
Ice Girls
~Happy Reading~💞
"Tunggu!"
Adel berbalik dan menatap datar tangannya yang dipegang oleh Daffa.
"Wajah lo masi pucet banget," kata Daffa sembari memperhatikan wajah Adel. Tangannya masi senantiasa menggenggam tangan gadis itu. Takut jika Adel akan pergi begitu saja melarikan diri.
Adel tersentak. Ia menoleh dan kemudian menjawab dengan ekspresi datarnya.
"Karena dingin," jawab Adel beralasan.
Daffa menyerngit melihat Adel sedikit bingung.
"Dingin?" tanyanya mengulang perkataan Adel. Gadis itu mengangguk menjawab pertanyaan Daffa.
"Terus, jaket yang gua pinjami tadi siang. Kenapa gak dipakai?" matanya menatap lekat Adel yang hanya mengenakan baju tipis.
"Ketinggalan."
"Hah?"
"Di tenda."
"Oh! Hmmm ... gimana, ya? Gua gak pakai jaket lagi," gumam Daffa memikirkan Adel yang menurutnya kedinginan.
Sebenarnya Adel merasa lucu melihat ekspresi Daffa. Ingin sekali rasanya ia terkekeh, tapi entah kenapa tidak bisa. Lihatlah, pria itu sekarang tengah berpikir keras. Padahal Adel hanya berbohong. Lucu sekali!
"Gak perlu."
Daffa mendongak menatap Adel yang berdiri dan juga tengah menatapnya. Mata keduanya bersitatap selama beberapa detik. Sesaat kemudian, Daffa tersenyum. Menampilkan lesung pipi khas miliknya.
Kedua alis Adel bertaut. Merasa bingung dengan pria itu. Apa yang dipikirkan oleh Daffa sekarang? Pikir Adel sedikit penasaran.
"Kenapa seny—"
Bruk!
Mata Adel melotot kaget saat Daffa menariknya tiba-tiba. Hingga gadis itu terjatuh di tubuh Daffa yang sedang duduk.
Tangan Daffa kemudian memeluk erat Adel. Membuat gadis itu semangkin kaget karenanya. Ini sungguh tidak baik untuk kesehatan jantungnya!
"Apa masi dingin?"
Adel tersentak saat mendengar pertanyaan ambigu dari pria itu. Rupanya begitu, Daffa benar-benar gila! Pikir Adel saat mengetahui maksud pria itu.
"Kenapa diam?" tanya Daffa lagi saat melihat Adel yang tak menjawab.
"...."
"Hah ...! Gua bodoh banget. Mana mungkin, pelukan begini bisa ngilangin rasa dinginnya," kekeh Daffa menyadari kebodohannya.
Ia kemudian melepas pelukannya dan memegang kedua bahu Adel. Ingin melihat wajah gadis itu. Adel yang gugup, hanya bisa menuruti pergerakan Daffa dan memperlihatkan wajahnya dengan jelas.
"Hmm?" heran Daffa.
"Wajah lo gak pucet lagi!" lanjutnya berseru antusias.
"Hah?"
"Tapi, kenapa jadi merah?" Daffa menatap bingung wajah Adel yang tiba-tiba memerah. Tangannya memegang kedua pipi gadis itu. Memperhatikannya lamat-lamat sehingga membuat Adel merasa tak nyaman.
Adel menepis kasar tangan Daffa. Menyingkirkan tangan pria itu dari pipinya.
"I–ini karena udah hangat!" elaknya sedikit gugup sembari membuang wajah ke samping.
Daffa terkekeh melihat ekspresi langka gadis di depannya. Sebenarnya dia paham jika Adel sedang malu sekarang. Hanya saja, mengganggu Adel sangat menyenangkan. Itulah yang dipikirkan Daffa. Bohong, jika ia bilang jantungnya baik-baik saja sekarang. Sungguh! Daffa juga sangat gugup. Tapi, sebisa mungkin ia menutupinya.
"Hangat, ya?" tanya Daffa tertawa kecil.
"Berarti, pelukan gua ada khasiatnya dong? Kalau gitu, sini gua peluk lagi. Supaya lo cepat baikan!"
Adel tersentak kaget mendengar jawaban Daffa. Ia kemudian menatap tajam pria itu.
"Mau mati?!" ketus Adel dengan wajah datarnya.
"Pftt. Hahaha ...!"
"...."
"Gua cuma becanda. Gak usah marah!"
"...."
Melihat Adel yang hanya diam tak menjawab sembari membuang wajahnya ke samping. Membuat Daffa merasa gemas. Ia lalu menusuk-nusuk pelan pipi gadis itu.
"Hei ... lo marah? Gua 'kan cuma becanda. Maaf deh, kalau gua kelewatan."
Adel menoleh membuat pergerakan jari Daffa terhenti di pipinya. Ia lalu menangkap jari telunjuk Daffa dan kemudian membengkokkannya dengan kesal.
Krakk!
"Awss ...!" ringis Daffa menarik kasar jarinya. "Sakit bodoh!" lanjutnya kesal sembari meniup-niup pelan jarinya yang sakit.
Satu sudut bibir Adel terangkat. Menampilkan senyuman smirk di wajah cantiknya.
"Hei, lo marah? Gua cuma becanda. Maaf kalau gua kelewatan."
Daffa melihat Adel bengong. Apa-apaan ini? Gadis itu sangat pendendam rupanya!
"Pfttt. Hahaha ...! Gak cocok! Sama sekali gak cocok! Hahaha mana ada orang yang pftth.. Hahah ... yang ngomong datar begitu. Mi–mirip kaya hahah ... kaya google! Aduh ... perut gua sakit banget!" ucap Daffa tertawa kekeh sembari mengusap air yang keluar di sudut matanya. Ia terus saja tertawa hingga membuat Adel merasa kesal karenanya.
Gadis itu berdiri lantas meninggalkan Daffa begitu saja. Membuat Daffa makin tertawa melihatnya.
****
Hari sudah berganti pagi. Membuat matahari timbul kembali menggantikan sinar bulan di malam hari.
Siswa-siswi SMA Taruna Bangsa yang sedang menjalankan acara kemah. Kini tengah sarapan pagi bersama. Makanannya mereka masak sendiri, ya tentu saja harus mandiri!
Siska, Adel dan Fani tengah duduk di tepi sungai sembari menyantap makanannya masing-masing. Mereka sengaja makan di sini, menghindari keramaian dan menikmati kedamaiian yang ada.
"Fan, kenapa lo masak nasi goreng?" tanya Siska melirik Fani yang tengah mengunyah makanannya.
"Memang kenapa? Adel kan suka nasi goreng, jadi gua masak nasi goreng aja. Lagian, simple sih masaknya." Fani kembali memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya. Manik matanya menatap indah arus sungai di bebatuan. Airnya sangat jernih pikir Fani.
"Ck, giliran makanan kesukaan si Es batu aja. Lo turutin!" ketus Siska.
"Udahlah. Jangan banyak omong! Makan aja, udah syukur gua masakin," kata Fani memutar bola matanya malas.
"Lagian, kalau elo yang masak kan bisa berabe. Bisa-bisa nanti Adel pingsan lagi. Gua masi ingat betul, kejadian waktu Adel makan masakan monster itu," lanjut Fani sedikit bergumam takut jika Siska akan mendengarnya.
"Apa?!"
"Bising!" sahut Adel membuat keduanya terdiam kaku.
"Hah? Lima belas menit? Maksud lo? Gua gak ngerti." Siska menatap Adel yang duduk di sampingnya. Gadis itu masi sibuk menyantap makanannya tanpa peduli dengan Siska.
"Ck! Kalau orang nanya itu dijawab dong! Masa lo cuma—"
"Waktu sarapannya, Sis. Maksud Adel itu cepatan abisin makanannya! Waktunya tinggal lima belas menit lagi. Habis itu, kita kan disuruh baris," potong Fani menjelaskan.
"Lo ngerti maksudnya si Es batu?"
"Iya lah! Emang elo? Yang lemotnya minta ampun."
"Wah, Fan, Fan! Makin lama makin ngelunjak ya?!" kesal Siska menatap Fani yang ada di samping Adel.
"Hahaha ...! Gua cuma becanda." Fani terkekeh kecil.
Adel yang tadinya hanya diam kini berdiri dari duduknya. Membuat Siska dan Fani refleks menatapnya penuh tanya.
"Mau kemana?" kompak keduanya.
"Tenda," jawab Adel singkat.
Kedua orang itu melihat piring di tangan Adel. Rupanya sudah kosong. Adel sudah selesai makan. Karena itu dia ingin pulang ke tenda?
"Lo mau ninggalin kita?"
"Parah! Masa lo mau ninggalin gua sama Fani?!"
"Siapa suruh?" Adel melangkah pergi. "Lambat," lanjutnya berjalan meninggalkan Siska dan Fani yang menatapnya bengong.
"Adel tunggu!" teriak Fani mengejar Adel. Ia baru saja membuang makanannya ke sungai.
"Hei, Fan? Kenapa dibuang?! Mubazir tau?!"
"Biarin, entar juga dimakan ikan," jawab Fani asal.
Siska berdecak kesal mendengar jawabannya. Kemudian gadis itu memakan nasinya yang tinggal satu sendok. Lalu menyusul kepergian Adel dan Fani. Ya, kali? Dia sendiri di tempat sepi ini?!
****
"Eh, coba lihat! Itu mereka!" kata Raihan menunjuk ke arah Adel dengan Siska dan Fani di belakangnya.
Mika dan Daffa yang tadinya sibuk dengan aktifitasnya. Dengan kompak menoleh mengikuti arah telunjuk Raihan.
"Jemput, gih!" kata Mika kembali terfokus pada ponselnya. "Gua males," lanjutnya lagi meminum air kelapa muda yang tadi mereka dapat.
"Lo aja, Han. Adel lagi ngambek sama gua. Entar dia gak mau ikut lagi," sahut Daffa terkekeh.
"Elah! Masa gua? Gua malu woy!"
"Hah? Lo cowok apa cewek, sih?" kesal Mika yang dapat mengundang gelak tawa Daffa.
"Dih, kalau gitu kenapa gak lo aja yang samperin?! Kenapa harus gua?!"
"Oke! Gua yang samperin! Pengecut lo bedua!" Mika berdiri dari duduknya hendak pergi melangkahkan kaki.
"Eii, kenapa jadi gua?" tanya Daffa masi terkekeh geli.
"Lo juga sama! Masa karena Adel ngambek aja takut! Hah! Lo bedua gak pantes jadi cowok!" ketus Mika pergi meninggalkan Daffa dan Raihan begitu saja.
"Wkwkw ...! Memang lelaki sejati." Daffa lagi-lagi tertawa kecil melihat kepergian Mika.
"Ck! Liat aja, palingan entar Adel nolak. Terus Fani gak mau kalau Adel gak mau. Terus habis itu si Siska ikut-ikutan deh. Hahah! Mampus, malu gak tuh?" kata Raihan tertawa senang membayangkan ekspresi malu Mika kelak. Daffa yang mendengarnya ikut tertawa. Kedua orang itu lalu memperhatikan Mika yang sedang bicara dengan ketiga gadis dari kejauhan.
"Eh, tunggu!"
Adel berbalik menatap Mika yang mengejar mereka. Alisnya bertaut seolah bertanya 'kenapa?' pada Mika.
"Mau gabung bareng kita gak?" tanya Mika yang dapat menarik perhatian ketiga gadis di depannya.
"Gabung?"
"Di mana?"
"Gak."
"Astaga Del, kenapa? Lo kesel sama Daffa? Ayolah, kan ada gua! Gak usah liat ke Daffa. Liat ke gua aja," jelas Mika sembari menggoda dengan senyumannya.
Siska dan Fani yang mendengarnya seketika bergidik ngeri. Sepertinya, Mika sudah ketularan penyakit Raihan. Padahal mereka kira, Mika itu cool. Mengecewakan!
"Pede, ya?" kata Adel dingin.
Jleb!
Sepertinya hati Mika sedang tertusuk sesuatu. Kata singkat itu dapat menusuk harga dirinya. Adel benar-benar menyebalkan!
"Sudahlah, jangan banyak cincong! Ayo ikut gua!"
"Gak."
"Oh, ayolah! Kita tadi dapat kelapa muda loh di hutan. Kita buatin buat kalian juga. Makanya ayo ikut gua!"
"Gak tertarik."
"Sama gua juga gak tertarik."
"Kalau Adel gak mau, gua juga gak mau ikut."
Mika berdecak sebal. Ia memegang wajahnya sembari mendongak frustasi. Kenapa perempuan begitu menyebalkan?! Ribet sekali! Inilah yang Mika tak suka!
Raihan dan Daffa menertawakan Mika dari kejauhan. Mereka yakin, kalau pria itu sedang di tolak. Sekalipun percakapannya tak kedengaran. Tapi, mereka bisa menebaknya dari ekspresi Mika.
"Udah 'kan? Kita mau pergi!" kata Siska tersenyum senang melihat penderitaan Mika.
Mika menghela nafas lelah. Ia tak akan menyerah!
"Belum. Gua masi belum selesai!"
"Apa—"
Tap!
Perkataan Adel terpotong saat Mika memegang tangannya tiba-tiba. Daffa yang melihatnya dari kejauhan seketika memasang wajah datar.
"Kalau kalian gak mau diajak secara baik-baik. Gua bakal bawa secara paksa!" kata Mika menampilkan senyuman manis miliknya.
Adel menatap Mika tak suka. Kemudian ia menghela nafas jengah dengan pria di depannya.
"Terserah," jawab Adel pasrah.
"Nah, gitu dong! Nurut!" Mika mengacak lembut Rambut gadis itu. Membuat Daffa lagi-lagi menatapnya dalam diam.
TBC ....
#Next?