
Ice Girls
~Happy Reading💞~
Matanya menatap lekat api unggun yang ada di tengah lingkarang orang-orang. Tatapan mata itu terlihat kosong tetapi penuh arti. Seperti mengingat kenangan yang sangat berarti sekaligus menyakitkan jika mengingatnya lagi.
Rasanya sangat aneh saat Mika memberikan sebuah jagung bakar yang entah dari mana ia dapat pada Adel. Mengingatkan Adel pada sosok seseorang yang cukup ia rindukan.
~Flashback on~
"Wah ...! Kemah di belakang rumah juga seru." Adel kecil menatap api unggun di depannya dengan mata berbinar kagum.
"Gak seburuk yang aku kira! Ini benar-benar menyenangkan!!" lanjutnya lagi mendudukkan diri di rumput. Lalu dengan santai nya berbaring telentang di tanah rerumputan itu.
Mata Adel memandang senang bintang-bintang di langit. Benar-benar indah! Pikirnya kala itu. Ia kemudian memejamkan mata menikmati angin malam yang sejuk.
"Jangan tidur di sini."
Perkataan seseorang itu dapat membuat Adel membuka mata. Lalu tersenyum senang melihat kedatangan anak laki-laki yang sedari tadi ia tunggu.
"Reka?!" seru Adel antusias masi dengan posisi terlentang di tanah.
Putra terkekeh melihat Adel yang begitu bahagia dengan kedatangannya. Anak kecil itu lalu mengulurkan tangannya hendak membantu Adel duduk.
Adel menurut. Ia meraih tangan Putra dan duduk bersamanya di sana. Gadis kecil itu lalu menoleh menatap Putra dengan wajah cemberut.
"Kenapa?" tanya Putra merasa bingung dengan Adel.
"Kenapa lama?! Aku udah nungguin dari tadi." Adel membuang wajah ke samping bersikap seperti layaknya anak kecil yang manja.
"Kalau gak percaya, tanya aja sama Papa! Iya, 'kan Pa?" lanjut Adel sembari memandang Faisal meminta dukungan.
Faisal terkekeh geli melihat putri kecilnya itu. Ia lalu mengangguk kecil menjawab pertanyaan Adel. Dan kembali berkutat pada panggangan. Memanggang ayam bersama Rena di sana.
"Maaf," kata Putra menggaru tengkuknya yang tak gatal. Bocah berumur tujuh tahun itu lalu mengambil sebuah kantong plastik.
"Itu apa?"
"Sebenarnya, aku telat karena ini." Putra mengeluarkan satu jagung bakar dari dalam plastik dan memberikannya pada Adel.
"Jangung bakar?"
"Hm," dehemnya tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih.
"Aku tadi maksa Papa buat beli jagung bakar. Lina kan udah ngajak aku kemah. Jadi aku mau beliin kamu sesuatu. Tapi, aku gak tau mau beli apa. Terus Mama bilang, kalau buat kemah, beli jagung bakar aja. Jadinya aku beli itu deh. Lina gak suka?" lanjut Putra bercerita panjang lebar.
Bocah itu sekarang tengah menatap Adel menunggu tanggapan dari gadis itu.
Dua sudut bibir Adel terangkat menampilkan senyum manis khas miliknya.
"Aku suka, kok! Makasi Reka!" ucapnya kemudian memakan jagung itu dengan lahab. Putra tertawa senang melihat Adel yang menyukai makanan yang ia bawa.
"Oh, iya! Kak Indra mana Lina?"
"Hmm? Kak Indra? Oh, iya! Kak Indra mana ya?"
Adel menoleh kanan-kiri mencari sosok Kakaknya itu. Namun tak menemukan apapun. Ia lalu berjalan ke tempat Faisal dan Rena yang masi asik dengan panggangannya sembari tertawa bersama. Kedua orang itu tampak saling bercanda. Saling mengejek satu sama lain seperti anak kecil.
"Ma, Pa! Liat Kak Indra, gak? Adel kok gak liat ya. Padahal tadi dia ada di sini deh."
"Hm? Indra?" dahi Faisal menyerngit seperti sedang mengingat-ingat. Kemudian ia tersenyum mendapat sebuah ide. Membuat Adel menatapnya was was.
"Papa tau kok Indra di mana!"
"Di mana?"
"Hmm di mana ya? Cium pipi Papa dulu. Baru Papa kasi tau,"
"Jangan! Biar Mama aja yang kasi tau Indra di mana! Tapi kamu harus cium Mama, ya?"
"Hah? Apaan! Kan aku dulu yang minta. Kok kamu ikutan?" kesal Faisal mentap sinis Rena.
"Adel anak kan anakku! Suka-suka aku dong?! Kok kamu yang sewot?!" balas Rena tak mau kalah.
Adel yang melihat pertengkaran sepele kedua orang tuanya itu merasa muak dan memutar bolanya malas.
"Lina."
Mendengar Putra yang memanggil namanya. Adel menoleh dan menatap Putra yang tengah melambaikan tangan itu. Seolah menyuruh untuk datang ke situ. Adel mengganguk paham lalu dengan langkah pelan berjalan ke arah Putra yang ada di dekat tenda. Entah apa yang dilakukan anak itu di sana. Entahlah, Adel juga bingung.
"Kenapa?" tanya Adel sedikit berbisik.
Putra menunjuk-nunjuk ke dalam tenda. Seolah ingin menunjukkan sesuatu di sana. Adel yang penasaran langsung saja menoleh.
Di sana tampak Indra yang tengah berbaring menelangkup sembari bermain ponsel dengan asiknya. Ia bahkan tak sadar jika Adel dan Putra sedang memperhatikannya sekarang.
"Kak Indra?"
"Shut! Jangan berisik," kata Putra dengan suara berbisik sembari menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Kenapa?"
"Emang Kak Indra lagi apa?" tanya Adel balik berbisik di telinga Putra.
"Mau cari tau?" Putra memandang Adel meminta jawaban. Adel mengangguk polos.
"Mau!"
Kedua orang itu kemudian berjalan pelan memasuki tenda dengan Indra di dalamnya. Indra yang tak sadar masi asik dengan ponselnya sembari memasang hanset.
"Siapa Amel?" tanya Adel dengan suara yang cukup keras sehingga membuat Indra tersadar dan langsung saja mematikan panggilan ponselnya.
"Hah? A–Adel, Putra? Se–sejak kapan?" gelagap Indra beringsut duduk menyadari keberadaan dua orang itu.
"Kak Amel? Wah ... sejak kapan kak? Kalian pacaran? Kak Amel anak tari itu 'kan? Kak Indra hebat!!"
Indra menggeleng kuat dengan mata melotot menatap tajam Putra yang berbicara dengan polos itu. Apa anak itu sengaja? Padahal ada Adel di sana!
"Apa?! Pacaran?! Kak Indra pacaran?" kaget Adel tak percaya.
"Eng–enggak, kok! Ki–kita cuma temen."
"Aku bilangin sama Papa! Biar Kak Indra kena marah!"
Adel berlari meninggalkan tenda dengan cepat.
"Pa ...! Kak Indra pacaran!!"
"Adel ...!!"
~Flashback off~
"Lo gak suka jagung bakar?" tanya Mika melihat Adel yang hanya menatap jagung itu sedari tadi. Padahal tangannya sudah sangat pegal sekarang.
Adel tersentak. Ia mendongak menatap Mika datar. Pria itu tersenyum menampilkan wajah tampannya.
"Makasi," kata Adel mengambil alih jagung itu dari tangan Mika.
"Sama-sama!"
Mika kembali mempokuskan diri menatap ke depan. Di sana tampak Riski yang sedang berpidato.
"Jadi, maksud saya mengumpulkan kalian di sini. Ada yang harus saya sampaikan pada kalian semua." Riski berpidato dengan bicara formal layaknya sebagai ketua osis.
"Besok, kita akan melakukan pelatihan. Jadi, buat kalian semua harus mempersiapkan diri dengan baik, ya?!" lanjutnya tersenyum ramah pada semua orang.
"Pelatihan? Pelatihan yang bagaimana?" tanya Raihan yang sedang duduk di dekat Daffa itu.
"Pelatihannya lumayan susah sih. Tapi, tenang aja ada petunjuknya kok!" jawab Riski menjelaskan.
"Kita anggota osis, bakal bagi kalian jadi beberapa kelompok mulai besok. Terus, kalian akan menjalani pelatihan yang bakal kita kasi tahu besok. Udah gitu aja, lumayan gampang kan?"
"Sampai kapan pelatihannya selesai?" kini Mika yang bertanya. Pria itu tengah memakan jagung di tangannya dengan tidak sopannya.
"Sampai malam."
Adel tersentak kaget. Malam? Bukankah itu akan gelap?
"Malam?"
Semua mata terfokus pada Adel yang baru saja berbicara itu. Pasalnya gadis itu sangat popoler. Mereka tak menyangka jika gadis dingin seperti Adel akan tertarik dengan topik pembicaraan ini.
"Iya, malam! Di malam hari, kalian akan dibagi beberapa kelompok dan akan mencari tanda yang sudah kami sebarkan di hutan. Ikuti tanda itu, karna itu akan membimbing kalian ke jalan pulang. Tenang saja, besok kami akan membagikan senter agar kalian bisa melihat dalam kegelapan."
Wajah Adel seketika pucat pasi mendengar penjelasan dari Riski. Ia kemudian menggigit bibir bawahnya gugup. Kebiasaan yang ia lakukan sejak masi kecil jika sedang panik.
Mika yang melihat gadis itu langsung saja menatap Adel khawatir. Tak hanya Mika, ternyata Daffa juga menyadarinya. Sayangnya Daffa sedang tidak duduk di dekat Adel sekarang. Kenapa Mika bisa duduk dekat dengan Adel, ya? Menyebalkan! Pikir Daffa.
"Eitss ... jangan digigit, bodoh! Bibir lo berdarah 'kan!" Mika memegang bibir Adel dengan wajah menyerngit.
Adel mendongak menatap wajah Mika yang sangat dekat dengannya. Gadis itu menelan salivanya gusar.
"Wajah—"
Bugh!
"Jangan keterlaluan!!"
Adel tersentak kaget melihat Mika yang jatuh tersunggur di tanah. Ia lalu mendongak menatap pelaku yang baru saja memukul pria itu.
"Daffa?"
TBC ...
#Next?