
Jangan jadi pembaca gelap!👀😾
Nah, kita up cepat🙈
Ice Girls
~Happy Reading💞~
"Dia lebih tampan daripada lo."
Jlep!
Sakit tapi tak berdarah. Bisa-bisanya Adel membandingkannya Dengan alfian. Sungguh keterlaluan!
Adel menyerngit kala bocah di depannya menatapnya dalam diam. Mata Alfi berbinar seolah melihat sesuatu yang menakjubkan.
"Kena—"
"Uwah ... kakak sangat cantik," ucap Alfi kagum dengan wajah Adel. Kemudian bocah itu membelai pipi Adel. Membuat Daffa terperanjat kaget karenanya.
Alfi, adiknya itu benar-benar tak sopan! Daffa saja tak pernah memegang pipi Adel. Ukh, seketika ia ingin menjadi anak kecil rasanya.
"Nama kakak siapa?"
"Adel."
"Gak cocok!" bantah Alfi menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Benarkah?" Adel tampak tertarik. Wajah Alfi benar-benar menggemaskan menurutnya. Bocah ini terlihat pintar dan ramah seperti Daffa.
"Iya, gak cocok," jawab Alfi.
"Karna kakak lebih cocok dipanggil Mala!" lanjutnya lagi yang dapat membuat dahi Daffa dan Adel berkedut.
"Mala?" kompak keduanya. Memandang Alfi yang tengah tersenyum manis pada Adel dan berkata.
"Malaikat!"
Jeder!
Sontak Daffa membeku mendengar gombalan Alfi. Ia tatap sang adik dengan jengkel, padahal Daffa sudah mengingatkan untuk tidak nakal! Hah ... Alfi benar-benar!
Bahu Adel terlihat bergetar, ia paling kan wajah ke samping dan kemudian menutup mulut menyembunyikan tawa.
"Ehem," dehem Adel, kembali menatap Alfian dengan lekat.
"Baiklah, kalau begitu kau Pangeran!" ujar Adel tersenyum tipis. Sungguh sisi yang jarang ditunjukkan olehnya.
Daffa hanya menatap kedua orang itu dalam diam. Tak tahu harus menimbrung apa.
Cup!
Lagi dan lagi Daffa melotot kaget karena perilaku Alfi. Tak hanya Daffa, kali ini Adel juga kaget. Ia pegang pipinya yang baru saja dicium oleh bocah itu.
"Kalau Alfi Pangeran, berarti harus tinggal sama Malaikat, dong!" ucap Alfi lalu berjongkok dan mengecup tangan Adel dramatis.
"Maukah Kakak jadi pacar Alfi?" lanjutnya masi dengan posisi yang sama.
Satu detik!
Dua detik!
Keduanya masi tertegun, syok dengan kata-kata yang dilontarkan bocah itu. Sesaat kemudian tawa Adel pecah.
"Pftt, Hahah!"
Adel sungguh tak kuat menahan tawa, bisa-bisanya ia ditembak oleh bocah umur enam tahun. Ia peluk tubuh Alfi dengan geram dan kemudian melirik Daffa yang masi bengong di belakang.
"Sumpah! Bukan adek gua," ujar Daffa menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
Adel melepas pelukannya. Memegang kedua bahu kecil Alfi dan berkata.
"Tentu, aku mau!"
"Apa?!" kaget Daffa.
Sementara Alfian, bocah itu tampak antusias dengan jawaban Adel. Demi apa! Ia dapat pacar secantik Adel? Wah, ini benar-benar keberuntungan bagi Alfi.
"Jadi, Kakak sekarang pacar Alfi?"
Adel mengangguk geli.
"Oi, bocah! Putusin Adel sekarang!" murka Daffa.
Adel menatapnya datar. Bisa-bisanya orang itu terbawa suasana. Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Daffa?
"Gak mau!" bantah Alfi menatap sengit kakaknya.
"Siapa cepat, dia dapat," lanjutnya ternyum jahil.
"Dasar, bocah tengik!"
"Del, masa lo mau pacaran sama adek gua sih?"
Adel menatap Daffa sinis, masa orang ini berpikir begitu? Padahal ia hanya bercanda! Sungguh, Daffa lebih kekanak-kanakan dari yang Adel kira.
"Sinting!" ketus Adel.
Ia bawa Alfian dalam gendongannya dan pergi meninggalkan Daffa. Alfi menoleh, memeletkan lidahnya dan berkata pada Daffa dengan suara pelan.
"Heheh, aku menang! Wlee ...."
"Bocah bangs— ah! Sabar Daffa, dia adek lo."
Daffa mengelus dadanya sabar. Lalu melangkah pergi mengikuti Adel. Ia berjanji, tak akan pernah membawa Alfi kemana pun lagi!
****
Dalam suasana hening dan damai, gadis itu terlihat melamun dengan wajah lesu. Ia masukkan kaki ke dalam kolam lantas mengayunkannya perlahan.
Hanya raganya saja yang ada di sini, sedangkan pikirannya melayang entah kemana. Gadis itu tampak memikirkan sesuatu yang sangat penting. Hatinya terasa sesak, ia bingung harus bagaimana.
"Na ... Nona! Nona Fani!"
Fani tersadar dari lamunannya. Ia tolehkan kepala menatap Bi Minah dengan dahi yang berkedut.
"Kenapa?"
"Tuan besar dan Nyonya pulang."
Deg!
"A–apa?"
Fani melototkan mata syok. Ia gelengkan kepala lemah. Apa yang harus ia lakukan?
"Ayo Nona, Tuan dan Nyonya mencari Anda. Mereka ada di ruang tengah."
Fani mengganguk patuh dan melangkah pergi menuju ruang tamu. Kakinya berhenti kala dapat melihat pria berbadan tegap dari kejauhan. Dia adalah Hendri—Ayahnya Fani.
Di samping Hendri duduk seorang wanita yang tak lain adalah Ibu tiri—Fani. Nama wanita itu Tiara.
Fani menarik nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya melangkah maju ke sana.
"Nona," panggil Bi Minah lirih. Fani menoleh lalu tersenyum hangat.
"Gapapa Bik, jangan khawatir. Semuanya bakal baik-baik aja."
Usai berkata begitu, Fani benar-benar melangkah pergi. Ia berdiri tegap di depan Hendri dan Tiara. Matanya menatap datar kedua orang itu.
"Apa kau tak ingin memberi salam pada ayahmu ini?" tanya Hendri.
Fani membungkuk lantas berkata tanpa ekspresi.
"Selamat datang Ayah, anda pasti lelah dan ...." mata Fani melirik sinis Tiara.
"Selamat datang juga Ibu," lanjutnya lagi.
"Hm."
"Duduklah!" titah Hendri.
Fani mengangguk lantas mendudukkan diri pada sofa di belakangnya.
"Baiklah Fani, Putriku tersayang, apakah kau sudah melakukan tugasmu dengan baik?"
"...."
"Kenapa kau diam? Cepat jawab aku!"
Fani menelan salivanya yang terasa berat. Hatinya berdenyut sakit, dadanya terasa sesak tapi, Fani tak boleh ragu! Ia harus menjawab.
"Ya, Ayah. Sudah kulakukan sesuai keinginanmu," jawab Fani dengan wajah datar.
Hendri tersenyum smirk, merasa puas dengan jawaban Fani. Ia tatap putrinya dengan serius lantas berkata.
"Kerja bagus! Tetaplah dekati gadis itu dan berteman dengannya. Sampai aku mengatakan langkah selanjutnya, jangan pernah kau bersimpati atau terbawa perasaan! Ingatlah, nyawa ibumu ada di tangan ku."
Fani mengangguk lemah.
"Baik," jawabnya patuh dan kemudian berdiri meninggalkan Hendri dan Tiara tanpa berkata apapun lagi.
Hendri menatap kosong ke depan. Seculas senyum iblis terpatri di wajah tampan nya.
"Lihatlah dari alam sana Faisal, putri kesayanganmu akan kubuat menderita!" ujarnya tertawa jahat.
TBC ....
Saran: Baca prolog lagi, biar lebih paham! Wkwk
#Next?