
Ice Girls
~Happy Reading๐~
Fani terbangun dari tidurnya dan langsung beringsut duduk. Mengusap mata beberapa kali sembari mengumpulkan nyawa sepenuhnya.
Ia menguap lalu menoleh ke samping, mendapati Siska yang masi tidur nyenyak. Ah! Fani baru ingat, kalau mereka menginap di Apartemennya Adel tadi malam.
Dreet dret!
Suara getaran ponsel Fani dapat mengalihkan perhatiannya. Tangannya meraih ponsel itu dan kemudian berdiri, melihat panggilan masuk.
Ayah is calling ....
Seketika Fani menelan Saliva nya gusar. Berbalik, melihat Siska yang masih tertidur nyenyak. Ia berjalan ke luar dan pergi ke kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, Fani menggeser tombol hijau. Menjawab panggilan masuk dengan suara pelan.
"Halo, Ayah. Ada apa?"
[Kau! Dasar, kemana saja kau seharian? Kenapa gak pulang?]
Suara Hendri terdengar marah. Jika orang mendengarnya, mereka akan mengira bahwa Hendri khawatir dengan Fani yang tak pulang. Padahal, Fani tahu jelas, Ayahnya itu pasti takut kalau Fani bermain-main dan tak melakukan tugas yang ia minta.
"Maaf, aku menginap di tempat Adel. Hari ini adalah hari ulang tahunnya, jadi kami akan merayakannya nanti."
[Ho ... jadi, gadis itu ulang tahun hari ini, ya? Baguslah, laksanakan saja tugasmu dengan baik.]
"...."
[Melihatmu sudah menginap di rumahnya. Sepertinya dia sudah sangat percaya dengan putriku ini ya]
"...."
[Hahah! Bagaimana kalau kau mulai menggali informasi tentangnya? Seperti, di mana Ibunya Adel sekarang? Apa bisnis keluarga mereka lancar?]
"....."
[Kenapa kau hanya diam? Cepat jawab aku!]
Fani menghela nafas berat, sepertinya mulai sekarang Hendri akan memberinya tugas-tugas aneh dan merepotkan.
"Baik, akan kulakukan seperti kata Ayah," jawab Fani memutuskan panggilan secara sepihak.
"Fani, lo dimana?"
Deg!
Teriakan Siska dapat di dengar olehnya. Rupanya gadis itu sudah bangun. Untunglah, Siska tak sempat mendengar pembicaraan Fani di telpon tadi. Ia lantas keluar dari kamar mandi dan balas berteriak menjawab pertanyaan Siska.
"Gua di sini!"
****
Tok, tok, tok!
Suara ketukan pintu dapat mebuyarkan lamunan Adel. Gadis yang tadinya menengok ke luar jendela, kini menoleh ke arah pintu kamar.
"Nona, apa saya boleh masuk? Ini saya Irwin, saya membawakan Susu hangat untuk Anda."
"Pergilah."
"Hah?"
"Aku tak butuh susu," jawab Adel dingin, kembali menatap ke luar jendela dengan wajah sendu. Entah kenapa, hari ini dia sangat tak bersemangat.
Kriett ....
Suara pintu dibuka. Padahal Adel sudah bilang kalau ia tak butuh, kenapa orang ini keras kepala sekali? Dengan wajah kesal, Adel berbalik dan berkata.
"Sudah kubilang akuโ"
"Aku apa, hm?"
"Kak Indra."
Yap! Indra lah yang masuk. Ditangannya ada sebuah nampan dengan segelas susu. Indra berjalan ke tempat Adel, memberikan susu pada gadis itu dengan tersenyum hangat.
"Ayo, minum!"
Adel menggeleng, mengalihkan pandangannya ke samping. Tak memperdulikan kedatangan Indra sama sekali.
"Tidak perlu," jawabnya dengan mata yang terfokus menatap burung-burung beterbangan di langit.
Adel berpikir, burung itu makhluk yang bebas, ya. Mereka bisa terbang ke mana saja mereka mau, tanpa harus merepotkan orang lain.
"Ayo minum, kapan lagi ada cowo ganteng yang bawaiin susu buat kamu yang seperti Putri."
Adel tersenyum tipis mendengar lelucon garing Indra. Pada akhirnya, dia mengambil susu itu dan meminumnya hingga setengah.
"Makasi, Kak."
Indra tersenyum.
"Cepat mandi sana ini udah siang banget, loh."
"Hm."
โข
โข
โข
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sesuai rencana mereka kemarin, malam ini mereka akan membuat pesta kejutan untuk Adel.
Semunya sudah berkumpul di Apartemen gadis itu. Persiapan mereka benar-benar sempurna. Hanya tinggal menyuruh Adel datang dan boom! Pasti menyenangkan.
"Ayo, buruan! Panggil Adel ke sini," kata Mika tampak antusias.
"Eleh, segitu gak sabarnya lo makan kue, Mik?" timpal Raihan terkekeh geli melihat Mika yang tak henti-henti memandang kue tart itu sedari tadi.
"Dasar bocah! Doyan kok sama kue," sahut Daffa bertos ria dengan Raihan.
Kedua orang itu tampak semangat menertawakannya. Mika berdehem kecil lantas berkata dengan santai.
"Gapapa doyan kue, dari pada lo bedua, doyan cewek tapi gak berani ngungkapin hahahah! Dasar pecundang!"
Jlep!
Satu kalimat dari Mika dapat membuat keduanya terdiam. Raihan melirik Fani sekilas, gadis itu tampak sibuk menata meja. Untung saja Fani tak dengar. Mulut Mika kalau bicara memang suka pedas.
Tak!
"Apaansih? Sakit bod*h!" kesal Mika mengusap pelan kepalanya yang baru saja dijitak oleh Daffa.
"Makan tuh, kue!" balas Daffa tersenyum jengkel.
Siska melirik ketiga pria itu dengan tatapan malas. Entah apa yang mereka obrolkan sampai-sampai tampak sedang cekcok. Entahlah, Siska juga tak ingin tahu.
Tangannya merogoh saku, membuka aplikasi WahtsApp dan menuliskan pesan di sana.
๐๐ป๐ฑ๐ฎ
๐๐ด ๐๐ข๐ต๐ถ, ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐จ๐ธ
๐๐ช ๐๐ฑ๐ข๐ณ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฏ ๐ญ๐ฐ
๐๐ถ๐ณ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฌ!
19.35โข
๐ ๐๐ธ๐ฎ ๐ง๐ฟ๐ถ๐ฝ๐น๐ฒ๐ธ๐
๐๐ญ๐ด
โข19.40
๐๐ป๐ฑ๐ฎ
๐๐ข๐ฏ๐จ๐ด\*๐ต:)
19.40โข
๐ ๐๐ธ๐ฎ ๐ง๐ฟ๐ถ๐ฝ๐น๐ฒ๐ธ๐
Read
Seketika Siska meremas ponselnya dengan kesal karena pesan Adel yang singkat bahkan menolaknya. Sudah membalas lama dan sekarang? Pesannya di baca begitu saja! Gadis itu benar-benar menyebalkan!
"Oy, Fani!"
"Hm?"
"Si Es batu gak mau dateng, gimana dong?! Mana balas pesan gua singkat amat lagi! Ck, udah kaya seleb tuh bocah!"
Fani terkekeh kecil mendengar omelan Siska.
"Bentar, biar gua yang coba."
"Terserah, palingan juga hasilnya sama."
๐๐ป๐ฑ๐ฎ
๐๐ฆ๐ญ, ๐จ๐ธ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ด๐ฌ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข
๐ฅ๐ช ๐๐ฑ๐ข๐ณ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฏ ๐ญ๐ฐ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ
๐๐ฐ ๐๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข? ๐๐บ๐ฐ, ๐ฅ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ
๐๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ ๐ฏ๐ช๐ฉ:'(
19.47โข
๐๐ฑ๐ฒ๐น
๐๐ฌ๐ณ๐ฏ๐จ?
โข19.47
Siska melotot kaget membaca pesan gadis itu. Ia langsung saja berseru tak terima.
"Ck! Pilih kasih, giliran gua aja balasnya lama! Eh, elo langsung dibalas! Jahat banget si Es Batu."
"Hahaha, sans dong Sis. Mungkin tadi Adel lagi sibuk." Lagi dan lagi Fani terkekeh, dia kembali terfokus pada layar ponselnya dan membalas pesan Adel.
๐๐ป๐ฑ๐ฎ
๐๐บ๐ข ๐๐ฆ๐ญ, ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ:)
๐๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐จ๐ข๐ฌ?^^
19.49โข
๐๐ฑ๐ฒ๐น
๐
๐๐ต๐ธ
โข19.50
๐๐ป๐ฑ๐ฎ
๐๐ข๐ต๐ช-๐ฉ๐ข๐ต๐ช โก(โโขแดโขโ)โก
19.50โข
๐๐ฑ๐ฒ๐น
Read
Fani tersenyum puas dengan jawaban Adel. Sedangkan Siska, gadis itu tampak sangat jengkel. Mulutnya terus saja menggerutu tak jelas.
****
Adel tampak celingak-celinguk mencari sosok Fani dan Siska. Kini dia sudah sampai di depan Apartemennya. Namun, sedari tadi Adel tak melihat batang hidung kedua orang itu. Padahal ini sudah pukul 20.25 wib. Apa mungkin mereka sudah pulang?
"Cek ke dalam aja. Mana tau ada."
Indra tersenyum manis, merangkul bahu Adel dengan akrab. Karena malam hari, Indra meminta ikut dengan Adel. Meski ia sudah menolaknya, Kakanya itu tetap bersikeras ingin ikut. Sebenarnya, Adel merasa sedikit aneh dengan hari ini. Yang benar saja, apa yang Fani dan Siska lakukan malam-malam meminta menemuinya, bukankah itu mencurigakan?
"Ngapain bengong? Ayo, kita masuk!" ajak Indra. Adel mengangguk setuju, berjalan mendekati pintu dan membuka kenopnya.
Krieet.
Gelap, apa Adel lupa menghidupkan lampu rumahnya saat pergi semalam? Setahu Adel, dia tak pernah lupa, karena benci akan kegelapan, gadis itu selalu menyalakan lampu.
Adel menelan salivanya gusar, ia berbalik hendak meminta Indra menemaninya masuk. Namun, langsung saja gadis itu terperanjat kecil saat menyadari Indra yang tiba-tiba menghilang.
"Kak Indra?"
Tak ada jawaban. Jantung Adel berdetak kencang, ini sangat gelap, ayolah Adel! Jangan menyusahkan orang! Kau bisa, ayo nyalakan lampunya!
Perlahan kakinya melangkah masuk. Meraba raba tembok dan akhirnya menemukan tombol untuk menyalakan lampu.
Langsung saja Adel menekan tombol itu dan .....
"Kejutan!"
Fani dan Siska berseru antusias. Adel berbalik, menatap sekelilingnya dengan lekat.
Tampak pita-pita yang melekat pada tembok dan tertera tulisan 'HAPPY BRITHDAY ADELโกโก' dengan indah di sana.
Daffa, Mika, Raihan dan bahkan Kakak nya Indra juga ikut menyanyikan lagu untuknya. Siska, memainkan piano dengan mahir menghasilkan irama yang merdu. Sedangkan Fani, gadis itu memegang kue bolu coklat nan cantik dan kelihatan enak dengan lilin berbentuk angka 17.
Happy brithday to you
Happy brithday, to you ....
Happy brithday .... Happy brithday
Happy brithday, to you
Suara nyanyian itu selesai seiring berakhirnya musik piano. Semuanya tersenyum hangat pada Adel. Fani melangkah maju, menyodorkan kue pada Adel yang masi mematung. Meminta agar Adel mengembus lilin yang ia pasang.
"Happy brithday Adel." Fani tersenyum manis dengan kue yang berada di tangannya.
Adel masi tak berkutik. Matanya menatap lekat kue ulang tahun itu. Tangan Adel mengepal kuat, wajahnya merah padam dengan nafas yang tak berturan.
"Del, ayo tiup liโ"
Prang!
Perkataan Fani terpotong, kala Adel tiba-tiba melempar kue itu ke lantai hingga tak berbentuk. Ia tutup mulut syok dengan sikap Adel.
Semua perhatian mereka langsung saja tertuju pada sosok Adel dengan wajah kaget.
Adel menggeleng kuat, menatap semua dekorasi yang ada dengan amarah. Bibirnya tampak pucat. Dia berjalan ke arah tembok, mencabut pita-pita dan balon dengan membabi buta.
"Gak!" seru Adel histeris, menarik semua pita hingga putus.
Kemudian dia beralih pada meja yang penuh dengan hidangan. Dengan kesal, Adel membalikkan meja itu hingga membuat semua barang jatuh dan pecah.
"Singkirkan!"
Prang.
Gdebuk.
Buakh.
Suara barang dilempar terdengar di mana-mana. Mengisi suasana hening yang ada. Adel, gadis itu menghancurkan semuanya.
Dengan napas yang tampak ngos-ngosan, Adel berjalan ke tempat Fani. Ia gertakan gigi karena marah lantas berteriak pada gadis itu.
"Gua benci! Gua benci hari lahir! Gua benci lo!!" teriak Adel dengan air mata yang sudah menetes sepenuhnya.
Fani tampak sangat ketakutan, tubuhnya gemetaran. Hatinya sakit. Baru kali ini ia melihat Adel semarah dan segila itu.
Adel berbalik, menatap satu persatu orang yang ada di sana dengan tajam. Fani, Daffa, Mika dan Raihan. Semuanya masi tampak sangat syok, mereka masi bingung.
"GUE BENCI LO SEMUA!!" teriak Adel penuh emosi.
Plak!
Seseorang menampar pipi Adel dengan kuat hingga membuat gadis itu tertoleh ke samping. Memegang pipinya yang terasa perih. Lalu mendengarkan teriakan dari orang yang baru saja menamparnya.
"Gak punya hati, lo!!"
TBC ...
๐ฃ kak, buat Adel bahagia, pacaran sama Daffa
Me: iya, nanti pada waktunya wkwk
๐บ๐๐ ๐๐๐ ๐ต๐๐๐ ๐๐๐๐!><
#Next?