
Ice Girls
~Happy Reading💞~
"Adel? Sakit?" gumam Rena sembari menatap kosong ke depan. Tangannya memegang kepala tak habis pikir.
Indra tersenyum miris. Reaksi apa itu? Ibu nya kaget? Hah! Drama sekali pikir Indra.
"Iya! Adel sakit! Baru sekarang Mama peduli? Mama ke mana aja selama ini?!"
Rena mendongak menatap Indra dengan air mata yang hampir jatuh. Melihat hal itu Indra dengan cepat membuang wajah tak tega melihat ekspresi sang ibu.
"Sakit? Sakit apa?! Adel sakit apa? Indra!" teriak Rena masi dengan keadaan terduduk di lantai.
Indra bungkam. Ia menarik nafas panjang bersiap untuk menceritakan segalanya. Meski sakit ia harus mengatakannya. Ditelannya saliva yang terasa begitu berat.
"Adel, dia ...." Matanya ia pejamkan sedikit tak kuat untuk mengatakan kenyataan yang pahit itu.
Bruk!
Indra memukul meja di kantornya kasar.
"Kanker! Adel sakit kanker! Kanker otak!! Mama puas sekarang?!" seru Indra berteriak keras. Rahangnya mengeras menatap tajam sang ibu yang tercengang dengan kata-katanya.
Tanpa Indra sadari air mata yang tadinya ia tahan mati-matian lagi-lagi menetes dengan sendirinya. Mengapa begitu sulit untuk mengatakan fakta itu?! Adik satu-satunya yang Indra sayangi menderita penyakit mengerikan.
Tapi gadis itu tetap menyembunyikannya dengan berpura-pura seperti tak terjadi apa-apa. Wajah tenang yang ia tunjukkan selama ini hanyalah sebuah topeng.
Padahal, umurnya tidak lama lagi. Tapi Adel sangat kuat! Kenapa adiknya itu begitu keras kepala? Dia bahkan memohon pada Indra agar tak menceritakan apapun tentang penyakitnya pada orang lain.
Sangat menyakitkan melihat adik yang ia sayangi mengatakan hal itu dengan dinginnya. Tak ada ekspresi sedih pun di wajah Adel saat mengatakannya. Seperti ia sudah sepantasnya mendapatkan takdir mengenaskan itu.
Kenapa? Kenapa harus Adel?! Gadis itu sudah cukup menderita dari kecil! Ini benar-benar tidak adil! Harusnya Indra saja yang kena! Kenapa harus gadis yang tak tahu apa-apa itu.
Anak yang selama ini ceria berubah jadi dingin. Diumur enam tahun sudah ditinggal keluarga karna dianggap pembunuh dan pembawa sial. Padahal ini bukan salahnya ... mengapa dunia begitu tidak adil?!
~Flashback on~
"Aku mohon sama kak Indra. Tolong jangan katakan apa pun."
Indra menatap tak suka sang adik yang berbicara dengan wajah datar itu. Kenapa jadi Indra yang menangis? Padahal yang sakit itu Adel! Lihatlah ekspresi tenang ya itu. Mata satunya menatap Indra tanpa minat.
"Kenapa? Kenapa kamu terima gitu aja?! Kakak masi bisa bawak kamu berobat di luar negeri," lirih Indra menahan air matanya agar tidak jatuh.
Adel membuang muka, lalu menatap Indra lagi. Ia tampilkan senyuman yang sudah lama ini hilang di wajahnya. Senyum ceria khas Adel kecil terukir jelas di wajah cantiknya.
"Percuma ...," lirih Adel berusaha terkekeh kecil. Wajahnya terlihat sangat menyedihkan sekarang. Walaupun ia tersenyum, matanya masi menatap sayu Indra.
"Percuma apanya?!" hardik Indra masi dengan menahan air mata dengan wajah yang memerah.
"Umurku udah gak lama lagi."
Adel duduk di sofa tempatnya lalu menyeruput jus jeruk yang Indra bawa dengan santai nya. Seolah gadis itu sudah bersiap untuk mati kapan saja.
Tes!
Tanpa Indra sadari air matanya menetes begitu saja. Melihat adiknya yang meminum santai jus jeruk kesukaannya. Ia mendekat kemudian duduk di samping Adel.
"Pasti ... bisa, kok. Kamu harus semangat ... ayo ikut kakak ke Amerika. Kita operasi," kata Indra terisak sembari menatap gadis yang menunduk di sampingnya.
Adel mendongak menatap Indra datar. Kemudian ia tersenyum kecil meski sedikit kaku.
"Operasi?" ulang Adel yang mendapati angukan lemah dari Indra.
"Buat apa?" tanya Adel dingin.
"Aku lelah. Kenapa harus bertahan di dunia yang megerikan ini. Tenang saja, tak akan ada yang sedih jika aku mati," lanjut Adel masi dengan nada dingin ia bahkan tak menatap Indra sekarang. Matanya terus menatap sayu jus yang ia pegang. Pikirannya kosong.
"Bukannya aku ini monster? Kenapa Kak Indra mencari ku? Apa kau tak takut padaku? Aku ini pembawa sial. Jangan dekat denganku, nanti Kakak kena sial." Baru kali ini Adel berbicara sepanjang ini. Entah kenapa hatinya ingin mengatakan semuanya sekarang.
"Karena itu ... menjauh lah dariku. Biarkan aku hidup sendiri. Aku tak mau jadi beban kalian lagi. Mama ... ah! Dia pasti tak suka kupanggil Mama 'kan?" kekeh Adel dengan ekspresi sedih.
Indra hanya bisa menatap dan mendengar keluh kesah adiknya dalam diam. Ia tak mampu berkata apa-apa. Hanya bisa menatap sedih sang adik yang berbicara.
"Maksudku wanita itu, dia juga membuang ku karena aku ini monster 'kan? Pembunuh! Pembawa sial! Benalu! Yah, semua itu benar adanya. Karena itu, kenapa kau mencariku, Kak? Pergilah, aku tak butuh hiburan."
Setelah mengatakan hal menyedihkan itu, Adel berdiri dari duduknya. Kakinya hendak melangkah ke kamar meninggalkan Indra sendiri di ruang tamu.
Tap!
Adel berbalik menatap datar tangannya yang dicegal Indra.
Air mata Indra keluar dengan derasnya hingga membasahi kedua pipi miliknya. Ia mengusap lembut kepala Adel dan membuat gadis itu terdiam memejamkan mata merasakan kehangatan dari kakaknya.
"Kenapa kau begitu bodoh? Kenapa kau selalu menyalahkan dirimu? Kau tidak pernah salah. Jangan menyakiti dirimu sendiri! Kakak menyayangimu."
Adel diam tak bergerak. Menatap kosong dinding di depannya. Mendengarkan tangisan Indra yang tak henti-henti. Satu sudut bibirnya terangkat merasa lucu dengan Indra.
"Cengeng."
~Flashback off~
"Hiks ... menyebalkan!" umpat Indra meninggalkan sang ibu yang masi syok di lantai.
Ia membanting pintu kantor keras. Ingin pergi menenangkan diri di tempat di mana tak ada orang satupun selain dirinya.
Tangis Rena pecah begitu kepergian Indra dari sana. Ia menangis terisak sembari menjambak rambut fustasi.
Kata-kata Indra masi terbayang di pikirannya. Rena akui, ia memang ibu yang jahat. Mengurus anak saja tak mampu! Menyedihkan!
Manik matanya menatap sendu foto yang selalu ia bawa di dalam tasnya kemana pun Rena pergi. Tampak gambar seorang gadis kecil mengenakan gaun pendek berwarna biru. Senyum gadis kecil itu terlihat indah dengan boneka beruang yang ia pegang di tangannya. Rena mengelus foto itu dengan sedih. Satu tetes air matanya jatuh tepat di atas wajah sang gadis.
"Adel," lirihnya menangis terisak.
***
"Akhirnya sampai juga!" Siska merentangkan kedua tangan senang sembari menikmati kesejukan alam.
Angin sepoi-sepoi menerpa rambut pendeknya. Membuat gadis itu terlihat seperti orang lain.
"Udah, gak usah merem-merem mata lo! Buruan pasang tenda, lo gak denger kata pembimbing tadi?!" kata Mika mencantolkan jaketnya tepat di wajah Siska.
"Woi! Gua bukan cantolan baju! Gua buang juga nih jaket lo!" kesal Siska mengejar Mika yang sudah melarikan diri.
"Bodo amat."
Daffa terkekeh melihat pertengkaran kecil kedua orang itu. Manik matanya tak sengaja melirik Adel yang juga tengah melihat aksi kejar-kejaran Siska dan Mika.
Wajah dan bibirnya terlihat sangat pucat. Melihat hal itu membuat kedua alis Daffa berkedut.
"Lo sakit?!" kompak ketiganya.
Daffa menoleh saling pandang dengan Fani dan Raihan. Rupanya kedua orang itu juga sadar dengan perubahan wajah Adel. Dan langsung bertanya dengan kompaknya.
"Tidak," jawab Adel memasang ekspresi dingin.
"Tapi, wajah lo pucet banget." Fani mendekat ingin menyentuh wajah Adel khawatir. Dengan cepat Adel menepis tangan Fani sedikit kasar.
"Gua gak papa," katanya masi dengan ekspresi dingin.
"Gak papa apanya?! Muka lo pucet banget!" Kini Daffa yang berbicara.
"Bener! Lo sakit?" sambung Raihan.
"Dingin." Adel menatap ketiga orang itu secara bergantian.
"Gua gak tahan dingin," ucapnya beralasan.
Daffa dan yang lainnya menganguk paham. Ia membuka jaket yang tadinya ia pakai dan memberikannya pada Adel.
"Gak us—"
"Pakai, gak?" Daffa menatap tajam Adel membuat gadis itu terdiam dan akhirnya membiarkan Daffa memasang jaket itu secara paksa.
"Lo bener gak papa 'kan, Del?" tanya Fani memastikan. Adel hanya mengangguk.
"Yaudah, kalau gitu ayo kita pasang tendanya!" lanjut Fani antusias. Lagi-lagi Adel hanya mengangguk, entah kenapa ia malas bicara hari ini. Kepalanya sangat pusing. Jujur saja kini pemandangannya sedikit mengkabur.
"Ayo!" ajak Fani menarik tangan Adel mengikuti jalannya.
Bruk!
Baru saja beberapa langkah, tubuh gadis itu sudah ambruk dan akhirnya pingsan. Fani, Daffa dan Raihan memandangnya panik.
"Adel!"
TBC ...
maaf temen temen nada lama up nya,🤧🤧🙏🏻
#Next?