
Ice Girls
~Happy Reading💞~
Ding donggg ...! Dingg dongg ...!
Suara bel rumah yang dipencet berulang kali terdengar begitu bising hingga bisa memekakkan telinga. Kedua orangtua Mika yang tadinya asik menonton televisi kini memandang satu sama lain.
"Siapa? Apa mungkin Mika?" tanya Rinarti sembari menatap sang suami yang kini juga tengah menatapnya.
"Mika? Apa anak itu benar-benar membawa pacarnya?" Keivan balik bertanya yang dijawab gedikan bahu oleh Rinarti.
"Coba aja buka pintunya. Barangkali beneran Mika," kata Rinarti mengusulkan.
"Eiii ... mana mungkin. Anak itu gak bakal pulang. Memangnya kamu percaya kalau Mika punya pacar?"
"Gak. Sampai ayam jantan bertelur pun Mika gak bakal pernah punya pacar. Makanya kita mau jodohin dia kan?!"
"Benar! Anak kita yang satu itu emang gak nor—"
Dinggg ...! Donggg!
"Ma! Pa! Kenapa pintunya gak dibuka juga?! Mika capek nih. Bukaiin dong!" teriakan Mika dapat menarik perhatian kedua orang itu.
Keduanya saling pandang dengan wajah bengong. Masi tak percaya dengan suara yang mereka dengar. Sesaat kemudian mereka tersadar.
"Beneran Mika!" seru keduanya kompak.
Setelah mengatakan itu Keivan dan Rinarti bergegas pergi untuk membukakan pintu dengan tergesa-gesa.
Ceklek!
Betapa kagetnya mereka saat mendapati putra satu-satunya tengah menggendong seorang gadis dengan gagahnya.
Kedua orang itu menatap Mika bengong. Masi tak percaya dengan apa yang mereka lihat di depan matanya. Apa benar, anak yang tidak pernah pacaran dan risih jika di dekati para gadis. Tengah menggendong pacarnya sekarang? Benarkah itu? Ya, Tuhan! Keivan benar-benar tak percaya dengan pemandangan di depannya ini. Syukurlah, ternyata putranya masi normal. Ingin sekali rasanya ia menari karena senang. Tapi ia harus jaga image sebagai seorang ayah.
"Minggir, dong! Mama sama Papa kok pada bengong? Kita mau masuk nih," sungut Mika dengan wajah kesal. Segitu kagetnya kah Orang tuanya jika dia membawa seorang gadis?! Entah kenapa Mika jadi jengkel melihatnya.
Keivan tersentak lantas menatap Mika tersenyum penuh arti. Mika yang sadar seketika menatapnya tak senang. Apa yang sebenarnya sedang dipikirkan Papanya itu sekarang?! Mika harap Keivan tak akan bicara yang aneh-aneh.
"Papa gak nyangka." Keivan menatap Mika yang tengah menggendong Siska. "Kamu bakal seromantis ini," lanjutnya terkekeh geli.
"Romantis apanya?! Mika gendong dia karena kakinya lagi sakit. Makanya Mama sama Papa jangan halangin Mika dong! Ini berat tau?!"
Mendengar kata 'berat' itu Siska dengan cepat menatap tajam Mika. Rinarti yang juga perempuan juga merasa tak senang dengan ucapan Mika. Dia tahu betul bagaimana rasanya saat dikataiin berat oleh pacarnya. Padahal, setelah Rinarti lihat-lihat gadis yang digendong Mika sangat langsing dan tidak ada gemuk-gemuknya!
"Dia gak berat, kamunya aja yang lemah!" sindir Rinarti tak senang.
"Bener, Tan! Dianya aja yang lemah! Padahal aku ini kurus," sambung Siska ikut-ikutan.
"Malu Papa, punya anak lemah kaya kamu!"
'Lah? Gua berasa jadi anak tiri,' batin Mika mendenggus melihat dirinya yang dianiaya oleh orang-orang di depannya.
"Udahlah, cepat masuk! Pacar kamu pasti capek," ucap Rinarti yang diangguki oleh Mika.
"Padahal yang capek gua, 'kan yang gendong gua!" gerutu Mika dengan suara pelan sembari berjalan membawa Siska ke sofa.
"Wkwk makanya jangan banyak cincong. Ck ck ck, ortu lo jadi sayang sama gua 'kan?" kata Siska berbisik di telinga Mika saat pria itu tengah membantunya duduk.
Mika menatapnya sinis. Kemudian ikut duduk di samping Siska dengan wajah jengkel.
"Denger, ya! Gua ingetin sekali lagi, jangan sampai lupa sama tugas lo!" Mika juga balas berbisik di telinga Siska membuat gadis itu menutup telinganya merasa geli.
"Ehem!" dehem Keivan berniat mencari perhatian kedua remaja yang tengah berbisik mesra di depannya.
Mika dan Siska dengan kompak menoleh dan menatap Keivan cengengesan.
"Dunia serasa milik berdua ya," sahut Rinarti merasa gemas dengan kelakuan sepasang kekasih di depannya.
Kedua orang itu lagi-lagi menjawabnya dengan tersenyum manis. Seperti sepasang kekasih sungguhan. Padahal, jauh di dalam lubuk hati mereka sangat jijik dengan kata-kata mengngelikan itu.
'Huekk ...! Amit-amit ya Allah, jauhkan hamba dari makhluk menyebalkan ini,' batin Siska melirik Mika sekilas dengan senyumannya.
'Sebenarnya, musibah apa yang telah kualami saat ini. Rasanya, gua mau cepat-cepat jauh dari nih cewek aneh,' batin Mika sedih juga melirik Siska sekilas sembari menampilkan senyum palsunya.
"Cewek aneh," jawab Mika tanpa minat. Membuat kedua orang tuanya melototkan mata kaget.
"Apa?!"
"Eh? Ma–maksud aku, Siska! Ya, namanya Siska!" sahut Mika gelagapan. Tanpa sadar dia sudah mengucapkan kata aneh rupanya.
"Oh, Siska." Rinarti mengangguk paham. "Namanya cantik, sama kaya orangnya," lanjutnya lagi membuat Siska tersenyum senang.
"Makasi, Tan," kekeh Siska kemudian melirik Mika yang duduk di sampingnya dengan wajah suram.
'Wajahnya bener-bener burik,' batin Siska melihat Mika yang tak semangat. Tiba-tiba sebuah ide terlintas dipikiran nya. Membuat Siska tersenyum jahil lalu berkata.
"Sayang," panggilnya dengan suara lembut sembari bergelayut manja di tangan Mika.
Mika menatapnya garang. Membuat Siska mati-matian menahan tawa. Ia kemudian menusuk-nusuk pelan pipi Mika dengan tersenyum geli.
"Kamu kenapa? Kamu sakit, ya? Kok wajahnya suram gitu? Aku kan jadi takut. Ihh ... sayang mah, jangan buat aku jadi cemas," lanjut Siska berperilaku layaknya gadis centil.
"Ya, ampun! Pacar kamu perhatian banget Mik, dia khawatir sama kamu," sahut Keivan antusias melihatnya. Dia tak tahu kalau di depannya tengah berlangsung sebuah drama.
Mika menatap Mika dengan wajah datar sangkinkan geramnya. Pasti pria itu tengah merasa jijik dengan omongan Siska. Yah ... Siska akui, dia juga merasa geli mendengar ucapannya barusan.
Diluar dugaan Mika kemudian tersenyum smirk. Mendapatkan ide yang cemerlang. Baiklah, akan dia ikuti permainan menjengkelkan si cewek aneh ini.
"Enggak sayang, aku gapapa. Kamu gak usah cemas." Mika tersenyum hangat. Mengusap rambut Siska dengan lembut.
Siska yang melihat itu seketika menatapnya aneh. Ia menatap tajam tangan Mika yang masih mengelus rambutnya itu. Sangat ingin menggigitnya hingga berdarah. Namun tidak bisa, karena dia tengah akting sekarang.
Dengan lembut, Siska mengangkat tangan Mika dari rambutnya. Kemudian tersenyum canggung ke arah Keivan dan Rinarti yang sedari tadi memerhatikan mereka.
Mika membuang wajahnya merasa geli. Ia menutup mulut dengan tangan melindungi senyuman kemenangan. Akhirnya gadis itu tak berani berbuat macam-macam lagi.
"Udah berapa lama pacaran?" tanya Keivan memecahkan suasana canggung.
"Tiga bulan!"
"Satu tahun!"
Siska melirik Mika sekilas. Kemudian keduanya sama-sama tersenyum. Merasa kebohongan mereka akan terungkap.
"Tiga bulan atau satu tahun? Yang benar yang mana?" tanya Rinarti bingung.
"Emm, satu tahun tante!"
"Maksud Mika tiga bulan."
Keduanya lagi-lagi mengucapkannya secara bersamaan. Saling mengubah jawaban masing-masing.
'Woi, kenapa lo bilang tiga bulan?! Tadi 'kan lo bilang satu tahun! Kenapa malah jadi pindah ke jawaban gua?' Siska menatap Mika tajam seolah berbicara bahasa isyarat dengan pria itu.
'Ya mana gua tau lah, setan! Lo juga pakai ikut-ikutan jawaban gua! Seharusnya lo tetep bilang tiga bulan aja!' Mika membalasnya dengan bahasa isyarat juga seolah-olah keduanya mengerti perkataan satu sama lain.
"Kalau ngomong yang jelas, dong! Jangan bercanda," protes Keivan menatap Mika kesal.
"Ma—maksud Mika, kita udah pacaran satu tahun tiga bulan, Pa. Iya, 'kan Sayang?"
"Ii—iya om, bener."
"Oh, begitu."
"Bilang dong!"
Keduanya mengangguk canggung menjawab perkataan Rianti dan Keivan.
Setelah itu percakapan mereka mulai berlanjut. Bersenda gurau sembari tertawa bersama. Mika dan Siska terkadang tetap saja masi berantam.
Akhirnya bisa update lagi cerita nya wkwk
TBC ...
#Next?