Ice Girl

Ice Girl
part 16



Ice Girls


~Happy Reading💞~


"Hiks ... Reka ... hiks." Adel menangis senggugukan, matanya tak henti-henti menatap wajah Daffa dengan raut wajah sedih.


"Reka?" beo mereka semua, lagi-lagi mereka dibuat kaget oleh Adel. Apa maksudnya Reka? siapa Reka? apa REKA itu sebuah nama? itu lah yang berada di fikiran mereka masing-masing.


***


"Adel lo sakit?" tanya Daffa, dia menempelkan tangannya pada dahi Adel, bermaksud untuk mengecek suhu tubuh gadis itu. Tidak panas, tapi kenapa Adel bertingkah aneh?.


Adel hanya diam saat Daffa menempelkan tangan pada dahinya. Melihat Adel yang tak bereaksi sama sekali, Daffa jadi semakin bingung, tak biasanya gadis itu bersikap begini. Biasanya saja, Adel sangat jutek padanya dan jangan lupakan sikap cuek nan dinginnya yang menjengkelkan itu!.


Tapi, sekarang benar-benar berbeda, meskipun Daffa menyaksikannya sendiri, dia masi sukar untuk percaya dengan apa yang ia lihat. Bagaimana tidak?! sedari tadi Daffa perhatikan, Adel terus saja menatap wajahnya dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan.


Daffa menyergitkan dahinya bingung, sungguh! dia benar-benar tak mengerti, kenapa Adel tak henti-henti menatap wajahnya?!


"Adel lo kena--"


Ucap Daffa terpotong kala Adel memeluknya dengan tiba-tiba. Daffa hanya diam tak bergeming membiarkan dirinya dipeluk oleh Adel. Sesaat kemudian ...


Deg!


Deg!


Deg!


Daffa tersadar dari lamunannya. Apa-apaan ini? kenapa Adel memeluknya? apa setelah ini Daffa akan ditonjok? yang benar saja! Daffa tak melakukan apapun, Adel lah yang memeluknya dengan tiba-tiba.


'Ke--kenapa Adel meluk gua? ja--jantung gua rasanya mau copot. Apa ini yang dinamakan dengan ... ah sial!! gua mikir apa sih?! gak!! gua gak boleh baper! pokoknya gak boleh! gua harus bersikap biasa aja. Ayo Daffa, lo pasti bisa," batin Daffa.


"Kenapa?"


Daffa menelan salivanya susah payah, apa Adel baru saja bicara dengannya?.


"Kenapa lo pergi juga?!" bentak Adel, tangannya masih setia memeluk Daffa dengan erat.


Semuanya hanya diam, tak ada yang berani bicara. Mereka hanya menatap Adel dengan penuh tanda tanya.


"Pembunuh itu ... hiks ... jahat! semuanya pergi hiks." Adel terus saja menangis, rasa sakit yang dia rasakan selama ini, benar-benar membikin dadanya terasa sesak.


Daffa membalas pelukan Adel, walaupun dia tak mengerti dengan apa yang dimaksud gadis itu, tapi tak ada salahnya kan? jika Daffa berusaha menenangkannya.


"Gua gak ngerti maksud lo apa. Tapi yang gua tau, Adel yang gua kenal bukan orang yang cengeng." Daffa melepaskan pelukannya, dia menghapus air mata Adel dengan lembut, kemudian tersenyum pada gadis itu.


"Jadi, jangan nangis lagi ya." Daffa mengacak rambut Adel dengan gemas. "Karna gua gak suka liat lo sedih dan ... lo tau? lo jelek kalau lagi nangis," lanjutnya lagi dengan terkekeh kecil.


Adel menatap wajah Daffa sejenak, kemudian dia mengangguk setuju.


"Gitu dong," ucap Daffa sembari mengacak rambut gadis itu dengan gemas.


Adel mengangkat tangan Daffa dari kepalanya dengan lembut dan kemudian menggenggamnya.


"Tapi Reka, kenapa lo juga pergi?" Adel mendongak dan menatap Daffa dengan wajah sedih.


"Lo tau gak? gu--gua sendiri hiks ... semuanya pe--pergi hiks ... hiks ... Papa, Mama, kak Indra dan lo ju--juga hiks." Adel menunduk, dia menangis senggugukan. "Gua mo--mohon, jangan tinggalin gu--gua lagi hiks ... hiks."


Daffa mengangkat dagu Adel pelan, membuat gadis itu mendongak dan menatapnya dengan mata yang sembam akibat menangis.


"Gua gak ngerti, kenapa lo manggil gua dengan nama Reka dan gua juga gak ngerti dengan apa yang lo bilang barusan," ucap Daffa tersenyum tulus. "Tapi, lo harus tau, kalau gua gak bakalan pernah ninggalin elo. Elo juga gak bakalan sendiri, karna kita semua akan selalu ada buat lo."


"Lo emang selalu baik sama gua," ucap Adel, dia mendekatkan wajahnya pada Daffa.


Daffa menatap Adel tak senang.


"Jangan bilang lo mau--"


Cup.


"Makasi Reka." Adel mencium pipi Daffa dengan santainya. Sedangkan yang dicium sudah kaku di tempat dengan wajah yang memerah.


Ckrek.


Daffa tersentak kaget, dia melirik Mika dengan tajam, sedangkan yang ditatap hanya nyengir tak jelas.


***


Pagi telah datang menggantikan malam, sinar mentari masuk dari celah-celah jendela kamar dan menerpa wajah seorang gadis cantik. Siapa lagi kalau bukan Adel.


Adel membuka matanya dan menatap sekitarnya dengan dahi yang mengerut. Kamar ini benar-benar asing, ini bukan kamarnya. Di mana ini?


"Akh." Adel meringgis, dia memegang kepalanya yang terasa pusing. Entah apa yang terjadi hingga dia berada di tempat yang asing baginya. Adel benar-benar lupa.


Adel berusaha untuk duduk tapi, tunggu dulu ... kenapa tangan kanannya terasa sangat berat untuk diangkat?


Adel melirik tangannya, dia sempat jengkel dengan apa yang dilihatnya. Pantas saja! ternyata ada yang tidur di atas tangannya, dikira tangannya bantal kali ya?!


"Woy!!" Bentak Adel, dia berusaha membangunkan orang itu, tapi tetap saja masih tidur. Tak ada cara lain selain ...


Bruk.


Adel menendang orang itu dengan susah payah, tapi sialnya dia malah ikut jatuh bersama orang itu. Bahkan, Adel jatuh tepat diatasnya.


"Aws ..." Daffa meringgis saat kepalanya terbentur lantai. "Apaan sih Del? sakit tau kepala gua! tapi, yang paling penting lo gapapa kan? ada yang sakit gak?" tanyanya.


"Kenapa?"


"Kalau ngomong itu yang lengk--"


"Mau sampai kapan kalian ngomong dengan posisi seperti itu?" potong Fani.


Adel tersentak kaget mendengarnya, ah iya dia lupa kalau dia berada di atas Daffa sekarang. Adel langsung saja berdiri dan membiarkan Daffa yang masih tergeletak di lantai.


"Del." Adel menoleh menatap Daffa dengan dahi yang mengerut. "Gak mau bantuin gua gitu?" lanjutnya lagi.


"Lo punya kaki?" Adel balik bertanya.


"Ck, dingin amat lo jadi orang."


"....."


Daffa berdecak sebal kala Adel tak meresponnya. Akhirnya Daffa memutuskan untuk bangun sendiri.


"Btw, lo masi sakit gak Del?" tanya Fani, dia berjalan mendekati Adel dan ingin menempelkan tangannya pada dahi Adel, sebelum gadis itu menangkap tangannya dengan lembut.


"Gua gak sakit," jawab Adel dingin, dia menyingkirkan tangan Fani yang ingin menyentuh dahinya.


"Gitu ya? kalau gitu bagus dong." Fani menatap Adel sembari tersenyum tulus.


"Fani."


"Iya, kenapa Del?"


"Kenapa?"


"Maksud lo?"


"Kenapa Daffa bisa di sini dan kenap--"


"Iya, gua paham kok, gak usah dilanjutin, gua tau apa maksud lo," potong Fani.


"Hm."


"Lo mau nanya, kenapa lo bisa tidur di sini dan kenapa Daffa ada di samping lo saat lo tidur kan? ya, walaupun dia cuman di bawah kasur sih, tapi lo pasti bingungkan?"


"Hm."


"Oke, gua bakal ceritain semuanya." Fani menarik napasnya bersiap untuk menceritakan semuanya. "Tadi malam, lo makan masakan Siska, terus lo juga gak sengaja minum bir. Abis itu lo mabuk deh, lo ngomong ngelantur. Masa lo manggil Daffa dengan nama Reka, kan aneh."


Adel bungkam, apa kata Fani tadi? Adel memanggil Daffa dengan panggilan Reka?! benar-benar menyebalkan!! bagaimana bisa Adel melakukan itu semua!!. Padahal dia sudah bersusah payah untuk melupakan semuanya, tapi nyatanya Adel tidak bisa dan tak akan pernah bisa.


"Terus?" Adel menatap Fani penuh selidik. "Apa ada lagi?" lanjutnya.


"Ah iya, lo juga bilang 'pembunuh itu jahat' dengan menangis dan juga lo bilang kalau lo ditinggal--"


"Cukup!!" wajah Adel memerah, dia menggenggam tangannya dengan kuat sehingga kuku-kuku tangannya memutih.


"Cukup Fani!! gua ..." Adel memalingkan wajahnya. "Gak mau dengar lagi," lanjutnya dengan wajah dingin.


"Eh? ba--baiklah," jawab Fani gugup.


"Hm."


Adel pergi dari kamar Fani tanpa bicara sepatah kata pun lagi.


"Adel lo mau kemana?" tanya Fani.


"Pulang." jawab Adel tanpa menoleh.


"Biar gua yang nganter lo pulang." Daffa berjalan menyusul Adel. "Lo gak bawa mobil kan? jadi, biar gua aja yang nganter." lanjutnya lagi dengan tersenyum tulus.


Adel menoleh dan menatap Daffa dengan wajah datar.


"Terserah lo," jawabnya dingin.


Daffa tersenyum, kali ini Adel tidak menolaknya. Daffa senang sekali, akhirnya Adel mau menerima tawarannya, walaupun dengan berbicara dingin sih. Tapi, untuk Daffa itu tak masalah.


"Baiklah, kalau begitu ayo." ajaknya dengan tersenyum.


"Oh iya Fani." Adel menoleh dan menatap Fani dengan datar seperti biasanya.


"Iya?"


"Di mana dia?" Fani tersenyum, kali ini dia mengerti dengan apa yang dimaksud Adel.


"Itu," ucap Fani sembari menunjuk ke arah sofa.


"Siska masih tidur di sofa," lanjutnya lagi dengan tersenyum.


"Hm." gumam Adel. "Ingetin dia!" lanjutnya lagi.


"Siap dilaksanakan tuan putri," ucap Fani sembari menghormat. Kali ini, Fani mengerti dengan apa yang dimaksud Adel.


Adel pergi, tanpa mengucapkan sepatah kata pun seperti biasanya.


Tbc ...


#Next?