
Ice Girls
~Happy Readingđź’ž~
Sore itu sehabis pulang sekolah. Hujan turun dengan lebatnya. Mika yang lagi ada kegiatan di ruang olahraga akhirnya pulang lebih lama.
Kala itu sekolah sudah sangat sunyi. Semua orang telah pulang ke rumah masing-masing. Ya, wajar saja karena jam pulang sudah berbunyi sejak dua jam yang lalu.
Dia berjalan mengitari koridor kelas. Niatnya sih, ingin mencari barang yang bisa ia gunain untuk melindunginya dari hujan.
Kakinya berhenti tepat di depan loker yang bertuliskan label Mikail Alfaresky. Benar! Itu adalah loker milik Mika! Biasanya, ada beberapa gadis yang meninggalkan barang dengan tidak sopan nya di sana.
Mika tak menyangka jika dirinya akan membutuhkan barang-barang itu sekarang. Dulu saja, Ia selalu membuang segalanya ke tong sampah dengan wajah kesal.
Bagaimana tidak? Para gadis itu selalu saja mengusik dirinya. Lokernya yang selalu penuh dengan surat pernyataan cinta, kado kecil, bahkan manisan. Membuat Mika hanya bisa memegang kepala pusing.
"Hah ...!" Ia menghela nafas lelah kala melihat surat-surat dan barang lainnya berjatuhan di lantai saat membuka loker.
Dengan malas Mika memungut semuanya lantas membuang di tong sampah terdekat. Percuma saja, barang yang ia cari tak ada di sana.
Mika pikir, akan ada salah satu penggemarnya yang meletakkan payung sebagai hadiah. Ternyata ia salah.
Jarak dari Aula sekolah ke parkiran cukup jauh. Jika menunggu hujan reda, sepertinya akan sangat lama. Mau tidak mau, sepertinya Mika harus basah kena hujan.
Matanya menatap lekat tetesan air hujan.
"Andai aja ada payung nyasar di dekat gua," ucap Mika terkekeh geli dengan omongannya sendiri.
Setelah berkata begitu. Ia lalu mengambil ancang-ancang hendak menerobos derasnya air hujan. Namun, pergerakan Mika terhenti kala manik matanya tak sengaja melihat sebuah payung tersender di pot bunga yang cukup dekat dengannya.
"Payung?"
Dahinya menyerngit bingung. Kemudian berjalan mendekat untuk memastikan.
"Beneran payung, rupanya!" lanjut Mika bermonolog.
Ia sedikit bingung, kenapa bisa ada payung di sini? Bukannya tadi tidak ada? Aneh. Mika celingak celinguk. Namun tak menemukan seorang pun di sana.
"Bodoh ah, rezeki mana boleh ditolak."
Tanpa pikir panjang, ia ambil payung itu dan memakainya menerobos hujan yang kian menderas.
Dirinya tidak tahu jika payung itu adalah awal yang mengerikan untuk Mika.
Besoknya.
"Han," panggil Mika pada Raihan yang tengah asik bermain game pada ponselnya. Raihan menjawab tanpa menoleh.
"Apa?"
"Kenapa meja gua jadi rapi gini ya?" Heran Mika melihat buku-buku yang tersusun rapi di atas mejanya.
Padahal waktu bel istirahat berbunyi, ia langsung pergi ke kantin. Meninggal kan buku-buku yang berserakan di atas meja. Begitu bel pelajaran masuk, semua buku-buku itu sudah tersusun rapi dengan sendirinya. Apa itu masuk akal?
"Mana gua tau, gua juga baru masuk kelas. Udah ah, jangan ganggu entar gua kalah lagi!" jawab Raihan dengan mata yang masi fokus pada ponselnya.
Mika memjit pelipisnya bingung. Lantas memutuskan untuk tidur. Toh ini jam kosong, jadi tak akan ada guru yang masuk kelas. Masalah meja rapi atau apalah itu, ia tak mau ambil pusing. Intinya, siapapun yang membereskannya. Mika sangat berterima kasih! Karena dengan begitu, ia jadi tak perlu bersusah payah.
"Woi Mik, Mika! Bangun!"
Baru saja ia memejamkan mata. Daffa sudah membangunkannya. Dengan kesal Mika mengangkat kepalanya dari atas meja.
"Apaan?"
"Lo dipanggil Pak rudi. Katanya sih ada hal penting yang mau dia sampeiin sama lo. Palingan juga masalah pertandingan basket nanti sore. Kan elo ketuanya." Setelah mengatakan itu, Daffa kembali duduk di kursinya. Dirinya habis pulang dari kantor guru.
Dengan langkah berat sekaligus malas Mika berjalan meninggalkan kelas. Di sepanjang koridor kelas sepuluh. Para Siswi menyapa ramah dirinya yang tidak digubris oleh Mika. Ia benci gadis yang suka cari muka. Padahal sudah diberi muka, masi saja cari muka. Dasar!
"Kak Mika ...!"
Berbeda dengan gadis yang lain. Gadis satu ini agak tidak tahu malu. Setiap ia melihat Mika, maka ia akan berteriak memanggil namanya dan berlari memeluk Mika.
Mika yang sudah biasa dengan kelakuan adik kelasnya itu melepas pelukannya perlahan.
"Halo, Vera!" ucap Mika membalas sapaannya.
Wajah Vera lagi-lagi memerah seperti biasanya. Ia bahkan terang-terangan menunjukkan rasa sukanya.
"Kakak mau kemana?" tanyanya malu-malu.
"Dipanggil Pak Rudi."
"Lagi?"
"Hm."
"Oh, kalau gitu yang semangat ya kak!" kata Vera sembari tersenyum ceria.
Mika hanya mengangguk lantas pergi meninggalkan gadis itu sendiri.
Sudah tiga puluh menit lamanya Pak Rudi berbicara. Mika hanya diam mendengarkan dengan pikiran yang entah kemana.
"Jadi begitu Mika, apa kamu paham?"
Mika tersentak kaget dari lamunannya. Lantas menjawab dengan tegas.
"Paham pak!" bohongnya. Padahal ia tak tahu apa yang dimaksud oleh pelatihnya itu.
"Bagus. Kalau begitu kamu boleh balik ke kelas sekarang."
"Baik, saya undur diri."
Mika berjalan pergi meninggalkan ruang olahraga. Di perjalanan tanpa sengaja manik matanya menatap Vera. Gadis yang beberapa saat lalu memeluknya.
Vera berjalan menunduk tak seperti biasanya. Ada apa dengan gadis itu? Padahal tadi ia sangat ceria. Mika yang penasaran akhirnya memutuskan untuk memanggilnya.
"Vera!"
Vero mendongak lalu langsung terperanjat kaget melihat kehadiran Mika dari kejauhan. Wajahnya seketika jadi pucat pasi. Tubuhnya gemetar ketakutan. Seperti sedang melihat hantu.
Gadis yang biasanya ceria dan memeluknya itu tengah memandang Mika takut. Itu membuat Mika merasa aneh dan akhirnya memilih mendekati Vera untuk menanyakannya.
Melihat Mika yang berjalan ke arahnya. Vera lagi-lagi kaget. Tanpa pikir panjang, gadis itu berlari kabur dengan ketakutan. Ia tak mau menemui Mika lagi, pokoknya tak akan pernah!
"Aneh," gumam Mika melihat kepergian Vera.
"Maksud lo mulai dari hari itu lo jadi sering ngalamin hal-hal aneh?" tanya Siska setelah usai mendengar cerita Mika. Mika hanya mengangguk menjawab pertanyaannya.
"Tapi, apa hubungannya itu sama stalker?" sahut Raihan bingung setelah mendengar cerita Mika.
"Benar! Apa hubungannya?" sambung Fani.
Daffa yang tadinya ikut mendengarkan mulai tertawa remeh.
"Mulai dari payung, terus buku-buku yang tersusun rapi dan bocah yang tiba-tiba berubah. Bukankah itu hanya hal sepele? Jangan terlalu berlebihan!" kata Daffa tak suka. Rupanya, lelaki itu masih sangat kesal dengan Mika.
"Itu bukan hal sepele!" ketus Mika membalas perkataan Daffa. Daffa menatapnya sinis.
"Lo yang—"
"Apa ada lagi?" tanya Adel memotong perkataan Daffa. Jangan sampai kedua orang ini berkelahi di depannya lagi. Itu hanya akan merepotkan!
"Woi Es batu! Lo kalau ngomong yang jelas dong. Kita juga pengen tau kali!"
Raihan dan Fani mengangguk setuju dengan perkataan Siska. Jujur mereka tak paham apa yang sedang Adel tanyakan sekarang.
"Ck." Adel berdecak kesal. Padahal ia sangat malas bicara. Kenapa teman-temannya begitu lemot?
"Apa ada hal aneh lainnya, yang lo alami setelah kejadian itu?" tanya Adel menerangkan maksudnya. Ia tatap Mika dengan wajah datar.
"Hal aneh apanya? Itu sama sekali gak aneh. Dia nya aja yang berlebihan." Daffa melirik sinis Mika. Entah kenapa, hari ini ia sangat kesal dengan lelaki itu. Mika yang mendengar ejekan Daffa hanya bisa berekspresi jengkel.
"Gua tanya Mika, bukan lo."
Jleb!
"Pftthahah. Hahah ...!" Mereka semua tertawa mendengar ucapan dingin Adel. Sementara Daffa, lelaki itu hanya berdecak kesal. Kenapa Adel lebih membela Mika dibanding dirinya? Menyebalkan!
"Sabar, Daff!" Raihan menepuk pelan pundak Daffa. "Gua paham perasaan lo," lanjutnya terkekeh geli.
Setelah pertengkaran kecil itu. Mereka semua kembali terfokus pada Mika. Menunggu jawaban darinya.
"Seperti yang Adel tanyakan. Apa ada hal aneh lain? Tentu aja ada! Kalau itu doang mah, gua gak bakalan pusing."
"Terus? Apa?"
"Sejak hari itu, hal aneh lainnya pun muncul. Loker gua yang biasanya penuh dengan hadiah, sekarang jadi kosong. Kaya ada yang buang barang-barang itu dari sana. Bukan cuma itu, yang lebih gawatnya lagi. Gua ngalamin hal-lah aneh itu gak cuma di sekolah, tapi di rumah, dan dimana aja gua berada. Pasti ada aja yang aneh. Kaya ada yang ngikutin gua, kemanapun gua pergi."
"Bukannya enak, ya?" sela Siska di tengah-tegah pembicaraan lelaki itu.
"Benar. Awalnya gua suka karna semua hal aneh itu nguntungin gua. Tapi, perlahan semuanya berubah."
"Barang-barang di kamar gua pada ilang entah kemana. Tapi yang gua heran, uang gua tetap utuh. Yang hilang biasanya cuma baju kaos, sepatu, selimut bahkan handuk. Itupun yang bekas gua pakai!" terang Mika bergidik ngeri mengingat kejadian itu.
"Entar emak lo lagi yang ngambil. Mana tau yekan, mau dicuci." Perkataan Raihan dapat mengundang gelak tawa semuanya kecuali Adel. Gadis itu sedari tadi hanya diam menyimak cerita Mika.
"Ortu gua jarang di rumah! Mereka cuma ada pas malam doang. Pagi sampai sore kerja lembur di kantor masing-masing."
"Jangan-jangan di rumah lo ada maling nya." Siska berseru antusias menyampaikan pendapat.
"Kalau gitu, kenapa gak uang gua yang diambil? Kenapa malah ngambil barang-barang gua?"
"Yah, mana gua tau. Maling nya mes*m kali," jawab Siska asal sembari mengedikkan bahu acuh. Adel yang mendengarnya tersentak seperti menyadari sesuatu. Ia lalu menatap tajam Mika dan bertanya dengan tegas.
"Apa lo pernah kehilangan barang begitu di sekolah?"
Mika mengganguk menjawab pertanyaan Adel.
"Pernah! Waktu pelajaran olahraga tiga hari yang lalu. Pas pulang sekolah gua cek loker gua, mau ngambil baju olahraga. Eh taunya hilang entah kemana. Mana bajunya udah penuh keringat lagi, udah bau. Heran gua, ada ya? Maling yang suka bau-bau begitu."
"Itu dia!" seru Adel antusias setelah mendapat jawabannya. Usai mendengar penjelasan Mika. Mereka semua menatap Adel serius.
"Apa?" kompak semuanya.
"Gadis dan sekolah kita."
"....."
Semuanya terdiam bengong mendengar jawaban gadis itu.
"Lo ngomong apasih? Gaje banget dah!!" ketus Siska memandang kesal Adel yang baru bicara itu.
"Gua ngerti maksud Adel." Daffa angkat bicara melihat kebingungan teman-temannya. "Maksud Adel, orang yang nguntit Mika dan mengambil barang bekas pakai nya adalah seorang gadis. Terlebih, gadis itu berasal dari sekolah kita atau bisa dibilang, satu sekolah dengan kita!" jelas Daffa.
"Kenapa si Es batu bisa tau?"
"Bukannya udah jelas? Mika bilang stalker kan? Stalker itu orang-orang yang kepo dengan urusan orang lain. Biasanya mereka bakal menguntit keseharian dari orang yang mereka kepoi. Melihat orang itu mengambil barang bekas pakai Mika. Dari sini kita bisa simpulkan kalau dia seorang gadis mes*m."
"Terlebih, Mika bilang baju olahraganya juga hilang di sekolah kan? Ya, itu pantas saja terjadi karena gadis itu satu sekolah dengan kita. Yang pasti, gadis atau stalker itu merupakan salah satu penggemar Mika!" Daffa mengakhiri ucapannya sembari berdeham kecil. Membuat Raihan, Mika, Fani dan Siska menatapnya kagum.
Prok! Prok! Prok!
"Udah gua duga, lo sama pintarnya kaya Adel!" puji Mika mangacukan jempolnya. Keduanya kembali akrab seperti tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
"Difa lo hebat! Gua jadi paham."
"Salut Gua!"
"Wah, Daffa pinter banget!"
Mereka semua terus saja memuji-muji Daffa membuat Adel memutar bola mata malas.
"Tapi Mika, apa lo bisa jelesin kenapa lo nempel dengan Adel terus seharian?" Daffa menampilkan senyum paksa. Terlihat sekali bahwa lelaki itu mulai kesal lagi sekarang.
"Apa hubungannya stalker dengan Adel, hm?" lanjutnya kini memasang wajah datar.
Mika menggaru tengkuk nya yang tak gatal. Kemudian menjawab dengan raut wajah serius.
"Gua dapat surat dari gadis misterius itu."
"Surat?"
Adel tersenyum smirk. Sudah ia duga! Tebakan nya benar.
TBC ....
#Next?