
Ice Girls
~Happy Reading💞~
"Jangan keterlaluan!!"
Adel tersentak kaget melihat Mika yang jatuh tersunggur di tanah. Ia lalu mendongak menatap pelaku yang baru saja memukul pria itu.
"Daffa?"
Wajah Daffa memerah menahan marah. Ia tatap Mika yang jatuh di tanah dengan wajah datar. Ia bahkan tak peduli dengan Adel yang memanggilnya.
Mika berdiri. Ia menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Daffa terlihat tak peduli dengan luka kecil itu. Dirinya kini sedang kesal. Benar-benar kesal! Rasanya, Daffa ingin menonjok wajah itu sekali lagi.
Keduanya jadi pusat perhatian seluruh kelas yang ada di sana. Siska, Fani dan Raihan berlari tergesa-gesa ke tempat mereka berada.
"Kenapa?" tanya Fani pada Adel yang hanya menatap datar dirinya tanpa bicara apapun.
Jujur, Adel pun bingung dengan apa yang terjadi sekarang. Gadis itu memandang kedua wajah pria di depannya secara bergantian. Mata keduanya saling bersitatap tajam. Membuat Adel bergidik ngeri melihatnya.
"Darah?! Cojut, bibir lo berdarah!!" Heboh Siska menatap bibir dan pipi Mika yang lembam akibat Daffa.
"Woi! Kalian berdua kenapa? Gak malu? Semuanya pada ngeliatin kalian. Jadi pusat perhatian, bodoh!!" maki Raihan kesal melihat kelakuan kedua orang di depannya itu.
Mika menunduk dengan wajah suram. Kemudian berkata dengan dinginnya.
"Sebelumnya gua bakal tanya secara baik-baik," kata Mika masi dengan menunduk. Tangannya memegang sudut bibir yang terasa perih. Hah ...! Ini benar-benar merepotkan.
Semua orang menatap Mika yang sedang bicara itu. Entah kenapa, tiba-tiba suasananya jadi suram. Tak ada seorang pun yang berani angkat bicara.
"Kenapa?" Ia mendongak menatap Daffa berusaha menampilkan senyum terbaik miliknya.
"Kenapa lo mukul, gua?" lanjut Mika mengubah nada bicaranya jadi dingin dan menatap datar Daffa.
Tangan Daffa mengkepal kuat hingga membuat kuku-kuku di jarinya memutih. Matanya menatap kesal Mika yang bicara itu.
"Lo masi nanya?!" teriak Daffa murka. Semua orang yang menyaksikan menelan salivanya gusar. Baru kali ini mereka melihat Daffa marah dengan seramnya.
"Lo udah keterlaluan!!"
Kedua alis Mika bertaut heran mendengar perkataan Daffa. Keterlaluan katanya? Keterlaluan apa? Sebenarnya apa yang ia lakukan sampai Daffa berkata begitu dan memukul wajahnya tanpa alasan?
Seingat Mika, tadi ia hanya memegang bibir Adel yang terluka dan tiba-tiba saja Daffa datang dan memu ....
"Ah, begitu rupanya!" gumam Mika menyadari kesalahannya. Ia akhirnya tahu alasan pria itu tiba-tiba menyerangnya. Jadi karena itu? Wah ... Mika pikir, selama ini Daffa hanya main-main bilang suka pada Adel. Dia salah besar!
"Keterlaluan, ya?" tanya Mika mengulang perkataan Daffa tadi sembari terkekeh kecil. Lalu tanpa aba-aba ia berlari dan melayangkan tinju membalas apa yang telah Daffa perbuat dengan wajah tampan nya.
"Ck, emang lo siapa?!" seru Mika menatap remeh Daffa yang sudah tersungkur di tanah akibat pukulan darinya.
Semua orang yang melihat kejadian itu seketika syok tanpa bisa berkata apapun. Tak ada yang berani melerai. Mereka bahkan tak tahu, apa yang membuat kedua pria tampan itu berkelahi.
Tubuh Adel mematung. Ia juga kaget melihat Mika yang tiba-tiba memukul Daffa dengan kuatnya. Sesaat kemudian, Adel tersadar. Diliriknya Daffa yang sedang jatuh di tanah itu.
Luka yang didapat Daffa lebih parah daripada Mika. Kepalanya bocor mengeluarkan darah. Sepertinya saat Daffa terjatuh tadi, kepalanya mengenai batu dan akhirnya jadi begini. Tak hanya itu, sudut bibir pria itu robek dengan pipi kanan yang lembam. Ukh ... benar-benar kacau!
"Da–Daffa ...."
Lelaki itu berdiri dan kemudian menoleh menatap gadis yang baru saja memanggil namanya itu. Adel menelan salivanya gugup. Ia bingung, apa yang harus Adel lakukan? Siapa saja tolong hentikan perkelahian ini!
"Hah ... dasar lemah!!"
Kalimat menyebalkan itu dapat membuat emosi Daffa tersulut. Ditatapnya sinis Mika yang menatapnya santai.
"Apa?"
Bugh!
Satu bonggeman milik Daffa mendarat mulus di perut Mika. Membuat lelaki itu membungkuk memegang perutnya merasa sakit.
"Brengs*k!!" umpat nya balas memukul Daffa.
Bugh!
Keduanya saling pukul satu sama lain tanpa mau berhenti. Adel memandang khawatir Daffa. Sepertinya Mika lebih unggul daripada lelaki itu. Sehingga Daffa lebih banyak mendapatkan luka.
"Hentikan!" teriak Adel yang tak didengarkan oleh keduanya. Wajah gadis itu sudah terlihat pucat pasi.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Mika tak henti-henti memukul Daffa dengan membabi buta. Membuat lelaki itu meringis kesakitan.
"Lo gak punya hak! Emang lo siapa nya, hah?"
Semua orang hanya bisa menonton tak berani melerai. Mereka dibuat bingung dengan perkataan ambigu yang terucap dari mulut Mika itu.
Dada Adel terasa sesak melihat perkelahian keduanya. Kenapa tak ada yang berani memisahkan dua cecunguk ini? Ia tatap Raihan yang mematung.
Sepertinya, lelaki itu juga syok dengan perkelahian antara Mika dan Daffa sekarang. Jujur, baru kali ini Raihan melihat Mika semarah itu. Selama ini, walaupun terkenal jutek dan kasar. Mika belum pernah terlibat kasus perkelahian di sekolah. Raihan tak habis pikir, Mika yang ia kenal sejak SMP ternyata jago berkelahi.
"Iya, gua gak punya! Lantas, apa lo punya hak?"
Daffa membalikkan posisi dan menghajar Mika dengan gila nya. Ia bahkan tak peduli dengan tatapan orang-orang yang kini sedang tertuju padanya.
"Hentikan!!"
Suara Adel terdengar bergetar seperti menahan tangis. Membuat pergerakan Daffa dapat terhenti. Lelaki itu menoleh hendak melihat keadaan Adel sekarang.
Bug!
"Akhh ...!"
Mika berdiri sempoyongan. Lukanya juga cukup parah. Tapi ia masi bisa menahannya. Dengan wajah dingin Mika menatap Daffa yang baru saja berdiri itu.
"Jangan lengah!" ucap Mika tersenyum remeh. Ia bersiap untuk memukul Daffa lagi.
"Kali ini gua gak bakal lengah!" balas Daffa tanpa ekspresi. Dirinya juga siap untuk memberikan pukulan pada wajah lelaki itu.
Adel menatap syok keduanya. Mereka sudah gila? Mau adu pukul? Dasar bodoh!
"Berhenti!!" teriak Adel dengan mata yang terpejam. Ia tahu ini tindakan yang nekat. Tapi, mau bagaimana lagi?! Ia harus menghentikan perkelahian ini.
Tinju keduanya terhenti di udara. Pukulan mereka hampir saja mengenai Adel yang tiba-tiba berdiri di tengah-tengah sembari berteriak. Untung saja mereka bisa menahan pergerakannya. Jika tidak, entahlah! Entah apa yang akan terjadi pada gadis itu.
Perlahan Adel membuka matanya. Tinju kedua orang itu masi tertahan di udara. Hampir mengenai wajahnya. Ia lirik Daffa dan Mika secara bergantian. Lalu dengan gusar menelan salivanya dan menurunkan kedua tangan mereka perlahan.
Daffa dan Mika yang melihat reaksi gadis itu. Dengan kompak membuang wajah ke samping. Keduanya tersenyum geli. Lalu secara besamaan berdehem kecil.
****
Tok, tok, tok.
Indra yang tadinya sedang terfokus pada layar komputer. Kini menoleh menatap pintu kamar.
"Masuk," titahnya.
Terdengar suara pintu yang dibuka. Menampilkan seorang pria paruh baya. Namanya adalah Irwin. Irwin merupakan orang kepercayaan Indra. Ia sudah bekerja pada Indra cukup lama.
"Saya sudah menjalankan semuanya. Sesuai perintah yang anda berikan, tuan."
Indra mengganguk.
"Bagus. Di mana wanita itu sekarang?" tanya Indra meminum kopi nya yang sudah dingin.
"Ada di kamar tamu. Awalnya kami sudah membujuknya secara baik-baik, tapi ia menolak dan tak mau ikut. Jadi, sesuai perintah anda, kami membawanya secara paksa. Lalu mengurungnya di dalam kamar tamu."
"Kamar tamu?"
"Tenang saja, di depan pintu kamar itu sudah saya tempatkan dua bodyguard penjaga. Jadi, dia tak akan bisa kabur dengan mudah," jelas Irwin menatap tegas Indra. Inilah yang Indra suka darinya. Irwin sangat teliti dan tegas.
"Hmmm, baiklah! Bawa dia ke sini."
"A–apa?"
"Kau tuli?"
"Ba–baiklah, tuan Muda." Irwin melangkah kan kakinya pergi dari sana. Meninggalkan Indra yang menatap kosong layar komputer di depannya.
Pikirannya mulai kalut. Mengingat sang adik yang sedang berkemah di hutan. Apa dia baik-baik saja?
"Jika aku mati, tak akan ada yang peduli."
"Kenapa kau mencariku, kak?"
"Menjauhlah, aku tak butuh hiburan."
"Aku ini monster."
Kalimat-kalimat kejam yang diucapkan Adel beberapa waktu lalu, masi terngiang-ngiang di pikiran Indra.
"Hah ...!" Ia menghela nafas lelah.
"Monster apanya? Kau bahkan lebih baik daripada malaikat," gumam Indra tersenyum miris.
"Tuan, saya sudah membawanya."
Suara lantang milik Irwin dapat membuyarkan lamunan Indra. Cepat juga dia sampainya.
"Masuk."
Irwin menurut masuk dengan dua orang bodyguard dan satu wanita dengan mulut dilakban di belakangnya.
"Lepas lakban nya," titah Indra sembari menatap wanita yang tengah menatap tajam dirinya itu. Bodyguard itu mengangguk lantas membuka lakban pada mulut si wanita.
"Dasar anak kurang ajar! Br*ngsek! Kepar*t! M*ti saja kau sial*n!!"
Kata-kata kasar itu langsung saja keluar dari mulutnya kala lakban itu dibuka. Irwin yang mendengarnya hanya bisa memejamkan mata dalam diam. Itulah sebabnya ia menutup mulut wanita ini. Dia sangat berisik.
"Rupanya Dokter juga bisa berkata kasar, ya?"
"Aku kan sudah bilang, jadwalku penuh hari ini! Kenapa kau terus memaksaku, bocah tengik?!"
"Saya hanya ingin mendengar cerita tentang penyakit Adik saya. Bukankah, anda adalah dokter yang bertanggung jawab atas adik saya? Dokter Sherin."
"Sebelum itu, lepaskan aku dulu br*ngsek!!" umpat Sherin meronta mencoba melepaskan dirinya dari pegangan salah satu bodyguard itu.
"Wah ...! Anda benar-benar tidak sopan, ya? Dari tadi bicara kasar terus," kekeh Indra.
"Lepaskan tangannya," lanjutnya lagi memberi perintah pada bodyguard. Bodyguard itu mengangguk dan akhirnya melepaskan tangan Sherin.
"Kau lah yang tidak sopan! Menculik orang di depan rumahnya sendiri. Dasar bocah! Hah ... anak dan suamiku pasti sedang khawatir."
"Tenang saja, orangku sudah menghubungi suamimu. Lalu mengatakan kalau kau punya jadwal mendadak hari ini dan akan pulang besok," jawab Indra enteng.
"Sekarang, kau bisa mengatakan segalanya dengan tenang 'kan, Dok?" lanjutnya menampilkan senyum manis.
Sherin menatapnya kesal, ingin sekali ia menampar wajah menyebalkan itu. Rupanya anak ini sudah mengatur semuanya.
"Dasar bocah tengik!!"
TBC ...
Jangan lupa ikuti dan sukai novel author ya😂, biar tambah semangat up nya...