
Ice Girls
~ Happy Reading💞 ~
Ding dong ...! ding donggg ...!
Terdengar suara bel rumah yang begitu nyaring. Adel yang tadinya sibuk berkutat pada ponselnya, kini keluar dari kamar dan membuka pintu dengan wajah dinginnya.
"Hay kak," sapa seorang gadis. Ia tersenyum ramah pada Adel.
"Masuk."
Gadis itu menurut, dia memasuki Apartemen Adel. Adel kembali menutup pintu Apartemennya, dia menatap gadis yang tersenyum ramah padanya.
"Duduk!" titah Adel. Gadis itu mengangguk, dia duduk di sofa yang terletak di ruang tamu.
"A--anu kak, kakak ngapain ngajak aku ke sini ya?" tanyanya gugup.
"Pertama-tama gua mau nanya, lo kelas berapa?" tanya Adel.
"Kelas sebelas kak."
"Oh."
"I--iya kak."
"Terus, kenapa lo manggil gua kakak?"
'Emang gua tua apa?!' batin Adel.
"A--anu kak, aku gak tau nama kakak."
"Adel."
"Ok, kak Adel."
"Panggil Adel aja, jangan ditambahin kak! gua gak suka!"
"Ma--maaf kak, eh maksudku Adel."
"Hm, nama lo siapa?"
"Oh iya, aku belum ngenelin diri. Namaku Fania Ratna Sari, panggil Fani aja."
"Fanitia Ratna sari?" tanya Adel dengan dahi yang mengerut.
"Hahaha ... bukan Fanitia Del tapi Fania," ucap Fani dengan terkekeh.
"Oh."
"Wah ... Kamu dingin juga ya Del." Fani tersenyum kikuk.
"Hm. Yang kedua, lo mau jadi teman gua kan?"
"Te--tentu saja," jawabnya antusias.
"Kalau gitu, jangan pernah gunain kata aku sama kamu."
"Kenapa?"
"Nurut aja!"
"Terus, mau pakai kata apa dong?"
"Lo sama gua."
"O--oke."
"Hm."
Hening, tak ada lagi yang bicara, Adel yang sibuk dengan ponselnya sedangkan Fani sedari tadi hanya menatap Adel.
Kruk ... kruk
Adel melirik ke arah Fani, apa Adel tidak salah dengar? Sepertinya dia baru saja mendengar suara aneh.
"Lo laper?" tanya Adel.
"Ah iya, gua tadi gak sempat makan," ucap Fani cengengesan.
"Oh."
'Huaa ... Adel mah gak peka,' batin Fani.
Adel berdiri dari duduknya, dia melangkah masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan Fani yang masih ada di ruang tamu.
"Loh kok gua ditinggal sih?!" ucap Fani kesal.
Sesaat kemudian Adel datang dengan membawa dress berwarna pink di tangannya. Dia menghampiri Fani dan memberikan dress itu pada Fani.
"Nih," ucap Adel sembari memberi dress pada Fani. Fani mengerutkan dahinya bingung, berbicara dengan Adel benar-benar mengasah otaknya.
"Ini buat apa?" tanya Fani bingung.
"Cepat pakai!"
"Di sini?"
"Di kamar gua, cepatan gak pake lama!"
"O--oke," ucap Fani. Walaupun Fani tak mengerti maksud Adel, tapi dia hanya menurut saja.
Sesaat kemudian Fani keluar dengan memakai dress yang diberikan Adel tadi, dia terlihat cantik dengan dress itu.
'Ck, masih keliatan cupunya,' batin Adel.
"Sekarang apa lagi?" tanya Fani. Ia masih saja belum mengerti dengan maksud Adel.
"Ikut gua," ucap Adel dan pergi memasuki kamarnya. Fani menurut, dia mengikuti Adel dan masuk ke kamar gadis itu.
"Duduk!" titah Adel. Fani mengerutkan dahinya, apa Adel menyuruhnya duduk di kursi meja rias ini? Tapi untuk apa? Ah Fani bingung sekali, dia benar-benar tak mengerti dengan Adel. Mau tak mau Fani hanya menurut saja, dia duduk di kursi itu dengan hati-hati.
Adel mencopot gelang rambut Fani dan membiarkan Rambut gadis itu tergerai. Adel menyisir Rambut Fani dengan lembut dan hati-hati. Sekarang rambut Fani lebih indah dan rapi dari sebelumnya.
Selanjutnya Adel merias wajah Fani dengan cekatan. Dia memberikan sedikit bedak pada wajah Fani dan memakaikan lipstik di bibir munggilnya.
Selesai, hanya dengan make up tipis saja sudah membuat Fani cantik dan tak terlihat cupu lagi. Adel cukup kaget melihat perubahan Fani, gadis itu benar-benar berubah, dia tak terlihat cupu lagi.
"Adel, itu siapa?" tanya Fani sembari menunjuk cermin yang ada di depannya.
"Menurut lo?" Adel balik bertanya. Dia kesal melihat Fani, masa wajah sendiri gak kenal.
"Itu gua ya?" tanya Fani lagi. Dia benar-benar tak menyangka ternyata wajahnya cantik juga.
"Yakali hantu!" jawab Adel tak tertarik.
"Wah ... gua cantik banget," ucap Fani takjub.
"Hm."
"Tapi, kenapa lo rias gua? Gua kan bilang laper bukan mau make over," kata Fani bingung. Adel berdecak kesal, ternyata Fani belum mengerti juga.
"Lo kan laper, kebetulan gua juga belom makan dan gak ada makanan." Adel menjeda ucapannya, berbicara panjang lebar memang melelahkan.
"Terus?" tanya Fani tak sabaran.
"Kita makan di cafe aja," lanjut Adel.
"Terus kenapa lo make over gua?" tanya Fani bingung, dia masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud dengan Adel.
'Ck, lelet banget nih orang' batin Adel.
"Karna kalau gua gak make over lo, nanti lo kena bully lagi, gua gak mau teman gua dibully sama orang!" ucap Adel panjang lebar.
Baru kali ini Adel mau bicara sepanjang ini, biasanya saja dia tak peduli dengan orang lain, tapi kenapa dengan Fani beda? Entahlah Adel juga tak mengerti. Saat melihat wajah polos Fani dapat membuat Adel teringat pada masalalunya. Sehingga dia tak tega jika ada yang menyakiti hati gadis itu.
"K--kenapa lo nangis?" tanya Adel gugup. Apa Adel berbuat salah? Adel rasa tidak, tapi kenapa Fani menangis? Ah buat apa juga Adel peduli, toh mereka baru kenal.
Fani memeluk Adel erat, dia menangis di dalam pelukan Adel. Adel yang kaget karena tiba-tiba dipeluk, hanya diam tak berkutik.
"Ma--makasih lo udah peduli sama gua, lo orang pertama yang peduli sama gua. Bahkan mama sama papa aja gak peduli," ucap Fani sedih.
Sepertinya, Fani juga sama seperti Adel. Hanya saja dia sering tersenyum dan ramah, walau kerap kali dia sering dibully oleh teman-temannya. Adel membalas pelukan Fani dengan hangat.
"Hm. Awas make up lo luntur," ucap Adel sembari mengusap punggung Fani. Fani tertawa, dia melepas pelukannya.
"Hahahah ... benar juga. Kita kan mau pergi," ucap Fani, dia tersenyum manis seperti biasanya.
"Hm. Ayo pergi, gua juga laper."
"Ayo," jawab Fani semangat.
Baru saja mereka ingin melangkah, Adel dengan tidak sengaja melihat kaki Fani yang hanya menggunakan sandal.
"Lo gak pake sepatu?"
"Hehe enggak," jawabnya cengengesan.
"Nih pakai sepatu gua!" ucap Adel sembari memberikan high heels berwarna pink. Fani menerimanya dengan senang.
"Makas---" ucapnya terpotong kala Adel sudah keluar dari rumah dan meninggalkannya. Adel memang sudah rapi sebelum Fani datang ke apartemennya. Sehingga dia tak perlu untuk bersiap-siap lagi, seperti biasa Adel selalu perfect.
"Adel tungguin." Fani berlari mengejar Adel.
****
Daffa dan Raihan berdecak kesal saat melihat Haykal dan Shinta yang bermesraan.
"Woy, udah dong! Lo pikir cuman lo bedua di sini ha?! Kita juga ada kali!" ketus Raihan.
"Jomblo mah syirik," sindir Shinta.
"Jomblo diam aja!" ketus Haykal.
Raihan jadi tambah kesal dibuat sepasang kekasih ini.
"Sabar Han, sabar!" Daffa mengusap punggung Raihan.
"Lo gak kesal Daff?" tanya Raihan.
"Kesel sih, tapi gua bisa apa," jawab Daffa lesu.
Mereka tertawa mendengar perkataan Daffa.
"Huh ... tau gini, gua gak mau datang," kesal Raihan.
"Tau tuh, malah si Mika sama si Riski gak datang lagi!" sambung Daffa kesal.
"Iya, si Naya juga gak datang!" sambung Raihan.
"Gua jadi curiga nih, jangan-jangan mereka pacaran lagi?" tebak Daffa. "Soalnya mereka kompaan gak datang," sambungnya lagi.
"Gak mungkinlah Daff. Tapi, kalau si Riski sama Naya sih bisa jadi ya," ucap Raihan.
"Loh, kalau Mika gimana?" tanya Daffa.
"Oh, kalau dia mah gak dateng karna sakit, tadi dia nelpon gua."
"Oh gitu."
"Yaelah ... gini nih orang jomblo, takut aja temannya dapat pacar. Makanya lo bedua cari pacar sono," ucap Haykal yang diangguki oleh Shinta.
"Ck, gua doain putus mampos lo!" ketus Raihan.
"Makanya jagan jomblo!" sindir Shinta.
"Kita yang jomblo malah lo yang sewot, iya gak Daff?"
"Gua sih gak jomblo," kata Daffa santai.
"Hah?!"
"Gua udah punya gebetan, gebetan gua Adel," ucap Daffa senang.
"Ck, masih gebetan juga, lagian gak bakalan mau Adel sama lo!" ucap Raihan terkekeh.
"Ngomong-ngomong soal Adel, bukannya itu Adel ya?" ucap Shinta sembari menunjuk pintu cafe. Ya, mereka sekarang ada di cafe.
"Oh iya, itu Adel. Yes ... berarti kita jodoh."
"Tapi, yang sama Adel itu siapa?" tanya Haykal.
"Wah ... cantik bener, sip ... Ini pasti jodoh gua," ucap Raihan semangat.
"Ck, main jodoh-jodoh aja! belom tentu juga mereka mau sama kalian!" ketus Shinta sinis.
"Syirik lo! Gua samperin ah ... kali jodoh," ucap Raihan dan hendak berdiri dari kursinya.
"Eh, tunggu Han! Mereka belom duduk tau! Tunggu duduk dulu napa, kasian tuh Adel pasti capek." Daffa menahan tangan Raihan.
"Oke gua tunggu," ucapnya kesal.
***
"Del, kita duduk di mana?" tanya Fani
"Paling pojok."
"O--oke."
Adel dan Fani duduk di meja yang paling pojok, tak berapa lama kemudian pelayan datang dan menanyakan pesanan.
"Mau pesan apa dek?" tanya pelayan itu.
"Nasi goreng," jawab Adel dingin.
"Minumnya?"
"Jus jeruk."
"O--oke," ucap palayan itu gugup, baru kali ini dia mendapat pelanggan yang dingin seperti Adel.
"Kalau adik yang ini, mau pesan apa?" tanya pelayan itu pada Fani.
"Samain aja mbak," jawab Fani ramah.
"Oke, tunggu sebentar ya." Pelayan itu dan pergi meninggalkan Adel dan Fani.
***
"Daff ... sekarang udah boleh belom?" tanya Raihan tak sabar.
"Belom."
"Ah lama ... gua gak sabar nih. Gua samperin aja lah," ucap Raihan dan berjalan menghampiri meja Adel dan Fani. Daffa yang sadar langsung saja menyusul Raihan.
"Woy Han! Tungguin gua lah, gua juga mau ketemu Adel tau!" teriak Daffa dan pergi menyusul Raihan.
"Eh ... kok kita ditinggalin sih! Kita juga mau ikut dong," ucap Haykal dan menarik tangan Shinta untuk menyusul Raihan dan Daffa.
TBC ....
Maaf udah lama gak up, soalnya lagi sibuk ehehhe 😪 sebagai gantinya hari ini part-nya lebih panjang🤙
Krisannya kak?
#Next?