tertawa kecil merasa lucu melihat kejadian itu.


"Semuanya! Kita disuruh baris!" teriakan seorang Siswa dapat menarik perhatian semua orang yang ada di sana. Termasuk Daffa dan yang lainnya.


Semua orang berdiri dari duduknya. Kemudian mulai berlari kecil dan membentuk barisan masing-masing.


Cuaca lumayan panas sekarang. Di tengah keramaian itu Daffa berlari ke barisan anak perempuan. Membuat dirinya jadi perhatian kaum hawa di sana. Adel, Siska dan Fani menatap pria itu bingung. Ada urusan apa Daffa ke sini? Pikir ketiganya.


Kaki Daffa berhenti tepat di depan Adel yang berbaris di belakang Fani. Ia memakaikan topi yang ia bawa pada Adel dan tak lupa menampilkan senyum manisnya.


"Cuacanya panas, jangan dilepas! Itu bisa lindungin lo dari sinar matahari. Kalau gitu gua pergi, ya?"


Setelah mengatakan kalimat yang dapat mengundang teriakan histeris para wanita itu. Daffa pergi begitu saja meninggalkan Adel yang tengah mati-matian menahan amarahnya. Daffa menyebalkan sekali!


*****


"Ukh ... gua capek!" keluh Siska memungut kayu bakar itu asal. Dengan wajah yang sudah banjir keringat. Siska meletakkan kayu yang sudah ia kumpulkan dengan asal Dan terduduk lemas di atas tanah dengan malas.


"Ih ... bangun dong Sis! Lo kira cuma lo aja yang cape? Gua juga cape tau?!" kesal Fani menarik-narik pelan tangan Siska.


"Apaan sih, Fan? Istirahat bentar ngapa? Gerah tau?!"


"Adel aja kuat! Masa lo enggak sih?"


Merasa namanya disebut Adel berjalan mendekati kedua orang itu. Ia letakkan kayu bakar yang dari tadi ia kumpulkan. Kemudian duduk santai di samping Siska tanpa bicara apapun.


"Noh kan! Si Es batu juga cape! Istirahat dulu aja Fan. Kasian si Es batu keringetan," kata Siska mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan.


Fani berdecak dan akhirnya menurut ikut duduk di samping Adel. Ketiga gadis itu memutuskan untuk istirahat sebentar. Setelah mengumpulkan kayu bakar yang cukup banyak.


Sewaktu baris tadi, mereka dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok satu bertugas untuk membuat makan siang sekaligus malam. Kelompok dua bertugas untuk mencari air. Dan yang terakhir adalah kelompok tiga. Kelompok yang dimana mereka termasuk sebagai anggotanya. Mereka ditugaskan mencari kayu bakar untuk membuat api unggun nanti malam.


Katanya sih, nanti malam ada acara yang dibuat oleh anggota osis. Entahlah, mereka juga tidak tahu pasti acara seperi apa yang akan dibuat para osis itu.


"Kalian tau, gak?" Siska mulai berbicara memecah keheningan yang ada. Tatapan matanya menatap kosong ke depan.


"Apa?" tanya Fani tanpa menoleh. Adel hanya diam mendengar kan obrolan kedua orang di sampingnya.


"Sebenernya gua tipe orang yang gak suka bergaul. Tapi, saat ketemu kalian entah kenapa jadi beda," kata Siska terkekeh merasa lucu dengan dirinya sendiri.


"Awal gua ketemu Fani saat lo dikerumuni preman. Sebenernya gua gak mau nolong. Tapi, entah kenapa liat lo nangis buat gua jadi ingat seseorang." Siska lagi-lagi terkekeh mengingat masa-masa itu.


"Ha? Masa gitu sih? Lo mau ninggalin gua ya?"


"...."


"Namanya juga gua belum kenal elo. Tapi, gua bersyukur banget lebih milih hati nurani dibanding ego gua waktu itu. Dan gegara lo juga 'kan? Gua jadi bisa ketemu si Es batu. Hahah, walau nyebelin sih."


"Kesan pertama?" tanya Adel yang tadinya hanya diam.


"Sampai sekarang pun gua gak tau lo ngomong apaan. Kalau ngomong yang lengkap! Gua bukan Daffa yang pekanya melebihi batas normal."


Satu sudut bibir Adel tertarik menampilkan senyum smirk.


"Lo kalau senyum serem tau gak?!"


"Maksud Adel itu, kesan pertama lo ketemu Adel gimana?"


"Oh? Bilang dong! Otak gua lemot tau?!" sewot Siska tertawa kekeh. Ia kemudian menoleh ke samping. Memperhatikan wajah Adel lamat-lamat. Adel langsung saja menatapnya tajam.


"Kenapa?!"


"Gak, bukan apa-apa. Kesan pertama ya? Gimana ya? Waktu pertama liat Es batu, gua kaya ngerasa ketemu sama orang yang penuh ... dengan hawa sedih."


"Hawa sedih?"


"Hahah entahlah, gua juga gak tau kenapa berpikir begitu. Mungkin karna mukanya si Es batu suram kali wkwk."


Fani tertawa mendengar jawaban Siska. Sedangkan Adel? Gadis itu menunduk merasa sesak di dadanya. Ternyata selama ini ia masi belum bisa menutupi semuanya dengan sempurna.


"Tapi, intinya gua gak mau pisah sama kalian. Sekalipun kalian berpikir kalau gua menyebalkan, gua tetep gak mau pisah. Karna itu, jangan seenaknya pergi dari kehidupan gua setelah masuk begitu saja. Awas aja, kalau ninggalin tanpa kabar. Gua santet lo bedua!"


Fani bergidik ngeri mendengar ancaman Siska. Adel yang mendengarnya tiba-tiba terkekeh kecil merasa lucu.


Siska dan Fani menatapnya bengong. Adel tertawa? Batu es itu tertawa? Menakjubkan!


"Gua gak bakal pergi tanpa kabar." Adel berbicara sembari menoleh ke arah Siska. Membuat gadis itu menelan salivanya gugup.


"Gak usah cemas," lanjut Adel tersenyum kecil. Siska lagi-lagi menatapnya bengong. Kemudian gadis itu juga ikut tersenyum.


"Janji, ya?" tanya Siska tertawa kekeh. Sekarang mereka terlihat sangat akrab. Adel mengangguk kecil. Membuat Siska refleks memeluk dirinya. Melihat kedua temannya yang berpelukan dapat membuat hati Fani senang. Ia kemudian ikut memeluk Adel sama seperti yang dilakukan Siska.


"Kita gak boleh pisah, ya?!" ucap Fani dengan tangan yang masi memeluk Adel.


"Iya," jawab Adel singkat. Matanya menatap kosong ke depan. Ada rasa nyeri di dadanya saat mendengar permintaan mereka.


'Gua memang gak bakal pergi tanpa kabar. Tapi bukan berarti gua bisa bersama kalian. Maaf!' batin Adel tersenyum miris dengan wajah dingin.


Fani dan Siska melepas pelukannya. Manik mata mereka menatap kaget hidung Adel yang berdarah.


"Adel hidung lo!"


"Lo mimisan?!"


Tes!


Darah tak henti-henti keluar dari hidungnya. Membuat Adel sedikit susah bernafas.


"Gua gakpapa."


"Apanya yang gapapa?! Lo bodoh, ya? Hidung lo berdarah beg*! Cepat mendongak! Darahnya keluar terus! Es batu bodoh!"


Siska memandang panik darah yang keluar dari hidung Adel. Ia dengan cepat mengoyak sedikit baju yang dia kenakan.


"Cepat! Lap pakai ini!" ujarnya menyerahkan sobekan kain itu pada Adel.


Ingin sekali rasanya Adel tertawa melihat pemandangan ini. Ada yang mengkhawatirkannya. Apa ini sungguhan? Lucu sekali. Padahal hal ini sudah sangat biasa Adel alami saat dia berada di rumah.


Dengan gerakan lambat ia mengambil kain itu dari Siska. Dan dengan cepat mengelap darah di hidungnya.


"Hiks, apa itu sakit?" Fani menangis takut melihat kondisi Adel.


"Lo bodoh banget sih, Fan?! Sakit lah! Masa enggak?!" kesal Siska melihat kebodohan Fani.


"Gua gapapa. Gak usah nangis."


Fani berdiri dari duduknya. Hendak berlari meninggalkan Adel dan Siska.


"Lo mau kemana?"


"Mau nyari Daffa dan yang lain," jawab Fani mengelap air matanya. Setidaknya ia harus berguna sekarang.


"Jangan!"


Siska dan Fani menatap Adel bingung.


"Gak usah kasi tau orang. Gua baik-baik aja. Jangan ganggu mereka. Ini cuma mimisan biasa karna terlalu panas." Adel mengatakan semua itu dengan wajah datar seperti biasanya. Rasanya, Adel terlalu banyak omong sekarang.


"Ba–baiklah kalau itu yang lo mau."


****


"Ada urusan apa kau menelponku?" jawab seseorang dari seberang sana.


"Halo, Ayah. Tolong beri tau aku dimana Adel tinggal sekarang."


"Ck. Bukannya kau sudah tak peduli dengan anak itu? Sebagai seorang Kakek, aku mohon padamu. Tolong jangan ganggu cucuku lagi. Dia sudah sangat menderita karnamu Rena!"


Rena menggigit bibir bawahnya gusar. Air matanya sudah tak bisa ia tahan lagi.


"Hiks, Ayah ... ma–maafkan aku ... aku salah. A–aku mohon, Ayah ... beri tahu aku dimana anakku tinggal." Suara tangisan Rena terdengar jelas di telpon. Wanita itu tengah menangis sengugukan sekarang.


Dani yang mendengarnya bungkam. Pria tua itu menjauhkan ponsel itu dari telinganya tak ingin mendengar tangisan Rena lebih lama lagi.


"Jangan berpura-pura. Aku tak akan termakan omoganmu. Pergilah yang jauh! Jangan pernah menelponku lagi!"


Tut ...


Rena membanting setir mobilnya frustasi. Ponselnya juga ia banting asal di dalam mobil. Hatinya benar-benar tak tenang. Bagaimanapun, ia harus menemukan gadis itu segera!


TBC ....


Komen dong guys biar author next kilat kilat nya wkwkw


juga tinggalkan jejak ya dg cara like, vote wkwk + favorit nya... 😂😂


#Next?