Ice Girl

Ice Girl
part 47



Jangan jadi pembaca gelap!👀😾


Ice Girls


~Happy Reading💞~


Siska menelan salivanya gusar kala Adel tak kunjung bangun. Kenapa gadis ini tidak menjawab? Bibirnya tampak pucat. Apa mungkin Adel sudah ....


"Lo mati?" tanya Siska blak-blakan. Gadis itu bahkan menatap Adel dengan lekat.


"Ck, gua masih hidup."


Siska terperanjat kaget saat Adel mengangkat kepalanya tiba-tiba. Mata gadis itu melirik tajam ke arahnya. Membuat Siska menampilkan cengiran tanpa dosa.


"Sans dong! Gua mana tau kalau lo masi hidup," kelakarnya tertawa kecil melihat ekspresi Adel yang serius.


"Lagian dari tadi gua panggil, lo gak nyaut-nyaut sih!" lanjutnya sedikit kesal mengingat hal tersebut.


Adel menatap Siska datar. Sama sekali tidak tertarik dengan omelan gadis itu. Sebenarnya ia sudah bangun lebih dulu daripada Siska tadi. Namun, beberapa saat yang lalu seseorang masuk ke dalam ruangan ini. Refleks Adel kembali pura-pura pingsan hingga pada saat orang itu keluar dan gadis menyebalkan di sampingnya ini membangunkan Adel.


"Lo kok diam aja sih?!"


"...."


"Es batu, jawab dong!"


"...."


Siska berdecak sebal melihat Adel yang terus mengabaikan dirinya. Padahal dia ingin bertanya kenapa mereka bisa ada di sini. Dan mengapa juga mereka diikat? Yang lebih membuat Siska penasaran lagi. Ada di mana Fani sekarang? Bukankah, tadi gadis itu ada bersama mereka. Apa yang terjadi? Ukh ... kepala Siska jadi tambah pusing memikirkannya.


"Stalker itu yang melakukannya."


Seolah tahu apa yang dipikirkan Siska. Adel menjawab dengan tiba-tiba. Membuat gadis itu menatapnya bengong. Adel yakin, pasti otaknya sedang loading. Siska kan sangat lemot! Lebih lemot daripada Fani.


"Ah, begitu rupanya!" Siska tersadar. Sekarang ia paham dengan situasi ini.


Karena kesal dengan Mika yang berubah dari ekspektasinya. Stalker mes*m itu pasti berpikir ini semua salah Adel dan Siska. Karena mereka, Mika berubah jadi pria brengs*k. Meski itu hanya akting tentunya.


Dengan begitu, ia lebih memilih untuk menyingkirkan Adel dan Siska. Dengan harapan Mika akan kembali sempurna. Begitulah yang Siska pahami sampai sini.


Apa-apaan itu? Yang salah 'kan si Mika. Kenapa jadi dia dan Adel yang jadi sasarannya! Lama-lama ia jadi kesal memikirkannya.


"Dasar stalker mes*m!!" geram Siska melihat tangannya yang terikat pada kursi.


Diliriknya Adel yang hanya diam sedari tadi. Gadis itu tampak menatap datar ke depan. Yah, seperti biasa. Siska tak begitu heran melihatnya.


"Lo bisa santai juga dalam situasi genting begini, ya?"


Adel menoleh. Menatap Siska yang baru saja berbicara. Setelah diam beberapa saat, Adel membuka mulut dan berkata.


"Ini yang kedua kalinya."


Siska menyerngit sama sekali tidak mengerti dengan kata-kata Adel. Gadis ini memang sangat suka berkata aneh. Dikira Siska paham kali ya?


Adel kembali menatap kosong ke depan. Sudah ia duga Siska tak akan mengerti. Sebenarnya yang Adel maksud itu adalah kilas masa lalunya. Untuk yang kedua kalinya ia disekap seperti ini. Sama seperti pada saat Adel masi berumur lima tahun. Hah ... ini benar-benar menyebalkan!


Krieet.


Keduanya sontak kaget kala mendengar suara pintu yang dibuka. Menandakan kedatangan seseorang.


Tak! Tak! Tak.


Langkah kakinya semakin dekat. Ia berjalan ke tempat Adel dan Siska berada.


"Sudah sadar rupanya."


Tampak seorang gadis mengenakan berhodie, topi dan masker berdiri tegap di antara mereka. Penampilannya sangat tertutup, jika saja dia tak berbicara. Maka Siska akan berpikir bahwa orang itu seorang pria.


"Woy! Cewek mes*m. Lo siapa hah? Lepasin kita brengs*k!" teriak Siska marah sembari menatap gadis di depannya dengan nyalang.


"Ck! Kau berisik sekali ya." Ia menutup telinganya merasa bising dengan suara Siska. Tanpa sengaja manik matanya melirik Adel sekilas.


Berbeda dengan Siska, Adel tampak tenang. Sama sekali tidak ada ekspresi gelisah di wajahnya. Seolah gadis itu sudah pernah mengalami ini sebelumnya.


"Diamlah! Jangan berisik. Jadilah seperti Adel."


Seketika Adel tersentak kaget kala namanya disebut. Ia menoleh menatap gadis berhodie dengan dingin dan berkata.


"Kenal gua?!"


"Tentu saja! Siapa yang tak mengenalmu? Siswi yang selalu meraih prestasi di sekolah. Sangat populer karena sikap dingin dan cuekmu. Kau 'kan salah satu most wanted yang diidam-idamkan para siswa SMA Taruna Bangsa. Kau sangat sempurna. Ck, si*l! Aku jadi iri padamu."


Gadis itu melipat kedua tangannya dan bersidegap dada. Memandang Adel tak suka.


"Bisa-bisanya orang sepertimu selingkuh dengan Mika. Kalian terlihat seperti pasangan yang sempurna. Aku tidak suka!" lanjutnya lagi.


"Wah ... lo kenal si Es batu dengan baik, ya. Gimana kalau gua? Lo kenal gua?"


"Kamu? Gak mungkin aku gak kenal. Kau kan pacarnya Mika."


Jeder!


Siska membeku. Ternyata dirinya tidak sepopuler Adel. Jika saja ia tak pacaran bohongan dengan Mika. Mungkin, orang ini juga tak akan mengenalnya 'kan?


"Siapa lo sebenarnya?!" tanya Adel dingin.


"Aku? Kau tanya siapa aku?" gadis itu balik bertanya sembari terkekeh kecil. Kemudian membuka hodie topinya menampilkan rambut yang ia gulung kini jadi tergerai indah. Membuka maskernya dan memperlihatkan seculas senyum iblis.


"Lo ... El–elo kan ...!" Siska tak dapat berkata-kata.


"Aletta!"


****


"Kyaa ...! Lepasin gua! Hiks, lepasin!!" teriak Fani menangis histeris. Kala tangannya dicegal kuat oleh seorang pria berbadan besar.


"Kalian berdua, pergilah lebih dulu ke markas. Sepertinya Bos butuh bantuan. Biar aku yang urus bocah tengil ini."


Dua orang lainnya mengangguk paham. Lantas bergegas pergi meninggalkannya dan Fani.


"Lepasin gua! Lepasin ... hiks." Fani terus saja membrontak tak ingin ikut.


"Diamlah bocah! Kau ini merepotkan sekali."


Ia menyeret paksa Fani. Membuat gadis itu meringis kesakitan.


Jika Fani ikut tertangkap. Bagaimana nasib Adel dan Siska, nanti? Padahal ia sudah berjanji akan mencari pertolongan. Tidak boleh! Tak boleh begini! Fani harus melawan.


"Akhhh ...!" jeritnya kesakitan kala Fani tiba-tiba menggigit tangannya. Refleks ia melepaskan tangan Fani. Membuat gadis itu kabur melarikan diri dari sana.


"Woy, bocah! Jangan lari kamu!!"


Orang itu langsung saja mengejar Fani dengan gesitnya. Membuat Fani menambah kecepatan dan lari tanpa peduli arah.


Bruk!


"Kyaa ...!! Lepasin gua, enggak mau ... hiks, lepasin!!" pekik Fani menangis terisak sembari memejamkan mata. Ia baru saja menabrak dada bidang seseorang. Membuat Fani takut membuka matanya.


"Jangan takut Fan, ini gua."


Sontak Fani membuka matanya. Menatap lelaki itu dengan mata yang berbinar. Kemudian memeluknya erat sembari menangis sengugukan.


"Rai, gua takut ... hiks. Kenapa baru datang se–sekarang?" lirih Fani menangis di pelukan Raihan.


Raihan membeku kaget. Masi bingung ingin merespon seperti apa. Perlahan tangannya terulur, membalas pelukan Fani. Lalu mengusap lembut kepala gadis itu.


"Jangan nangis lagi Fan. Maaf gua telat," katanya sedikit canggung.


Daffa dan Mika hanya diam memperhatikan keduanya. Mereka tak menyangka akan menemukan Fani secepat ini. Sungguh kebetulan yang luar biasa!


"Lepaskan gadis itu. Maka aku akan membiarkan kalian pergi secara baik-baik."


Fani tersentak kaget saat mendengar kedatangan pria yang tadi mengejarnya. Seketika tubuh gadis itu gemetar dan memeluk Raihan semakin erat.


Mata Raihan menatap nyalang pria berbadan besar di depannya. Rasanya ia ingin melayangkan bonggeman ke wajah lelaki itu sekarang.


"Hei, Pak tua! Gadis itu temen kita. Kenapa kita harus kasi ke elo?!" seru Mika tak suka.


"Han, lo balik dulu aja ke perkemahan. Kasian si Fani kayanya syok banget. Tenangin dulu, gih!" ujar Daffa melirik Fani yang masi senantiasa memeluk Raihan.


"Tapi —"


"Ck! Pergi sana. Hus, hus, hus." Mika mengibas-ngibaskan tangannya seolah mengusir kucing. Membuat Raihan memandangnya sedikit jengkel.


"Lo tenang aja, Pak tua ini biar gua dan Daffa yang beresin." lanjutnya lagi.


"Hah ...! Baiklah. Kalian hati-hati ya. Gua bawa Fani balik ke tenda dulu."


Dengan pelan, Raihan melepas pelukan Fani. Lantas berjongkok membelakangi Fani.


"Ayo naik! Ka–kayanya kaki lo sakit. Ehem ... biar gua gendong."


Fani mengangguk canggung. Kemudian menurut naik ke punggung Raihan.


"Wah, si Raihan. Sempet-sempetnya dia bucin di situasi begini," kelakar Mika tak habis pikir melihat kepergian dua orang itu.


"Udah biarin aja, namanya juga pdkt." Daffa memilih untuk mengacuhkan keduanya.


"Jadi, gimana Mik? Ayo kita hajar!" lanjutnya lagi tersenyum miring dengan tatapan tajam yang tertuju pada pria berbadan besar di depannya.


"Kuy lah! Gas!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk melumpuhkan lawan. Sekarang pria itu sudah terbaring lemah tak berdaya. Dengan kaki Daffa di atasnya.


"Dasar! Badannya aja yang besar. Teganya lemah banget kaya anak cewe lo Om!"


"Benar, udahlah Daff, jangan buang waktu. Suruh dia buat mimpin jalannya. Bagaimana pun, kita harus ketemu Adel dan Cewan secepatnya!"


****


"Maaf sebelumnya. Anda siapa, ya? Apa ada yang bisa saya bantu, Nyonya."


"Apa kau kenal Adel? Adelina Fathina Azni. Itu nama lengkapnya."


"Adel? Tentu saja saya kenal! Dia salah satu murid di kelas saya. Perkenalkan, nama saya Ayu Lestari. Saya wali kelasnya Adel."


Bu Ayu mengulurkan tangannya yang disambut ramah oleh Rena.


"Saya Ibu ... Ah! Maksud saya, saya emm, kerabatnya Adel!" jawab Rena berbohong. Ia takut jika nanti Adel akan membencinya.


Sekarang ia sudah sampai di perkemahan. Rena hanya ingin melihat Adel dari jauh. Untuk memastikan keadaan gadis itu baik-baik saja. Setelah itu, Rena akan pulang tanpa ketahuan. Entah kenapa perasaan nya sangat tidak enak.


"Ah, begitu. Mari ikut saya, anak-anak lagi ada pelatihan malam. Sebentar lagi juga selesai. Jika nanti Riski sudah melapor. Saya akan langsung membawa anda ke tempat Adel."


Rena mengangguk paham. Lalu melangkah pergi mengikuti Bu Ayu dengan pelan. Ia harap, Adel baik-baik saja sekarang.


TBC ....


Note: rasanya episode ini panjang banget🥴 mau lanjut takut bosan. Ah sudahlah, lanjut besok saja. Btw, cuma mau ngasi tau aja, satu episode lagi. Cerita di perkemahan bakal kelar.


See you next part!👋🙂


#Next?