Ice Girl

Ice Girl
part 18



Ice Girls


~Happy Reading💞~


"Akhirnya nyampek juga," ucap Daffa, dia baru saja sampai di rumah Adel untuk mengantar gadis itu pulang.


Adel menoleh, menatap Daffa datar lantas membuka pintu mobil dan keluar.


"Gak turun?" tanya Adel dingin setelah turun dari mobil Daffa.


Daffa menyerngit bingung. "Maksud lo?" tanya Daffa. "Lo ngajak gua mampir?" lanjutnya lagi.


"Hm," jawab Adel tak tertarik.


"Se--serius?" tanya Daffa tak percaya.


"Ck." Adel berdecak kesal melihat Daffa yang tak henti-hentinya bertanya. "Kalau gak ma--"


"Gua mau kok!" potong Daffa dengan cepat, sebelum Adel berubah fikiran nantinya. Jarang sekali gadis itu bersikap baik padanya. Ya, walaupun tidak sebaik semua orang pada umumnya.


Adel mengangguk, lantas berjalan meninggalkan Daffa. Daffa cengo, Adel mengajaknya untuk mampir lantas meninggalkannya begitu saja?!. Wah, benar-benar gadis yang dingin! hatinya terbuat dari es kali ya?!.


Daffa dengan cepat keluar dari mobilnya dan mengejar Adel.


"Del tunggu!" Adel berhenti saat Daffa berteriak memanggilnya. Daffa tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia dengan cepat berlari dan menyesuaikan langkahnya dengan Adel.


"Heran gua." Daffa menatap Adel tak habis fikir. "Elo yang ngajakin gua mampir, tapi elo malah pergi gitu aja," ucap Daffa panjang lebar.


"....."


"Kalau gua ngomong, direspon kali Del! capek tau gak? ngomong sama lo! serasa ngomong sama tembok!" Daffa terus saja mengoceh.


"Maaf."


"Eh? lo minta maaf? gua gak salah dengar kan?!" Daffa terus saja bertanya, pasalnya dia benar-benar tidak percaya jika Adel baru saja mengucapkan kata 'maaf' dalam keadaan sadar.


"Iya." dan betapa kagetnya Daffa saat Adel mengakui itu semua.


"Ta--tapi, maaf buat apa?" tanya Daffa gugup.


"Karna ..." Adel memalingkan wajahnya, kenapa begitu berat baginya untuk mengakui kesalahannya sendiri?!. "Gua udah bentak lo tadi," lanjut Adel dengan nada dingin.


Daffa tersenyum, dia merangkul Adel hingga dekat dengannya.


"Gapapa kok, itu kan bukan sa--"


Bugh!


Ucapan Daffa terpotong kala Adel memukul wajahnya dengan tiba-tiba.


"Siapa suruh?!" Adel menatap Daffa dengan tajam. "Lo ngerangkul gua sok akrab!!" lanjutnya lagi dengan ketus.


"Ya maaf, gua kelepasan tadi!" ucap Daffa kesal. "Tapi, gak usah ditonjok juga kali! malah nonjoknya di muka gua lagi, kan muka ganteng gua bisa lecet!!"


Adel menatap Daffa datar. "Makanya!" Adel melirik Daffa dengan tajam. "Jangan main nyosor!!" lanjutnya lagi dengan wajah kesal.


"Cih ... kemarin lo juga main nyosor aja! aws ..." Daffa meringgis saat mendapati sudut bibirnya berdarah. Ternyata Adel kuat juga, sampai membuat Daffa berdarah.


Adel membelalakkan matanya saat melihat luka di sudut bibir Daffa.


"Malah kemarin, lo meluk dan nyi--" ucap Daffa terhenti kala Adel tiba-tiba mendekat padanya.


"Lo mau ngapain?" tanya Daffa heran.


"Diam!" titah Adel, dia mulai meniup luka pada sudut bibir Daffa dengan hati-hati.


'Nih cewek maunya apa sih?! tadi dia nonjok gua!! dan sekarang dia malah niupin luka gua?!. Malah jantung gua gak mau diam lagi!! dari tadi jantung gua rasanya mau copot!!' batin Daffa.


"Ehem."


Adel dan Daffa dengan kompak menoleh ke asal suara.


"Wah ... kayaknya gua ganggu nih," ucap Indra nyengir. Ya, orang itu adalah Indra, kakak Adel. Indra sudah lama datang sebenarnya, hanya saja dia menunggu Adel di dalam apartemennya. Indra keluar karena mendengar suara Adel dan betapa kagetnya Indra saat melihat adiknya dengan seorang lelaki, bahkan Adel sepertinya sangat akrab dengan lelaki itu.


"Kak Indra?"


"Kenapa Del? kaget ya, kakak datang lagi."


"Kakak?" tanya Daffa dengan dahi yang mengerut.


Indra menatap Daffa yang baru saja bicara, dengan tersenyum ramah.


"Oh, hay," sapa Indra. "Iya, gua kakaknya Adel, eh bukan." Indra tersenyum penuh arti. "Lebih tepatnya, gua kakak yang paling Adel sayangi," lanjut Indra terkekeh.


"Najis!" sindir Adel.


"Oh jadi, lo kakaknya Adel?" Daffa tersenyum ramah.


"Yah, tapi lo gak sopan banget. Gua lebih tua dari lo, seharusnya lo manggil kakak dong sama gua."


"Kalau gitu, gua minta maaf kak," jawab Daffa sopan.


"Gitu dong, jadi calon adek ipar itu harus sopan," ucap Indra terkekeh geli, sesekali dia melirik Adel yang tampak kesal karena ucapannya barusan.


Tukk.


Sebuah sepatu melayang dan mendarat tepat di kepala Indra dengan mulusnya.


Indra dan Daffa dengan kompak menoleh dan menatap Adel tidak percaya. Ya, Adel lah yang telah melempar sepatu itu pada Indra. Pasalnya Adel sangat kesal dengan kakaknya itu, bagaimana tidak? kakaknya berbicara seenak jidatnya saja!!.


Adel berjalan ke arah Indra, kemudian mengambil sepatunya yang baru saja ia lempar. "Bodoh amat," ketusnya dan pergi masuk ke dalam apartemennya.


Indra diam tak bergeming, Adel benar-benar telah berubah. Tapi, Indra tetap sayang pada adiknya itu, walaupun sikap Adel sangat dingin padanya. Ya, Indra sadar jika saja dia menjaga Adel dengan baik, gadis itu tak akan pernah berubah seperti ini. Jadi yang harus disalahkan adalah Indra karena tidak becus menjaga adiknya sendiri.


"Yang sabar kak," ucap Daffa terkekeh.


Indra tersentak dari lamunannya, ditatapnya Daffa dengan tersenyum ramah hingga memperlihatkan lesung pipinya itu.


"Ah iya, udah biasa," jawabnya. "Kalau gitu, ayo masuk. Kita obatin luka lo dulu, kayaknya lo juga abis kena dari Adel.


"Haha iya kak, tadi gua kena tonjok juga sama Adel."


Indra dan Daffa dengan kompak tertawa dan masuk ke dalam apartemen bersama-sama.


***


"Loh, kamu mau ke mana Del?" tanya Indra, baru saja mereka masuk, Adel sudah ingin keluar lagi dari apartemen.


"Apotek," jawab Adel tak tertarik.


"Ngapain?" kini Daffa yang bertanya.


"Beli es krim," jawab Indra dengan kesal.


"Gua nanya Adel kak."


"Elo juga sih! udah jelas masih aja ditanya, udah tau Adelnya kalau ngomong irit banget.


Menurut lo ke apotek mau ngapaiin lagi?! Yakali belik es krim!" kesal Indra.


"Iya, gua tau! Adel mau belik obat kan? maksud gua, buat apa Adel belik obat? Adel sakit?"


"Yang sakit itu elo tolol," ujar Indra sembari menonyor kepala Daffa kesal.


"Oh gitu?" Daffa mengangguk paham. "Kalau gitu, mau gua anter?" tanya Daffa lagi.


"Gua bisa sendiri," jawab Adel, dia pergi meninggalkan Indra dan Daffa tanpa berkata sepatah kata pun lagi.


"Kak."


"Hm."


"Adek lo makan apaan? kok sifatnya bisa sedingin itu sih?"


"Kebanyakan makan es batu kali," jawab Indra terkekeh.


"Hahaha ... bisa aja lo kak."


Indra tertawa, kemudian duduk di sofa yang diikuti oleh Daffa.


"Oh iya, kita belum kenalan kan." Indra mengulurkan tangannya pada Daffa. "Kenalin, gua Indra," ucap Indra memperkenalkan diri.


Daffa tersenyum, dia balas menjabat tangan Indra. "Gua Daffa kak," ujar Daffa.


Indra mengangguk paham.


"Oh iya Daffa, gua mau nanya sesuatu sama lo."


"Nanya apaan kak?"


"Lo sama Adel, sejak kapan jadiaan? kok Adel gak bilang-bilang sama gua, kalau dia udah punya pacar."


"Haha ... kakak ini lucu sekali, gua sama Adel gak pernah jadian," jawab Daffa terkekeh.


"Beneran?" Indra menatap Daffa tak percaya. "Tapi, lo sama Adel dekat banget," lanjutnya lagi.


"Enggak kok kak, kita cuman temenan doang," jawab Daffa tersenyum.


"Hm." Indra mengangguk paham.


Hening.


Tak ada yang bicara, sebelum Daffa memecahkan keheningan itu.


"Kak?"


"Hm."


"Gua mau nanya sesuatu sama lo."


"Tentang apa?" tanya Indra dengan mata yang terfokus pada ponselnya.


"Tentang Reka."


Deg!


TBC ...


Part pendek😹


Author lagi sibuk🙏🤐


Krisan?


#Next?