
#Ice_Girls
#Part_25
~Happy readingš~
"Siska?" Mika menantap bengong gadis di depannya. Apa dia salah orang?
Dress biru navy di atas lutut itu terlihat cocok di tubuh langsing nya. Sepatu high heels yang ia kenakan dapat menampilkan kaki jenjang nan mulusnya dengan sangat indah. Rambut pendek hitamnya digerai bergelombang. Polesan make up tipis di wajah nya benar-benar cantik.
Semuanya dikombinasikan secara sempurna. Membuat penampilan Siska terlihat seperti boneka hidup yang menggemaskan.
"Cantik." tiba-tiba saja kata itu terucap keluar dari mulut Mika tanpa ia sadari.
Siska yang mendengarnya seketika berlagak sombong. Sudah ia duga, pria di depannya ini pasti akan terpesona melihat penampilannya yang cantik.
"Hah! Kan udah gua bilang, gua itu cantik! Terpesona kan lo?!" sindir Siska tertawa geli. Ia jadi merasa bersalah karena terlalu cantik hingga membuat Mika tak bisa mengedipkan mata.
"Huek ...!" Mika berpura-pura muntah mendengar perkataan yang menurutnya menjijikan itu.
"Siapa yang terpesona sama elo? Yang gua bilang 'cantik' itu gaun yang lo pakai! Bukannya lo!!" elak Mika beralasan.
"Kalau elo nya mah, mirip topeng monyet!! Noh, yang dipinggir jalan!" lanjutnya lagi sembari menunjuk ke arah jalan.
"Dih ... yaudah! Kalau gitu, lo mintak aja sama nih gaun buat jadi pacar boongan lo! Gua gak sudi!!"
"Mana bisa gitu, kan lo udah janji!!"
"Hufftt ...!" Siska menggembungkan pipinya kesal dengan fakta itu. Hal itu membuat dirinya terlihat sangat imut saat ini.
Mika memalingkan wajah tak tahan melihat ekspresi imut Siska. Sesaat kemudian, ia kembali menatap gadis itu dengan wajah datar.
"Wajah lo biasa aja! Gak usah digitu-gituin!!"
"Lah? Kenapa?! Ada masalah sama lo? Wajah-wajah gua! Pipi-pipi gua! Ya, suka-suka gua, dong? Kenapa malah elonya yang sewot?!"
"Ya, iyalah gua sewot! Mana mau gua punya pacar yang kelakuannya mirip kodok! Sekalipun kita cuma pacar boongan. Gua malu, tau?!"
Siska menampilkan senyum jengkel mendengar hinaan Mika. Ia melangkahkan kaki berjalan ke arah pria itu. Berniaat untuk menonjok wajah menyebalkan Mika.
"Kyaaa ...!"
Baru saja Siska berjalan beberapa langkah. Kakinya sudah terkilir karna tak biasa memakai sepatu dengan hak tinggi.
Tap!
Beruntung Mika dengan sigap menangkap tubuh gadis itu.
"Apaan sih?! Kalau jalan hati-hati dong!" sungut Mika segera mendudukkan gadis itu di kursi tempatnya duduk tadi.
"Ck, ini juga karna elo!" protes Siska tak terima disalahkan.
"Awwsss ... Akhh! Sakit kampret! Ngapain lo pegang!!" Siska memukul tangan Mika yang membolak-balik kakinya itu dengan tak berperasaannya.
"Gua cuma mau ngecek kaki lo doang! Gak usah ngegas!"
"Siapa yang gak ngegas kalauā"
"Aaaaa ...!!!" jerit Siska kala Mika membengkokkan kakinya tiba-tiba.
"Elah! Lebay banget! Seberapa sakit sih?!" ledek Mika dengan mata yang terfokus pada kaki gadis itu. Tangannya terus saja memijat lembut pergelangan kaki Siska.
"...."
'Tumben gak recok lagi nih cewek,' batin Mika heran kala tak mendengar suara Siska lagi.
Ia kemudian mendongak menatap Siska yang duduk di kursi atas. Gadis itu tengah menunduk dengan bahu yang bergetar. Mika menyerngit bingung dan memutuskan untuk bertanya.
"Lo gakā"
"Hiks ... sakit tau! hiks ... kaki gua sakit banget! Gua gak selebay yang lo bayangin! Hiks ... kenapa juga gua harus pakai yang begituan! Gua gak biasa! Kaki gua sakit! Awas aja kalau gua ... hiks, gak bisa jalan! Hiks, lo bakal gua abisin!!" bentak Siska dengan derai air mata.
Sungguh, dia juga tak ingin menangis. Entah, kenapa air matanya tiba-tiba keluar begitu saja. Siska juga tak mau dibilang lemah!! Dia tak selemah itu! Tapi pria di depannya ini benar-benar ....
"Lo naānangis?"
"Gak! Gua ketawa! Puas lo?! Hiks, lo buta ya?!"
"Maaf deh, gua emang keterlaluan."
'Sabar,' batin Mika.
"Iya, gua brengsek."
"Bajingan juga!"
"Iya, gua bajingan."
"Jutek! Nyebelin! Gak tau diri! Jahat! Gak punya perasaan! Sukanya ngejek orang! Kalau diejek balik malah marah!"
'Lah? Kok jadi ngelantur.'
"Maki aja sepuas lo, gua ikhlas. Nabung pahala dari lo emang gampang," kekehnya.
"Brengsek!"
Mika tertawa geli melihat sisi lain dari Siska. Ia pikir gadis itu kuat. Ternyata dia juga perempuan yang bisa menangis kapan saja.
"Udah jangan nangis lagi, entar make up lo luntur."
"Gua gak nangis!"
"Lah? Yang tadi apa?"
"Gua cuma ngeluarin air mata doang! Bukan nangis!"
"Pftt .... Hahaha! Apa-apaan itu?!"
Siska menghapus air matanya kemudian ikut tertawa dengan Mika. Berpikir dirinya sedikit konyol.
"Yaudah, ayo ke rumah gua. Ortu gua dari tadi nelpon mulu."
"Iya," jawab Siska berdiri dari duduknya namun beberapa saat kemudian ia terjatuh dan duduk kembali.
"Lo bodoh atau gimana sih?! Udah tau kaki keseleo, masi aja dipaksa jalan!" kesal Mika melihat kebodohan Siska.
"Lo yang bodoh! Kalau gak jalan, gua mau naik apa lagi sampek ke mobil ha?! Gak mungkin kan elo bawa mobilnya masuk ke dalam salon!"
"Bodoh."
"Gua gak bodā"
"Kyaaa ...!" jerit Siska kala Mika mengendong tubuh nya dengan tiba-tiba.
"Biar gua yang gendong sampai mobil. Lo diem! Jangan teriak-teriak! Sempet lo berontak, langsung gua lepasin! Biar lo jatuh. Mau lo?" Siska menggelengkan kepalanya tak mau dijatuhkan oleh Mika.
"Bagus."
Setelah mengatakan itu Mika berjalan keluar dengan menggendong Siska ala bridal stayle. Membuat kedua orang itu menjadi perhatian orang-orang yang ada di salon.
***
"Gua ingetin sekali lagi. Lo harus akting pura-pura akur sama gua. Biar kita keliatan kaya pacar beneran," kata Mika mengingatkan sembari menunduk menatap Siska yang masi ada di gendongannya.
Kedua orang itu baru saja sampai di depan rumah Mika. Mika kembali menggendong gadis itu keluar dari mobilnya. Hingga kini sampai di depan pintu rumahnya. Sebelum menekan bel, Mika tak lupa untuk mengingatkan tugas gadis itu lagi.
"Kamu gak usah panik sayang, aku jago akting kok!"
Mika mengerutkan dahinya merasa ambigu dengan perkataan gadis itu.
"Sayang?"
"Iya, sayang. Kata lo, kita harus pura-pura akrab kan? Nah, gua liat di film-film kalau orang pacaran biasanya manggil sayang gitu. Gimana, bagus kan ide gua? Biar kita keliatan mesra gitu," jelas Siska menatap wajah Mika dengan mendongak.
"Hmmm ... bener sih, bagus juga ide lo!" Mika menundukkan wajahnya menatap Siska dengan senyum manisnya.
"Aku pintar kan sayang? Muach ...!" Siska mengecupkan bibirnya di udara berusaha mendalami karakter gadis centil.
Seketika Mika menatapnya dengan wajah datar tanpa minat.
"Gua jatuhin juga lo lama-lama!" geramnya hendak melepaskan Siska supaya jatuh dan membuat otak gadis itu kembali berfungsi.
TBC ....
Komenlah capek ngetiknya(ā„ļ¹ā„)
#Next?