
Jangan jadi pembaca gelap!👀😾
Ice Girls
~Happy Reading💞~
Adel mengerjab beberapa kali. Membuka matanya yang terasa berat. Menatap langit-langit dengan dahi yang berkedut.
Apa yang terjadi? Ada di mana ia sekarang? Karena penasaran, Adel mencoba untuk bangun. Namun pergerakannya terhenti, kala manik mata Adel tak sengaja menatap Indra yang tengah tertidur dengan posisi duduk di sampingnya.
Indra tampak sangat lelah. Lelaki itu tertidur dengan seragam kantornya. Bisa Adel tebak, pasti kakaknya ini menemani Adel tidur semalaman.
Adel mengangkat tangannya lemah. Ia bisa melihat selang impus yang terpasang di sana. Ternyata ia sedang berada di Rumah sakit, ya?! Tapi, bagaimana dengan acara kemahnya?
"Eugh ... Emm."
Suara tidur Indra dapat menyinggung senyum kecil di wajah Adel. Ternyata Indra belum berubah, sejak kecil Kakaknya ini selalu saja punya kebiasaan buruk saat tidur.
"Adel!!"
Tiba-tiba saja Indra terbangun dan menyebut nama Adel. Membuat gadis itu sedikit kaget melihatnya. Kemudian Indra mengusap matanya beberapa kali sembari menguap menahan kantuk.
"Si*l! Aku ketiduran," gumamnya. Lalu menoleh ke samping, hendak melihat keadaan Adel.
"Eh? Kamu udah sadar?"
Adel hanya mengangguk.
"Ada yang sakit?"
Adel menjawab dengan gelengan lemah.
Indra tersenyum hangat. Tangannya mengusap lembut rambut Adel, lalu berkata.
"Syukurlah! Kakak sangat panik waktu tau kamu dibawa ke rumah sakit."
"Siapa?"
"Yang bawa kamu?"
"Hm."
"Oh, itu ... Mam— Ah tidak! Maksudnya Daffa yang bantu bawa."
"Di mana mereka?"
"Siapa? Teman-temanmu?"
"Hm."
"Mereka ada di sekolah. Kamu udah pingsan selama tiga hari di sini. Tenang aja, Kakak udah—"
"Apa?!" Kaget Adel langsung beringsut duduk dengan paksa.
"Astaga, Del! Kamu masi lemah, baring aja dulu!"
"Gak."
"Hah ... terserah kamu aja deh," jawab Indra pasrah, mengacak rambut adiknya dengan gemas. Kemudian lelaki itu berdiri dan berkata.
"Kakak ke toilet bentar, ya? Kamu gapapa 'kan, Kakak tinggal?"
"Ck, aku bukan anak kecil!!"
Indra hanya tertawa kecil mendengar Adel yang marah. Kemudian pergi meninggalkan gadis itu dengan tenang.
Selepas kepergian Indra, Adel menatap kosong ke depan. Mengingat-ingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Menyebalkan!" gumam Adel tak suka kala bayangan kegelapan itu kembali berputar di kepalanya.
Ah! Sudahlah Adel. Jangan dipikirkan! Ayo berfikir yang lain saja! Indra bilang, ia pingsan selama tiga hari 'kan? Bukankah itu berarti, sebentar lagi sekolah mereka akan ujian kenaikan kelas? Benar! Adel belum belajar sama sekali. Padahal empat hari lagi ujian. Miris sekali!
Kreet.
Suara decitan pintu dapat menarik perhatian Adel. Bukankah Indra baru saja keluar? Cepat sekali Kakaknya itu kembali. Apa mungkin ada yang ketinggalan? Adel menoleh ke pintu menunggu Indra masuk.
"Indra, Mama bawa buah untuk Adel sadar nan—"
Deg!
Ucapan Rena terhenti saat menyadari Indra tak ada di sana dan Adel yang sudah sadarkan diri. Mata keduanya bersitatap selama beberapa menit. Wajah Adel tampak syok, begitu juga dengan Rena.
Hening!
Tak ada yang angkat bicara. Kedua orang itu masi bersitatap dalam diam. Sedetik kemudian Adel tersadar lantas memutuskan kontak mata lebih dulu.
Gadis itu kembali berbaring dengan posisi membelakangi Rena. Ia tarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh. Adel bertingkah seakan tak melihat keberadaan Rena.
Rena tersenyum miris melihat perilaku Putrinnya. Ia tarik nafasnya dalam-dalam mencoba untuk menahan air mata.
Drap! Drap! Drap!
Adel dapat mendengar langkah kaki wanita itu mendekat padanya. Tepat pada saat Rena ingin menyentuhnya, Adel berkata tanpa menoleh.
Hati Adel terasa sesak membayangkan kenangan bersama Rena di masalalu. Sebisa mungkin gadis itu menahan suaranya agar tak bergetar.
Rena kembali menarik tangannya yang terhenti di udara. Wanita itu kemudian menangis terisak.
"Adel, Mama—"
"Apa kau marah padaku karena Kakak? Karena Kak Indra yang terus menemui ku? Percayalah, aku sama sekali tak membujuknya. Dia yang datang sendiri padaku."
"Bukan begi—"
"Tenang saja. Aku tak akan mengganggu kehidupan kalian lagi. Aku tahu, aku hanya beban bagimu."
"Bahkan kau pernah mengatakan jika 'seharusnya kau tak melahirkan monster sepertiku 'kan?' Maaf, karena aku kalian jadi menderita. Mereka benar, seharusnya aku saja yang mati."
Suara Adel terdengar bergetar. Sudah ia duga, sangat sulit untuk mengatakan semuanya. Meski begitu, gadis itu masi belum menangis.
"Adel, maaf ... Mama yang salah. Maafkan Mama, sungguh itu bukan salahmu. Aku tak tahu jika Putriku akan semenderita ini."
"...."
"Aku egois, benar-benar egois! Aku gak pernah ngerti perasaanmu. Padahal jelas itu hanya kecelakaan. Tapi, tetap saja aku menyalahkanmu. Aku memang tak pantas untuk disebut seorang Ibu."
"...."
"Meski ini sudah sangat terlambat, Adel ... apa kamu mau memaafkanku?"
"...."
"Sudah kuduga," Rena menghapus air matanya kasar dan tersenyum sedih.
"Kesalahanku benar-benar tak bisa dimaafkan. Aku benar-benar Ibu yang gak tau malu."
"...."
"Maaf karena sudah mengganggumu. Aku akan pergi sejauh mungkin dari pandanganmu. Kau tak akan melihat wajah menjijikan ini lagi. Aku tahu kau membenciku, tapi ... apakah kau bisa memanggilku 'Mama' untuk yang terakhir kalinya?"
"...."
Nyutt.
Hati Rena terasa sakit. Wanita itu terkekeh kecil dengan air mata. Menatap putrinya yang masi dengan posisi membelakangi Rena. Lihatlah, bahkan Adel tak sudi memandangnya. Apa gadis itu benar-benar membenci dirinya?
"Aku pergi," pamit Rena meletakkan buah yang ia bawa di atas nakas. Dengan langkah berat ia berjalan keluar. Air matanya tak henti menetes.
Grep!
Langkah kaki Rena terhenti. Diliriknya tangan yang meligkari pinggangnya. Lalu menangis terharu.
"Mama," panggil Adel lirih.
Adel memeluknya! Gadis itu memeluk Rena dengan menangis terisak.
"Maafkan aku, tolong ... jangan pergi lagi," kata Adel masi dengan posisi memeluk Rena. Ia menangis sengugukan. Membiarkan air mata yang terus menetes tanpa seizinnya.
Rena memejamkan mata. Bahunya bergetar karena tangisan. Lalu ia berbalik dan balas memeluk Adel. Ia usap rambut gadis itu dengan lembut dan berkata.
"Mama pulang."
Keduanya menangis terisak dalam pelukan. Mengingat masa-masa sulit yang mereka lewati selama ini.
Kriett.
Indra yang baru saja kembali dari toilet, langsung saja tersenyum senang melihat pemandangan damai itu. Ia berlari kecil ke arah keduanya dan ikut memeluk Adel.
"Ada apa nih? Kok main peluk-pelukan? Gak ngajak-ngajak lagi!" kekeh Indra masi dengan posisi memeluk Adel dan Rena.
"Ukh ... lepaskan, aku kejepit!" kata Adel yang dapat mengundang gelak tawa Ibu dan Kakaknya.
"Kak Indra."
"Hm?"
"Kau bau kambing."
Jlep!
"Hahaha ... jauh-jauh sana!" Rena menolak tubuh Indra pelan. Lalu memeluk Adel dengan agresif.
"Dia udah gak mandi tiga hari tuh, sayang."
"Pantes."
"Ck! Aku juga begini karena begadang Adel. Yang bener aja pingsan tiga hari."
Rena lagi-lagi tertawa melihat perilaku Indra. Sedangkan Adel, gadis itu hanya tersenyum tipis. Hari ini, benar-benar hari kebahagian untuknya.
TBC ....
Next?