Ice Girl

Ice Girl
part 45



Jangan jadi pembaca gelap!👀😾


Ice Girls


~Happy Reading💞~


Masa pelatihan telah dimulai sejak tadi. Kini semua orang telah berada di dalam kegelapan. Mengikuti petunjuk jalan dengan bermodalkan cahaya senter dan bulan.


Mika sebisa mungkin menahan rasa kesal. Melihat kedua gadis yang sedang bergelayut manja di lengannya.


"Lepasin tangan gua, ini gak nyaman," kata Mika dingin.


Bagaimana bisa ia bergerak dalam keadaan begini? Di kedua tangannya menempel Lia dan Olive. Kedua gadis itu tak mau melepaskannya. Melihat jalan pun susah jika begini ceritanya.


"Gak mau. Lia takut gelap."


"Iya, Olive juga takut. Serem banget. Huaa ...!"


Seketika ia bergidik ngeri mendengar jawaban kedua orang itu. Bukan hantu atau apalagi, yang bikin Mika merinding tak lain adalah cara bicara Lia dan Olive. Menggelikan! Dia tak suka!


"Kalau begini, gua gak bakal bisa lihat petunjuknya. Lepesin gua, biar kita cepat keluar dari hutan ini."


Diluar dugaannya, Lia dan Olive menurut. Melepaskan tangan Mika meski ragu-ragu. Rupanya kedua gadis ini juga ingin cepat-cepat keluar.


"Begini lebih baik." Mika mengusap-usap pelan kedua tangannya secara bergantian. Seperti membersihkan debu yang menempel di sana. Akhirnya ia bebas juga.


"Ah! Mika, disitu ada tanda panah. Sepertinya kita disuruh ke kanan." Lia mengarahkan senter pada tanda jejak yang bersimbolkan panah ke kanan.


Mika yang melihatnya mengangguk setuju lantas menjawab tanpa minat.


"Terserah, ayo kita ke kanan."


"Baik!" jawab keduanya dengan antusias.


Lagi dan lagi mereka kembali memeluk lengan lelaki itu. Membuat Mika hanya bisa mendengus pasrah dan berjalan dengan cepat. Ia harus segera keluar dari sini. Ini menyebalkan!


Dilain sisi pada waktu yang sama.


Hanya ada keheningan di antara mereka. Tak ada satupun yang berbicara. Suasananya jadi canggung. Meski begitu, ketiganya tetap melanjutkan perjalanan dalam diam.


"Maaf."


Langkah kaki kedua gadis itu tiba-tiba terhenti. Kala Adel berbicara dengan sedikit bergumam.


"Untuk apa lo minta maaf?" ketus Siska tanpa menoleh.


"Benar. Apa lo pikir itu masuk akal?" sambung Fani merasa kecewa dengan jawaban Adel beberapa saat yang lalu.


Bisa-bisanya Adel berbohong pada mereka. Mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Apa mereka bisa percaya? Saat melihat gadis itu terus mimisan akhir-akhir ini. Berbohong juga ada batasnya! Kenapa Adel tak pernah terbuka pada mereka?


"Apa kalian marah?" Adel menatap kedua temannya datar. Meremas ujung roknya dengan gusar. Wajahnya terlihat sangat pucat dengan tubuh yang tak henti gemetar.


Siska dan Fani diam. Tak berniat untuk menjawab pertanyaan gadis itu sekarang. Entah kenapa mereka sangat kecewa dengan Adel.


"Maaf ... gua bohong."


Mereka tersentak kaget mendengar pengakuan Adel. Lalu berbalik melihat keadaan gadis itu.


Adel menunduk dengan wajah suram. Tubuhnya masi tidak berhenti gemetar.


"Trauma."


Tiba-tiba saja Adel mengatakan hal itu. Siska dan Fani masi diam. Tak tahu harus berkata apa untuk menanggapi Adel.


Adel menggigit bibir bawahnya. Masi dengan posisi menunduk. Ia tak berani menatap mata kedua orang di depannya.


"Hu–hutan, gua ... takut," ucap Adel sedikit bergumam.


"Benci, gua gak suka. Sama sekali."


Perkataannya terdengar ambigu. Namun bisa dimengerti oleh Fani dan Siska.


"Maksudnya, lo trauma dengan hutan?" tanya Fani akhirnya bersuara. Adel hanya mengangguk, gadis itu bahkan belum mengangkat kepalanya.


"Kenapa?"


"Ingatan buruk."


"Ingatan buruk? Lo punya kenangan buruk tentang hutan? Apa itu sangat menakutkan?"


Lagi dan lagi Adel hanya mengangguk menjawab pertanyaan yang Fani lontarkan.


"Maaf. Gak bisa."


"Hah ...! Udah gua duga, lo gak bakal kasi tau. Kenapa lo gak pernah terbu—"


"Hei, Es batu!" Siska yang tadinya diam kini berjalan ke arah Adel.


"Angkat kepalamu," lanjutnya sudah berdiri tepat di depan gadis itu. Adel masi diam tak berkutik. Melihat itu, Siska mengangkat kepala Adel dengan paksa. Membuat gadis itu akhirnya bisa menatap wajah Siska dengan jelas.


"Lo bilang, lo trauma dengan hutan. Meski lo gak mau ngasi tau alasannya. Tapi, kenapa lo ikut ke perkemahan? Bukankah lo sangat takut dengan hutan dan membencinya?"


Jleb!


Kena sudah! Adel tak tahu harus jawab apa. Ia langsung saja membuang wajah ke samping. Dengan keringan dingin di sekujur tubuh.


"Em ... I–itu karna ...."


"Karena apa, hm?"


"Gua sebenarnya, ka–karena ... I–itu." Wajah Adel mulai memerah. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu sekarang.


"Karena kita pergi. Lo gak mau bikin kita kecewa dan akhirnya lo ikut pergi. Meski tau, lo gak bakal baik-baik aja di sini. Benar 'kan?"


Blush!


Wajahnya semakin merah padam. Seperti kepiting rebus. Ingin sekali rasanya Adel menyembunyikan wajah di lubang tikus sangkin malunya. Bagaimana mungkin Siska tahu?


"Wah ...! Benarkah?" Fani tampak antusias. Ia pandang Adel dengan takjub.


"Ma–mana mungkin!!" elak Adel sedikit berteriak.


"Pfthh! Hahaha ...! Bener begitu rupanya! Hahah."


Siska tertawa pecah. Merasa lucu melihat wajah Adel yang memerah menahan malu. Ingin sekali ia mengabadikan momen langka ini. Sayangnya, ponsel miliknya tertinggal di tenda.


"Hei Es batu, gua gak nyangka lo punya sisi begini juga. Dulu lo bahkan gak peduli sama orang lain. Hihi ... biasanya kan ekspresi lo datar mulu wkwk. Lucu sekali!"


"Diamlah."


"Bener Sis, Adel jadi dingin lagi hahah. Dia ngambek tuh."


"Menyebalkan sekali," gumam Adel melihat kedua orang itu menertawakan dirinya dengan sangat keras. Tapi, ini lebih baik. Adel mungkin cukup suka melihat senyum itu? Mungkin.


Siska menyeka air yang keluar dari sudut matanya. Sangkin kuatnya ia tertawa sampai-sampai perutnya tersa keram.


"Hah ... sudahlah, kita maafin lo. Setidaknya lo mau jujur dengan yang satu ini."


Fani mengangguk menyetujui perkataan Siska. Satu sudut bibir Adel terangkat, menampilkan senyum smirk.


"Makasi," ujarnya.


"Ck! Senyum lo tetep aja nyeremin!"


"Bener, Adel harus belajar senyum, dong!"


Mereka lagi-lagi tertawa. Dengan Adel yang hanya menatap senyuman itu dalam diam.


"Ah! Kita harus cepat keluar nih, kayanya anak lain udah pada selesai deh?"


"Fani bener, ayo kita cari tanda dan keluar dari sini. Kasian si Es batu ketakutan mulu. Mana gelap lagi."


"...."


Ketiganya lalu melanjutkan perjalanan. Sesekali Siska melirik Adel yang tampak pucat pasi. Gadis itu menggenggam tangan Fani dengan erat. Tampak sangat ketakutan. Rupanya ia tak berbohong tentang trauma.


Tanpa mereka sadari, seseorang telah memutar tanda jejaknya. Panah yang tadinya mengarah ke kanan kini diganti ke kiri.


Tanpa tahu apapun. Mereka berbelok ke arah kiri. Mengikuti tanda jejak yang salah.


Seseorang dengan hoodie hitam tersenyum licik di balik maskernya.


'Mika sayang, bukankah aku sudah bilang? Akan kusingkirkan semuanya!' batinnya tertawa jahat sembari menatap tajam punggung Adel dan Siska dari balik semak.


TBC ....


Semakin sering komen bawel, semakin cepat up nya^^


kalau ngak maju ceritanya, gak ada yang like,komen,vote atau mem favorit cerita author, author berhenti aja deh:v


#gimanaaa?