
Jangan jadi pembaca gelap!👀😾
Ice Girls
~Happy Reading💞~
Usai ujian yang begitu panjang. Akhirnya tiba saat dimana mereka menerima Raport dan akan libur kenaikan kelas.
Seperti biasa, Adel tentu mendapat peringkat umum pertama. Dengan kata lain, nilai gadis itu sempurna dan mengalahkan semua anak jurusan IPA di sekolah SMA Taruna Bangsa.
Rena memeluk bangga putrinya, mengecup kening Adel dan berkata.
"Selamat, Putriku memang pintar!"
"Berkat Mama."
Rena tersenyum, tangannya mengusap lembut rambut Adel. Ia pegang kedua bahu gadis itu, menarik nafasnya dalam-dalam.
"Maaf, Mama harus pulang ke Amerika. Mama ada urusan bisnis," ucap Rena sedikit sedih karena harus berpisah dengan Adel.
Adel menunduk, diam selama beberapa detik. Lalu membalas dengan ragu.
"Apa sepenting itu?"
"Iya sayang, sangat penting. Maaf, Mama minta maaf. Kamu tenang aja, Mama janji datang lagi kalau semuanya udah kelar."
"Hm."
"Ayo dong, senyum."
Meski Rena menyuruhnya senyum. Adel tetap berekspresi datar. Matanya melirik Indra yang ada di samping Rena sekilas.
Indra yang peka, langsung saja memeluk adiknya dengan hangat.
"Kakak tetap di Indo, kok! Jangan sedih, oke?" Indra melepas pelukannya. Mencubit hidung Adel dengan gemas.
"Kan udah Kak Indra bilang, Kakak gak bakal ninggalin kamu lagi." Lanjutnya terkekeh.
"Benarkah?"
"Bener lah, masa bohong?!"
Adel tersenyum tipis. Melangkah maju dan memeluk Rena dengan erat.
"Hati-hati di jalan," pesan Adel melepas kepergian Rena dengan raut wajah sedih.
Rena mengecup kening putrinya terharu lantas masuk ke dalam mobil. Ia lambaikan tangan pada Adel dan Indra dan pergi meninggalkan area sekolah.
"Dah, Mama pergi."
Indra dan Adel mengangguk membalas lambaian tangan Rena.
"Indra, jaga adikmu!" teriak Rena saat mobilnya sudah berada di kejauhan. Indra terkekeh, lantas balas berteriak.
"Iya!"
Adel menatap sendu mobil yang kian menjauh. Masi sangat rindu dengan sosok Rena, tapi apa boleh buat. Ibunya juga punya urusan bisnis yang harus dikerjakan.
"Es batu!"
Adel berbalik. Tak hanya Adel, Indra juga sama. Keduanya menatap datar orang-orang yang tengah berlari ke arah mereka.
Tampak Siska, Mika, Daffa, Raihan dan Fani tengah menuju ke sini. Wajah Adel yang tadinya suram, sedikit berubah jadi lebih baik.
Indra melirik adiknya lalu tersenyum tipis. Ternyata adiknya itu punya teman yang baik, ya? Lihat saja, bahkan Adel tampak senang dengan kedatangan mereka.
"Selamat atas peringkat lo!"
"Adel, lo hebat!"
"Gila, Es Batu! Otak lo terbuat dari apa, sih?"
"Gua dah biasa liat, jadi gak kagum lagi," kata Mika tampak santai.
"Selamat!"
Adel tersenyum hangat. Membuat semua orang menatapnya kaget.
"Makasi."
"Gua masi gak terbiasa sama senyum lo."
"Sama, gua juga Mik."
Berbeda dengan mereka yang kagum akan senyuman Adel. Siska sedari tadi tak henti-henti menatap wajah Indra dengan senyuman yang terus mengembang.
"Gak Riski, Gak Kakak nya Adel. Semua lo terpesona! Dasar, pencinta wajah cogan!" cibir Raihan melirik Siska sinis.
"Suka-suka gua lah," balas Siska tak mau kalah.
Indra hanya tersenyum melihat pertengkaran remaja-remaja di depannya. Tanpa sengaja, manik matanya melirik Fani sekilas. Gadis itu semelambaikan tangan pada Indra seolah menyuruhnya untuk mendekat.
Indra menyerngit, karena penasaran ia memutuskan untuk pergi mengikuti langkah Fani tanpa diketahui oleh Adel.
"Kenapa?" tanya Indra begitu hanya ada dia dan Fani di balik mobil.
"Halo, Kak Indra! Gua Fan— "
"Gua tau, pernah liat foto lo di ponsel Adel."
"Oh?"
"Apa yang ingin lo omongin?"
"Anu, Kak. Kita butuh bantuan Kakak."
"Hm?"
"Gua dan yang lain pengen buat kejutan buat ultah Adel besok. Jadi, kita mau minta kerja sama dari Kak Indra. Bolehkah?"
Indra diam, masi mencerna kata-kata Fani. Ia lirik adiknya sekilas yang tengah sibuk mengobrol dengan teman-temannya.
Ulang tahun? Indra tau jika besok adalah hari ulang tahun Adel. Tentu saja, dia sangat ingat itu! Tapi, Indra ....
"Kak, kok bengong?"
Indra menunduk, menatap Fani yang lebih rendah darinya.
"Baiklah, apa yang bisa gua bantu?" tanya Indra.
Fani tampak antusias. Dengan mata yang berbinar dia menjawab dengan lantang.
"Tolong bawa Adel pulang. Kita mau belanja dan nyusun rencana ultah dia hari ini. Besok, Kak Indra juga harus datang, ya!"
"Soalnya, kalau Adel di sini. Dia bakal curiga dan kita gak mau itu terjadi. Apa, Kak Indra bisa bantu?"
Indra mengangguk setuju.
"Baiklah, gua ikutin kemauan kalian. Semoga berhasil!" ujarnya lalu kembali ke tempat Adel.
"Del, ayo pulang! Kakak ada urusan di kantor."
Adel menoleh, menatap Indra dengan datar.
"Pulang saja," jawabnya dingin.
"Aku bareng Daffa."
Meski senang karena namanya di sebut oleh Adel. Namun, mau tak mau Daffa harus menolaknya. Jika tidak, dia akan habis dikeroyoki oleh makhluk-makhluk yang tengah menatap tajam dirinya sekarang.
"Maaf Del, gua juga ada urusan mendadak."
Dahinya berkedut. Menatap Daffa penuh selidik. Merasa ada yang aneh dengan pria itu. Biasanya saja Daffa tak seperti ini, apa yang ....
"Udah, ayo pulang bareng Kakak!"
Indra menggendong tubuh adiknya bak karung beras. Membuat gadis itu meronta-ronta minta dilepaskan. Tanpa memperdulikan Adel yang terus memukulnya, Indra memasukkan nya secara paksa pada Mobil. Lalu pergi meninggalkan area Sekolah begitu saja.
Semuanya menatap kepergian Adel dengan wajah cengo. Sesaat kemudian mereka tersadar dan saling pandang.
"Mau mulai?"
"Ayo kita mulai rencananya!"
"Otw, Mol!"
"Yes, belanja! Gua bakal beli barang yang di sukai Es batu sebanyak-banyaknya!"
Semuanya tampak antusias. Berjalan bergegas masuk pada mobil masing-masing. Mereka akan menyiapkan semuanya secara sempurna! Semoga Adel akan suka, dengan kejutannya!
TBC ....
Sory lama up!
#Next?