
Ice Girls
~Happy Reading💞~
Di dalam bus yang sedang dalam keadaan berjalan itu, orang-orang bersorak riang sembari bersenda gurau bersama. Semuanya tampak menikmati perjalanan menuju hutan dengan semangatnya.
Berbeda dengan mereka, Adel tampak menatap suram ke luar jendela. Hanya satu yang ia pikirkan sekarang. Apa dia akan baik-baik saja? Menghadapi trauma yang selama ini ia hindari. Sangatlah butuh kekuatan hati yang cukup.
"Hah ...!" Adel menghela nafas jengah dengan dirinya sendiri. Padahal ia tahu, kalau ia masi trauma dengan Hutan. Tapi, kenapa dia minta ikut, ya? Sampai-sampai Adel mengancam jika Indra tak mengizinkannya ia akan melompat dari mobil.
Semuanya Adel lakukan demi orang-orang ini. Siapa lagi? Kalau bukan teman-temannya. Ia tak mau membuat temannya sampai kecewa. Teman? Entahlah, Adel juga bingung. Sejak kapan mereka berteman? Ck, lucu sekali! Adel tak menyangka jika ia punya perasaan begitu pada mereka.
'Gua udah gila,' batin Adel lagi-lagi menghela nafas sembari menatap datar jalanan.
"Lo kenapa sih?! Dari tadi hela nafas mulu!" ketus Siska melihat Adel dengan wajah kesal.
Adel tersentak lalu menatap gadis di depannya dengan dingin. Rupanya dari tadi si cewek jadi-jadian ini menatapnya sampai-sampai menoleh ke belakang. Padahal Siska duduk dengan Mika tepat di depan kursi Adel.
"Bukan urusan lo."
Setelah mengatakan kata itu dengan ekspresi dingin, Adel kembali menatap ke luar jendela.
Siska berdecak sebal melihat reaksi gadis itu. Padahal ia sedang bosan dan ingin mengajak Adel mengobrol. Sudah ia duga, hal itu tak akan pernah terjadi. Memangnya siapa yang mengobrol dengan tembok es?!
"Menyebalkan!" umpat Siska membuang wajah lantas kembali duduk di kursinya.
Ia meraih camilan yang ada di dekat Mika dan memakannya dengan kesal. Setidaknya, camilan ini bisa menghilangkan rasa bosannya. Yah, Snack memang yang terbaik!
"Awas gendut! Dari tadi, gua liat lo nyemil mulu. Gak takut gemuk, lo?!" sindir Mika dengan wajah menyebalkan nya.
Siska menatapnya sinis. Kemudian menjawab dengan nada ketus.
"Bodoh amat!!"
"Pftthahah ...! Gua cuma bercanda," kekeh Mika melihat Siska yang tampak kesal.
Siska hanya diam tak menggubris perkataan pria di sampingnya. Ia tetap memakan camilannya sembari memperhatikan Fani yang ada di kursi depan di samping barisan nya. Gadis itu terlihat sangat riang berbincang dengan Raihan. Huh ... harusnya dari awal Siska duduk dengan Fani saja! Ini semua karena Raihan! Jika saja pria itu tak merengek memaksa Siska untuk pindah. Siska tak akan mau duduk dengan makhluk menyebalkan ini.
"Adel."
Adel menoleh menatap Mika yang baru saja memanggilnya. Tak hanya Adel, Daffa juga ikut menoleh melihat Mika dengan wajah aneh. Kenapa pria itu memanggil Adel? Pikir Daffa heran.
Satu alis Adel terangkat seolah bertanya 'apa?' pada Mika. Mika yang mengerti langsung saja menjawab.
"Mau camilan?" tanya Mika menawarkan sebuah Silverqueen di tangannya.
Bukan apa-apa, Mika hanya ingin menghibur gadis itu. Sedari tadi ia perhatikan, Adel hanya diam menatap jalanan dengan wajah yang sulit untuk diartikan. Mika pikir mungkin Adel punya masalah? Oleh karena itu juga, tadi dia terlambat datang? Entahlah, apapun itu Mika hanya ingin menghiburnya sebagai teman. Apa ia salah?
Kedua alis Adel berkedut. Ia menatap Mika sedikit bingung. Kemudian menggelengkan kepala menolak tawaran pria itu.
"Oh? Yaudah kalau gitu," ucap Mika membuka Silverqueen di tangannya dan memakannya dengan kesal.
Ck, padahal ia berniat baik. Siska benar! Adel benar-benar menyebalkan. Mika setuju dengan itu. Mika kembali membalikkan badan dan duduk di kursinya seperti semula.
"Pfft. Hahaha!"
Daffa yang sedari tadi memperhatikan kini tertawa dengan pecah. Sebenarnya, ia sudah menahannya tapi, tetap saja tidak bisa.
"Kenapa ketawa?" tanya Adel melirik heran Daffa.
"Eh? Enggak, kok! Heheh," jawabnya cengengesan.
"Hm," dehem Adel berbalik ingin menatap jalanan dari jendela lagi. Namun, pergerakannya terhenti kala Daffa menepuk bahunya pelan.
"Mau camilan?"
Daffa mengangkat camilan yang sama seperti yang ditawarkan Mika sebelumnya. Adel menatapnya heran. Kemudian menggelengkan kepala menjawab hal yang sama seperti Mika tadi.
"Yakin?"
"Gua gak ma—"
Belum sempat ia meneruskan ucapannya. Daffa sudah menyumpalkan camilan itu lebih dulu ke dalam mulut Adel. Mau tak mau Adel akhirnya menggigit dan memakan snack yang diberikan Daffa.
"Gimana? Enak?" tanya Daffa tersenyum menampilkan lesung pipi manis miliknya.
Adel memutar bola matanya malas melihat kelakuan Daffa. Ia kemudian mengangguk menjawab pertanyaan pria itu.
"Iya, enak."
"Hehehe," kekeh Daffa tertawa kecil.
"Ck, giliran gua aja gak dimakan! Eh, kalau Daffa yang ngasi langsung lo makan," sahut Mika mencibir.
Kedua orang itu menoleh menatap Mika yang tengah memasang wajah kesal. Rupanya pria itu melihat Adel yang memakan camilan dari Daffa tadi.
"Syirik lo!" ketus Daffa.
"Ck! Najiss!"
Daffa lagi-lagi tertawa melihat reaksi Mika yang menurutnya menyenangkan itu.
"Mika."
Mika menoleh menatap Adel tertegun.
"Lo manggil gua?" tanyanya tak percaya. Adel mengangguk menjawab pertanyaan Mika.
"Camilan?" Adel menyodorkan Silverqueen yang tadinya sempat ia gigit. Silverqueen pemberian Daffa.
"Boleh kok! Gua mau," jawab Mika berdiri dari duduknya. Ia melangkah ingin mengambil Snack itu dari tangan Adel.
Tap!
"Nyam! Hmm ... enak!!" kata Daffa baru saja membelokkan tangan Adel hingga Snack itu berakhir di mulutnya.
Adel dan Mika menatap bengong Daffa. Cepat sekali! Mereka cukup kaget dengan pergerakan lelaki itu. Terlebih Adel! Ia memandangi tangannya yang terulur seperti sedang menyuapi Daffa sekarang.
Dengan cepat Adel menarik tangannya kembali dan refleks memasukkan sisa Silverqueen itu ke mulutnya.
"Apaan sih?!" kesal Mika.
"Itukan punya gua! Kenapa lo yang
makan?" Mika menatap sinis Daffa.
"Lagian, lo juga Del, kenapa makan bekas Daffa?! Lo gak jijik?!" lanjut Mika mengomel sembari menatap kesal kedua orang di depannya.
"Gua yang harusnya nanya begitu! Kenapa lo mau makan bekas nya Adel?!"
"Lah? Orang Adel nya yang ngasi sama gua!"
"Iya, makanya itu! Kenapa lo ma—"
"Apaan sih ribut-ribut?!" potong Siska dari balik kursinya.
Kedua orang itu terdiam. Mendengar mereka yang diam, Siska tak jadi mengomel dan melanjutkan aktifitasnya. Apalagi? Tentu saja ngemil!
"Tapi gua bingung, kenapa Adel mau makan bekas lo?" kini Mika berbicara dengan nada rendah. Tak ingin sampai Siska mengamuk lagi.
"Mana gua tau. Tanya aja sama orangnya." Daffa tersenyum remeh lalu mengedikkan bahunya acuh.
"Adel lo—"
Perkataan Mika terhenti kala melihat Adel yang tidur dengan wajah memerah. Sepertinya gadis itu hanya pura-pura. Mana mungkin, orang tertidur secepat itu? Apa lagi mata Adel berkedip!
Mika menatap Adel datar. Sedangkan, Daffa? Pria itu terkekeh kecil melihat reaksi Adel. Ia tahu kalau gadis itu tengah berpura-pura sekarang. Lucu sekali!
Tangan Mika terulur ingin menusuk pipi gadis itu. Berniat membangunkan Adel yang tengah berpura-pura. Namun, dengan cepat Daffa menahan tangannya dan menggeleng kuat.
"Biarin aja!" bisik Daffa yang dapat membuat Mika mau tak mau mengangguk dan kembali ke kursinya.
Daffa membuka jaket yang ia kenakan. Kemudian meletakkannya di atas tubuh Adel seolah membuat itu jadi selimut. Lalu Daffa mengeluarkan ponselnya dan memasang handset ke telinganya. Mendengarkan lagu sembari bermain ponsel sangatlah menyenangkan!
***
"Ada urusan apa? Sampai Mama pulang ke Indonesia?!" Indra melirik sinis wanita di depannya.
Rena tersenyum ramah menatap putra satu-satunya itu.
"Mama kangen sama kamu."
"Kangen?" tanya Indra mengulang kata itu sembari menampilkan senyum remehnya.
"Kenapa kamu begini sama Mama?!" Rena berteriak tepat di depan wajah Indra. Membuat lelaki itu memejamkan matanya kaget.
Indra memalingkan wajah. Menampilkan senyum smirk khas miliknya.
"Kenapa?" Suaranya terdengar bergetar.
"Harusnya Indra yang tanya begitu!" lanjutnya dengan nada tinggi. "Kenapa Mama gak pernah tanya kabar Adel? Kenapa Ma? Kenapa?!"
Rena terdiam tak mampu menjawab kata-kata yang dilontarkan anaknya. Ia kemudian berbalik hendak keluar dan meninggalkan Indra di ruangan itu.
"Kenapa Mama selalu menghindar?"
Langkah Rena terhenti. Ia kembali mendengarkan kata putranya tanpa berbalik.
"Setiap Indra bahas tentang Adel, Mama selalu aja menghindar! Mama ... gak tau 'kan?" tanya Indra dengan suara bergetar menahan tangis. Matanya memerah dengan air mata yang sudah ingin hampir jatuh.
Rena akhirnya berbalik dengan langkah berat. Ia menatap Indra dengan wajah yang sulit untuk diartikan.
"Apa maksudmu gak tau?" tanya Rena merasa ambigu dengan kata-kata putranya. Jarang sekali ia melihat Indra menunjukkan sisi lemahnya begini.
"Adel ... hiks, dia." Indra tidak kuat lagi menahan semuanya. Akhirnya air mata pria itu menetes dengan sendirinya.
"Dia?" sambung Rena dengan dahi yang mengerut. Perasaannya mulai was-was sekarang.
"Adel kenapa?! Dia kenapa, Indra?! Jawab Mama!!" teriaknya menggoncang tubuh Indra dengan kasar.
Indra menepis kasar tangan sang Ibu. Menatap Rena dengan perasaaan yang campur aduk.
"Adel sakit, Ma! Puas?!" jawabnya berteriak dengan air mata yang tak hentinya mengalir.
Deg!
Rena terduduk lemas di lantai. Lantas menatap kosong ke depan.
"Adel? Sakit?"
TBC ....
Part panjang💔
#Next?