Ice Girl

Ice Girl
part 40



Ice Girls


~Happy Reading💞~


"Akhhh ...!" ringis Daffa kala Adel menekan lukanya.


Adel berhenti. Tadinya gadis itu tengah mengobati luka Daffa. Lalu ia mendongak menatap Daffa datar.


"Sakit?"


"Eng–enggak."


"Yakin?"


"Ukh ... iya, sedikit."


Adel menghela nafas lelah. Tangannya menyibak rambut lelaki itu. Menampilkan luka di kepala Daffa yang sudah kering.


"Tenang." Ia mulai membersihkan luka pada kepala Daffa dengan cekatan.


"Gua obati pelan-pelan," lanjutnya menutup luka itu dengan perban setelah selesai memberi obat.


Daffa menyentuh kepalanya yang sudah tertutup perban. Rapi juga, ternyata Adel cukup pintar dalam hal seperti ini.


Matanya melirik gadis itu yang Tengah membalut Es batu menggunakan kain. Daffa menyerngit lalu bertanya karena penasaran.


"Es? Lo mau buat apa?" tanya Daffa menatap lekat Adel yang masi sibuk dengan aktivitasnya.


"...."


"Hei, gua kan lagi nanya. Kena—"


Deg!


"Dingin!" seru Daffa menjauhkan dirinya kaget. Kala Adel menempelkan es yang berbalut kain itu ke pipi Daffa dengan tiba-tiba.


"Pipi lo." Dengan wajah tanpa ekspresi Adel menunjuk ke arah pipi Daffa.


"Kenapa?"


"Lembam," lanjut Adel dingin.


Daffa mengangguk paham. Lalu dengan cepat mengambil alih es yang ada di tangan Adel.


"Biar gua aja yang kompres," katanya menempelkan es itu di pipi perlahan.


Adel mengangguk lantas menatap kosong ke depan. Mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Ada satu pertanyaan yang terlintas di pikirannya.


"Kenapa?"


Daffa tersentak, ia menoleh menatap Adel yang berbicara dengan pandangan ke depan itu.


"Kenapa lo mukul Mika?" Kini Adel juga menoleh dan menatapnya. Mata keduanya saling bersitatap beberapa menit. Hingga akhirnya, Daffa memutuskan kontak mata lebih dulu.


"Lo suka Mika?"


Pertanyaan konyol itu tiba-tiba saja terucap dari mulut Daffa. Membuat Adel tercengang kaget mendengarnya. Gadis itu dengan cepat menggelengkan kepala tak mampu berkata apa-apa. Ia sangat kaget, bagaimana bisa Daffa berpikir begitu?


"Suka atau tidak?" tanyanya lagi dengan mata yang memandang lekat Adel. Wajahnya terlihat sangat serius.


"Gila! Lo gila?" seru Adel tak suka dengan pertanyaan Daffa. Ia benar-benar kesal sekarang. Jika saja wajah pria itu tak penuh dengan luka. Adel yakin, ia sudah akan memukul Daffa. Supaya otak pria itu berfungsi kembali. Sepertinya, saat terhantam batu tadi, otaknya juga ikut tergeser.


"Iya, gua emang gila," jawab Daffa sedikit berteriak. "Karena itu, lo harus jawab! Supaya gua gak makin gila," lanjutnya memegang kepala fustasi.


"Gua gak suka. Sama sekali enggak."


Jawaban Adel dapat membuat hatinya sedikit tenang. Tapi, ia masi bingung. Jika tak suka kenapa membiarkan Mika begitu? Daffa saja butuh waktu untuk dekat dengan Adel. Tapi Mika dengan mudahnya terlihat akrab dengan gadis itu. Daffa tidak suka!


"Kenapa lo biarin Mika nempel sama lo terus?!"


'Nempel?' batin Adel sedikit geli dengan kalimat Daffa. Siapa yang nempel siapa?


"Gua juga gak tau." Matanya menatap datar Daffa. Jujur, Adel juga bingung dengan perlakuan Mika. Ada yang aneh dengan pria itu. Sangat terlihat jelas! Apa Daffa tak sadar?


"Maksud lo?"


"Aneh. Mika terlihat aneh seharian ini. Gak biasa," jelas Adel mengingat-ingat perlakuan Mika beberapa waktu lalu padanya.


"Aneh apanya?! Dia emang orang yang kurang ajar! Ck, menyebalkan!"


"Seperti ...," ucap Adel tergantung. Ah! Begitu rupanya! Adel sudah tahu jawabannya.


"Ayo, temui Mika!" lanjutnya berdiri dan mengajak Daffa pergi. Bagaimana pun Adel harus membuat kedua orang ini berbaikan.


Daffa menatap Adel tak suka. Ia tarik tangannya dari genggaman gadis itu. Lalu berkata dengan ketusnya.


"Ogah!"


****


Siska berjalan dengan langkah lambat. Ia sedikit gugup. Apa ia harus menyapa pria itu? Sepertinya suasana hati Mika sedang tidak baik. Bisa-bisa ia yang kena tonjok nanti. Masa bodoh! Jika Mika berani memukulnya, Siska balas saja! Ia bukan gadis lemah yang tak pandai bertarung.


Matanya memandang gugup Mika yang tengah bersender di pohon sembari menatap hampa derasnya arus sungai.


Saat perkelahiannya dengan Daffa yang dihentikan Oleh Adel. Mika langsung saja pergi dari keramaian. Tanpa sadar, Siska mengikuti pria itu dan akhirnya berakhir di sini.


"Kenapa lo ngikutin gua?"


Pertanyaan Mika dapat membuat Siska tersentak kaget. Ia langsung saja menghentikan langkahnya. Ternyata pria itu sadar kalau Siska mengikutinya dari tadi. Ia bahkan mengatakannya tanpa menoleh.


Siska menelan Saliva gusar. Lalu menampilkan senyum ceria khas miliknya dan berjalan mendekati Mika.


"Cojut!" sapa nya memegang pundak Mika yang tengah melamun itu. Mika menoleh menatap Siska datar. Membuat gadis itu menelan Saliva nya gusar.


"Lo ma–mau pukul, gu–gua?" tanya Siska gelagapan sembari menunjuk dirinya sendiri dengan tangan gemetar.


"Pfhtt! Hahaha ...! Bodoh! Gua gak mukul cewek!" kekeh Mika yang dapat membuat Siska senang. Akhirnya pria itu kembali tersenyum.


"A–apa yang mau—"


Cup!


Satu kecupan hangat mendarat mulus di kening putihnya. Membuat Siska membeku di tempat. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Mika benar-benar gila! Anak ini sudah gila! Siapa saja, tolong bawa Mika ke Rumah sakit jiwa.


"Bantu gua, hanya sampai dia pergi. Setelah itu, lo boleh pukul gua sepuasnya." Mika berbisik tepat di telinga Siska. Yang dapat membuat gadis itu menahan nafasnya tak bisa berkata-kata.


Mika kembali mengangkat wajahnya. Kemudian menampilkan wajah sedih dan akhirnya menangis mengeluarkan air mata.


"Maafkan aku, sayang. Aku memang salah ... aku mohon jangan putus denganku."


Siska menatapnya bengong. Apa yang? Ah tidak, daripada itu, sayang? Sepertinya Siska sedang bermimpi. Mika menangis? Oh ayolah! Ini tidak lucu. Mimpi ini benar-benar menyeramkan!! Rasanya Siska ingin muntah sekarang.


"Aku tau, kamu marah. Tapi aku jatuh cinta dengan temanmu. Biar begitu, aku juga masi mencintaimu. Jadi, aku mohon jangan putuskan ... a–aku." Mika menangis terisak. Ia jabat kedua tangan Siska lantas menciumnya dengan derai air mata.


Siska masi mematung. Ia masi tak mengerti dengan situasi ini. Putus? Pacaran saja tidak pernah. Menyukai teman? Memang apa urusannya dengan Siska? Oh, ayolah! Drama sialan macam apa ini?!


Eh, tunggu dulu. Drama? Jangan-jangan ...? Mika memintanya bermain drama sekarang? Seperti yang mereka lakukan beberapa hari yang lalu saat menjadi pacar bohongan. Tapi, untuk apa? Di sini kan tidak ada orang tuanya? Entahlah, Siska jadi bingung. Baiklah, kita ikuti saja dulu. Nanti juga Mika akan menjelaskannya, bukan?


"Aku gak mau! Kenapa kamu jadi jahat begini sama aku?" Siska juga membalas Mika sembari mengeluarkan air matanya.


Mika terpaku, pria itu menahan nafasnya berusaha untuk tak tertawa. Akhirnya Siska mengerti sekarang. Baiklah, sepertinya ini jadi cukup menyenangkan.


"Sayang," Mika menyisipkan rambut gadis itu di telinga. Membuat Siska benar-benar ingin memukulnya sekarang.


"Aku gak bakal lepasin kamu, mau kamu semarah apapun denganku. Gak akan pernah!" lanjut Mika memeluk tubuh Siska yang hanya bisa mematung.


'Cojut sial*n! Apa yang lo rencanain b*ngsat! Seenaknya aja meluk dan cium gua! Lo pikir gua cewek macam apa, hah?! Br*ngsek! Gua balas lo!!" batin Siska geram. Ia lepas pelukan Mika padanya. Lalu memegang wajah pria itu dengan kedua tangannya. Menarik wajah Mika hingga mendekat dengan wajahnya.


Deg!


Ia telan salivanya yang terasa berat. Seketika wajahnya jadi panas. Apa yang cewek sinting ini lakukan? Ini terlalu dekat!


"Aku tau kamu cepat bosan. Tapi kenapa? Kenapa harus temanku? Kenapa kamu harus suka sama si Es batu?" lirih Siska menangis terisak. Sepertinya ia ikutan gila sekarang. Peran ini boleh juga. Seperti pentas drama, tapi entah siapa penontonnya.


"Padahal, kamu tahu kalau aku sayang banget sama kamu." Entah kenapa Siska merasa geli dengan kata-katanya sendiri. Ia lalu berjinjit dan memejamkan matanya. Akan ia balas perbuatan cowo br*ngsek ini! Dia pikir hanya dia yang bisa? Siska juga bisa!


Cup!


Satu kecupan mendarat mulus di pipi kanan Mika. Pria itu lalu menjauhkan wajahnya dari Siska karena syok. Memegang pipi yang baru saja dicium dengan wajah memerah.


Deg!


Deg!


Deg!


Jantungnya berdetak kencang. Wajahnya panas dan memerah dengan sendirinya. Napasnya sesak. Perasaan apa ini? Sangat aneh.


"Mengerikan."


Keduanya tersentak kaget lantas menoleh ke samping. Di sana tampak Adel yang memandang mereka datar. Tak hanya gadis itu. Daffa, Raihan dan juga Fani ada di sana. Berbeda dengan Adel, ketiganya tampak syok melihat pemandangan tersebut. Tak ada satupun kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Semuanya bungkam.


Satu sudut bibir Adel terangkat. Ia lalu berjalan ke arah Mika dan menarik kerah baju pria itu. Hingga membuat wajahnya dan Mika berdekatan.


"Gua bantu," bisiknya tepat di telinga Mika. Lalu melepas kerah pria itu. Tampaknya Adel mengetahui sesuatu. Mika tersenyum canggung. Dia pikir Adel akan marah padanya jika tahu maksud Mika yang sebenarnya.


"Lo tau?" Adel balik menatap Siska yang masi bengong itu. Siska sangat malu saat menyadari teman-temannya datang.


"Mika suka gua." sekalipun mengatakannya dengan lantang. Wajah Adel tak bisa ia ubah dan tetap berekspresi datar seperti biasa.


"A–apa?" Ketiga orang yang sedang menonton itu bertanya gelagapan. Mereka tak paham. Situasi macam apa ini?


"Karena itu, menyerah lah!" lanjut Adel berkata dengan dingin.


"Dia kan pacar gua!"


"Dia suka gua."


"Aku suka kalian berdua, kok."


Raihan menempelkan tangan pada dahinya. Kali saja dia sakit dan berhalusinasi. Tidak panas, apa ini nyata? Pertengkaran macam apa ini? Sejak kapan? Membingungkan.


"Rai," panggil Fani pelan. Gadis itu juga bingung dengan apa yang ia lihat sekarang. Siska dan Adel memang sudah sering bertengkar. Tapi, kali ini masalahnya kok agak'....


"Hm?"


"Coba cubit gua, ini mimpi 'kan?" lanjutnya membuat Raihan terkekeh geli.


Sementara Daffa, pria itu juga tak mengerti. Tapi ia memilih untuk diam dan menonton dengan tenang. Sampai kapan mereka akan melakukan hal menyebalkan itu.


"Hah ...! Ini merepotkan!" keluh Adel lantas mendudukkan dirinya pada tanah.


"Syukurlah, makhluk menyeramkan itu sudah pergi." Mika juga ikut duduk di samping Adel. Keduanya sama-sama bernafas lega. Seolah telah menghadapi sesuatu yang sulit.


"Benarkah?" Siska ikut duduk. Ia hapus air mata palsu yang tadi ia keluarkan. "Sekarang jelaskan!" sambungnya menatap tajam Mika.


Daffa, Raihan dan Fani ikut berjalan ke arah mereka. Sepertinya hal aneh itu sudah selesai.


"Benar, jelaskan! Kenapa kalian bersikap aneh? Sejak kapan Siska pacaran dengan lo? Terus, kenapa Adel bilang lo suka sama dia. Dan kenapa Adel juga ikut berantem dan rebutin lo? Bukannya, mereka gak suka sama lo?" Daffa bertanya panjang lebar tanpa menatap wajah Mika sedikit pun. Entah kenapa ia jadi kesal.


"Stalker!" jawab Mika singkat. Tubuhnya seketika merinding membahas itu.


"Stalker?" beo semuanya kecuali Adel. Gadis itu tampak paham dengan situasi Mika. Jujur, Adel juga pernah mengalaminya. Itu sangat mengerikan.


"Benar. Dan dia ada di sini tadi."


"Apa?!"


Lagi dan lagi mereka dibuat kaget oleh Mika.


TBC ....


next...?