Ice Girl

Ice Girl
part 14



Ice Girls


~Happy Reading💞~


Malam ini adalah malam minggu, malam di mana Adel dan Siska akan bertanding untuk menentukan pemenang dalam lomba memasak. Seperti kesepakatan mereka sebelumnya, yang kalah akan jadi pelayan pribadi si pemenang dalam waktu seminggu.


Adel dan Siska sudah berada di rumah Fani sejak tadi siang. Persahabatan mereka bertiga kian lama kian membaik, walau Adel dan Siska sering berkelahi tentunya.


Sembari menunggu Daffa, Raihan dan Mika yang notabenya sebagai juri, Adel, Siska dan Fani menyiapkan bahan-bahan yang akan mereka gunakan nantinya.


Ding dong ...


Suara bel rumah yang berbunyi begitu nyaring di dengar telinga. Fani, si tuan rumah pun berlari menuju pintu utama, berniat untuk membukakan pintu sebelum pembantunya mencegahnya.


"Biar saya yang bukain pintunya non."


Fani mengangguk setuju, dia kembali ke dapur untuk membantu Adel dan Siska sebelum mereka sempat bertengkar nantinya.


Bi Minah, wanita yang bekerja di rumah Fani sebagai pembantu membukakan pintu rumah dengan tersenyum ramah.


"Temannya non Fani ya?" tanyanya pada tiga orang cowok yang berada di depannya.


"Iya bik, Faninya ada?" Raihan balik bertanya.


"Ada, non Fani lagi di dapur sama teman-temannya."


"Oh, boleh kita masuk bik?"


"Oh iya, silahkan," ucapnya mempersilahkan Raihan dan yang lainnya masuk.


Daffa, Raihan dan Mika memasuki rumah Fani dan langsung menuju ke dapur. Daffa tak menyangka rumah Fani sebesar ini, ternyata anak itu berasal dari keluarga kaya, tapi Fani tampak berpenampilan biasa saja.


"Kalian tidur?!" baru saja sampai, mereka sudah harus berhadapan dengan pertanyaan Adel yang menjengkelkan.


"Yakali, tidur secepat ini!!" jawab Daffa tak tertarik. Adel diam, dia tak menanggapi jawaban dari Daffa sama sekali. Daffa berdecak sebal melihat Adel.


"Oke, karna kita udah datang, gimana kalau langsung kita mulai aja?" Mika yang tadinya diam kini ikut bersuara.


"Gua setuju, nanti keburu larut malam," jawab Fani.


"Yaudah mulai aja, kita nunggu di ruang makan. nah ... lo bedua masak, kalau udah siap tinggal dianterin aja ke meja makan. Tugas kita cuman makan doang!" sebuah sendok melayang dan mendarat mulus di kepala Daffa. Daffa meringgis, dia menoleh untuk mencari pelaku yang baru saja melemparnya.


"Kenapa Del? sakit tau?!" Adel mengedikkan bahunya acuh, sama sekali tak ada rasa bersalah karena melempar Daffa.


"Lo nyebelin!! makanya dilempar sama es batu bego!!" jawab Siska ngegas.


"Lah nyebelin dimananya?"


"Bodoh! cara lo ngomong kayak merintah orang! gua aja naik darah dengernya, apalagi si es batu!"


"Yaudah gua minta maaf kalau gitu."


"A--anu gua mau ngawasi Adel sama Siska aja biar gak ada yang curang," Fani yang tadinya hanya diam kini bersuara. Tidak mungkin kan, jika dia harus menunggu di meja makan dengan para cowok?!.


"Ide bagus, kalau gitu kita tunggu di meja makan ya, koki Adel and Siska. Bye," ucap Mika dan pergi meninggalkan dapur disusul Daffa dan Raihan di belakangnya. "Semoga aja masakannya si cewek aneh enak," lanjutnya lagi dengan suara pelan.


"Kedengaran woy!" ketus Siska yang tak digubris oleh Mika sama sekali.


***


"Silahkan dinikmati," ucap Fani sembari menyajikan masakan Adel yang masih tertutup dengan penutup makanan.


Daffa membuka penutup itu dan memperlihatkan nasi goreng yang masih panas karena baru selesai dimasak.


"Nasi goreng?" tanyanya dengan dahi yang mengerut.


"Makan aja, jangan banyak bacot Daff!" ucap Mika. Mika meraih nasi goreng yang disajikan Fani tadi. Ya, satu orang dapat satu piring. Dia memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya dengan santai. Mika mematung ketika satu sendok nasi itu berhasil dia telan, rasa apa ini?!.


Daffa, Raihan, Fani dan juga Siska dengan kompak menatap Mika penuh tanda tanya. Sedangkan Adel, gadis itu tampak acuh, tak peduli pendapat Mika tentang masakannya, toh tugasnya sudah selesai.


"Gimana Mik? gak enak ya?" tanya Daffa penasaran. Mika tersadar dari lamunannya, dia kembali memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya, tak peduli dengan pertanyaan Daffa sama sekali.


Daffa yang penasaran, mencoba untuk memakan nasi goreng yang ada di depannya. Pantas saja Mika tak mau bicara, rasa nasi goreng buatan Adel enak sekali, berbeda dari yang lain. Daffa tak menyangka, nasi goreng yang tampak biasa-biasa saja, ternyata mempunyai rasa yang sangat luar biasa.


Daffa, Raihan dan Mika memakan nasi goreng itu dengan nikmat, tanpa memperdulikan Fani dan Siska yang menatap mereka dengan aneh.


"Ehem." Adel berdehem guna mencari perhatian ketiga cowok itu. Mereka bertiga dengan kompak menatap Adel dengan cengiran bodohnya.


"Eh? ma-maaf kita keenakan," jawab Raihan jujur.


"Jadi, gimana rasa masakan Adel?" tanya Fani penasaran.


"Iya, gimana? pasti gak enak kan?!" tanya Siska gelisah. Dia tak mau kalah oleh Adel! pokonya gak boleh! Siska tak sudi bila harus jadi pelayan pribadi Adel dalam satu minggu.


"Masakannya enak, pake banget malah," jawab Raihan antusias.


"Baru kali ini gua makan nasi goreng yang rasanya beda kayak gini. Pokonya masakan Adel luar biasa," jawab Mika sembari mengacungkan kedua jempolnya.


"Syirik tanda tak mampu!!" sindir Mika dengan suara pelan, tetapi masih dapat didengar jelas oleh Siska.


"Ck, gua gak syirik! liat aja, masakan gua pasti lebih enak," jawabnya sewot.


"Pendapat lo gimana Daff?" tanya Fani.


"Hm, lumayan lah," jawab Daffa tak tertarik. Padahal mah, Daffa juga makan banyak tadi!.


'Gengsi banget nih orang' batin Adel kesal.


"Oke. Kalau gitu, sekarang gantian ini masakan Siska. Silahkan dicicipi," ucap Fani sembari membagikan 3 piring makanan yang masih tertutup.


Mereka bertiga meraih makanan itu dan membuka penutupnya dengan hati-hati. Sungguh! mereka sangat kaget melihat isinya, mereka tak bisa menebak, jenis makanan apa ini?.


"Ini apaan?!" tanya Daffa dengan dahi yang mengerut.


"Iya yah, kok warna kuahnya ungu sih?!" sambung Raihan.


"Iyekk ... kok gua rada merinding ya liatnya?!" ucap Mika bergidik ngeri.


"Itu namanya soto ayam!!" jawab Siska sewot.


"Hah?! soto?!" tanya mereka dengan kompak.


"Ke--kenapa warnanya bisa jadi warna ungu?!" tanya Daffa gugup. "lo masukin apa aja sih?!" lanjutnya lagi.


"Gua juga gak tau kenapa warnanya bisa jadi gitu. Padahal gua cuman masukin, garam sepuluh sendok, ayam mentah setengah kilo, bumbu-bumbu, sama ... oh iya, gua ingat, gua masukin ubi warna ungu juga, terus telur ayam mentah, penyedap makanan, yang terakhir gua masukin pewarna makanan warna ungu yang gua beli dari supermarket kemarin," jawab Siska panjang lebar.


"Busettt."


"Entah kenapa, gua jadi kenyang seketika," ucap Raihan berbohong.


"Gu--gua gak mau makan sampah!" ucap Mika dramatis.


"Mana bisa gitu woy!! kalian kan juri! cepat makan masakan gua!! kalau enggak tulang kalian gua remukin!!" ucap Siska emosi, dia menatap ketiga orang itu dengan nyalang.


"Lari woy!! jangan mau makan masakan sampah!!" ucap Mika dan berlari dari meja makan, disusul oleh Daffa dan Raihan.


"Woy jangan lari kalian!!" teriak Siska yang tak digubris oleh ketiga makhluk itu.


Siska mendenggus sebal, dia menatap Fani yang masih ada di meja makan bersama dengan Adel yang tengah asik membaca buku sedari tadi.


"Fani?"


"I--iya Sis?"


"Karna ketiga jurinya lagi ngumpet, gimana kalau lo aja yang makan dan nilai masakan gua?!" Siska menatap Fani dengan tersenyum manis, sedangkan yang ditatap sudah gugup setengah mati.


Siska melangkah mendekati Fani dengan tersenyum manis. Fani melangkah mundur saat Siska mencoba mendekatinya dan dengan makanan itu di tangannya. Fani menelan Saliva nya susah payah.


"Kyaaa ... makanan monster!!" teriaknya dan berlari meninggalkan Siska di ruang makan.


Siska mendenggus pasrah, dia menatap Adel yang tengah asik membaca buku. Entah dari mana gadis itu mendapatkan buku itu, entahlah Siska juga tak tau.


"Es batu?"


"Hm," jawab Adel masih fokus dengan bukunya.


"Kenapa lo gak lari?" tanyanya sedih.


"Buat apa?"


"Lo gak takut sama masakan gua?"


"Gak." Siska tersenyum senang saat mendengar jawaban Adel.


"Kalau gitu, coba deh ... lo makan masakan gua, enak loh." goda Siska, dia mengambil sesendok kuah yang dia masak tadi dan memberikannya pada Adel yang masih fokus dengan bukunya.


"Aaa ...," ucapnya sembari meyuapi Adel yang masih fokus dengan bukunya.


Di luar dugaan, Adel memakannya dengan mata yang masih fokus pada buku.


Degh!


Mata Adel membola dan ...


TBC...


Maaf kalau gaje🙏😶


Krisan?


#Next?