
Ice Girls
~Happy Reading💞~
"Kak?"
"Hm."
"Gua mau nanya sesuatu sama lo."
"Tentang apa?" tanya Indra dengan mata yang terfokus pada ponselnya.
"Tentang Reka."
Deg!
Indra meletakkan ponselnya pada meja dan langsung saja menatap Daffa dengan wajah yang serius.
"Lo kenal Putra?" tanya Indra.
"Putra?" Daffa menyerngit bingung, dia bertanya tentang Reka kan? Tapi kenapa Indra malah menyebut nama Putra?!. "Maksud gua Reka kak, bukan Putra!" tegas Daffa.
"Iya, gua tau."
"Terus? Kenapa Kak Indra nyebut nama Putra?"
"Lah? Namanya kan 'Areka Syahputra' nama panggilannya Putra, tau?! Bukan Reka!!" ucap Indra menjelaskan. "Kecuali ..." Indra tampak berfikir, setelah itu dia tersenyum kecil.
"Kecuali apa kak?" tanya Daffa penasaran.
"Kecuali jika Adel yang memanggilnya," jawab Indra terkekeh. "Itu panggilan spesial buat Putra dari Adel," lanjutnya lagi.
Entah kenapa saat mendengar perkataan Indra barusan, dapat membuat hati Daffa sakit. Spesial katanya? Wah ... kelihatannya Adel dan Putra memang sangat dekat, sampai-sampai Adel memanggil Putra dengan berbeda. Apa mungkin Putra juga memanggil Adel dengan panggilan berbeda? Yah, memangnya apa hubungannya dengan Daffa?!.
"Tapi gua heran, kenapa lo nanya tentang Putra? Dan kenapa lo manggil Putra dengan panggilan Reka, sama kayak Adel?" tanya Indra panjang lebar.
Daffa bungkam, dia bahkan tak menjawab satu pun dari pertanyaan Indra barusan.
"Ah gua tau, pasti Adel yang cerita sama lo kan?" tebak Indra.
"Bukan."
"Jadi?"
"Emang bener kalau gua tau dari Adel, tapi Adel gak pernah cerita sama gua."
"Lah ... maksud lo gimana sih?! Gua jadi bingung."
"Maksud gua, gua emang tau dari Adel, tapi Adel gak pernah cerita sama gua karna dia ngomongnya dalam keadaan gak sadar."
Bruk!
Indra memukul meja di depannya dengan wajah yang merah padam karena emosi, dia berdiri dan mencengkram kerah Daffa dengan kuat.
"Maksud lo apa ha?!" Indra menatap garang Daffa. "Lo bilang adek gua gak sadar? apa yang lo lakuin sama dia?! Sampai dia gak sadar!!" Daffa menelan Salivanya susah payah. Tidak, Daffa tidak takut, hanya saja dia benar-benar kaget saat Indra menggebrak meja dan mencengkram bajunya dengan tiba-tiba.
"Gua ingetin sama lo! Jangan pernah macam-macam sama adek gua!! Kalau enggak, gua akan--"
"Dengerin dulu kali! Gua belum selesai ngomong!!" Daffa melepas cengkraman Indra dengan kasar. Lama-lama Daffa juga bisa emosi! Tapi sebisa mungkin Daffa menahannya.
"Adel emang gak sadar, tapi itu karna dia gak sengaja minum bir!!" ucap Daffa jengkel. "Dan lo tau kak? Gua gak bakal pernah nyakitin cewek! Apa lagi Adel!!" lanjut Daffa menerangkan.
Indra bungkam, dia tadi benar-benar terbawa emosi. Jika terjadi sesuatu pada adiknya itu, Indra tak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
Indra sangat mencemaskan keadaan Adel. Gadis itu selalu saja menyimpan banyak rahasia tentang dirinya. Adel sangat pandai menutupi rasa sakit dan penderitaannya dengan berpura-pura bersikap tenang di depan orang lain, seolah dia tak pernah memiliki masalah apapun.
Tapi Adel tak akan pernah bisa menipu Indra. Indra tau, jika gadis itu tengah menyembunyikan sesuatu yang sangat besar darinya.
Beberapa hari sebelum Indra menemui Adel, sebenarnya dia telah menyuruh orang untuk mengawasi adiknya itu sejak lama. Dan berdasarkan informasi yang Indra dapat, Adel kerap kali menemui seorang dokter, yang setelah Indra cari tau dokter itu bernama Dokter Sherin.
Indra sangat kaget dan setengah tak percaya, setelah mengetahui bahwa Dokter Sherin itu adalah dokter yang menangani penyakit ...
"Kak? Kok bengong?!" Daffa melambaikan tangannya di depan wajah Indra, saat dia melihat lelaki itu hanya diam saja dengan mata yang menatap kosong ke depan.
Indra tersentak kaget lantas menatap Daffa dengan wajah bersalah. Dia sudah membentak lelaki itu tadi, bahkan dengan tidak sopannya, Indra juga telah mencengkram dan berkata kasar pada Daffa.
"Sorry ... tadi gua emosi," ujar Indra dan kembali duduk.
Daffa mengangguk. "Gua ngerti, lo kan kakaknya. Pasti lo khawatir sama Adel," ucap Daffa sembari duduk kembali.
"Hm." Indra mengangguk setuju. "Dari cerita lo, gua jadi bisa nyimpulin, pasti Adel nyebut nama 'Reka' pas lagi mabuk kan?"
"Iya, lo benar. Bukan cuma 'Reka' tapi, dia juga nyebut nama lo sambil nangis."
"Serius?" tanya Indra tak percaya. Ternyata Adel masih mengingatnya dengan baik.
"Iya, tapi yang paling gua gak ngerti itu ... Adel juga nyebut 'pembunuh'.
Deg!
"Gua khawatir jika terjadi sesuatu pada Adel di masa lalunya yang ngebuat dia trauma," lanjut Daffa.
Indra diam, yang dikatakan oleh Daffa memang benar. Jangankan Adel! Indra pun trauma jika mengingat kejadian itu.
"Kak?" panggil Daffa karena sedari tadi Indra hanya bengong.
"Eh ... Sorry, tadi gua ngelamun," jawab Indra.
"Hm." Daffa mengangguk paham. "Kak, apa lo bisa ceritain sama gua tentang masa lalunya Adel dan Reka? Eh ... maksud gua Putra."
"Sorry ... gua gak bisa cerita tentang masa lalu Adel. Kalau gua cerita, bisa-bisa Adel bakal benci sama gua karna udah ikut campur urusannya." Indra tersenyum masam.
"Tapi menurut gua, gak adil buat lo kalau gua gak cerita tentang Putra," lanjut Indra.
Daffa tersenyum senang, meskipun Indra tak mau cerita tentang masa lalu Adel, setidaknya lelaki itu mau memberitahu tentang apa hubungannya Putra dan Adel.
"Jadi, Putra itu siapa nya Adel?" tanya Daffa tak sabaran.
"Putra itu sepupu sekaligus sahabat baik gua sama Adel. Adel dekat banget sama Putra, sama kayak dia dekat sama gua. Waktu kecil, kita bertiga selalu berangkat sekolah bareng, main bareng dan becanda bareng. Yah ... walaupun gua lebih tua dua taun dari mereka sih," ucap Indra terkekeh. "Putra itu ... orangnya baik, dia selalu ada buat Adel. Kalau Adel sakit, dia selalu datang ke rumah buat mastiin Adel minum obat. Adel emang susah banget kalau minum obat, makanya Putra selalu datang buat maksa Adel meminum obatnya. Yah ... walaupun Adel sering ngejailin Putra sih," lanjut Indra terkekeh, dia masih ingat sekali waktu Adel menolak untuk minum obat dan membuat Putra yang malah meminum obatnya.
Daffa sedikit tenang mendengar penjelasan dari Indra, ternyata Putra atau yang dipanggil Adel dengan sebutan Reka itu cuman teman sekaligus sepupunya Adel. Tapi, ada sedikit yang mengganjal di hati Daffa. Indra bilang kalau Adel suka jahil pada Putra? Wah ... sulit untuk dipercaya! Setau Daffa, Adel itu adalah orang yang sangat dingin bukan? Lalu kenapa, dari cerita Indra, sepertinya gadis itu sangat dekat sama Putra? Sampai-sampai dia memanggilnya dengan berbeda. Daffa jadi penasaran, kejahilan apa yang dilakukan Adel pada Putra?.
"Kak," panggil Daffa.
"Hm."
"Lo bilang, Adel suka jail sama Putra kan?"
"Iya, terus?"
"Emangnya jail gimana? Setau gua, Adel itu kan dingin banget."
"Ah ... itu sekarang!"
Indra menghela nafas berat, orang ini, pertanyaannya benar-benar banyak!.
"Dulu sikap Adel gak sedingin yang sekarang." Indra tersenyum saat mengingat sikap Adel yang dulu benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dari yang sekarang. "Adel itu dulunya anak yang periang, suka jail, anaknya juga ramah, banyak yang suka sama dia. Tapi, semua berubah setelah kejadian itu."
Mimik wajah Indra tiba-tiba berubah menjadi lesu saat mengingatnya.
"Kejadian?" beo Daffa. "Kejadian apa?!" tanyanya penasaran.
"Kejadian dimana Adel dicu--"
"Kak Indra!!" potong Adel dengan nada yang tinggi. Dia baru saja sampai dan tanpa sengaja mendengar percakapan Indra dan Daffa. Untung saja Adel datang tepat waktu, jika tidak ... Indra pasti menceritakan semuanya pada Daffa!! Kakaknya ini benar-benar! Mulut Indra benar-benar seperti ember bocor!!.
"Eh Adel? Kapan lo nyampek? Kok cepat banget," ucap Daffa.
Adel menatap tajam Indra, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum manis padanya, seolah tak melakukan kesalahan apapun.
'Senyumnya itu benar-benar menjengkelkan!!' batin Adel kesal.
Adel berjalan menghampiri kedua makhluk yang benar-benar menyebalkan baginya itu. Dia membawa sebuah kantong kresek yang berisi obat-obatan yang baru saja ia beli di apotek terdekat tadi.
"Nih." Adel meletakkan kantong kresek yang berisi obat-obatan itu di sebuah meja yang tepat di depan Indra dan Daffa.
Keduanya melongo, menatap obat-obatan itu penuh tanda tanya.
"Buat apaan?" tanya Indra dengan nada yang mengejek. Sebenarnya dia tau, jika adiknya itu berniat untuk mengobati lukanya dan Daffa, hanya saja dia ingin menggoda adiknya sedikit.
"Obatin luka kalian!" jawab Adel dengan wajah yang memerah menahan malu. Entah kenapa dari dulu, Adel tak tahan jika melihat orang yang terluka karena dirinya.
"Kok merah gitu mukanya?" goda Indra terkekeh.
Adel menatap Indra datar, kakaknya ini benar-benar membuatnya sebal setengah mati!!.
"Dih .. jangan datar-datar amat mukanya Del." Indra terkekeh geli melihat adiknya yang benar-benar terlihat kesal sekarang. "Kamu jelek, kalau mukanya digituin," lanjut Indra dengan mengacak rambut Adel dengan gemas.
Adel hanya diam saat Indra mengacak rambutnya dengan lembut. Baginya itu sudah biasa, lelaki itu dari dulu memang bersikap hangat pada Adel layaknya seorang kakak.
"Lo tetap cantik kok," sahut Daffa.
Adel melirik kedua makhluk itu bergantian. Kedua orang ini benar-benar senang sekali menggodanya!!.
"Bodoh amat!!" ketus Adel.
Daffa dan Indra hanya tertawa melihat reaksi Adel yang sama seperti biasanya.
"Btw kamu gak mau ngobatin luka kita Del?" tanya Indra. "Kan kamu yang bikin kita luka, jadi harus kamu juga dong yang ngobatin kita," lanjutnya lagi.
"Najis!!"
"Hahah ... gua kira lo mau ngobatin kita."
"Cepat obatin luka kalian!!" ucap Adel dengan nada yang dingin.
"Iya, iya!! Entar kita obatin di rumah aja deh, kalau kamu gak mau ngobatin," jawab Indra tak tertarik.
"Serah!"
"Ah ... gua lupa, gua harus cepat pulang nih," ucap Daffa dengan tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Indra.
"Ada urusan kak," jawab Daffa sopan.
Indra mengangguk paham.
"Del." Adel menoleh dan menatap Daffa dengan wajah datar.
"Besok gua jemput ke sekolah," ucap Daffa tersenyum, lalu keluar dari apartemen Adel.
"Cye ... cye dijemput pacar." goda Indra terkekeh.
Adel melirik kakaknya itu dengan jengkel lantas melemparkan bantal sofa pada Indra.
"Makan tuh pacar!!" kesalnya.
"Dasar adek durhaka!!" ucap Indra dramatis.
"Bodoh!!"
Hening.
"Kak Indra?"
"Hm."
"Ngapain lagi ke sini?!"
"Bukannya udah kakak bilang Del? Kamu itu adiknya kakak! Kamu gak boleh main rahasiaan sama kakak!! Kamu fikir itu permainan ha?!" Indra menatap Adel dengan garang.
"Rahasia?"
"Jangan pura-pura bego!! Kamu fikir kakak gak tau?"
Adel menyerngit, apa jangan-jangan Indra sudah tau? Masalah itu.
"Kenapa bengong? Kamu sering ketemu Dokter kan?! Siapa ya nama dokter itu? Ah iya! namanya dokter Sherin."
Deg!
Adel menatap Indra dengan wajah yang memerah menahan marah.
"Kau memata-matai ku?!" tanya Adel dingin.
"Kenapa? Kamu mau marah? Harusnya kakak yang marah sama kamu!! Bisa-bisanya kamu gak ngasi tau kakak, masalah itu!! Bahkan kamu gak ngasi tau kakek juga kan?!"
Adel tertegun.
"Maaf," jawabnya kemudian.
Indra menatap adiknya itu sekilas dan kemudian membawa gadis itu kedalam dekapannya.
"Jangan pernah nyimpan semuanya sendiri lagi. Oke?"
"Iya."
TBC ...
Author cuma mau bilang, maaf gak bisa nepatin janji🙏😿
#Next?