Ice Girl

Ice Girl
part 11



Ice Girls


~Happy Reading💞~


Silahkan masuk Fani dan Siska."


Deg!


'Pembalasan dimulai,' batin Adel dengan tersenyum miring.


Fani dan Siska memasuki kelas dengan tersenyum ramah. Penampilan Fani sudah tidak terlihat cupu lagi, ya, itu semua berkat Adel karena dia telah mengubah dan mengajari gadis itu cara berdandan agar tidak terlihat cupu lagi. Sedangkan Siska, gadis itu terlihat segar sekali dengan rambut pendeknya, walaupun terkesan tomboy, tetap saja dia tidak bisa menutupi kecantikannya yang natural.


"Cecan woy cecan."


"Glowing bro."


"Satunya tomboy, tapi cantik banget."


"Andai gua punya pacar kayak gitu."


Kira-kira begitulah omongan para siswa-siswa yang ada di kelas itu.


'Ha ha ha gua emang cantik. Gua bakal berkuasa di kelas ini, lihat saja nanti' batin Siska tertawa jahat.


"Fani dan Siska, silahkan perkenalkan diri kalian," ucap bu Ayu yang diangguki oleh mereka.


"Na--nama gu--gua Fania Ratna Sari, panggil Fani aja. Salam kenal, semoga ki--kita bisa berteman baik," ucap Fani gugup, sedari tadi gadis itu hanya menunduk.


"Nama gua Fitria Siska Anggreani, kalian boleh panggil gua Siska aja. Oke salken, dah itu aja."


Berbeda dengan Fani yang gugup, Siska tampak sangat pede bahkan dia dengan lantang melihat ke depan.


"Ada yang mau ditanyakan? Ibu harap sih tidak, soalnya ini udah mau jam istirahat," ucap bu Ayu. Ya, memang ini sudah masuk jam ketiga dan sebentar lagi adalah jam istirahat, karena sedari tadi tak ada satu guru pun yang masuk ke kelas mereka, hingga jam ketiga.


Mereka menggeleng tanda tak ada yang mau ditanyakan, padahal banyak sekali yang ingin mereka tanyakan, hanya saja karena keadaan tak memungkinkan, mereka bisa apa?.


"Baiklah kalau begitu, silahkan duduk Fani dan Siska."


"Di mana bu?" tanya Siska.


"Cari bangku yang kosong."


"Ouh, oke bu," ucapnya.


'Ba--bangku kosong katanya? lah berarti Fani gak bisa semeja sama gua dong! ah .... Sial!!!" batin Raihan kesal.


'Sial!! masa gua harus semeja sama si cewek jadi-jadian sih!! awas aja kalau dia milih meja gua!! gua bakal nolak!!"


Fani kini sudah mendapatkan tempat duduknya, dia duduk di samping siswi yang bernama Chindi. Ya, Chindi memang gadis yang baik, dia juga mudah berteman dengan orang baru.


"Hey ... gua bisa duduk di samping lo gak?" tanya Siska.


Gadis itu mendongak, dia menatap Siska nyalang.


"Gak!"


"Es batu, ini lo?"


"Sana lo, cari tempat lain aja!"


"Lo ngusir gua?"


"Menurut lo?!"


"Ck, nyebelin baget sih lo es batu!!"


"Serah!"


"Gua duduk nih."


"Sempat lo duduk, hidup lo gak akan tenang."


"Bodoh amat."


'Sialan!! nyebelin banget sih. Dasar cewek jadi-jadian.' batin Adel kesal.


Siska tak peduli, bodoh amat Adel mau bilang apa, toh tak ada tempat kosong lagi selain di sini. Sebenarnya, Siska juga tidak mau semeja dengan Adel, tapi apa boleh buat? sepertinya memang sudah takdir.


Hening, tak ada yang bicara satu pun, hingga Siska memutuskan untuk memecahkan keheningan diantara mereka.


"Es batu?"


"......"


"Es batu? lo denger gua gak sih?!"


"......"


"Woy! es ba--"


"Gua Adel!!"


"Bodoh amat, lo lebih cocok dipanggil es batu."


"Serah lo!!"


"Ck, lo dingin banget sih!"


"Serah gua."


"Nyebelin."


"......"


"Btw, kemarin lo baik-baik aja kan?"


Adel mengerutkan dahinya bingung.


"Maksud lo?"


"Kemarin kan lo dikejar anjing."


Adel hampir saja lupa, ah dia harus balas dendam dengan orang ini! jangan harap dia akan lupa dengan kejadian itu, tak akan!!.


"Hm."


"Lo gapapa kan?"


"Menurut lo?"


"Ck, gua serius tau!"


"Oh."


"G--gua minta maaf."


Apa Adel tak salah dengar? Siska si cewek jadi-jadian minta maaf padanya? wah ... sungguh kejadian yang langka.


"Hm."


"Tapi boong. Bwhahahah percaya amat sih lo es batu," ucap Siska dengan terkekeh geli, sesekali dia memukul pundak Adel. Adel menatapnya dengan nyalang, Siska menelen salivanya susah payah.


"Gua cuma becanda kali, muka lo seram banget deh."


"......"


"Ck."


***


Terdengar bunyi bel pertanda istirahat, semua siswa-siswi pergi berhamburan kemana lagi kalau bukan ke kantin.


Adel memberesi alat-alat tulisnya, lantas berjalan menuju lokernya. Dia akan menyimpan beberapa bukunya di sana.


Bruk.


Adel menghela napas kasar. Baru saja dia membuka loker, tapi sudah banyak sekali barang yang berjatuhan dari dalamnya. Barang-barang itu berupa coklat, beberapa surat, bunga, bahkan ada boneka yang berukuran kecil.


Ah menyebalkan, padahal dia sudah berulang kali mengganti sandi lokernya, tapi tetap saja orang-orang itu tau. Oleh karena itu, Adel tak pernah menyimpan barang penting di lokernya.


Kalian tau kan, siapa yang dimaksud Adel dengan orang-orang itu? Yap, kalian benar sekali, orang-orang yang dimaksud Adel adalah fans nya. Ya, Adel memang populer di sekolah ini, padahal dia sangat dingin tapi tetap saja ada yang suka padanya.


Adel menghela napas pasrah, mau tak mau dia harus memungut barang-barang itu. Adel jongkok, dia mulai memungut barang-barang itu dan memasukannya satu persatu ke dalam kantong kresek yang memang selalu dia sediakan di dalam lokernya.


"Wah ... banyak banget coklatnya."


Adel mendongak, dia menatap Siska dengan nyalang. Ya, orang itu adalah Siska, sebenarnya Siska tak sendiri ada Fani di sampingnya.


"Ngapain lo kesini?" tanya Adel dingin.


"Yaelah jangan dingin dong es batu! gua juga sebenarnya gak mau ke sini, tapi ini nih, Fani yang mau ketemu lo." ucap Siska panjang lebar.


"Terus? kenapa lo ikut?!"


"Yaelah ... suka-suka gua lah, Fani yang maksa gua ke sini!" kesal Siska.


"Oh."


"Adel, ke kantin yuk." Fani yang tadinya diam kini bersuara.


"Malas."


"Yah ... Adel sebentar aja pliss ...," ucap Fani memohon, Adel memalingkan wajahnya, dia tak mau melihat wajah Fani, hari ini Adel tak akan bisa dirayu.


"Ngeselin banget sih lo es batu!!" ucap Siska kesal.


"....."


"Es batu?"


"....."


"Woy! es ba--"


"Nama gua Adel!!"


"Serah lo deh."


Adel melangkah pergi, dia baru saja selesai memunguti barang-barang itu. Siska dan Fani mengikuti Adel dari belakang. Adel berhenti tepat di depan tong sampah, dia akan membuang semua sampah ini.


"Eh ... es batu! jangan dibuang dong!! mubazir tau!! mending lo kasi ke gua," ucap Siska yang dapat menghentikan aksi Adel.


Adel menoleh, dia menatap lekat Siska.


"Lo mau?"


"Mau lah, coklat kan enak. Tapi kalau suratnya mah buang aja, gua juga gak mau," jawab Siska.


"Kalau gitu, ini buat lo," ucap Adel, tangan ya tergerak menyodorkan kantong kresek itu ke arah Siska. Saat Siska hendak mengambil alih kantong kresek itu, dengan cepat Adel mengarahkannya pada Fani.


Siska cengo, apa maksudnya ini? padahal dia yang minta, tapi kenapa malah Fani yang dapat? ah ... ini sungguh tidak adil!.


"Eh ... kok ke gua?" ucap Fani bingung.


"Lo gak mau?"


"G--gua mau, tapi gua gak dibolehin makan coklat sama mama."


"Oh, kalau gitu, yaudah gua buang lagi aja."


"He? woy! es batu, gua mau loh ini. kenapa gak dikasi ke gua aja sih?!" ucap Siska kesal.


"Gak sudi gua ngasi ke elo!"


"Bodoh amat, emang gua peduli!" ucap Siska sembari merampas kantung kresek itu dari Adel. Ck, sungguh tak tau malu.


"Gak malu lo."


"Serah lo, penting gua kenyang."


"....."


"Btw, gua heran ya, ternyata ada juga yang suka sama cewek modelan kayak lo. Udah es batu, licik, muka jelek, agak jutek, kalau gua sih gak mau ihhhh," ucap Siska bergidik ngeri.


"Serah!!"


"Ck, dasar es batu!!"


"Kalian setiap ketemu kok berantem mulu sih?" ucap Fani.


"Karena kalau berantem sama es batu itu seru," jawab Siska antusias.


"Karena dia cewek jadi-jadian."


"Wah ... Sembarangan lo es batu!! mau lo gua retakin tulangnya ha?"


"Oh."


"Kita baku hantam yuk?" ucap Siska kesal.


****


Sekarang Adel, Siska dan Fani sedang berada di kantin. Ya, sebenarnya Adel sudah menolak untuk pergi, tapi tetap saja Fani memaksanya dan Adel memang tidak bisa menang jika dengan Fani.


Fani sudah pergi memesan makanan lima menit yang lalu, sekarang tinggallah Adel dan Siska disini.


"Hey ... es batu?"


"Nama gua Adel!!!"


"Gak usah ngegas juga kale!"


"Hm. Cewek jadi-jadian, ada yang mau gua omongin sama lo."


"He? mau ngomong apa?"


"Gua mau balas dendam sama lo karena udah buat gua dikejer anjing kemaren."


"Bwhahaha baru kali ini gua denger orang mau balas dendam tapi bilang-bilang," ucap Siska terkekeh.


"Hm. Tapi, gua gak kayak lo yang suka curang dan bermain kotor. Ayo kita taruhan lagi."


"Ta--taruhan apa?" tanya Siska gugup.


"Yang kalah bakal jadi pelayan pribadi si pemenang selama satu minggu. Bagaimana apa lo setuju?"


Deg!


"A--apa permainannya?" tanya Siska gugup.


Adel tersenyum miring.


"Permainannya adalah ...,"


TBC...


#Next?