Ice Girl

Ice Girl
part 42



lce Girls


~Happy Reading💞~


"Gua dapat surat dari gadis misterius itu."


"Surat?"


Adel tersenyum smirk. Sudah ia duga! Tebakan nya benar.


"Surat apa?" tanya Daffa sedikit tertarik dengan perkataan Mika.


"Bener! Ceritaiin semuanya! Sampe tuntas. Kenapa lo mesti pura-pura suka sama Si Es batu? Terus kenapa juga tiba-tiba lo ngajak gua main drama menggelikan kaya tadi, hah?! Jawab!!"


Mika menelan Saliva nya gusar. Kemudian menarik nafas panjang bersiap untuk menceritakan segalanya.


"Oke! Gua bakal jelesin semuanya," jawab Mika akhirnya. "Kalian semua bisa diam dan dengarkan cerita gua dengan tenang 'kan?" lanjutnya lagi.


Semua menatap Mika dengan wajah serius, kemudian mengangguk dengan kompaknya. Sungguh, mereka sangat ingin tahu!


"Waktu itu gua ...."


Flashback on!


Hari itu gua datang lebih awal ke sekolah. Perasaan gua lagi gak bagus waktu itu. Gua masi pusing mikirin kenapa barang-barang gua bisa pada hilang gitu aja.


Ditengah-tengah kepusingan itu, tiba-tiba aja ada bola kertas yang melayang dan mengenai gua. Awalnya gua cuma iseng buka bola kertas itu. Eh ternyata ada isinya! Gua yang penasaran akhirnya baca tuh kertas.


[Halo Mika^^


Apa kamu kenal aku? Aku orang yang ngasi kamu payung waktu hujan, loh! Karena takut kamu kebasahan, jadi aku pinjemin payung itu. Kalau aku yang basah gapapa. Asal jangan Mika ya. Karena aku sayang banget sama Kamu. Aku gak mau Mika jadi sakit nanti. Kamu juga sayang 'kan sama aku?♡☆]


Gua langsung kaget waktu baca tuh kertas. Terus celingak-celinguk buat cari orang yang ngelempar kertas itu ke gua. Tapi, anehnya disana gak ada siapa-siapa.


Karena penasaran, gua lanjut baca lagi suratnya. Sumpah waktu itu gua kaget banget saat tau keanehan yang selama ini gua alami gak lain adalah ulah dari si cewek misterius.


[Gimana perasaan kamu saat buka loker? Lokernya bersih 'kan? Tenang aja, itu aku yang bersihin. Kado, surat, semua barang yang dikasi cewek-cewek centil itu aku bakar heheh^^ Mika pasti senang. Jadi Mika gak perlu capek-capek lagi buang semuanya ke tong sampah!]


Entah kenapa gua jadi merinding baca nih surat. Gua kaya berasa diawasi dari jauh. Sekalipun dia gak keliatan.


[Oh, iya! Waktu itu aku liat ada cewek jal*ng yang nempel sama kamu. Aku kesel banget, tau?! Jadi, pas si cewek sial*an itu ke toilet. Aku kasi pelajaran biar tau rasa!


Waktu dia masuk buat buang air, aku matiin lampunya. Terus ngunci pintunya. Dia langsung teriak-teriak ketakutan loh. Manja banget kan?


Padahal aku cuma matiin lampu doang. Karena dia berisik jadi lampunya aku nyalaiin lagi. Pintunya juga aku buka. Dia langsung lari keluar sambil nangis. Cengeng banget!


Oh, ada lagi! Sebelum dia keluar. Gadis itu berhenti sebentar di depan cermin. Di sana ada tulisan dengan noda darah.


"JANGAN SENTUH MIKA! DIA MILIKKU KALAU TIDAK AKU AKAN MENERORMU."


Kamu tau siapa yang tulis? Tentu saja aku!>< aku sampai sayat tanganku demi itu. Heheh pintar kan aku. Habisnya aku kesel sih. Tapi aku serius loh, kalau dia nempel lagi ke Mika. Bakal aku teror atau kalau udah kesel, mungkin bunuh?


Pokoknya kamu tenang aja, aku bakal menyingkirkan semua orang yang ganggu cinta kita. Termasuk para gadis-gadis centil yang meninggalkan barang seenaknya di loker kamu. Akan ku singkirkan semuanya!! Tanpa terkecuali!


Aku cinta kamu Mika♡♡]


Tangan gua langsung gemetar selesai baca surat itu. Jadi begitu, wajar saja waktu itu Vera lari ketakutan pas liat gua.


"Gila! Nih cewek bener-bener udah gila!!"


Gua gak habis pikir, ada ya orang begitu. Entah kenapa gua jadi merinding. Bulu kuduk gua berdiri semua. Seperti diawasi dari kejauhan. Gua langsung noleh ke belakang. Tapi gak ada orang. Serem banget.


"Hoi!"


Mampus gua, siapa yang manggil? Perasaan di kelas ini cuma ada gua deh? Siapa yang—"


"Woy!!"


"Euakkk ...! Kaget gua! Apaansih Kal? Lo kalau datang bilang-bilang dong! Untung jantung gua gak copot!!"


"Elah, lebay banget!" kekeh Haykal. Sepertinya dia baru masuk kelas. Gua kira tadi si cewek gila ternyata Haykal. Syukurlah!


"Tumben lo datang cepat Mik, mau ngapain?" tanyanya mulai duduk di samping gua.


"Gua ... gua lagi banyak pikiran. Kepala gua pusing. Makanya gua datang cepat ke sekolah buat nenangin pikiran. Eh, bukannya tenang malah tambah pusing gua."


Dahi Haykal berkerut dengar ucapan gua. Pasti nih anak mau tanya 'pusing kenapa?' Haykal kan mudah ditebak!


"Lo pusing kenapa, emangnya?"


Nah kan bener gua! Hah, memang ya gampang ditebak.


"Pusing mikirin jalan pikiran ortu gua. Masa mereka mau jodohin gua!"


Sebenernya gua gak terlalu pusing dengan masalah itu sih. Karena gua udah dapat solusinya. Yang gua pusingin itu masalah si gadis misterius! Sampai kapan dia mau ngusik gua? Menyeramkan!


"Wkwkw mampus! Makanya jangan ngejomblo mulu, hahah!"


Dih, lihatlah wajah menyebalkan si Haykal. Benar-benar pengen gua tonjok tuh muka. Bukannya berduka bersama gua, dia malah bersuka cita bersama ortu gua. Nyebelin banget jadi temen!


"Oh, iya! Temenin gua ke kelasnya Shinta, dong?! Gua mau ngasi hadiah sekalian mau minta maaf. Biar dia gak ngambek lagi," kata Haykal sembari memperlihatkan boneka kelinci kecil berwarna pink.


Harus banget ya warnanya pink? Cewek itu aneh ya. Kalau beli barang sukanya warna pink semua. Padahal ada banyak warna. Kaya anak Tk, gak ada dewasa-dewasanya.


"Mager gua. Lagian gua gak mau jadi nyamuk!"


Gila kali ya, si Haykal! Masa gua diajak ketemuan sama pacarnya? Gua mau apa di sana? Planga plongo jadi nyamuk? Sementara dia enak pacaran tanpa ingat dunia. Laknat emang nih bocah!


"Terus lo mau apa di sini sendiri hah? Gak takut apa? Gua dengar-dengar sekolah kita ada hantu nya loh."


Dikira gua bocah bisa ditakut-takuti begitu. Otak Haykal emang suka gak mikir sih! Tapi, kalau dipikir-pikir serem juga kalau gua sendiri di sini. Terlebih ada cewek gila yang gak kelihatan wujudnya entah dimana.


"Oke deh, gua ikut."


"Gitu dong!!"


Sepanjang jalan koridor, terasa sangat aneh. Benar-benar aneh! Semua gadis yang biasanya menyapa gua dengan ramah kini menunduk gak berani natap.


[Akan ku singkirkan semuanya!! Tanpa terkecuali!!]


Jadi ini yang dia maksud dengan singkirkan? Gua emang gak suka jika di dekati para gadis. Tapi gua lebih gak suka lagi melihat mereka yang memandang takut gua.


Dia bener-bener udah kelewatan! Ini gak boleh dibiarin lagi! Tapi, gua harus apa? Gua bahkan gak tau gimana wajah Stalker mengerikan itu.


Ah bener! Ada cara itu! Dia bilang kalau dia suka gua 'kan? Gimana kalau gua pacaran? Apa mungkin dia masi suka? Mustahil!


Dari situlah, gua mulai pacar boongan dengan si Cewan! Tentu aja gak mudah. Kita buat kesepakatan. Sekalian pacar boongan supaya ortu gua berhenti ngomongin masalah perjodohan. Wah ...! Gua emang pinter. Sekali dayung, dua tiga pulai terlampaui.


Awalnya gua seneng karena menganggap masalahnya udah selesai. Tapi ternyata gua salah, semuanya gak semudah yang kita bayangin.


Waktu jam pelajaran olahraga selesai. Bersama siswa lain gua pergi ke ruang ganti. Di sana gua nemuiin surat yang kedua.


Tepat di dalam saku seragam sekolah gua. Entah bagaimana dia bisa menaruhnya di sana. Gua juga bingung.


[Halo Sayang.


Kudengar kamu punya pacar? Wah ... Selamat!! Mika ku ini memang setia ya. Kamu memang baik! Jadi alasan kamu selama ini gak ngelirik cewek lain itu karena ada gadis yang kamu suka?


Mika memang beda! Gak kaya laki-laki brengs*k diluar sana. Karna kamu baik, aku gak bakal sentuh pacar kamu. Tapi, kamu tetep milik aku!!^^ toh, pacar kamu sepertinya gak tertarik sama kamu.


Pokonya kamu milik aku!


Mika punya aku!


Selamanya~]


Setelah membaca suratnya, gua jadi ngerti alasan dia suka sama gua bukan karena gua keren atau karena gua belum punya pacar. Tapi alasan sebenarnya adalah karna gua sesuai dengan ekspektasinya. Cowok yang gak suka mainin perasaan cewek. Itulah sudut pandang nya saat melihat gua.


~Flashback Off~


"Jadi gua mutusin untuk jadi cowok brengs*k! Dengan pura-pura tertarik pada Adel yang notabenya sahabat pacar gua. Hohohoh ...!" jelas Mika tertawa jahat. Membuat mereka semua menatapnya datar.


"Dengan begitu, ekspektasinya terhadap gua bakal hancur. Dan dia bakal benci sama gua. Masalah pun selesai! Duh, gua pintar banget yak!" lanjutnya lagi yang dapat mengundang kekesalan di hati teman-temannya.


Plak!


Bug!


Adel dan Siska dengan kompak memukul lelaki yang sedang tertawa itu dengan kesal. Keduanya kemudian saling pandang dan bertos dengan wajah datar. Entah kenapa sepertinya hari ini mereka terlihat akur.


"Awws ...! Sakit bodoh! Kenapa kalian mukul gua?" ketus Mika menatap sinis Adel dan Siska.


"Lo ngeselin sih! Makanya gua pukul!" jawab Siska dengan tangan ia lipat di dada.


"Hm." Adel hanya berdehem setuju dengan ucapan Siska.


"Jadi gimana, apa masalahnya udah selesai sekarang?" Daffa yang tadinya diam kini angkat bicara.


"Sepertinya begitu," jawab Mika tersenyum senang. "Soalnya tadi dia udah pergi dari sini," lanjutnya lagi.


"Emang dia ada di sini tadi?" Kini Fani lah yang bertanya. Gadis itu tampak masi penasaran.


"Kalau dia ada di sini, gimana lo bisa tau?" sambung Raihan melanjutkan pertanyaan Fani.


"Bener, tadi Stalker menjijikkan itu ada di sini tadi. Gua bisa tau karena pas si Cewan ngikuti gua, stalker itu juga ikut. Hanya saja, dia tertinggal di belakang karena gua dan si Cewan lari di tengah jalan."


"Mika bener, gua juga liat dia sembunyi di balik semak tadi," sahut Adel dengan nada dingin.


Semuanya dibuat kaget dengan Adel. Lalu menatap gadis itu penuh tanda tanya.


"Serius?"


"Gimana wajahnya?" tanya Fani antusias.


"Masi cantikan gua kan?" sambung Siska dengan pedenya.


"Lo bener ngeliat?" Daffa juga tampak tertarik.


Adel tersedak kaget sendiri mendengar banyaknya pertanyaan yang mereka tanyakan. Sementara Mika, lelaki itu tengah tertawa cekikikan melihat Adel yang didesak.


"Adel gak mungkin bisa lihat wajahnya."


Pandangan semuanya beralih dan menatap Mika yang baru saja bicara itu.


"Karena orang itu pakai topi, masker, dan jaket. Dia nutupi semua wajahnya. Jadi kita gak bisa ngenal dia."


Mereka mengangguk paham dengan penjelasan Mika. Kemudian tertawa kekeh saat mendengar lelucon kecil yang diucapkan Raihan.


"Mika."


Mika menoleh menatap Daffa yang baru saja memanggilnya itu.


"Gua minta maaf, karena marah seenaknya sama lo. Padahal lo lagi ada masalah, tapi gua malah marah-marah gak jelas. Sekali lagi, gua minta maaf. Gua yang salah!"


"Santai aja kali Daff. Lo juga gak salah sih, gua yang salah karena gak terbuka sama kalian semua. Tapi sekarang hati gua bener-bener lega. Makasi buat kalian karena udah mau dengerin cerita gua."


"Gitu dong, jangan main rahasia an! Gini kan enak. Jangan berantem lagi! Kalian kan teman." Siska tersenyum riang yang dapat mengundang senyuman pada wajah mereka semua.


"Kenapa 'kalian'? Harusnya 'kita' dong?! Kita semua kan teman!!" sahut Raihan membenarkan perkataan Siska.


"Bener! Mari kita berteman selamanya!" balas Fani menangguk antusias. Semuanya tertawa geli melihat tingkah gadis itu.


Adel menatap satu persatu wajah orang-orang di depannya. Semuanya tengah tertawa dengan riang. Sementara ia hanya berekspresi datar. Tak ingin menunjukkan perasaan yang sebenarnya.


Teman? Entah berapa kali ia mendengar kata itu hari ini. Apa Adel bisa bersama dengan mereka lebih lama lagi?


Nyuttt.


Entah kenapa fakta itu sangat menyakitkan. Hatinya terasa sesak. Adel hanya berharap, jika ia tak punya banyak waktu. Tolong jangan pernah hilangkan senyuman dari wajah orang-orang ini.


TBC ....


#Next?