
Ice Girls
~Happy Reading💞~
"A--apa permainannya?" tanya Siska gugup.
Adel tersenyum miring.
"Permainannya adalah--"
"Permainan apa?" potong Fani.
Adel dan Siska kompak menoleh ke asal suara. Di sana tampak Fani, Daffa, Raihan dan Mika. Eh, tunggu dulu, kenapa Fani bisa bersama mereka?.
Adel dan Siska mengerutkan dahinya bingung.
"Kenapa lo bareng mereka?" tanya Adel.
"Itu siapa?" tanya Siska.
Fani tersenyum kikuk, dia menggaruk-garuk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.
"Ah ... i--itu, ceritanya ...,"
~ Flashback on ~
Adel dan Siska baru saja sampai di kantin. Siska mengedarkan pandangannya ke segala arah guna mencari tempat duduk yang kosong.
"Yes ... ketemu," gumam Siska.
"Gimana kalau kita duduk di sana aja?" tanyanya sembari menunjuk tempat duduk yang masih kosong.
"Yaudah ayok," ucap Fani sembari menarik tangan Adel dengan semangat.
Adel hanya menurut saja, sedari tadi gadis itu tak mau bicara, dia hanya diam seperti biasanya.
"Btw kalian mau pesan apa?" tanya Fani.
"Gua mau bakso aja," jawab Siska.
"Kalau lo Del?"
"Nasi goreng." jawabnya dingin.
"Wah ... Adel suka nasi goreng ya?"
"....."
"Dijawab dong es batu! jangan diam aja, lo masih idupkan?!"
"....."
"Yaudah, gapapa. Kalau gitu, minumnya apa?"
"Hm ... gua teh manis dingin aja ya Fan."
"Oke, kalau lo Del?"
"Jus jeruk."
"He? emang nyambung ya? lain banget selera lo es batu. Emang deg, lo bener-bener aneh." ucap Siska histeris.
"Serah gua."
"Ck, bacot!!"
Fani hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku teman-teman ya ini. Ya, dia sadar sih, jika Adel dan Siska bertemu, maka tidak ada semenit pun tanpa berantam.
"Yaudah ... gua pesen dulu," ucap Fani dan pergi meninggalkan Adel dan Siska.
***
"Bik, baksonya dua, nasgornya satu."
"Minumnya neng?"
"Teh manis dinginnya dua, jus jeruk satu."
"Oke neng."
"Diantar ke meja nomor tiga ya bik."
"Oke sip."
"Fani," panggil seseorang.
Fani menoleh, dia mengerutkan dahinya bingung.
"Kalian siapa ya?" tanya Fani sopan.
"Lo gak ingat gua? itu loh yang waktu di cafe, masa gak ingat sih."
Fani tampak mengingat-ingat sebentar. Waktu di cafe katanya? ah ... Fani ingat sekarang.
"Oh, lo Raihan kan?" tanya Fani antusias. Raihan mengangguk, ternyata Fani masih mengingatnya, syukurlah.
"Yang ini Daffa, ini Haykal dan ... eh, ini siapa? gua gak pernah liat," ucap Fani sembari menunjuk ke arah Mika.
"Oh, namanya Mika," jawab Raihan.
"Hm. Kenelin nama gua Reka Mika Syahputra," ucap Mika sembari mengulurkan tangannya.
"Gua Fania Ratna Sari," ucap Fani dan membalas jabat tangan Mika.
"Oh iya Fan, lo sendiri?" tanya Raihan.
"Eh, enggak kok, gua bareng sama Adel dan Siska," ucap Fani dengan tersenyum ramah.
"Adel? dia di sini juga?" Daffa yang tadinya diam kini ikut berbicara.
"Hm."
"Yaelah ... giliran Adel aja, semangat empat lima!!" sindir Raihan.
"Dih, siapa yang semangat, gua kan cuma nanya doang," balas Daffa.
"Serah lo deh."
"Btw, Haykal lo kok diam aja? biasanya kan elo banyak ngomong," tanya Daffa.
Ya, wajar saja Daffa bertanya seperti itu, karena sedari tadi Haykal hanya diam saja, wajahnya juga terlihat murung dari tadi pagi.
"Gua lagi brantem sama Shinta," jawab Haykal sedih.
Daffa, Raihan dan juga Mika dengan kompak menertawakan Haykal.
"Bwahaha ... hadeh, gua kira kenapa, ternyata cuman berantem toh," ucap Raihan terkekeh.
"Cuman berantem lo bilang?! lo tau kan kalau Shinta ngambeknya lama banget!" ucap Haykal kesal.
Bukannya merasa bersalah, mereka malah semakin menertawakan Haykal.
"Dasar teman lucknat!!!" kesalnya.
"Maaf mengganggu kalian, kalau gitu, gua pergi dulu ya." Fani yang tadinya hanya menonton kini bersuara.
"Eh, kita ikut gabung dong Fan," ucap Daffa.
"Iya Fan, liat deh, gak ada meja yang kosong lagi kan," Raihan ikut bersuara.
"Boleh ya?" tanya Daffa.
"Eh ... i--itu a--anu," ucap Fani gugup.
'Duh ... gimana nih, kalau gua bolehin, Adel ll gak ya? tapi, gua juga gak enak sama Raihan. Maaf Del gua terpaksa' batin Fani.
"Gimana Fan, boleh gak?" tanya Raihan tak sabaran.
"Em ... i--iya boleh deh," jawab Fani ragu.
"Yaudah kalau gitu ayok," ucap Raihan dan hendak pergi.
"Kayaknya gua gak bisa deh," ucap Haykal yang dapat menarik perhatian semuanya.
"Loh kenapa?" tanya Daffa.
"Gua mau nyari Shinta dulu."
"Oh, serah lo aja," sambung Raihan.
"Hm, kalau gitu gua pergi dulu."
"Ya, semoga cepat baikan ya," ucap Mika terkekeh.
"Bisa aja lo Mik," sambung Daffa.
~ Fashback off ~
"Jadi gitu ceritanya," ucap Fani tersenyum kikuk.
"Oh." ucap Adel dan Siska kompak.
"Buset ... Cuman oh aja? orangnya udah capek ngomong jawabannya cuman oh aja!" ucap Raihan kesal.
"Serah gua," ucap Adel dan Siska kompak.
"Cyee ... kompaan," goda Daffa.
"Diam lo!" bentak mereka kompak. Daffa menelan Salivanya susah payah.
"Kenapa lo ngikutin gua?!" masih kompak.
"Wah ... sejak kapan kalian sehati gini?" tanya Fani terkekeh geli.
"Gak tau," jawab mereka kompak.
"Bahahaha ... gua ngakak," ucap Mika.
Adel dan Siska menatap Mika dengan nya lang, sedangkan yang ditatap sudah kaku di tempat.
"Btw ... tadi kalian ngomongin tentang permainan. Memangnya permainan apa?" tanya Daffa mengalihkan topik pembicaraan.
Lama-lama Daffa kasihan juga melihat Mika yang ditatap seperti itu.
"Oh, itu tadi, si es batu mau ngajak gua taruhan." jawab Siska santai. Adel dengan spontan menginjak kaki Siska dengan kasar.
"Awww," ringisnya.
"Apaansih! Sakit tau es batu!!" ucap Siska kesal.
"Taruhan?! kalian taruhan lagi?!" tanya Fani dengan wajah kesal, bukan apa-apa, hanya saja temanya ini benar-benar membuat Fani kesal sekarang.
"Wah ... kalian mau taruhan apa nih?" berbeda dengan Fani yang tampak kesal, Daffa malah terlihat senang dan antusias.
"Blom tau, tapi kata si es batu, yang kalah bakal jadi bakal jadi pelayan pribadi yang menang selama seminggu, iya kan es batu," ucap Siska sembari menyenggol lengan Adel.
"Ck, gua bukan es batu!!!" bentak Adel.
"Kalau gitu, permainannya harus adil dong, jadi biar lebih adil gimana kalau kita yang nentuin permainannya?" ucap Daffa memberi masukan.
"Eh, iya juga ya, kalau si es batu yang buat permainannya kan gak adil!! wah ... gua baru nyadar, ternyata lo mau nipu gua ya es batu?!"
"Siapa yang mau nipu?! itu mah lo nya aja yang bodoh, mau ditipu." balas Adel.
"Ups"
'Mampus gua keceplosan' batin Adel.
"Noh, tukan ketauan kan lo mau nipu gua! untung aja ada cowok ini nih. Licik banget ya lo es batu!" ketus Siska.
"Btw nama gua bukan cowok ini, tapi nama gua Daffa," ucap Daffa.
"Oh, Maaf Diva, gua gak tau," jawab Siska santai.
"He? Diva? lo kira gua cowok apa?!" kesel Daffa.
"Ya, maaf."
"Jadi, kita yang nentuin permainannya ya? biar adil, setuju gak?" tanya Daffa.
"Setuju," jawab mereka semua kecuali Adel, gadis itu tampak tak senang dengan usulan Daffa. Bagaimana tidak? yang taruhan kan dia dan Siska, kenapa jadi mereka yang heboh? mau dia curang kek, mau enggak kek, toh yang kena hukumannya di antara mereka berdua. Ini mah namanya tidak adil!!.
"Apaan main setuju aja! kan yang taruhan gua sama tuh cewek jadi-jadian, tapi kenapa kalian yang ikut campur!!" jarang sekali Adel mau berbicara panjang lebar begini.
"Yaelah es batu, lo mau curang kan?! ck, gak bakal gua biarin," ketus Siska.
"Udah lah Del, terima aja," sambung Fani.
"Iya, gak baek curang," lanjut Daffa.
"Tau tuh! gak takut dosa ya Del?" timpal Raihan.
"Gua ngerti posisi lo Del," ucap Mika terkekeh.
'Ck, apaan nih?! gua kalah suara, malah Fani ikut-ikutan juga! semua ini karna Daffa! sialan!!! awas lo Daffa, gua juga bakal balas lo nanti!' batin Adel kesal.
"Serah!" ucapnya dingin.
"Oke, kalau gitu, gua dah tau apa permainan yang cocok," ucap Daffa tersenyum penuh arti.
"Apa?" tanya mereka kompak.
TBC...
udah beberapa hari gak up, kiraiin gak ada yang nungguin, eh ternyata masih ada:) sebenarnya sempat kepikiran buat stop cerita ini sih, karena belakangan ini aku sibuk:( tapi karena masih ada yang nanya kapan up, yaudah aku up lagi.
Menurut kalian pribadi, kalau aku stop cerita ini, setuju gak? Kasi jawaban di kolom komentar.
#Next?